ADA ULOS, ADA BATAK

KOMPAS.com – Sebagai artefak budaya, ulos mencoba terus beradaptasi dalam titian zaman. Kesetiaan dan kreativitas petenun menjadi penggerak keberlangsungan ulos. Sebab, tanpa ulos, tiada pula yang disebut sebagai Batak.

Kabut pagi yang tipis masih membayangi permukaan Danau Toba ketika tiga petenun muda di Samosir pergi mandi dan mencuci baju. Dina Simbolon (24), Royani Turnip (19), dan Bunga Nainggolan (18) berjalan beriring sembari membawa perlengkapan mandi. Hari itu, suplai air pipa di Desa Lumban Suhi-suhi di Pulau Samosir tak mengalir. Mandi di danau menjadi solusi praktis.

Sambil mencuci baju, Nani menyetel lagu di ponselnya. Lagu era 1990-an dari Michael Bolton, ”Said I Loved You but I Lied”, terdengar di antara suara kecipak air di tepian danau. Sementara itu, Dina dan Bunga sudah asyik mandi dan berenang di danau. ”Rencana saya sebenarnya pingin kuliah di fakultas hukum,” kata Nani dengan rona wajah malu-malu.

Dalam rangka merajut impiannya itulah, Nani kini tekun menenun ulos. Uang yang terkumpul dari ulos ditabungnya untuk modal sekolah di perguruan tinggi. Bagi banyak orang Batak, pendidikan merupakan hal yang teramat penting. Orang Batak tidak sudi menderita demi mencapai pendidikan tinggi. Tidak terkecuali perempuan. Tidak heran Nani pun memendam tekad serupa.

Terbang ke New York

Seperti juga temannya yang lain, gadis muda Batak kini mulai menekuni keterampilan menenun. Menenun menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga, selain bertani. Nani dan teman-temannya belajar menenun di bengkel tenun sederhana milik desainer tekstil Merdi Sihombing di Desa Lumban Suhi-suhi, Samosir, Sumatera Utara.

Sejak berbulan-bulan sebelumnya, bersama Lusi Nainggolan, istri Merdi, Nani dan temannya menenun ulos-ulos indah yang lalu dibawa Merdi ke New York, Amerika Serikat. Ulos-ulos sutra karya para petenun muda asal Samosir itu sejak 12 Maret hingga 27 Juli mendatang dipamerkan di Skylight Gallery, Charles B Wang Centre, Stony Brook University, New York. Pameran bertema ”Seas
of Blue: Asian Indigo Dye” itu diikuti empat negara saja dari Asia, yakni Indonesia, Jepang, Korea Selatan, dan India.

Merajut harapan

Dari bengkel sederhana tadi, sebuah harapan dirajut. Gadis-gadis muda Batak sudi menenun ulos sekalipun itu sebagai batu loncatan untuk meraih mimpi yang lain. Namun, setidaknya proses regenerasi petenun ulos telah menapaki jalannya. Dan, jalan itu menjadi niscaya ketika ulos dikemas Merdi menjadi bukan sekadar sebagai artefak budaya atau perangkat adat, melainkan juga sebagai komoditas mode.

Ulos secara umum menggunakan teknik ikat yang disebut gatip, yakni benang lungsi diikat sebelum dicelup pewarna, untuk mengisolasi bagian yang tak ingin diwarnai. Teknik ini memunculkan motif saat ditenun. Ulos kemudian diberi tambahan sirat, semacam pembatas di kedua ujung ulos yang dikerjakan oleh perajin sirat. Sirat biasanya mengambil motif gorga, ukiran khas pada rumah adat Batak.

Ulos karya para petenun muda binaan Merdi dibuat dari serat sutra alam dan pewarna alami dari dedaunan nila atau indigo (Indigofera tinctoria) yang banyak tumbuh subur di kawasan Danau Toba. Indigo inilah yang zaman dahulu—sebelum dikenalnya pewarna kimia—digunakan para petenun ulos. Bagi Merdi, penggunaan kembali pewarna indigo merupakan hasratnya untuk mengembalikan kekhasan sejati ulos dari masa lampau dalam konteks zaman terkini.

Beradaptasi dengan zaman juga menjadi jalan yang ditempuh tenun uis gara—sebutan untuk ulos—di Tanah Karo. Sahat Tambun, pemilik usaha tenun uis Trias Tambun di Kabanjahe, mengolah uis gara bukan sekadar untuk keperluan adat, melainkan juga aneka kerajinan dan ornamen hiasan interior. Bahkan, Sahat juga berkreasi memodifikasi motif. Salah satunya dengan memadukan motif khas Karo, yakni legot, dengan motif lurik, salah satu tenun khas Jawa. Hasilnya amatlah menawan.

Lain lagi kreasi yang dicipta petenun hiou (ulos) Bob Damanik di Pematang Siantar. Sebuah alat tenun bukan mesin (ATBM) berukuran cukup besar menyesaki bagian belakang rumahnya. Dengan alat tenun ini, Bob menenun sekaligus membuat gatip. Jalinan benang lungsi yang sudah tersusun pada alat tenun sebagian diisolasi dengan bilah-bilah bambu sesuai motif gatip. Bob kemudian mengambil pewarna dan mengecat benang yang tak terisolasi bambu. ”Lihat, tinggal cat benang langsung kering, jadi sudah gatip,” ujarnya terkekeh.

Dengan cara begitu, Bob berhemat waktu banyak dalam proses membuat gatip. Sehelai hiou bermotif tapak catur pun dapat selesai dalam waktu sehari-dua hari saja.

Kesakralan tereduksi

Menurut antropolog Universitas Negeri Medan, Bungaran Simanjuntak, tak ada catatan pasti sejak kapan orang Batak membuat tenun. Diperkirakan, tenun ulos telah ada sejak ribuan tahun lampau seiring terbentuknya masyarakat Batak itu sendiri. Ada ulos, ada Batak.

Dalam buku Seni Budaya Batak yang ditulis Jamaludin S Hasibuan (1985), teknik ikat dalam tenun Batak berasal dari kebudayaan Dongson yang berkembang di kawasan Indochina. Kain tenun ulos sejatinya merupakan selimut pemberi kehangatan. Ada tiga unsur pemberi kehangatan dalam kehidupan orang Batak zaman dahulu, matahari, api, dan ulos. Ulos dikenakan sebagai penjaga keselamatan tubuh dan jiwa pemakainya.

”Dahulu, sebelum masuknya agama dari Barat dan Timur Tengah, pembuatan ulos selalu tergantung dari pesanan dan dikaitkan dengan jiwa si pemesan. Namanya, usianya, asalnya, waktu keperluannya selalu ditanya oleh petenun. Oleh karena itu, pembuatan ulos selalu berlatar belakang kekuatan mistik sehingga ulos berfungsi protektif kepada pemakainya,” papar Bungaran.

Selain sebagai pakaian, penanda kedudukan, penanda kelompok, dan perangkat adat, ulos juga menjadi pengikat kasih sayang antar-sesama manusia. Bahkan, segala bentuk hadiah dari pihak perempuan kerap disebut ulos walaupun bukan dalam bentuk kain.

”Waktu saya menikah dan ikut suami, ibu saya memberi ulos sitolu tuho yang dia tenun sendiri, sambil berpesan, kalau saya rindu dia, tinggal peluk erat-erat ulos pemberiannya,” kata Lasma Nainggolan (58), pedagang ulos di Pasar Horas, Pematang Siantar.

Seiring zaman dan masuknya agama modern, sebagian besar masyarakat Batak tak lagi melakoni kepercayaan yang dianut para leluhur. Sejak itulah, menurut Bungaran, kesakralan ulos dari segi magis tereduksi. Kesakralan ulos beralih, dikemas dalam bingkai keagamaan, tanpa menyerap lagi unsur kemagisan.

Meski zaman terus berubah dan kepercayaan leluhur ditinggalkan, bagaimanapun sulit menjadi Batak tanpa ulos. Ulos pada masa kini mungkin memang tak lagi berfungsi magis sebagai penjaga jiwa, tetapi penjaga identitas budaya bagi masyarakat Batak. Di dalam setiap helai benangnya termuat sejarah yang menjadikan identitas Batak ada. Oleh: Sarie Febriane
sumber : kompas

Posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

SENTRA KERAMIK PLERED PURWAKARTA

Jika ke Bandung atau sebaliknya ke Jakarta melewati Cikampek, mampirlah ke Plered, Purwakarta, Jawa Barat Di sini banyak dijumpai keramik yang unik dan pantas untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bentuknya beraneka ragam dan relatif murah.

Sentra industri keramik Plered berada di wilayah selatan Kabupaten Purwakarta. Plered merupakan satu kecamatan yang memiliki luas wilayah 36,79 km persegi dengan jumlah penduduk 54,337 jiwa. Sentra industri kecil ini terletak di Desa Anjun, Citeko, dan Desa Pamoyanan. Plered sudah lama dikenal sebagai daerah penghasil keramik. Dari tempat ini, berbagai bentuk dan ukuran keramik dibuat. Ada yang kecil, sedang hingga besar dengan berbagai aneka desain.

Pembuatan keramik Plered memang sudah berlangsung turun temurun dan diperkirakan dimulai sejak tahun 1904. Awalnya, masyarakat sekitar membuat keramik dari tanah liat merah dan termasuk gerabah ini untuk memenuhi perkakas rumah tangga. Tapi, pada perkembangannya kerajinan tersebut mampu menjadi sumber pendapatan tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Di sepanjang jalan tampak berjejer pajangan keramik yang menarik perhatian. Berbagai bentuk gerabah, mulai dari perabotan rumah tangga hingga mainan anak-anak bisa menjadi suvenir yang menarik. Bila berkunjung langsung, selain bisa menyaksikan langsung pembuatan keramik, Anda juga bisa mendapatkan harga lebih murah. Ada yang dijual mulai dari Rp 5.000,- sampai ratusan ribu rupiah.
sumber : .disparbud.jabarprov

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

INI KESIMPULAN OMBUDSMAN ATAS PELAKSANAAN UN DI SUMUT

Ombudsman Perwakilan Sumatera Utara, menilai, dari pantauan yang mereka lakukan selama tiga hari pelaksanaan UN di tiga daerah di Sumut, yakni di Kota Medan, Kabupaten Deliserdang dan Kota Binjai, pihaknya menyimpulkan hasil pelaksanaan UN tingkat SLTA sederajat di wilayah Sumatera Utara.

Berikut Kesimpulan lengkap Ombudman Sumut atas pelaksaan UN selama tiga hari mulai dari 22-24 April 2014. Keterangan ini disampaikan Ketua Perwalikan Ombudsma Sumut Abyadi Siregar didampingi Asisten Ombudsman Dedy Irsan, Ricky Hutahaean dan Tetty Silaen dalam keterangan persnya kepada wartawan di Medan, Kamis (17/4/2014).

1. Sosialisasi POS UN 2013/2014 yang dilakukan oleh Pelaksana UN (Dinas Pendidikan Provinsi Sumut, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumut, Perguruan Tinggi Negeri, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP))  terhadap Pengawas UN tidak maksimal.

2. Akibat kurangnya sosialisasi POS UN, maka Pemahaman Pengawas UN terhadap POS UN tidak seragam. Bahkan ada Pengawas UN dari Pengawas Satuan Pendidikan yang tidak paham tugas dan fungsinya sebagaimana diatur didalam POS UN.

3. Pada umumnya Pengawasan UN yang dilakukan oleh para Pengawas UN cenderung terlalu longgar sehingga peserta UN kurang tertib.

4. Distribusi soal UN di Wilayah Provinsi Sumatera Utara belum terkelola dengan baik sehingga ada Sekolah yang menerima soal yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

Bahkan ada 4 SMK di 4 Daerah (Padangsidempuan, Padanglawas Utara, Batubara dan Kota Medan) terpaksa dibatalkan UN dan akan mengikuti UN susulan di tanggal 22 sampai dengan 24 April 2014.

5. Seluruh temuan Ombudsman RI Perwakilan Sumut tersebut diatas akan menjadi Laporan ke Ombudsman RI Jakarta guna disampaikan ke Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk  dijadikan sebagai bahan perbaikan Pelaksanaan UN ditahun mendatang.

6. Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara juga akan menyampaikan temuan ini kepada Pelaksana UN Provinsi Sumut (Dinas Pendidikan Provinsi Sumut, Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumut, Perguruan Tinggi Negeri, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)) dan Instansi terkait lainnya untuk dijadikan sebagai bahan perbaikan Pelaksanaan UN ditahun mendatang.

7. Dari keseluruhan temuan ini, Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara menilai bahwa Pelaksanaan UN Tingkat SLTA Sederajat di Wilayah Sumatera Utara, secara umum belum sesuai dengan Prosedur Operasi Standar (POS) UN Tahun 2013/2014 sebagaimana yang diterbitkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

8. Pelaksana UN di Provinsi Sumatera Utara cenderung tidak serius dalam   melaksanakan UN di Provinsi Sumatera Utara.
sumber : medanbagus

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KEJARI MEDAN TETAPKAN STATUS DPO UNTUK ICHWAN HUSIEN SIREGAR

Kejaksaan Negeri (Kejari) Medan menetapkan Direktur Operasional (Dirops), PD Pemabagunan Medan Ichwan Husien Siregar dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Kita sudah tetapkan statusnya DPO. Dan sedang mencari keberadaannya,” ucap Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Medan, Jufri Nasution, Jumat (18/4/2014).

Diakuinya, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Medan, Muhammad Yusuf kini sudah menginstruksi anggotanya di Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Medan untuk melakukan pengejaran dan mencari keberadaannya.

” Kita berharap bisa melacak keberadaannya dalam waktu dekat ini. Pasalnya, beliau membawa lari uang Rp 800 juta. Untuk segera kita akan melacaknya,” kata Yusuf.

Sebelumnya Kejari Medan juga sudah menahan tiga pejabar PD Pembangunan Kota Medan lainnya. Mereka masing-masing, Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan Kota Medan, Armen Ginting, Direktur Keuangan dan Sumber daya manusia (SDM) Besri Nazir dan Bendahara Pengeluaran Risman Effendi. [ded]
sumber : medanbagus

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima | Leave a comment

SUARA PDI PERJUANGAN DI KARO DIPREDIKSI ANJLOK

Tanah Karo-andalas Sejumlah informasi diperoleh andalas, Senin petang (14/4) tentang perolehan hasil sementara di Tanah Karo dari sejumlah Caleg di masing-masing Dapil di 17 Kecamatan di Tanah Karo, Golkar, Demokrat, Hanura dan Gerindra saling mengklaim unggul.

Bahkan tidak satu-dua parpol mengklaim akan memperoleh 2 kursi di dapil tertentu, sehingga besar kemungkinan posisi kepemimpinan DPRD Karo diprediksi berubah, yang selama beberapa periode ini didominasi keunggulan PDIP. Namun ketika ditanya lebih jauh tentang peroleh suara dan caleg parpol tertentu, belum dapat menyebutkan secara pasti.

Informasi lain, menyebutkan di 5 Dapil adalah, Dapil I meliputi Kecamatan Kabanjahe dengan jumlah 6 kursi, Demokrat, Gerindra, PKPI, Golkar, PDIP, Hanura. Dapil II (7 kursi) meliputi Kecamatan Berastagi, Simpangempat, Merdeka dan Namanteran : Demokrat, Hanura, Golkar, PDIP, PKPI, Gerindra dan PAN.

Dapil III (8 kursi) meliputi Kecamatan Tigapanah, Barusjahe, Dolatrayat, Merek: Golkar, PKPI, Demokrat, PDI P, Gerindra dan Nasdem. Dapil IV (7 kursi) meliputi Kecamatan Tigabinanga, Juhar, Mardinding dan Laubaleng : PDIP, Golkar, Gerindra, Demokrat, Hanura, PKPI dan PAN. Dapil V (7 kursi) meliputi Kecamatan Payung, Tiganderket, Munte dan Kutabuluh : PDIP, Golkar, Hanura, PKPI, Gerindra.

Pihak KPU yang dikonfirmasi, perihal perolehan suara hasil sementara Pileg, belum berhasil. Ketua KPU, Benyamin Pinem coba ditemui wartawan belum ada di tempat. Telepon selulernya yang dihubungi, tidak aktif kecuali pesan melalui voice mail.

Sementara, Komisioner Panwaslu Kabupaten Karo yang dikonfirmasi melalui Inganta Tarigan tentang perolehan suara untuk Caleg Provinsi Sumut, Pusat dan DPD dari Kabupaten Karo, mengaku belum dapat memprediksi.”Belum sampai ke perhitungan ke arah situ,”tegasnya.

Informasi lain diperoleh dari sejumlah anggota DPRD Karo dari kader PDIP Tanah Karo menyebut, hasil Pileg 2014 suara PDIP diprediksi anjlok untuk suara DPRD Karo 2014-2019. Bahkan dengan perkiraan sementara tersebut, posisi pimpinan DPRD Karo yang selama ini dari PDIP akan lowong dan diganti Golkar atau Demokrat.

Suara terbanyak hasil Pileg 2009-2014 oleh PDIP menduduki jabatan Ketua DPRD dengan 7 kursi. Sedang Pileg 2014-2019 diprediksi turun dari 7 kursi menjadi 4 atau 5 kursi. Sedangkan P Golkar, Pileg 2009-2014 dengan 4 kursi menduduki Wakil Ketua DPRD dan partai PIS dengan 3 kursi menduduki posisi Wakil Ketua DPRD.

“Dipastikan, posisi pucuk pimpinan DPRD Karo hasil Pileg 2014-2019 akan dipimpin antara Golkar, PDIP Gerindra, atau Demokrat,” ujarnya. (RTA)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

SMA NEGERI 2 SIDIKALANG AKAN DIKEMBANGKAN JADI SEKOLAH UNGGULAN

Sidikalang-andalas SMA Negeri 2 Sidikalang  akan dikembangkan menjadi salah satu sekolah unggulan. Hal itu dimaksudkan sebagai salah satu strategi dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di daerah otonom tersebut.

Hal ini mengemuka pada pembicaraan Sekdakab Dairi Julius Gurning, Kepala Dinas Pendidikan Drs Naik Tobing, Kepala SMAN 2 Sidikalang Annalowisa Sianturi di sela kunjungan Sekdakab dan Kadis Pendidikan ke sekolah tersebut, Senin (14/4) dalam rangka monitoring penyelenggaraan UN.

Sekda Julius Gurning mengatakan, Pemkab Dairi mendukung dan menyambut baik program tersebut.  Pembangunan sektor pendidikan menjadi salah satu sektor yang menjadi atensi serius Pemkab Dairi.

“Pendidikan merupakan salah satu dari tiga pilar pembangunan menjadi program Pemkab Dairi, setiap usaha peningkatan kualitas pendidikan patut diapresiasi,”katanya.

Hal senada diutarakan Kadis Pendidikan Drs Naik Tobing. Salah satu strategi pemerataan mutu adalah dengan memperbanyak sekolah berkualitas. Untuk mewujudkan program tersebut, dia meminta agar Kepala SMAN 2 Sidikalang segera mengajukan proposal untuk dilakukan pengkajian dan melakukan studi perbandingan ke sekolah-sekolah unggulan yang ada di daerah lain di Sumut seperti SMA Mata Uli Sibolga, SMA Plus Balige, SMA Plus Raya dan sekolah sejenis lainnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Annalowisa Sianturi menyebutkan, sekolah yang dipimpinnya terus berbenah dan mempersiapkan diri menjadi sekolah unggulan. Peningkatan prestasi akademik dan nonakademik terus diupayakan.

Lingkungan dan kompleks sekolah termasuk lahan yang tersedia sangat mendukung untuk dikelola menjadi sekolah unggul. Diakui saat ini sebahagian  lahan sekolah tersebut ada yang dikelola masyarakat menjadi areal pertanian, tapi melalui pendekatan yang dilakukan pihaknya bersama komite sekolah diharapkan lahan tersebut sudah akan dikembalikan dan dapat difungsikan kembali oleh pihak sekolah.(GOL)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

HANURA KARO ADUKAN CALEG PDIP KE PANITIA PENGAWAS PEMILU

Tanah Karo-andalas Terkait dugaan praktik money politic dilakukan sejumlah TS salah seorang caleg nomor urut 1, daerah pemilihan (dapil) 5 Kabupaten Karo dari PDIP, berinisial L br S. DPC Partai Hanura Kabupaten Karo membuat laporan pengaduan, Sabtu kemarin ke Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Karo.

Dugaan praktik kecurangan itu diungkapkan Sentosa Tarigan, seorang TS sekaligus menjadi saksi Partai Hanura di Desa Gunung Meriah, Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo, pada Pemilu 9 April lalu.

“Saat itu kami melihat langsung beberapa TS dari PDIP membagi-bagikan uang disertai kartu nama caleg,” ujar warga Desa Gunung Meriah itu sembari memperlihatkan kartu nama caleg PDIP itu.

Hal senada diungkapkan Pernamen Sembiring Milala, warga yang sama. TS dan saksi Partai Hanura ini mengungkapkan, sejumlah TS dari Partai Gerindra secara terang-terangan membagikan uang kepada warga guna mencoblos dan memenangkan salah satu calon berinisial I br G, nomor urut 2, dapil 5 dari partai berlambang kepala burung Garuda tersebut.

“Motifnya sama seperti dikatakan Sentosa tadi. Mereka ini juga memberikan uang kepada warga dengan menyelipkan kartu nama calon yang akan dipilih dan dicoblos di TPS. Jumlahnya bervariasi, ada yang menerima 100 ribu, 150 ribu, hingga 200 ribu. Berani kali orang itu bagi-bagi uang di depan umum. Warga desa juga banyak melihat,” ungkap Pernamen.

Terkait hal itu, Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Karo, Pengamat S Gurky SE didampingi salah seorang caleg Partai Hanura, Sastroy Bangun SE beserta kader lainnya mendatangi kantor Panwaslu Kabupaten Karo, Sabtu, melaporkan hal tersebut dan diterima Komisioner Panwaslu Kabupaten Karo Bidang Divisi Tindak Lanjut Pelanggaran, Eva Juliani br Pandia SH.

“Kami minta, dalam hal ini Paswaslu harus bersikap bijaksana. Karena Panwaslu merupakan salah satu lembaga mengawasi Pemilu dan berkompeten mengambil tindakan, baik peraturan KPU maupun UU. Nah, kami harapkan pihak KPU harus tegas mengambil sikap. Jika memang terbukti ada salah satu calon dari parpol manapun yang ‘bermain’, ini harus didiskualifikasi,”tegas Pengamat.(lams)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

KEMENANGAN CALON LEGISLATIF NARAPIDANA DIPERTANYAKAN

Panyabungan–andalas Kemenangan Ir Ali Makmur Nasution, Caleg Partai Hanura No urut 10 yang saat ini berstatus narapidana dan sedang mendekam di Lapas Klas II B Panyabungan, dalam Pemilihan Umum Legislatif 9 April 2014 lalu menuai pertanyaan bagi sebagian masyarakat Mandailing Natal.

Mereka mempertanyakan, bagaimana mungkin seorang narapidana yang sedang menjalani hukuman di dalam penjara bisa menang dalam Pemilihan Umum Legislatif yang baru-baru ini selesai digelar serentak di seluruh Indonesia.

“Kita menilai lolosnya Caleg berstatus narapidana yang saat ini sedang mendekam di balik jeruji besi dan diprediksi unggul dalam perolehan suara Dapil 1 Kabupaten Madina, sesuatu hal yang janggal,”kata Ketua Karang Taruna Kabupaten Madina, Al Hasan Nasution kepada andalas, Rabu (16/4).

Untuk mengungkap kejanggalan yang terjadi dalam Pileg Madina, diharapkan aparat penegak hukum segera menelusuri hingga ke akarnya serta memberikan informasi transparan kepada masyarakat, apa penyebab kejadian yang dianggap di luar logika dan akal sehat tersebut.

“Bagaimana mungkin seorang narapidana yang sedang mendekam di balik jeruji besi bisa menang dalam Pileg. Ini merupakan dagelan politik yang tidak lucu dan disinyalir pasti ada apa-apanya,”kata mantan aktivis PMII ini.

Menurutnya, kemenangan narapidana ini dalam Pileg Madina, diduga kuat terkait dengan permainan money politic, yang dimainkan oknum caleg melalui tim suksesnya sehingga dapat meraup suara terbanyak dari masyarakat.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Madina (IMA Madina), Ahmad Irwandi Nasution menanggapi hal itu menyatakan, menangnya seorang narapidana dalam Pileg merupakan potret buramnya dunia politik di Kabupaten Madina.(JBL)
sumber : harianandalas

Posted in Berita | Leave a comment

UJIAN NASIONAL DI MEDAN DIKLAIM CURANG

Medan-andalas Komunitas peduli pada guru dan siswa kembali mengklaim pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/MA sederajat 2014 mengkalim penuh kecurangan. Indikasi kecurangan yang mereka ungkapkan masih sama seperti tahun sebelumnya yakni bocornya kunci jawaban.

Ketua Komunitas itu Abdi Surya Saragih pada wartawan Rabu (16/4) mengatakan, bocornya kunci soal masih sama modusnya seperti sebelumnya. Senin pagi sekira pukul 05.20 WIB, siswa berkumpul di sebuah masjid dan gedung sekolah. Adajuga yang berkumpul di tempat foto copi. Berbeda dengan tahun sebelumnya, untuk mendapatkan kunci jawaban siswa harus bayar Rp 150 ribu.

Uniknya, ketika ditanya dimana tempat kejadiannya, komunitas yang berlokasi di Jalan Sei Merah ini tak bersedia menjawab dengan alasan takut dikriminalitaskan. “Seperti pengalaman kami sebelumnya. Kami sempat dipenjarakan,” kata Resita SPd, selaku Dewan Pembina Komunitas tersebut.

“Pokoknya semua kejadiannya di Medan,” timpal salah seorang rekan mereka.

Ketika ditaanyakan mana naskah soal agar bisa disesuaikan dengan kunci jawabannya. Lagi-lagi komunitas ini menjawab tak ada. Padahal naskah soal tidak dikembalikan ke Disdik Medan diserahkan untuk sekolah saja. “Tapi biasanya, cocok itu,” timpal Resita lagi.

Meski hanya muncul setahun dan hanya di saat UN saja, komunitas ini tak juga mampu merubah situasi ini. Sejak muncul pertama kali hingga saat ini isu yang diangkat tetap penghapusan UN. Bagaimana mau dihapus, anggaran UN cukup besar.

Hal itu juga dibenarkan Abdi. ”Kami tak menyalahkan siswa, guru, kepala sekolah dan pemerintah daerah karena semua ini terkait dengan sistem. Kami juga sepakat UN ini sebagai pemetaan, tapi ujian nasional ini tidak dibutuhkan. Beginilah jadinya, jika hak preogratif guru diambil oleh pemerintah,’’katanya.

Seharusnya, kata Abdi, gurulah yang menentukan siswanya lulus atau tidak. Bukan pemerintah. ” Pemerintah hanya menilai dan menentukan sekolah itu bagus atau tidak bagus melalui akreditasi. Cukup itu saja. Kalau sekolah bagus, siswa yang dihasilkan tentu bagus. Tidak harus ikut campur ke dalam intern sekolah. Karena itu kerjaan kepala sekolah dan guru untuk menentukan siswanya lulus atau tidak. Bukan pemerintah,” tandas Abdi.

Pengawas UN Selidiki Temuan Ombudsman

Dilokasi terpisah, satuan Pengawas Ujian Nasional (UN) Sumut masih menyelidiki temuan Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) terkait pelanggaran di SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5 dan SMKN 10 Medan yang tidak menyegel lembar jawaban UN di ruang ujian pada pelaksanaan UN 2014 hari pertama, Senin (14/4) lalu.

“Kita akan melakukan identifikasi di sekolah itu (SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5 dan SMKN 10) siapa pengawas satuan pendidikan kita yang berada di sana. Kenapa bisa dibiarkan di ruangan,” kata Koordinator Pengawas Satuan Pendidikan UN Sumut, Prof Dr Khairil Anshari MPd, Rabu (16/4).

Dikatakannya, pihaknya tidak ada mendapatkan informasi dari satuan pengawas pendidikan kepada koordinator pengawas UN Sumut. “Tetapi kalau ada hal-hal yang lain, misalnya yang salah mengerjakan dan lain sebagainya itu ada,” sebutnya.

Ditanya apa tindakan pihaknya atas temuan Ombudsman, Pembantu Rektor (PR) I Universitas Negeri Medan (Unimed) itu mengatakan, kepala sekolah (Kepsek) SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5, dan SMKN 10 harus bertanggungjawab atas kejadian tersebut.

“Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan juga bertanggungjawab atas temuan Ombudsman tersebut. Sebab, Kepala Dinas Pendidikan yang meng-SK-kan mereka di situ,” tegasnya.

Pihaknya juga akan melakukan klarifikasi kepada pengawas satuan pendidikan yang tidak memberikan teguran kalau mengetahui terjadinya pelanggaran sebagaimana diatur dalam Standar Operasional Standar (SOP) UN tahun pelajaran 2013/2014 yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

“Bentuk sanksi jika hasil identifikasi kita benar, satuan pengawas kita lakukan peneguran. Sebelumnya tahun lalu, ada yang sampai dilakukan pemberian sanksi skor tidak mengajar satu semester, karena kesalahannya fatal. Yang bersangkutan tidak bertugas, namun ID card-nya ada sama orang lain. Berbeda dengan temuan Ombudsman ini, bila kesalahan ditemukan, satuan pengawas kita tidak akan sertakan lagi kegiatan-kegiatan di Unimed,” tegasnya.

Identifikasi itu untuk mencari tahu siapa petugas satuan pengawas di sekolah yang ditemuakan adanya pelanggaran SOP tersebut. “Petugas satuan pengawas UN terdiri dari 200 dosen USU, 150 dosen IAIN Sumut, 75 dosen Politeknik Negeri Medan, sekira 300 dosen Kopertis Wilayah I Sumut, dan terbanyak dosen Unimed sekira 400 orang,” ujarnya.

Sekadar mengingatkan, Ombudsman RI Perwakilan Sumut menemukan sejumlah pelanggaran dalam pelaksanaan UN pada hari pertama di Medan. Di antaranya tidak
disegelnya lembar jawaban peserta di ruang ujian setelah selesai pelaksnaan ujian.

Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Abyadi Siregar kepada wartawan, Senin (14/4) mengatakan, hari pertama UN untuk tingkat SMA, Ombudsman Sumut yang turun dengan dua tim melakukan pengawasan di empat sekolah di Medan yakni, SMAN 1, SMAN 2, SMAN 5 dan SMKN 10.

Dari pengawasan tersebut, ditemukan sejumlah pelanggaran sebagaimana diatur dalam Prosedur Operasional Standar (POS) Penyelenggaraan UN tahun pelajaran 2013/2014 yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). (ril/hAM)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PASCA LONGSOR, WARGA DESA KUTARAYAT BUTUH PERHATIAN

Tanah Karo-andalas Warga Desa Kutagugung dan Kutarayat Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo mengharapkan perbaikan jalan akses utama menuju desa. Pasalnya, sejak Sabtu lalu, jalan provinsi Kabanjahe–Desa Kutarayat longsor, hingga saat ini kondisi jalan belum diperbaiki pihak terkait.

Sejumlah warga mengaku mengeluh dengan kondisi jalan tersebut, apalagi pada musim hujan jalan berlumpur. Mereka yang melalui jalan tersebut pada umumnya menggunakan kendaraan, baik roda empat ataupun roda dua kesulitan melalui jalan yang rusak akibat longsor tersebut.

“Kami berharap jalur rusak akibat longsor itu dilakukan perbaikan, sehingga tidak menghambat lalu lintas. Karena jalan dekat jembatan Pertumbuken, merupakan satu-satunya jalan penghubung Desa Kutarayat, Kutagugung ke arah Kabanjahe terancam putus,”ujar Wakil Ketua DPRD Karo, Onasis Sitepu ST, Selasa (15/4) di Kabanjahe.

Diungkapkan Caleg PKPI ini, nasib sebagian warga Desa Kutarayat dan Kutagugung butuh perhatian serius. Di tengah masih beraktivitasnya Gunung Sinabung dan sisa-sia debu vulkanik menutupi badan jalan, warga yang masih menetap di kedua desa itu kesulitan menuju Kabanjahe untuk membawa hasil panen pertaniannya.

“Jalan itu kalau tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan bisa putus total. Kasihanilah rakyat kami yang membutuhkan perbaikan jalan,”pinta Onasis.

Pantauan wartawan di lapangan, kemarin, kondisi jalan provinsi di Kutarayat–Kabanjahe pasca longsor Sabtu lalu, hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan. Akibat seringkali diguyuri hujan, jalan menjadi berlumpur sehingga sulit dilalui pengendara.

Pengendara yang melintas terpaksa ekstra hati-hati melintas agar jangan sampai terjebak di lumpuran, apalagi kondisi jalan pada tanjakan yang cukup tinggi. Ada juga sebagian pengendara terutama kendaraan roda dua yang nekat melalui bagian jalan belum longsor, meskipun sempit.
Ketika hendak dikonfirmasi pihak UPT Kabanjahe Dinas Bina Marga Pemprovsu, di kantornya jalan Pahlawan Kabanjahe, tidak terlihat ada aktivitas. Bahkan seorang PNS pun tidak ada kelihatan di kantor tersebut.

Sebelumnya, Kepala UPT Kabanjahe Dinas Bina Marga Pemprovsu, Simsu Bukit yang dikonfirmasi di kantornya, Rabu, membenarkan longsor tersebut akibat musim hujan yang terjadi baru-baru ini. Anggaran sudah diajukan sekitar Rp 1 miliar ke Bina Marga Pemprovsu.”Tinggal menunggu pihak konsultan menilainya dan persetujuan anggaran dari dinas,”ujarnya. (NT)
sumber : harianandalas

Posted in Berita, Berita dan Informasi Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment