AHOK : DOSEN ITU MEMBUAT TEORI BUKAN BEKERJA

Mukhlas Prima Wardani – Sepengetahuan saya, dalam memecahkan sebuah masalah dilapangan kita akan membutuhkan 3 hal. Teori yang kita gunakan untuk memecahkan masalah. Manajer yang mengatur menajerial di lapangan. Dan yang terakhir adalah praktisi lapangan.

Kita contohkan dalam hal sederhana saja :

Jika kita ingin membangun sebuah rumah maka kita akan membutuhkan desain rumahnya. Jika kita membangun sebuah perumahan kita tidak hanya akan membutuhkan desain rumah saja. Namun juga desain jalan, desain fasum, desain selokan, desain jalur air, jalur listrik dan lain sebagainya. Pekerjaan-pekerjaan yang saya sebutkan tadi adalah pekerjaan seorang konseptor. Hidupnya memang penuh dengan konseptual. Seorang konseptor harus memahami situasi dan kondisi di lapangan. Karena tanpa memahami situasi yang ada di lapangan maka konsep yang akan dia lahirkan tidak akan menyentuh masalah atau “ngawang” dalam Bahasa Jawa. Jika diartikan secara simpel itu seperti sesuatu yang tidak menyentuh substansi. Misalkan : Seorang dokter memeriksa pasien batuk, tanpa menganalisa itu batuk kering atau basah tiba-tiba langsung diberi obat maka bisa jadi obat yang dia berikan tidak menyelesaikan masalah. Dalam dunia konseptor, maka konsep yang dia buat tidak menyelesaikan masalah.

Kesalahan sebuah konsep bisa karena beberapa factor, pertama bisa jadi karena si konseptor sendiri tidak memiliki kapabilitas dalam membuat sebuah konsep tertentu. Kedua bisa jadi data yang diterima oleh seorang konseptor salah. Jika data yang masuk salah, maka secara otomatis analisis menjadi salah, jika sebuah analisis salah maka secara otomatis kesimpulan menjadi salah. Jika dikaitkan dengan bahasan sekarang, maka konsep yang dilahirkan salah.

Yang kedua kita membutuhkan seorang manajerial lapangan atau coordinator lapangan. Tugasnya setengah konseptual setengah manajerial. Di dalam pembangunan perumahan maka tugas ini bisa diserahkan kepada seorang teknik sipil. Dialah yang akan mengaplikasikan teori atau konsepsi yang dibuat oleh pihak konseptor. Segala konsepsi yang dibuat oleh pihak konseptor akan coba diejawantahkan seorang manajer lapangan menjadi tataran aplikatif. Pada beberapa praktik, pembangunan tidak harus menggunakan teknik sipil tetapi langsung menggunakan mandor atau manajer lapangan karena ada beberapa desain dari arsitektur yang sudah ada hitung-hitungan atau range harganya.

Yang ketiga adalah seorang praktisi lapangan, dalam dunia pendidikan kita biasa menyebutnya sebagai diploma. Maka hadirlah diploma 1, diploma 2, sampai diploma 3. Kalau dalam analogi tulisan ini seorang diploma lapangannya bisa jadi tukang bangunannya atau kuli bagian lapangannya. Tanpa seorang tukang atau kuli maka arsitek tidak akan berguna. Tanpa seorang manajerial lapangan kuli juga tidak akan berguna. Tanpa seorang arsitek maka kuli juga tidak akan berguna. Jadi ketiga hal ini saling berkesinambungan. Saling membutuhkan dan saling ketergantungan menjadi sebuah system.

Meskipun dalam beberapa kasus sederhana, membangun satu/dua rumah konsep di atas bisa jadi tidak berguna. Bisa jadi cukup 1 tukang dan kuli maka bisa menjadi sebuah rumah. Tetapi seorang tukang tetap akan membutuhkan gambaran rumah yang dibangun, dan membutuhkan manajer untuk mengatur pembelian bahan, pengaturan bahan bangunan dan lain sebagainya.

Analogi kasus di atas juga berlaku bagi dunia manajemen kota, kabupaten, provinsi bahkan negara. Kita fokus pada pembahasan provinsi, provinsi itu salah satu contoh manajerial yang kompleks. Seorang gubernur harus bisa mengatur manajemen ekonomi, budaya, sosial, politik, hukum dan masih banyak hal di daerah yang dia pimpin. Namun biasanya akan ada isu-isu penting di setiap provinsi yang ada. Dan setiap provinsi akan memiliki isu yang berbeda.

Isu yang masih hangat adalah kasus banjir Jakarta, dalam waktu 24 jam terakhir viral berita dari Ahok yang membeberkan cara penanganan banjir Jakarta. Sebenernya Ahok juga tidak membanggakan dirinya sendiri, Ahok juga tidak membanggakan kinerjanya dahulu, dia juga tidak memberikan klaim bahwa penanganan banjir saat era kepemimpinannya adalah hasil pemecahan masalah yang dia buat.

Ahok justru mengatakan bahwa penelitian-penelitian ilmiah soal banjir sudah ada sejak era sebelum Jokowi-Ahok, substansi permasalahannya dan solusinya pun sudah ada sebelum era kepemimpinan Jokowi-Ahok. Yang dibutuhkan justru apakah pemimpin yang sekarang berani mengeksekusi atau tidak. Sesuai yang saya katakana sejak awal, teori tanpa seorang manajer ya percuma, manajer tanpa seorang praktisi juga jadi percuma. Jadi sehebat apapun pemecahan masalah yang ada akan jadi percuma jika manajer provinsi yang sedang memimpin tidak berani mengeksekusi pemecahan masalah yang ada. Selain ketidak beranian saya juga menangkap sisi yang lain.

Apa itu?

Sebenarnya manajer provinsi yang sekarang itu bukan seorang manajer lapangan. Melainkan seorang konseptor. Mau bukti? Buka berita kompas hari ini perihal sumur resapan, di sana disebutkan bahwa target sumur resapan yang seharusnya 1 juta sumur baru dibuat sebanyak -+ 2000 buah. Dia yang membuat konsep sendiri, dan dia tidak mau mengerjakannya. Itu adalah pekerjaan seorang konseptor. Mau dipaksa model apapun menjadi seorang manajer lapangan sampai dia mati juga tidak akan bisa. Jadi sejak awal Jakarta sudah salah menjadikan seorang konseptor sebagai seorang manajer. Ya begitulah konseptor, pandai berujar tak pandai bekerja.

Kalau kata Ahok, ya begitulah seorang dosen jika disuruh bekerja.

Terima Kasih

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *