SOPIR TRUK FUSO BELUM TERTANGKAP

TABRAK 2 MOBIL DAN 2 MOTOR DI SIBOLANGIT

SIBOLANGIT, SUMUTPOS.CO – Sopir truk Fuso bernomor polisi BK 8813 AL yang menabrak 2 mobil dan 2 sepeda motor, di Jl Jamin Ginting Km 45-46, tepatnya di Desa Bandar Baru, Kec Sibolangit, Deli Serdang Rabu (19/11) lalu, hingga kini belum tertangkap polisi.

Kanit Lantas Polsek Pancur Baru, AKP MKL Tobing mengatakan, masih mengejar sopir yang kabur begitu terjadi kecelakaan. Menurutnya, kecelakan tersebut diduga sopir lalai.

“Sebelum kejadian truk terlebih dahulu menyenggol pengendara sepeda motor Jupiter MX. Setelah menyenggol, warga yang melihat kemudian mengejar truk. Mungkin karena takut untuk berhenti kemudian sopir tancap gas. Setibanya di TKP truck kembali menyeruduk mobil Avanza BK 1434 KP yang datang dari arah Medan. Sopir truk diduga kembali menabrak pengendara sepeda motor Vega R BK 3476 ABK yang kebetulan di depan truk hingga korban terseret dan tewas,” katanya.

Setelah itu, katanya, truk kembali menabrak mobil Misubishi L300 pick up bermuatan barang hingga berhenti diberem jalan. “Jadi bukan karena rem blong melainkan akibat sopir lalai akibat ugal-ugalan dalam mengemudi,” katanya.

Sekedar mengingatkan, dalam kecelakan itu pengendara sepeda motor Vega R BK 3476 ABK, Muhamad Lihat Ginting (40), warga Desa Sari Munthe, Kec Munthe tewas. Sedangkan, Junaidi Sembiring (35), warga Jl Bahagia Kel Cinta Damai, Kec Helvetia Medan, sopir L300, serta Jefri pengendara Jupiter MX mengalami luka-luka. (cr-2).
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima | Leave a comment

TIDAK LIBATKAN DPD, REVISI UU MD3 MASUK PROLEGNAS

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Rapat konsultasi pengganti Bamus akhirnya menetapkan revisi UU MD3 dibawa ke paripurna. Revisi UU tersebut akan dimasukkan dalam program legislasi nasional 2014.

“Rencana perubahan UU MD3 menjadi usul inisiatif DPR. Dua poin itu akan kami laksanakan,” kata Wakil Ketua DPR Agus Hermanto di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/11/2014).

Agus mengatakan RUU akan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk itu saat ini pihaknya sedang menunggu DIM (Daftar Inventarisasi Masalah) serta surat presiden untuk menindaklanjuti rencana UU MD3 itu.

“Ini masuk prolegnas 2014 bukan 2015 karena kami akan melaksanakan setelah dapat surat presiden beserta kelengkapan, kami laksanakan di 2014. Bahkan kami berkeinginan bisa dapat menyelesaikan dalam akhir masa sidang tanggal 5 Desember 2014,” ujarnya.

Selain itu, Agus menegaskan pihaknya tidak melibatkan DPD. Pasalnya revisi dilakukan berkaitan dengan pimpinan alat kelengkapan dewan serta komisi.

“Untuk kali ini kami tidak libatkan DPD karena hal yang ingin kami ubah berkaitan dengn DPR saja. Kami siapkan yang ketat,agar cepat selasai, bisa bersinergi di DPR RI dilakukan bersama. Bisa sinergi jalankan fungsi DPR,” tutur Politisi Demokrat itu.

Mengenai kesepakatan memasukkan RUU tersebut di Prolegnas, Agus mengatakan pihaknya tetap mengikuti aturan perundang-undangan yang ada.

“Proses pembentukannya tidak seolah-olah diburu-buru. Sehingga ada satu ketentuan yang bisa kita lewati sehingga proses. Dilaksanakan sesuai peraturan perundangan,” ujarnya.
sumber: tribunnews

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

ELPIJI 3 KG SENTUH RP 25.000/TABUNG

MedanBisnis – Medan. Masyarakat Kota Medan mengeluhkan tingginya harga eceran gas elpiji 3 kg. Pasalnya, harga jual eceran bervariasi dari Rp20.000 hingga Rp25.000 per tabung, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Kota Medan di tingkat agen atau subagen (pangkalan) sebesar Rp16.000 per tabung. Para pedagang eceran beralasan, naiknya harga elpiji 3 kg untuk menutupi naiknya biaya transportasi.
Nita, warga Kecamatan Medan Perjuangan mengaku terkejut ketika membeli gas elpiji 3 kg mencapai Rp25.000 per tabung di wilayahnya. Padahal biasanya harga elpiji 3 kg masih di kisaran Rp18.000 pertabung. “Ngeri sekali naik harganya. Padahal biasanya saya beli Rp18.000 pertabung. Kata pedagang, karena BBM naik, jadi harga gas juga naik. Itupun elpiji 3 kg ini agak sulit didapat,” ujarnya kepada MedanBisnis, Minggu (23/11).

Pemilik warung makan di Jalan Kejaksaan Medan juga mengeluhkan tingginya harga gas bersubsidi yang mengakibakan penambahan cost Rp15 ribu – Rp20 ribu per hari, mengingat usahanya membutuhkan 2-3 tabung per hari. “Ini warung kecil, kalau harga makanan tak dinaikkan, tak datang membeli lagi orang,” kata Evi, pemilik warung tersebut.

Kenaikan harga jual elpiji 3 kg juga terjadi di Kecamatan Medan Johor. Hamdani, penjual gas elpiji mengatakan harga jual gas elpiji 3 kg di tempatnya naik menjadi Rp20.000 per tabung. Kenaikan harga jual, katanya, dikarenakan pasokan gas dari agen cukup sulit. Bukan itu saja, naiknya harga BBM juga mempengaruhi biaya transportasi sehingga mau tak mau pihaknya terpaksa menaikkan harga jual gas elpiji 3 kg. “Memang sebelumnya harga gas elpiji 3 kg itu Rp17 ribu pertabung, sekarang menjadi Rp20 ribu pertabung. Apalagi BBM juga sudah naik. Otomatis biaya pengangkutan barang juga naik,” ucapnya.

Sementara Ross penjual gas elpiji di Kecamatan Medan Johor mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya, harga jual elpiji naik sejak diumumkannya kenaikan harga BBM bersubsidi. “Memang sudah naik harganya. Kalau sebelumnya kita jual Rp18.000 per tabung sekarang menjadi Rp21.000 per tabung. Namanya juga BBM naik, otomatis semuanya pun serba mahal, termasuk harga gas,” katanya.

Senior Supervisor External Relation (Kepala Humas) PT Pertamina Marketing Operation Regional I Sumbagut, Zainal Abidin mengatakan naiknya harga BBM seharusnya tidak memengaruhi harga gas elpiji. Pasalnya tiap-tiap provinsi atau kota telah memiliki Harga Eceran Tertinggi (HET). “Secara prinsip naiknya harga BBM tidak ada hubungannya dengan naiknya harga gas elpiji, karena dua hal yang berbeda. Itukan bisa-bisanya pengecer saja. Tapi terkait pengecer, bukan kewenangan Pertamina. Makanya Disperindag harus turun tangan mengawasi ini. Di peraturan pemerintah, yang dikenal hanyalah agen dan subagen (pangkalan),” jelasnya.

Kata Zainal, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM Nomor 26 tahun 2009 dan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 5 tahun 2011 dan Menteri ESDM Nomor 17 tahun 2011, telah tercantum siapa yang berhak melakukan pengawasan, menetapkan HET dan sistem kendali elpiji. Namun dalam peraturan tersebut, pengawasan di tingkat pengecer memang tidak ada diatur. “Inilah kelemahan dari sistem pendistribusian elpiji itu. Jadi setelah sampai di tingkat pengecer sudah tidak ada aturan siapa yang harusnya mengawasi. Namun demikian, Disperindag harus nya mengawasi distribusi elpiji ini. Kalau di tingkat pangkalan idealnya ada tim gabungan di bawah kordinasi pemerintah daerah dan pemerinta kota dalam hal ini koordinatornya Sekda Provsu dan Disperindag juga,” urainya.

Dia menambahkan selama Oktober-November 2014, setidaknya ada 21 agen dan 40 pangkalan di Sumut yang telah diberikan sanksi berupa sanksi administrasi maupun pengurangan alokasi. “Pangkalan dalam hal ini ditindak oleh agennya setelah ada laporan atau temuan baik dari masyarakat, pertamina dan instansi terkait,” bebernya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumut Bidar Alamsyah mengaku adanya keluhan masyarakat terkait mahalnya gas bersubsidi. Namun, dia mengatakan pihaknya hanya sebagai koordinator pengawasan dan pelaksanaan pengawasan ada di pemerintah kabupaten/kota.

Wakil Ketua Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumatera Utara (Sumut) Ikrimah Hamidy mengatakan jalur panjang distribusi membuat harga gas tidak terawasi. “Keluar SPBE (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji) ke pangkalan masih bisa terawasi. Kalau sudah sampai ke tingkat pengecer, itu sulit diawasi,” katanya.

Gas bersubsidi seharusnya diperuntukan bagi keluarga kurang mampu dan usaha kecil, faktanya gas dibeli oleh orang yang mampu. “Karena memang itu dijual bebas, bahkan orang mampu sekalipun bisa membelinya. Jadi tidak terawasi distribusi sampai penetapan harganya,” katanya.

Komisi B DPRD Sumut, katanya, akan memanggil pihak Pertamina dan Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk rapat dengar pendapat (RDP) terkait kondisi keberadaan elpiji dilapangan yang telah membuat masyarakat semakin terbebani. (cw02/edward bangun)
sumber : medanbisnisdaily

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

SEKELUARGA DIBANTAI DI SIANTAR, 1 TEWAS, 2 LUKA

PELAKU DIDUGA SEPUPU SENDIRI

SIANTAR, SUMUTPOS.CO – Warga Jalan Sudirman, Kel. Proklamasi, Siantar Barat mendadak geger, Minggu (23/11) sekira pukul 05.30 Wib. Warga sekitar mendapat kabar penghuni rumah dekat rel kereta api tewas dibantai.

Terkuaknya pembantai ini setelah salah seorang korban bernama Anggi br Nasution (28), berhasil lolos dari amukan pelaku. Begitu keluar dari rumah, korban menemui petugas piket Bengkel Lapangan (Benglap) “8” 01-44-01, yang berada tidak jauh dari rumah mereka.

Begitu mendapat laporan tersebut, seorang anggota TNI langsung membawa Anggi yang dalam kondisi luka parah ke rumah warga. Sedangkan anggota lainnya melapor ke Polsek Siantar Barat.

Saat berada di rumah warga, Anggi terus meronta-ronta meminta tolong sembari mengaku dipukuli abang sepupunya BI (Budi).

“Aku sempat tanya kenapa bisa luka-luka, katanya dipukuli pakai broti sama abang sepupunya (Budi). Dia (Anggi) juga ngaku pura-pura mati makanya bisa lolos,” ungkap Boru Silitonga, warga yang tinggal tak jauh dari rumah korban.

Kepada Boru Silitonga, Anggi mengaku sempat mengunci pintu dari luar saat meloloskan diri. Namun karena jarak pintu dengan jendela sangat dekat, pelaku bisa membukanya dan melarikan diri.

“Dia nggak ada cerita mengenai apa masalah mereka karena dia (Anggi, red) sudah luka-luka semua kepalanya,” kata wanita berusia 50-an tersebut.

Sementara itu, tak lama setelah menerima laporan dari anggota TNI, personel Polsek Siantar Barat tiba di lokasi kejadian dan langsung menaikkan Anggi ke mobil patroli.

Namun karena warga menyatakan masih ada dua orang lagi di dalam rumah korban, petugas tidak langsung melarikan Anggi ke rumah sakit, melainkan melakukan pengecekan ke dalam rumah.

Hasilnya, petugas mendapati dua orang tergeletak dalam kondisi mengenaskan. Masing-masing adalah Reza Sitorus (22), abang kandung Anggi dan Melly boru Sitorus (17), sepupu Anggi. Saat diperiksa, Reza telah meninggal dunia. Sedangkan Melly, kritis.

Melly dan Anggi dinaikkan ke mobil patroli. Selanjutnya, kedua korban selamat dilarikan ke RS Djasamen Saragih. Hingga berita diturunkan, kedua korban masih menjalani perawatan intensif.

Tak lama, petugas Polres Siantar datang dan melakukan olah TKP serta mengevakuasi jenazah Reza ke RSUD Djasamen Saragih untuk dilakukan otopsi.

Dari hasil olah TKP, petugas mengamankan beberapa barang bukti seperti satu buah cangkul, sangkur dengan bercak darah, pakaian yang terkena darah dan barang-barang lainnya. Sementara itu, barang-barang berharga seperti handphone dan 1 unit Yamaha Jupiter MX milik Reza, hilang.

Foto Reza Sitorus (kiri) semasa hidup.

Foto Reza Sitorus (kiri) semasa hidup.

Pantauan METRO SIANTAR(grup SUMUTPOS.CO), Anggi dan Melly belum bisa dimintai keterangan. Anggi mengalami luka koyak pada bagian bibir kanan atas serta kepala kanan. Sementara Melly mengalami luka pada bagian kepala sebelah kiri, luka lebam di mata kanan dan kirinya.

Ketika dihampiri pamannya, Anggi sempat mengatakan, “Awas BI, awas!” Anggi yang menggigil dan terus mengigau juga mengatakan bahwa ia sudah bepura-pura mati agar selamat. “Pura-pura mati aku tadi,” ceracaunya lagi.

Sipunggul Gultom (49), paman korban yang ditemui di rumah sakit mengatakan, dirinya tidak mengetahui kehidupan Budi selama ini. Ia menyebutkan kalau Budi sudah berkeluarga, namun tidak pernah melakukan silahturahmi ke rumahnya. “Dia enggak pernah datang, aku nggak tahu kehidupannya bagaimana,” kata pria yang tinggal di sekitara SMP Negeri 11 tersebut.

Terpisah, salah seorang anggota TNI yang piket saat kejadian mengaku sempat melihat Budi mendatangi rumah korban sekira pukul 04.00 Wib. “Aku tanda karena dia pincang. Dia datang ke rumah itu. Tapi apa yang terjadi kami tidak tahu, karena saat itu mulai hujan. Dan sekitar jam 05.00 wib listrik padam,” bebernya.

Masih kata personel TNI ini, Anggi memang datang ke penjagaan dan melaporkan kejadian yang baru dialaminya. “Dia datang dan minta tolong kalau dia baru dipukuli sama Budi,” ucapnya.

Lanjut pria yang berusia sekitar 40-an tahun ini, Budi yang diketahui masih ada hubungan darah dengan para korban jarang tinggal di rumah tersebut. “Mereka sudah belasan tahun tinggal di sini, orang tua mereka juga meninggal di sini, tapi bapak si Melly merantau ke Porsea,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Budi dikenal dengan kehidupannya yang tidak jelas. Budi juga pernah dipenjara atas kasus penyalahgunaan narkoba. Informasi yang diperolehnya, selama ini Budi tinggal bersama ayahnya di sekitaran Kelurahan Banjar. (lud/smg/ras)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima | Leave a comment

KEJATISU JADWALKAN PERIKSA SYAMSUL DI SUKA MISKIN

DUGAAN KORUPSI DANA KOMUNIKASI DPRD SUMUT

MEDAN, SUMUTPOS.CO – Penyidik Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu) menjadwalkan akan memeriksa mantan Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin, di Lapas Suka Miskin, Bandung, Kamis (27/11) mendatang.

“Sesuai jadwal, rencananya Kamis nanti tim penyidik akan menuju ke LP di Bandung untuk pemeriksaannya,” ungkap Kepala Seksi Penerangan dan Hukum Kejatisu, Chandra Purnama, saat dikonfirmasi, Minggu (23/11).

Pemeriksaan terkait kasus dugaan korupsi penggunaan dana pengembalian Tunjangan Komunikasi Intensif (TKI) dan Operasional pimpinan dan anggota DPRD Sumut tahun 2004-2009 sebesar Rp 4 miliar, dengan tersangka Ridwan Bustan.

Dikatakan Chandra, dalam pemeriksaan tersebut, mantan orang nomor satu di Sumut ini sebagai saksi. Sebab berdasarkan keterangan Ridwan Bustam, kalau pada saat itu Syamsul adalah atasannya sebagai Sekwan yang masih SKPD dibawah naungan Pemprovsu.

“Mantan Gubernur Sumut akan diperiksa sebagai saksi, karena dari keterangan tersangka ada menyebutkan kalau pada saat itu jabatannya Sekwan yang masih SKPD di bawah naungan Pemprovsu,” jelasnya.

Sementara, untuk penjadwalan pemeriksaan mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Pemprovsu, Nurdin Lubis dan pihak inspektorat Pemprovsu lainnya, Chandra mengaku hingga kini belum ada jadwal yang ditetapkan. “Masih jadwal Syamsul Arifin. Yang lain belum ada,” tandasnya.

Ridwan Bustan yang merupakan Mantan Sekwan DPRD Sumut tahun 2004- 2009 ini dinyatakan sakit dan sempat disebutkan menjalani operasi ginjal di sebuah rumah sakit (RS) di Penang, Malaysia. Sehingga itu menjadi alasan tersangka tidak ditahan dan mangkir dalam proses pemeriksaan pihak penyidik Kejatisu.

Padahal, Ridwan Bustan ditetapkan Kejatisu sebagai tersangka sejak 31 Januari 2013 lalu. Perkara ini berawal dari Sekwan Sumut dan anggota DPRD Sumut periode 2004-2009 yang belum mengembalikan dana TKI dan Operasional sekira Rp 4 Miliar.

Pada masa bakti Tahun 2004-2009 itu, seluruh anggota DPRD Sumut menerima total dana TKI dan Operasional sebesar Rp 7,4 miliar. Kemudian, pada tahun 2007 Kantor Departemen Dalam Negeri mengirim faksimili membatalkan PP No 21/2007 dan Permendagri No 21/2007 yang ditandatangani langsung Menteri Dalam Negeri Mardiyanto. Akan tetapi, dana TKI DPRD Sumut itu tidak dikembalikan oleh Ridwan Bustan selaku Sekwan saat itu. (bay/ras)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

POLISI: JALANAN MENURUN, REM TRUK BLONG

TRUK COCACOLA HANTAM 3 MOBIL & 6 MOTOR DI DAIRI

DAIRI, SUMUTPOS.co – Hasil penyelidikan, polisi memastikan truk bernomor polisi BK 9953 MY bermuatan minuman Cocacola, yang tabrakan di Jalan SM Raja Bawah, Sumbul, Kabupaten Dairi, Rabu (19/11) sekira pukul 09.30 Wib, remnya blong. Akibatnya, truk yang disopiri Bambang Teguh (42) itu menyeruduk 3 mobil, tiang listrik dan 6 unit sepeda motor yang mengakibatkan 2 tewas dan 5 luka-luka.

“Dugaan sementara remnya blong. Sopir sudah berusaha untuk menghentikan truk itu, namun karena kecepatannya tinggi, truk oleng dan menabrak yang ada di depannya. Kita masih melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi di lokasi,” kata Kapolres Dairi, AKBP Gideon Arif Setyawan didampingi Kasat Lantas Polres Dairi, AKP SP Anak Ampun.

Ditanya apakah ada unsur lain dari kecelakaan itu? Gideon menambahkan, saat ini masih mengarah ke rem blong untuk lainnya tidak ada. “Masih kita lakukan pendalaman dan penyelidikan. Saat ini, belum ada mengarah ke unsur lainnya,” kata mantan Kasat Reksrim Polresta Medan itu.

Menurutnya, kecelakaan sudah berulang kali terjadi di jalur yang sama, tepatnya di antara Lae Pondom simpang Wisata Silalahi sampai ke Kota Sumbul jembatan Lae Renun. Kecelakaan disebabkan karena banyak truk tidak kuat menahan beban saat menurun.

“Mulai dari Lae Pondom sampai Kota Sumbul jalannya menurun dengan panjang 23 km sehingga rawan bagi angkutan berat yang kelebihan muatan, karena rem bisa blong karena over muatan,” ujar Gideon.

Menurutnya, banyak angkutan berat yang memuat barang melebihi batas ketentuan yang ada. Kondisi ini menyebabkan rawan kecelakaan lalu lintas dan merusak jalan. Untuk mengantisipasi hal ini, jajaran Satlantas Polres Dairi akan menggalakkan razia.

Gideon mengatakan, belum memeriksa sopir truk, Bambang Teguh karena masih dirawat di rumah sakit.

“Sudah kita lakukan olah TKP dan lokasi sudah dibersihkan. Selanjutnya, kita akan melakukan langkah-langkah sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP),” terangnya.

Setelah sopir dinyatakan sehat dan dapat memberikan keterangan, pihaknya akan memintai keterangan secara rinci terkait kecelakaan tersebut.

Sementara pengendara sepeda motor yang tewas, Ardi Sihombing
(30), warga Siboras, Desa Pegagan Julu III, Sumbul sudah dikebumikan di Desa Pegagan Julu III, Kamis (20/11). Seorang warga, M Pasaribu (60) menuturkan Ardi adalah anak yatim dan anak satu-satunya serta merupakan tulang punggung keluarga.

’’Ayahnya sudah 7 tahun meninggal dunia jadi dia menjadi tulang punggung keluarga,” ujar Pasaribu.

Pengakuan Pasaribu, Ardi mau ke Sidikalang mau membeli sparepart sepeda motor karena kerjanya sehari-hari membuka bengkel sepeda motor di depan rumahnya.

Sekadar diketahui, truk pengangkut minuman Cocacola menabrak tiga mobil, tiang listrik dan 6 sepeda motor, saat melaju dari Medan menuju Tapaktuan. Akibatnya, 2 orang tewas dan 5 luka-luka. (*/gib)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima | Leave a comment

TEMPO SCAN BANTU KORBAN GUNUNG SINABUNG

Jakarta (ANTARA News) – PT Tempo Scan Pacific Tbk memberikan bantuan kemanusian kepada korban bencana di beberapa titik pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Tempo Scan dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana. kata Managing Director Tempo Scan Aviaska D Respati di Jakarta, Jumat.

Ini sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat kepada Tempo Scan.

Menurut Aviaska bantuan berupa obat-obatan dan vitamin ini diberikan sebagai wujud nyata tanggung jawab Tempo Scan (Corporate Social Responsibility).

Aviaska D Respati, menjelaskan Tempo Scan akan terus berupaya melaksanakan kegiatan tanggung jawab sosial dengan dukungan penuh dari sebagian hasil penjualan produk-produknya seperti hemaviton, bodrex, bodrexin, NEO rheumacyl, oskadon, dan vidoran.

Pemberian bantuan telah dilakukan pada akhir Oktober 2014 lalu, dan diberikan secara simbolis oleh Ibnu Abbas selaku Kepala Cabang PT Supra Usadhatama, salah satu anak perusahaan Tempo Scan, cabang Medan kepada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr Ir Roy Sparingga, MAppSc, yang didampingi oleh Drs Ali Bata Harahap, Apt MKes selaku Kepala Balai Besar BPOM Medan di Gedung Diklat Pemerintah Kabupaten Karo, Kabanjahe.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENGAPA DJAMIN GINTING JADI PAHLAWAN?

Karier Djamin Ginting:

1. Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan
2. Assisten Dua Bagian Perang di TNI
3. Panglima TT I Bukit Barisan
4. Panglima Sumatera Utara
5. Dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua
6. Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk Golkar

Mengapa Jadi Pahlawan?

1.Letjen (Purn) Djamin Ginting

Ikut dalam perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.

2.Sukarni Karto Kartodiwirjo

Merumuskan naskah proklamasi serta mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

3.Kyai Haji Abdul Wahab

Merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

4.HR Mohammad Mangoendprojo

Mendesak Panglima Pertahanan Jepang Jenderal Iwabe untuk menyerahkan senjata dan menguasai objek vital pada peristiwa revolusi di Surabaya tahun 1945. (*)
Sumber: Data olahan Sumut Pos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

40 TAHUN MENANTI, LIKAS BERTERIMA KASIH, JOKOWI TERTAWA

DJAMIN GINTING RESMI PAHLAWAN NASIONAL DARI TANAH KARO

Letjen (Purn) Djamin Ginting, tokoh dari Provinsi Tanah Karo, Sumut, secara resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional. Penyerahan tanda gelar kepada pria kelahiran Desa Suka, Tiga Panah, Karo, 12 Januari 1921 itu diserahkan Presiden Jokowi kepada istri almarhum, yakni oleh Likas Boru Tarigan, di Istana Negara, Jakarta, kemarin (7/11).

SUMUTPOS.CO – Usai prosesi penerimaan tanda gelar pahlawan, Likas Boru Tarigan (90) mengungkapkan rasa senangnya kepada sejumlah wartawan. “Saya merasa lega karena saya merasa suami saya kerja keras untuk kemerdekaan ini. Jadi 40 tahun sudah lewat, sekarang baru dapat anugerah. Tempo hari ketika dia meninggal dia dijanjikan tapi ndak ada kenyataannya. Sekarang sudah kenyataann. Saya senang sekali,” ujarnya.

Diungkapkannya, saat bersalaman dengan Jokowi, dia menyampaikan ucapan terimakasih karena sudah 40 tahun menunggu. Apa kata Jokowi? “Cuma ketawa aja. Gak ada pernyataan,” kata Likas.

Dia mengatakan, pengurusan administrasi pemberian anugerah Pahlawan Nasional kepada almarhum suaminya itu sudah dilakukan tiga tahun lalu.

Likas bangga karena juga ikut berjuang mendampingi suaminya. “Saya banggalah. Karena saya juga ikut memperjuangkan kemerdekaan ini, sepanjang Bukit Barisan itu,” kenangnya.

Dia pun cerita, pernah suatu saat datang pesawat terbang musuh, pagi-pagi. “Saya sakit, suami saya dengan ajudan dengan yang lain lompat keluar. Lima puluh dua kali ditembaki kapal terbang itu. Saya merangkak ke tepi sungai dengan anak saya, yang masih kecil. Tahu-tahu datang ajudan, ‘ayo bu ke tempat bapak’. Saya bulang, kenapa bukan bapak yang jemput aku. Ajudannya bilang, ibu kalau mati, mati satu. Bapak kalau mati, mati satu resimen. Jadi terserah ibu, ibu ikut atau tidak”. tu yang paling saya kenang,” cerita dia.

Hadir di acara itu antara lain Ibu Negara Iriana Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, sejumlah pimpinan lembaga tinggi dan beberapa menteri.

Selain Djamin Ginting, tiga tokoh lain juga menerima penghargaan yang sama. Yakni Sukarni Karto Kartodiwirjo (Blitar, Jatim), Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah, lahir di Jombang, dan HR Mohammad Mangoendprojo, lahir di Sragen, Jatim.

Sementara, di dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/ Tahun 2014 November 2014, disebutkan, Letjen (Purn) Djamin Ginting, berhasil dalam melancarkan perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.

Djamin Ginting, saat menjabat Kepala Staf Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan menentang keputusan atasannya untuk menunjukkan kesetiaannya pada pemerintah RI, dan menjadikan wilayah komandonya sebagai pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur pasukan PRRI di Sumatera.

“Anugerah Pahlawan Nasional kepada mereka sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa, yamg semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, atau perjuangan politik atau dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, dan mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” bunyi Keppres tersebut.

Djamin Ginting, seperti dikutib dari Wikipedia, meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53 tahun.

Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo. Djamin Ginting dilahirkan di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia.

Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang.

Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara. Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Ia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara.

Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Dikemudian hari anggota pasukan Djamin Ginting ini akan muncul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera bagian Utara dan Karo. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain lain adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini. Ketika Letkol Djamin Ginting menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan, dia berselisih paham dengan Kolonel M Simbolon yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Kodam II/Bukit Barisan.

Djamin Ginting tidak sepaham dengan tidakan Kolonel M.Simbolon untuk menuntut keadilan dari pemerintah pusat melalui kekuatan bersenjata. Perselisihan mereka ketika itu sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi yang melanda Indonesia.

Di satu pihak, Simbolon merasa Sumatera dianak-tirikan oleh pemerintah pusat dalam bidang ekonomi. Dilain pihak, Ginting sebagai seorang tentara profesianal memegang teguh azas seorang prajurit untuk membela negara Indonesia.

Dipenghujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai seorang Duta Besar untuk Kanada. Di Kanada ini pulalah Djamin Ginting, mengakhiri hayatnya. (nat/sam/tom)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

DJAMIN GINTINGS MENYELAMATKAN MARTABAT REPUBLIK INDONESIA

Djamin Gintings Selamatkan “Daerah Modal”
Opini- oleh USMAN PELLY

Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara.

Setelah Kutacane dibombardir dua pesawat pemburu Belanda, esok paginya saya ikut kakek mengungsi ke sebuah desa sekitar 12 km dari kota. Setiap pagi saya dan kakek ke kota dari desa pengungsian itu untuk berjualan di pasar. Kami melewati Macan Kumbang, sebuah perkebunan karet yang dibangun semasa Jepang. Ternyata beberapa minggu sebelum penyerangan pesawat Belanda itu, Macan Kumbang, telah menjadi markas pertahanan Let.Kol. Djamin Gintings, Komandan Resimen IV TNI pindahan dari tanah Karo.

Di kota orang bercerita bahwa markas pertahanan RI itu hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, sesuai kesepakatan Renville. Tanah Karo dianggap sudah menjadi wilayah Belanda dan Negera Sumatra Timur (NST). Karena itu kedudukan Kutacane menjadi penting. Kini Tanah Alas menjadi garis pertahanan RI terdepan menghadapi Belanda. Kota kecil itu bertambah ramai, banyak tentera dan pengungsi dari Tanah Karo dan Dairi. Mereka sibuk mendirikan rumah-rumah darurat dan barak-barak pengungsi. Di pinggir sungai (Lawe) Alas dan Lawe Bulan yang mengapit Kutacane, penuh berjejer Barak pengungsi. Sampai-sampai di halaman rumah Raja Alas (Polonas), didirikan rumah-rumah bambu yang beratap rumbia.

Malam hari, jalan satu-satunya yang membelah kota hingar bingar, motor truk tentera hilir mudik, ada yang membawa pengungsi, pasukan tentera dan korban yang luka tembak, sebahagian besar dari pertempuran di sekitar Mardinding (Desa Perbatasan antara Tanah Karo dan Tanah Alas yang menjadi markas pertahanan Belanda).

Kami melihat Djamin Gintings hanya dari kejauhan, waktu apel bendera pagi di markas Macan Kumbang, ketika kami melintasi markas itu. Atau waktu menghadiri perayaan nasional dan rapat umum di Lapangan Bola Kutacane. Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara, sedang Kol. Muhammad Din (staf Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo dari Kutaraja). Beliau selalu berpakaian tentera Jepang lengkap dengan samurainya. Kami sangat mengagumi mereka dan selalu bergaya seperti komandan-komandan TNI waktu itu.

Demikianlah rona kehidupan Kutacane, kota kecil di front perbatasan pertahanan RI dan Belanda (1947), sibuk dengan hilir mudik tentera dan pengungsi. Kami siap-siap melompat ke lobang pertahanan yang disiapkan dibelakang sekolah, ketika serine dan pesawat pemburu Belanda datang memuntahkan peluru. Keadaan kota kecil yang sesak itu mulai berobah ketika penyerahan kedaulatan (1950).

Seminar Brastagi

Waktu surat permohonan anak tertua Djamin Gintings, Riemenda Jamin Gintings SH,MH (lahir di Kutacane) dan adiknya Dra Riahna Jamin Gintings, M.Sc datang–agar saya memberi makalah dalam seminar Djamin Gintings di Berastagi–untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional, saya sambut dengan baik. Di benak saya terbuhul sesuatu yang terus menggema dari pengalaman semasa remaja di Kutacane dan keberhasilan Djamin Gintings memepertahankan garis batas pertahanan Indonesia-Belanda di Tanah Alas dengan melakukan perang gerilya di Tanah Karo.

Sesuatu yang kemudian makin jelas di benak saya, sesudah saya melakukan studi dari berbagai buku dan catatan historis auto biografi kedua bukunya: ”Titi Bambu” dan ”Bukit Kadir,” serta dua buku standar lainnya seperti ”Kadet Brastagi” (1981) dan ”Jendral Soedirman” (Pribadi, 2009), saya mulai berpikir bahwa Djamin Gintings bukan sembarang hero atau pahlawan perang kemerdekaan. Tetapi beliau telah menyelamatkan daerah modal republik, satu-satunya di luar pulau Jawa.

Perintah Mundur

Atas perintah Kol. Hidayat Komandan Divisi X, yang berkedudukan di Kutaradja, Djamin Gintings diperintahkan mundur ke Tanah Alas Kutacane. Perintah ini merupakan kesepakatan RI dan Belanda yang dituangkan dalam perjanjian Renville (1947). Dalam perjanjian itu semua wilayah Tanah Karo dianggap merupakan daerah pendudukan Belanda, sehingga semua pasukan TNI harus disingkirkan dari daerah itu. Djamin Gintings harus mengosongkan seluruh wilayah Tanah Karo, walaupun sebagian besar wilayah itu, secara de facto masih berada dalam kekuasaan republik, yaitu daerah antara Lisang dan Lau Pakam.

Dengan perasaan perih dan pilu Djamin Gintings dan pasukannya melaksanakan keputusn itu. Semua pasukan Resimen IV mundur ke Tanah Alas dan pasukan Belanda dengan leluasa memasuki daerah-daerah yang dikosongkan itu.

Jendral Soedirman selaku Panglima Besar TNI, waktu itu turut merasakan betapa keputusan Renville itu melukai hati para prajuritnya. Sebab itu melalui radio, beliau menyampaikan amanatnya, ”Anak-anakku anggota Angkatan Perang, tiap-tiap perjuangan mempunyai pasang surutnya, tetapi dengan iman kita tetap teguh dan jiwa yang tetap besar, kita masih tetap sanggup untuk mengatasi percobaan ini dan percobaan-percobaan lainnya yang mungkin akan menyusul lagi.”

Amanat Panglima Besar Jendral Soedirman yang ditutup dengan perintah agar TNI tetap bertanggungjawab terhadap jiwa dan harta rakyat–ternyata mampu menghibur kekecewaan para prajurit TNI–termasuk Djamin Gintings dan pasukannya. Dengan penuh semangat keprajuritan pasukan Resimen IV meninggalkan kantong-kantong gerilya dan markas pertahanannya untuk berhijrah ke Kutacane (Tanah Alas).

Dalam sejarah perang kemerdekaan, hijrah pasukan-pasukan TNI tidak hanya di Tanah Karo tetapi juga di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi umpamanya harus hijrah meninggalkan Jawa Barat ke Jawa Timur (yang dikenal dengan istilah the long march dalam film Darah dan Doa, 1952). Luas wilayah republik sesudah perjanjian Renville yang dianggap sebagai ”daerah modal” semakin mengecil dan secara ekonomi dan politis semakin terpojok (Hardiyono 2000).

Di Jawa hanya meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian Keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal, dan bahagian Selatan Banyumas (Pribadi 2009). Sedang di luar Pulau Jawa hanya tinggal Provinsi Aceh. Mungkin waktu itu tidak semua perajurit TNI yang yang hijrah ke Kutacane, menyadari betapa pentingnya Daerah Modal Aceh untuk dipertahankan, terutama apabila dilihat dari strategi geopolitik nasional dan internasional.

Mengobarkan Perang Grilya

Setelah Macan Kumbang di Kutacane dibangun sebagai markas resimen dan persiapan logistik, permukiman keluarga diselesaikan, maka pembangunan teritorial bersama pejabat pemerintahan Tanah Alas segera dilaksanakan oleh Djamin Gintings. Beliau masuk dan keluar kampung sampai kepelosok Tanah Alas, bertemu dengan Penghulu Kampung (Kepala Desa). Di benak beliau berkecamuk pemikiran, kalau Belanda menyerbu dan menduduki Kutacane, mampukah Resimen IV mempertahankan Tanah Alas dengan mengembangkan perang grilya? Pertanyaan itulah yang hendak beliau jawab.

Tetapi, pada tgl. 22 Desember 1948, malam harinya Djamin Gintings mengumpulkan semua perwira stafnya, dan semua Komandan Batalion. Rapat semalam suntuk sampai pagi hari itu membahas : (1) Apakah Tanah Alas mampu dipertahankan sampai tetes darah terakhir dengan cara militer konvensional, sementara persenjataan yang tidak seimbang dan persediaan amunisi yang terbatas pula, atau (2) TNI melakukan segera serangan terhadap kedudukan Belanda di Tanah Karo, berarti melanggar garis statusquo walaupun dengan cara bergrilya dengan perlengkapan seadanya? (Kadet Brastagi, 1981)

Kedua pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab. Apabila Belanda menyerang secara frontal Tanah Alas, dengan peralatan yang modern (panser, tank, pasukan berkuda/logistik) serta backing pesawat tempur, maka Kutacane pasti dapat segera diduduki Belanda. Ketika Tanah Alas jatuh ke tangan Belanda, maka Blang Kejeren, Singkel dan Aceh Selatan akan terancam pula. Daerah belakang Aceh ini, merupakan titik-titik lemah pertahanan Provinsi Aceh. Memang pertahanan Aceh bagian Timur dan sepanjang rel kereta api cukup kuat dan solid. Karena itu pula, waktu ada usul mengganti Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV yang pindah ke Kutacane dengan Kol. Muhammad Dien. Tapi Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo waktu itu, Tgk. M. Daud Beureueh tidak setuju dan tetap mempertahankan Djamin Gintings. Tanah Karo dan Djamin Gintings tidak mungkin dipisahkan, sedangkan Tanah Karo merupakan bumper (penyangga) daerah belakang Provinsi Aceh yang menjadi modal republik.

Keesokan hari, sekitar jam tujuh pagi setelah perundingan di markas Macan Kumbang itu, pesawat tempur Belanda kembali memuntahkan pelurunya kearah pertahanan Djamin Gintings. Anehnya, Let.Kol. Djamin Gintings, seakan mendapat isyarat dari serangan udara itu untuk bertindak cepat. Tanpa meminta persetujuan Komandan Divisi (Kol.Hidayat di Kutaraja), beliau memutuskan untuk segera menyerang Mardinding dan Lau Balang. Keduanya adalah pos terdepan Belanda di Tanah Karo yang berbatasan langsung dengan Aceh (Tanah Alas).

Keputusan merebut kedua benteng Belanda ini, bertepatan pula dengan siaran radio yang menyatakan Belanda telah menyerbu dan menduduki Yogyakarta, Presiden dan Wakil Presiden RI kemudian ditawan. Dalam pidato singkat penyerbuan ke Tanah Karo, Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV, terus terang menyatakan bahwa ” …memang saya belum mendapat perintah dari Komandan Divisi … tetapi demi keselamatan Negara RI saya akan memikul tanggung jawab penuh untuk segera menyerang daaerah yang diduduki Belanda itu …”

Penyerangan mendadak dan berani yang dilakukan Djamin Gintings ini, memang di luar dugaan Belanda, sehingga Belanda kucar-kacir mempertahankan Mardinding dan Lau Balang. Hanya dengan keunggulan senjata, bantuan pasukan berlapis baja dari Kabanjahe dan logistik militer yang kuat, serta merelakan korban yang tidak sedikit, Belanda dapat bertahan. Begitu juga dipihak Resimen IV, banyak korban dan peristiwa tragis yang mereka lalui seperti pristiwa Bukit Kadir yang menewaskan perwira resimen Abd.Kadir yang gagah berani.

Dampak penyerbuan Mardinding dan Lau Balang (walaupun tidak berhasil direbut), menyebabkan semua pasukan Belanda harus mengkonsentrasikan diri pada benteng yang lebih permanen dan kuat menghadapi pasukan Djamin Gintings. Apalagi sesudah serangan frontal itu, Djamin Gintings mengobarkan perang grilya. Taktik hit and run (serang dan menghindar)–selalu menimbulkan kerusakan yang tidak terduga di pihak Belanda. Demikianlah selama tujuh bulan (Januari s/d Agustus 1949), perang grilya berkecamuk menyebabkan Belanda terkooptasi di Tanah Karo, dan terpaksa melupakan serangan ke Kutacane (Tanah Alas), sampai penyerahan kedaulatan (1950).

Dalam Konperensi Meja Bundar (23 Agustus 1949), Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai ”daerah modal” Republik Indonesia di luar pulau Jawa dalam status RI sebagai salah satu negara bagian dari RIS. Djamin Gintings telah berhasil menyelamatkan daerah modal itu, yang berarti menyelamatkan martabat Republik Indonesia terutama di mata dunia internasional. Djamin Gintings bukan sembarang pahlawan kemerdekaan.
MONDAY, 07 MAY 2012 02:29
sumber:karosiadi

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment