POLISI: JALANAN MENURUN, REM TRUK BLONG

TRUK COCACOLA HANTAM 3 MOBIL & 6 MOTOR DI DAIRI

DAIRI, SUMUTPOS.co – Hasil penyelidikan, polisi memastikan truk bernomor polisi BK 9953 MY bermuatan minuman Cocacola, yang tabrakan di Jalan SM Raja Bawah, Sumbul, Kabupaten Dairi, Rabu (19/11) sekira pukul 09.30 Wib, remnya blong. Akibatnya, truk yang disopiri Bambang Teguh (42) itu menyeruduk 3 mobil, tiang listrik dan 6 unit sepeda motor yang mengakibatkan 2 tewas dan 5 luka-luka.

“Dugaan sementara remnya blong. Sopir sudah berusaha untuk menghentikan truk itu, namun karena kecepatannya tinggi, truk oleng dan menabrak yang ada di depannya. Kita masih melakukan penyelidikan dan memeriksa saksi-saksi di lokasi,” kata Kapolres Dairi, AKBP Gideon Arif Setyawan didampingi Kasat Lantas Polres Dairi, AKP SP Anak Ampun.

Ditanya apakah ada unsur lain dari kecelakaan itu? Gideon menambahkan, saat ini masih mengarah ke rem blong untuk lainnya tidak ada. “Masih kita lakukan pendalaman dan penyelidikan. Saat ini, belum ada mengarah ke unsur lainnya,” kata mantan Kasat Reksrim Polresta Medan itu.

Menurutnya, kecelakaan sudah berulang kali terjadi di jalur yang sama, tepatnya di antara Lae Pondom simpang Wisata Silalahi sampai ke Kota Sumbul jembatan Lae Renun. Kecelakaan disebabkan karena banyak truk tidak kuat menahan beban saat menurun.

“Mulai dari Lae Pondom sampai Kota Sumbul jalannya menurun dengan panjang 23 km sehingga rawan bagi angkutan berat yang kelebihan muatan, karena rem bisa blong karena over muatan,” ujar Gideon.

Menurutnya, banyak angkutan berat yang memuat barang melebihi batas ketentuan yang ada. Kondisi ini menyebabkan rawan kecelakaan lalu lintas dan merusak jalan. Untuk mengantisipasi hal ini, jajaran Satlantas Polres Dairi akan menggalakkan razia.

Gideon mengatakan, belum memeriksa sopir truk, Bambang Teguh karena masih dirawat di rumah sakit.

“Sudah kita lakukan olah TKP dan lokasi sudah dibersihkan. Selanjutnya, kita akan melakukan langkah-langkah sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP),” terangnya.

Setelah sopir dinyatakan sehat dan dapat memberikan keterangan, pihaknya akan memintai keterangan secara rinci terkait kecelakaan tersebut.

Sementara pengendara sepeda motor yang tewas, Ardi Sihombing
(30), warga Siboras, Desa Pegagan Julu III, Sumbul sudah dikebumikan di Desa Pegagan Julu III, Kamis (20/11). Seorang warga, M Pasaribu (60) menuturkan Ardi adalah anak yatim dan anak satu-satunya serta merupakan tulang punggung keluarga.

’’Ayahnya sudah 7 tahun meninggal dunia jadi dia menjadi tulang punggung keluarga,” ujar Pasaribu.

Pengakuan Pasaribu, Ardi mau ke Sidikalang mau membeli sparepart sepeda motor karena kerjanya sehari-hari membuka bengkel sepeda motor di depan rumahnya.

Sekadar diketahui, truk pengangkut minuman Cocacola menabrak tiga mobil, tiang listrik dan 6 sepeda motor, saat melaju dari Medan menuju Tapaktuan. Akibatnya, 2 orang tewas dan 5 luka-luka. (*/gib)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima | Leave a comment

TEMPO SCAN BANTU KORBAN GUNUNG SINABUNG

Jakarta (ANTARA News) – PT Tempo Scan Pacific Tbk memberikan bantuan kemanusian kepada korban bencana di beberapa titik pengungsian korban erupsi Gunung Sinabung, Sumatera Utara.

Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian Tempo Scan dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat yang menjadi korban bencana. kata Managing Director Tempo Scan Aviaska D Respati di Jakarta, Jumat.

Ini sebagai ungkapan terima kasih atas dukungan dan kepercayaan masyarakat kepada Tempo Scan.

Menurut Aviaska bantuan berupa obat-obatan dan vitamin ini diberikan sebagai wujud nyata tanggung jawab Tempo Scan (Corporate Social Responsibility).

Aviaska D Respati, menjelaskan Tempo Scan akan terus berupaya melaksanakan kegiatan tanggung jawab sosial dengan dukungan penuh dari sebagian hasil penjualan produk-produknya seperti hemaviton, bodrex, bodrexin, NEO rheumacyl, oskadon, dan vidoran.

Pemberian bantuan telah dilakukan pada akhir Oktober 2014 lalu, dan diberikan secara simbolis oleh Ibnu Abbas selaku Kepala Cabang PT Supra Usadhatama, salah satu anak perusahaan Tempo Scan, cabang Medan kepada Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Dr Ir Roy Sparingga, MAppSc, yang didampingi oleh Drs Ali Bata Harahap, Apt MKes selaku Kepala Balai Besar BPOM Medan di Gedung Diklat Pemerintah Kabupaten Karo, Kabanjahe.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENGAPA DJAMIN GINTING JADI PAHLAWAN?

Karier Djamin Ginting:

1. Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan
2. Assisten Dua Bagian Perang di TNI
3. Panglima TT I Bukit Barisan
4. Panglima Sumatera Utara
5. Dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua
6. Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk Golkar

Mengapa Jadi Pahlawan?

1.Letjen (Purn) Djamin Ginting

Ikut dalam perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.

2.Sukarni Karto Kartodiwirjo

Merumuskan naskah proklamasi serta mendesak Bung Karno dan Bung Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan RI.

3.Kyai Haji Abdul Wahab

Merumuskan Resolusi Jihad sebagai dukungan terhadap perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

4.HR Mohammad Mangoendprojo

Mendesak Panglima Pertahanan Jepang Jenderal Iwabe untuk menyerahkan senjata dan menguasai objek vital pada peristiwa revolusi di Surabaya tahun 1945. (*)
Sumber: Data olahan Sumut Pos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

40 TAHUN MENANTI, LIKAS BERTERIMA KASIH, JOKOWI TERTAWA

DJAMIN GINTING RESMI PAHLAWAN NASIONAL DARI TANAH KARO

Letjen (Purn) Djamin Ginting, tokoh dari Provinsi Tanah Karo, Sumut, secara resmi mendapat gelar Pahlawan Nasional. Penyerahan tanda gelar kepada pria kelahiran Desa Suka, Tiga Panah, Karo, 12 Januari 1921 itu diserahkan Presiden Jokowi kepada istri almarhum, yakni oleh Likas Boru Tarigan, di Istana Negara, Jakarta, kemarin (7/11).

SUMUTPOS.CO – Usai prosesi penerimaan tanda gelar pahlawan, Likas Boru Tarigan (90) mengungkapkan rasa senangnya kepada sejumlah wartawan. “Saya merasa lega karena saya merasa suami saya kerja keras untuk kemerdekaan ini. Jadi 40 tahun sudah lewat, sekarang baru dapat anugerah. Tempo hari ketika dia meninggal dia dijanjikan tapi ndak ada kenyataannya. Sekarang sudah kenyataann. Saya senang sekali,” ujarnya.

Diungkapkannya, saat bersalaman dengan Jokowi, dia menyampaikan ucapan terimakasih karena sudah 40 tahun menunggu. Apa kata Jokowi? “Cuma ketawa aja. Gak ada pernyataan,” kata Likas.

Dia mengatakan, pengurusan administrasi pemberian anugerah Pahlawan Nasional kepada almarhum suaminya itu sudah dilakukan tiga tahun lalu.

Likas bangga karena juga ikut berjuang mendampingi suaminya. “Saya banggalah. Karena saya juga ikut memperjuangkan kemerdekaan ini, sepanjang Bukit Barisan itu,” kenangnya.

Dia pun cerita, pernah suatu saat datang pesawat terbang musuh, pagi-pagi. “Saya sakit, suami saya dengan ajudan dengan yang lain lompat keluar. Lima puluh dua kali ditembaki kapal terbang itu. Saya merangkak ke tepi sungai dengan anak saya, yang masih kecil. Tahu-tahu datang ajudan, ‘ayo bu ke tempat bapak’. Saya bulang, kenapa bukan bapak yang jemput aku. Ajudannya bilang, ibu kalau mati, mati satu. Bapak kalau mati, mati satu resimen. Jadi terserah ibu, ibu ikut atau tidak”. tu yang paling saya kenang,” cerita dia.

Hadir di acara itu antara lain Ibu Negara Iriana Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, sejumlah pimpinan lembaga tinggi dan beberapa menteri.

Selain Djamin Ginting, tiga tokoh lain juga menerima penghargaan yang sama. Yakni Sukarni Karto Kartodiwirjo (Blitar, Jatim), Kyai Haji Abdul Wahab Hasbullah, lahir di Jombang, dan HR Mohammad Mangoendprojo, lahir di Sragen, Jatim.

Sementara, di dalam Keputusan Presiden Nomor 115/TK/ Tahun 2014 November 2014, disebutkan, Letjen (Purn) Djamin Ginting, berhasil dalam melancarkan perang gerilya dan memimpin penumpasan pemberontakan DI/TII di Aceh.

Djamin Ginting, saat menjabat Kepala Staf Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan menentang keputusan atasannya untuk menunjukkan kesetiaannya pada pemerintah RI, dan menjadikan wilayah komandonya sebagai pangkalan operasi pasukan pemerintah menggempur pasukan PRRI di Sumatera.

“Anugerah Pahlawan Nasional kepada mereka sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa, yamg semasa hidupnya pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, atau perjuangan politik atau dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, dan mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” bunyi Keppres tersebut.

Djamin Ginting, seperti dikutib dari Wikipedia, meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53 tahun.

Dia adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo. Djamin Ginting dilahirkan di Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo.

Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia.

Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang.

Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara. Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Ia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara.

Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Dikemudian hari anggota pasukan Djamin Ginting ini akan muncul sebagai pionir-pionir pejuang Sumatera bagian Utara dan Karo. Kapten Bangsi Sembiring, Kapten Selamat Ginting, Kapten Mumah Purba, Mayor Rim Rim Ginting, Kapten Selamet Ketaren, dan lain lain adalah cikal bakal Kodam II/Bukit Barisan yang kita kenal sekarang ini. Ketika Letkol Djamin Ginting menjadi wakil komandan Kodam II/Bukit Barisan, dia berselisih paham dengan Kolonel M Simbolon yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Kodam II/Bukit Barisan.

Djamin Ginting tidak sepaham dengan tidakan Kolonel M.Simbolon untuk menuntut keadilan dari pemerintah pusat melalui kekuatan bersenjata. Perselisihan mereka ketika itu sangat dipengaruhi oleh situasi politik dan ekonomi yang melanda Indonesia.

Di satu pihak, Simbolon merasa Sumatera dianak-tirikan oleh pemerintah pusat dalam bidang ekonomi. Dilain pihak, Ginting sebagai seorang tentara profesianal memegang teguh azas seorang prajurit untuk membela negara Indonesia.

Dipenghujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai seorang Duta Besar untuk Kanada. Di Kanada ini pulalah Djamin Ginting, mengakhiri hayatnya. (nat/sam/tom)
sumber: sumutpos

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

DJAMIN GINTINGS MENYELAMATKAN MARTABAT REPUBLIK INDONESIA

Djamin Gintings Selamatkan “Daerah Modal”
Opini- oleh USMAN PELLY

Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara.

Setelah Kutacane dibombardir dua pesawat pemburu Belanda, esok paginya saya ikut kakek mengungsi ke sebuah desa sekitar 12 km dari kota. Setiap pagi saya dan kakek ke kota dari desa pengungsian itu untuk berjualan di pasar. Kami melewati Macan Kumbang, sebuah perkebunan karet yang dibangun semasa Jepang. Ternyata beberapa minggu sebelum penyerangan pesawat Belanda itu, Macan Kumbang, telah menjadi markas pertahanan Let.Kol. Djamin Gintings, Komandan Resimen IV TNI pindahan dari tanah Karo.

Di kota orang bercerita bahwa markas pertahanan RI itu hijrah dari Tanah Karo ke Tanah Alas, sesuai kesepakatan Renville. Tanah Karo dianggap sudah menjadi wilayah Belanda dan Negera Sumatra Timur (NST). Karena itu kedudukan Kutacane menjadi penting. Kini Tanah Alas menjadi garis pertahanan RI terdepan menghadapi Belanda. Kota kecil itu bertambah ramai, banyak tentera dan pengungsi dari Tanah Karo dan Dairi. Mereka sibuk mendirikan rumah-rumah darurat dan barak-barak pengungsi. Di pinggir sungai (Lawe) Alas dan Lawe Bulan yang mengapit Kutacane, penuh berjejer Barak pengungsi. Sampai-sampai di halaman rumah Raja Alas (Polonas), didirikan rumah-rumah bambu yang beratap rumbia.

Malam hari, jalan satu-satunya yang membelah kota hingar bingar, motor truk tentera hilir mudik, ada yang membawa pengungsi, pasukan tentera dan korban yang luka tembak, sebahagian besar dari pertempuran di sekitar Mardinding (Desa Perbatasan antara Tanah Karo dan Tanah Alas yang menjadi markas pertahanan Belanda).

Kami melihat Djamin Gintings hanya dari kejauhan, waktu apel bendera pagi di markas Macan Kumbang, ketika kami melintasi markas itu. Atau waktu menghadiri perayaan nasional dan rapat umum di Lapangan Bola Kutacane. Saya masih ingat sosok perwira-perwira TNI ketika itu. Djamin Gintings orangnya kurus tinggi semampai, selalu pakai peci tentara, sedang Kol. Muhammad Din (staf Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo dari Kutaraja). Beliau selalu berpakaian tentera Jepang lengkap dengan samurainya. Kami sangat mengagumi mereka dan selalu bergaya seperti komandan-komandan TNI waktu itu.

Demikianlah rona kehidupan Kutacane, kota kecil di front perbatasan pertahanan RI dan Belanda (1947), sibuk dengan hilir mudik tentera dan pengungsi. Kami siap-siap melompat ke lobang pertahanan yang disiapkan dibelakang sekolah, ketika serine dan pesawat pemburu Belanda datang memuntahkan peluru. Keadaan kota kecil yang sesak itu mulai berobah ketika penyerahan kedaulatan (1950).

Seminar Brastagi

Waktu surat permohonan anak tertua Djamin Gintings, Riemenda Jamin Gintings SH,MH (lahir di Kutacane) dan adiknya Dra Riahna Jamin Gintings, M.Sc datang–agar saya memberi makalah dalam seminar Djamin Gintings di Berastagi–untuk mengusulkan beliau sebagai Pahlawan Nasional, saya sambut dengan baik. Di benak saya terbuhul sesuatu yang terus menggema dari pengalaman semasa remaja di Kutacane dan keberhasilan Djamin Gintings memepertahankan garis batas pertahanan Indonesia-Belanda di Tanah Alas dengan melakukan perang gerilya di Tanah Karo.

Sesuatu yang kemudian makin jelas di benak saya, sesudah saya melakukan studi dari berbagai buku dan catatan historis auto biografi kedua bukunya: ”Titi Bambu” dan ”Bukit Kadir,” serta dua buku standar lainnya seperti ”Kadet Brastagi” (1981) dan ”Jendral Soedirman” (Pribadi, 2009), saya mulai berpikir bahwa Djamin Gintings bukan sembarang hero atau pahlawan perang kemerdekaan. Tetapi beliau telah menyelamatkan daerah modal republik, satu-satunya di luar pulau Jawa.

Perintah Mundur

Atas perintah Kol. Hidayat Komandan Divisi X, yang berkedudukan di Kutaradja, Djamin Gintings diperintahkan mundur ke Tanah Alas Kutacane. Perintah ini merupakan kesepakatan RI dan Belanda yang dituangkan dalam perjanjian Renville (1947). Dalam perjanjian itu semua wilayah Tanah Karo dianggap merupakan daerah pendudukan Belanda, sehingga semua pasukan TNI harus disingkirkan dari daerah itu. Djamin Gintings harus mengosongkan seluruh wilayah Tanah Karo, walaupun sebagian besar wilayah itu, secara de facto masih berada dalam kekuasaan republik, yaitu daerah antara Lisang dan Lau Pakam.

Dengan perasaan perih dan pilu Djamin Gintings dan pasukannya melaksanakan keputusn itu. Semua pasukan Resimen IV mundur ke Tanah Alas dan pasukan Belanda dengan leluasa memasuki daerah-daerah yang dikosongkan itu.

Jendral Soedirman selaku Panglima Besar TNI, waktu itu turut merasakan betapa keputusan Renville itu melukai hati para prajuritnya. Sebab itu melalui radio, beliau menyampaikan amanatnya, ”Anak-anakku anggota Angkatan Perang, tiap-tiap perjuangan mempunyai pasang surutnya, tetapi dengan iman kita tetap teguh dan jiwa yang tetap besar, kita masih tetap sanggup untuk mengatasi percobaan ini dan percobaan-percobaan lainnya yang mungkin akan menyusul lagi.”

Amanat Panglima Besar Jendral Soedirman yang ditutup dengan perintah agar TNI tetap bertanggungjawab terhadap jiwa dan harta rakyat–ternyata mampu menghibur kekecewaan para prajurit TNI–termasuk Djamin Gintings dan pasukannya. Dengan penuh semangat keprajuritan pasukan Resimen IV meninggalkan kantong-kantong gerilya dan markas pertahanannya untuk berhijrah ke Kutacane (Tanah Alas).

Dalam sejarah perang kemerdekaan, hijrah pasukan-pasukan TNI tidak hanya di Tanah Karo tetapi juga di Jawa Barat. Pasukan Siliwangi umpamanya harus hijrah meninggalkan Jawa Barat ke Jawa Timur (yang dikenal dengan istilah the long march dalam film Darah dan Doa, 1952). Luas wilayah republik sesudah perjanjian Renville yang dianggap sebagai ”daerah modal” semakin mengecil dan secara ekonomi dan politis semakin terpojok (Hardiyono 2000).

Di Jawa hanya meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian Keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal, dan bahagian Selatan Banyumas (Pribadi 2009). Sedang di luar Pulau Jawa hanya tinggal Provinsi Aceh. Mungkin waktu itu tidak semua perajurit TNI yang yang hijrah ke Kutacane, menyadari betapa pentingnya Daerah Modal Aceh untuk dipertahankan, terutama apabila dilihat dari strategi geopolitik nasional dan internasional.

Mengobarkan Perang Grilya

Setelah Macan Kumbang di Kutacane dibangun sebagai markas resimen dan persiapan logistik, permukiman keluarga diselesaikan, maka pembangunan teritorial bersama pejabat pemerintahan Tanah Alas segera dilaksanakan oleh Djamin Gintings. Beliau masuk dan keluar kampung sampai kepelosok Tanah Alas, bertemu dengan Penghulu Kampung (Kepala Desa). Di benak beliau berkecamuk pemikiran, kalau Belanda menyerbu dan menduduki Kutacane, mampukah Resimen IV mempertahankan Tanah Alas dengan mengembangkan perang grilya? Pertanyaan itulah yang hendak beliau jawab.

Tetapi, pada tgl. 22 Desember 1948, malam harinya Djamin Gintings mengumpulkan semua perwira stafnya, dan semua Komandan Batalion. Rapat semalam suntuk sampai pagi hari itu membahas : (1) Apakah Tanah Alas mampu dipertahankan sampai tetes darah terakhir dengan cara militer konvensional, sementara persenjataan yang tidak seimbang dan persediaan amunisi yang terbatas pula, atau (2) TNI melakukan segera serangan terhadap kedudukan Belanda di Tanah Karo, berarti melanggar garis statusquo walaupun dengan cara bergrilya dengan perlengkapan seadanya? (Kadet Brastagi, 1981)

Kedua pertanyaan itu tidak dapat segera dijawab. Apabila Belanda menyerang secara frontal Tanah Alas, dengan peralatan yang modern (panser, tank, pasukan berkuda/logistik) serta backing pesawat tempur, maka Kutacane pasti dapat segera diduduki Belanda. Ketika Tanah Alas jatuh ke tangan Belanda, maka Blang Kejeren, Singkel dan Aceh Selatan akan terancam pula. Daerah belakang Aceh ini, merupakan titik-titik lemah pertahanan Provinsi Aceh. Memang pertahanan Aceh bagian Timur dan sepanjang rel kereta api cukup kuat dan solid. Karena itu pula, waktu ada usul mengganti Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV yang pindah ke Kutacane dengan Kol. Muhammad Dien. Tapi Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo waktu itu, Tgk. M. Daud Beureueh tidak setuju dan tetap mempertahankan Djamin Gintings. Tanah Karo dan Djamin Gintings tidak mungkin dipisahkan, sedangkan Tanah Karo merupakan bumper (penyangga) daerah belakang Provinsi Aceh yang menjadi modal republik.

Keesokan hari, sekitar jam tujuh pagi setelah perundingan di markas Macan Kumbang itu, pesawat tempur Belanda kembali memuntahkan pelurunya kearah pertahanan Djamin Gintings. Anehnya, Let.Kol. Djamin Gintings, seakan mendapat isyarat dari serangan udara itu untuk bertindak cepat. Tanpa meminta persetujuan Komandan Divisi (Kol.Hidayat di Kutaraja), beliau memutuskan untuk segera menyerang Mardinding dan Lau Balang. Keduanya adalah pos terdepan Belanda di Tanah Karo yang berbatasan langsung dengan Aceh (Tanah Alas).

Keputusan merebut kedua benteng Belanda ini, bertepatan pula dengan siaran radio yang menyatakan Belanda telah menyerbu dan menduduki Yogyakarta, Presiden dan Wakil Presiden RI kemudian ditawan. Dalam pidato singkat penyerbuan ke Tanah Karo, Djamin Gintings sebagai Komandan Resimen IV, terus terang menyatakan bahwa ” …memang saya belum mendapat perintah dari Komandan Divisi … tetapi demi keselamatan Negara RI saya akan memikul tanggung jawab penuh untuk segera menyerang daaerah yang diduduki Belanda itu …”

Penyerangan mendadak dan berani yang dilakukan Djamin Gintings ini, memang di luar dugaan Belanda, sehingga Belanda kucar-kacir mempertahankan Mardinding dan Lau Balang. Hanya dengan keunggulan senjata, bantuan pasukan berlapis baja dari Kabanjahe dan logistik militer yang kuat, serta merelakan korban yang tidak sedikit, Belanda dapat bertahan. Begitu juga dipihak Resimen IV, banyak korban dan peristiwa tragis yang mereka lalui seperti pristiwa Bukit Kadir yang menewaskan perwira resimen Abd.Kadir yang gagah berani.

Dampak penyerbuan Mardinding dan Lau Balang (walaupun tidak berhasil direbut), menyebabkan semua pasukan Belanda harus mengkonsentrasikan diri pada benteng yang lebih permanen dan kuat menghadapi pasukan Djamin Gintings. Apalagi sesudah serangan frontal itu, Djamin Gintings mengobarkan perang grilya. Taktik hit and run (serang dan menghindar)–selalu menimbulkan kerusakan yang tidak terduga di pihak Belanda. Demikianlah selama tujuh bulan (Januari s/d Agustus 1949), perang grilya berkecamuk menyebabkan Belanda terkooptasi di Tanah Karo, dan terpaksa melupakan serangan ke Kutacane (Tanah Alas), sampai penyerahan kedaulatan (1950).

Dalam Konperensi Meja Bundar (23 Agustus 1949), Provinsi Aceh secara utuh dapat didaftarkan sebagai ”daerah modal” Republik Indonesia di luar pulau Jawa dalam status RI sebagai salah satu negara bagian dari RIS. Djamin Gintings telah berhasil menyelamatkan daerah modal itu, yang berarti menyelamatkan martabat Republik Indonesia terutama di mata dunia internasional. Djamin Gintings bukan sembarang pahlawan kemerdekaan.
MONDAY, 07 MAY 2012 02:29
sumber:karosiadi

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

DJAMIN GINTING, PUTRA KARO PENERIMA GELAR PAHLAWAN NASIONAL

Merdeka.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memberikan gelar pahlawan kepada empat tokoh yang berjasa bagi Indonesia. Salah satunya adalah Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting.

Letjen TNI (Purn) Djamin Ginting lahir di Desa Suka, Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, 12 Januari 1921 meninggal di Ottawa, Kanada, 23 Oktober 1974 pada umur 53 tahun. Ginting adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Karo.

Karier militer Ginting dimulai setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah dia bergabung dengan satuan militer yang diorganisir oleh opsir-opsir Jepang. Pemerintah Jepang membangun kesatuan tentara yang terdiri dari anak-anak muda di Tanah Karo guna menambah pasukan Jepang untuk mempertahankan kekuasaan mereka di benua Asia. Djamin Ginting muncul sebagai seorang komandan pada pasukan bentukan Jepang itu.

Rencana Jepang untuk memanfaatkan putra-putra Karo memperkuat pasukan Jepang kandas setelah Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II. Jepang menelantarkan daerah kekuasaan mereka di Asia dan kembali pulang ke Jepang.

Sebagai seorang komandan, Djamin Ginting bergerak cepat untuk mengkonsolidasi pasukannya. Dia bercita cita untuk membangun satuan tentara di Sumatera Utara.

Dia menyakinkan anggotanya untuk tidak kembali pulang ke desa masing masing. Dia memohon kesediaan mereka untuk membela dan melindungi rakyat Karo dari setiap kekuatan yang hendak menguasai daerah Sumatera Utara.

Situasi politik ketika itu tidak menentu. Pasukan Belanda dan Inggris masih berkeinginan untuk menguasai daerah Sumatera.

Dalam rangka menghadapi gerakan pemberontakan Nainggolan di Medan (Sumatera Utara) maka Panglima TT I, Letkol Inf Djamin Ginting melancarkan Operasi Bukit Barisan. Operasi ini dilancarkan pada tanggal 7 April 1958. Dengan dilancarkannya operasi Bukit Barisan II ini, maka pasukan Nainggolan dan Sinta Pohan terdesak dan mundur ke daerah Tapanuli.

Dipenghujung masa baktinya, Djamin Ginting mewakili Indonesia sebagai seorang Duta Besar untuk Kanada. Di Kanada ini pulalah Djamin Ginting, mengakhiri hayatnya.

Berikut karier Djamin Ginting:

1. Kepala Staf Kodam II/Bukit Barisan

2. Assisten Dua Bagian Perang di TNI

3. Panglima TT I Bukit Barisan

4. Panglima Sumatera Utara

5. Dengan pangkat Mayor Jenderal, menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Front Nasional, di Kabinet Dwikora Revisi Kedua

6. Penggerak dari pembentukan GAKARI yang nantinya akan membentuk GOLKAR
sumber:merdeka.com

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENDAGRI UNDANG DPRD ACEH BICARAKAN ATURAN CAMBUK

Liputan6.com, Jakarta – Sabtu 27 November lalu, DPRD Aceh mengesahkan 7 Qanun atau peraturan daerah. Salah satunya adalah pengesahan Qanun Jinayat, aturan yang memberikan hukuman cambuk bagi pelanggar kasus kriminal seperi pelecehan seksual, pemerkosaan, judi, dan lain-lain.

Qanun itu pun menuai pro dan kontra. Karena aturan tersebut tak hanya mengatur bagi umat Islam tapi juga penganut agama lain. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, pihaknya akan mengundang DPRD Aceh untuk duduk bersama dan membahas Qanun kontroversial itu.

“Mudah-mudahan minggu depan ada rapat kembali mengundang pihak Aceh untuk menyamakan persepsi,” tutur Tjahjo di Kantor Wapres, Jakarta, Jumat (7/11/2014).

Jelang penyamaan persepsi tersebut, Tjahjo pun berkonsultasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Salah satu agenda rapat hari ini (dengan Pak JK) itu (bahas Qanun Jinayat),” imbuhnya.

Selain itu, Tjahjo menuturkan pihak pemerintah tidak akan mengintervensi pembahasan Qanun di Aceh. “Ada RPP yang belom selesai. Ada beberapa 85 Qanun yang sedang dievaluasi yang belum mengena, kita serahkan pada Aceh lagi,” tandas politisi PDIP itu.

Dalam Qanun Jinayat itu, hukuman cambuk yang bakal dikenakan bagi pelanggar bervariasi mulai dari 10 kali hingga 150 kali. Qanun ini juga berlaku bagi non-muslim yang melanggar syariat Islam. Soal ini diatur dalam Pasal 5 poin b dan c.
sumber : liputan6

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MENHUT: PENGUNGSI SINABUNG HARUS JAGA HUTAN LINDUNG

Medan (Antara) – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya meminta pengungsi erupsi Gunung Sinabung, Karo, Sumataera Utara, yang akan direlokasi ke Siosar menjaga hutan lindung di sekitar kawasan pemukiman baru itu yang berada di hutan produksi.

“Menhut menegaskan itu saat meninjau lokasi hutan lindung yang sebagian dibuka untuk akses jalan ke kawasan relokasi korban erupsi Gunung Sinabung di Siosar, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Kamis,” kata Gubernur Sumut H Gatot Pujo Nugroho usai peninjauan di Medan, Kamis malam.

Jalan itu berada  di kawasan hutan produksi di Desa Siosar.Jalan pintas yang akan dibuka dengan jarak lebih kurang 6,5 kilometer tersebut membelah hutan produksi dan hutan lindung.

Menteri, kata Gubernur, meninjau langsung kawasan tersebut agar penggunaan lahan hutan lindung dan hutan produksi yang akan dipinjamkan itu tidak menimbulkan penyimpangan.

Menteri menegaskan, karena lahan tersebut termasuk hutan lindung, maka masyarakat harus tahu status lahan dan harus dijaga.

Menurut Siti Nurbaya, pihaknya akan menginstruksikan pihak kehutanan di Sumut melakukan pengawasan ketat.

Hutan lindung yang akan dibuka untuk keperluan pengungsi Sinabung tersebut seluas 11 hektare dan itu nantinya akan menjadi jalur menuju pemukiman baru tersebut.

Pembukaan jalan sepanjang 6,5 kilometer itu akan menelan biaya sebesar Rp11,5 miliar.

Sementara, luas lahan yang akan dijadikan tempat tinggal bagi pengungsi Sinabung sekitar 30 hektare dan daerah perladangan seluas 450 hektare.

Adapun jumlah pengungsi Sinabung yang akan direlokasi sebanyak 1.700 kepala keluarga (KK).

“Lokasi daerah relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung hanya berjarak lebih kurang 7 kilometer dari Kota Kabanjahe, Ibu kota Kabupaten Karo,” kata Gubernur.

Gatot menegaskan, terkait pembukaan dan pembangunan jalan itu, pihaknya sudah menginstruksikan Pelaksana Tugas Bupati Karo Terkelin Tarigan melaporkan perkembangan proyek itu.

Kadis Kehutanan Sumut Halen Purba menyebutkan jalan yang sudah ada menuju kawasan relokasi sepanjang 12 km dewasa ini bisa ditempuh dengan waktu sekitar satu jam.

“Tetapi, kalau nanti jalan baru sudah siap dibangun dengan panjang 6,5 km jarak tempuhnya hanya 15 menit saja,” ujarny.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

RATUSAN PRAJURIT TNI BANTU RELOKASI PENGUNGSI SINABUNG

Liputan6.com, Karo – Sebanyak 480 prajurit TNI terlibat langsung membantu relokasi para pengungsi korban bencana erupsi Gunung Sinabung. Misalnya melakukan pengerasan jalan, pembukaan jalan baru serta membangun rumah di Siosar, Desa Kacinambun, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). “Keterlibatan para prajurit TNI tersebut merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke wilayah Sinabung pada 29 Oktober 2014 lalu, setelah Presiden RI melihat secara langsung kondisi para korban,” kata Kadispenum Puspen TNI Kolonel Inf Bernardus Robert dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com, Kamis (6/11/2014). Ia menjelaskan, skala prioritas yang dibutuhkan oleh para korban yaitu tempat tinggal, tempat ibadah, sekolah dan lahan pertanian untuk aktivitas kehidupan sehari-hari. “Maka Presiden RI memerintahkan kepada TNI untuk melaksanakan karya bakti skala besar guna dapat segera merelokasi para korban bencana erupsi Gunung Sinabung,” imbuh Bernardus. Hal ini menurut Bernadus, sekaligus sebagai bentuk komitmen untuk membantu pemerintah daerah dalam mengatasi kesulitan masyarakat. Ini sesuai dengan amanah UU RI No 34 Tahun 2004 tentang TNI, di mana tugas pokok TNI dilaksanakan melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Di antaranya pemberdayaan wilayah, membantu pemerintahan daerah dalam penanggulangan bencana alam. “Kepedulian prajurit TNI untuk merealisasi harapan masyarakat di 7 desa dan 1 dusun, sehingga dapat segera memiliki tempat tinggal yang baru, tempat ibadah, sekolah dan lahan pertanian untuk aktivitas kehidupan sehari-hari dalam menata kehidupan dan harapan baru,” papar Bernadus. Ia menambahkan, karya bakti yang dilaksanakan prajurit TNI dan elemen masyarakat tersebut akan berlangsung hingga pertengahan Juli 2015 yang terbagi dalam beberapa tahap dan akan menyelesaikan beberapa kegiatan fisik. Di antaranya lanjut Bernadus, pembangunan kurang lebih 2.053 unit rumah sederhana tipe K-36 dengan menggunakan anggaran dana bantuan dari Presiden RI dan BNPB, pengerasan jalan sepanjang 3,4 km, pembukaan jalan dan pengerasan sepanjang 5,8 km, pembukaan lahan untuk permukiman seluas 9 hektare dan pembangunan sarana dan prasarana pemukiman. “Dalam kegiatan ini TNI mengerahkan sejumlah peralatan antara lain 8 unit dozer, 4 unit ekskavator, 2 unit setum walks dan 10 unit dump truck 2,5 ton,” urai Bernadus. Selain itu menurut Bernadus, para prajurit TNI dari beberapa satuan di jajaran Kodam I/Bukit Barisan antara lain Korem 023/KS, Zidam I/BB, Yonzipur 1/DD, Yonarmed 2/105, Yonif 100/Raider, Yonarhanudse 11/BS, Yonkav 6/Serbu, Yonif 121/MK,Yonif 122/TS, Yonif 125/SMB dan Kodim 0205/TK. “Para prajurit TNI juga melakukan kegiatan nonfisik antara lain sosialisasi kepada masyarakat, doa bersama dengan masyarakat dekat sasaran, pengarahan dan pembekalan kepada calon penghuni dan penyuluhan pertanian (terhadap pengungsi Sinabung),” pungkas Kadispenum Puspen TNI. sumber : liputan6

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PRAJURIT TAK KENAL BERAT BUKA RELOKASI PENGUNGSI SINABUNG

Kabanjahe, Sumut (ANTARA News) – Prajurit TNI AD tidak mengenal istilah berat dalam melaksanakan tugas membangun jalan baru relokasi pengungsi erupsi Gunung Sinabung di Desa Siosar, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Hal tersebut dikatakan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menjawab wartawan usai pembukaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) skala besar di eks Kampus Universitas Karo, Kabanjahe, Rabu.

KSAD Nurmantyo menyebutkan, seberat apapun medan yang dihadapi dalam membuka jalan baru di Desa Siosar untuk membangun rumah pengungsi erupsi gunung Sinabung harus tetap dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab

“Ini merupakan tugas prajurit TNI AD yang harus dilaksanakan untuk membantu para pengungsi Sinabung yang menghadapi bencana alam tersebut,” ujar jenderal bintang empat.

Dia menyebutkan, tugas yang diberikan pemerintah kepada prajurit TNI AD untuk membangun jalan baru, perumahan dan kawasan pertanian bagi pengungsi erupsi gunung Sinabung merupakan tugas yang sangat mulia.

Sebab, jelas mantan Pangkostrad itu, prajurit TNI AD sangat dekat dengan rakyat dan termasuk dengan para pengungsi erupsi Sinabung yang sedang menghadapi bencana alam ini.

“Jadi, prajurit TNI AD harus ikut membantu untuk meringankan beban penderitaan yang dihadapi para pengungsi erupsi gunung Sinabung, dengan cara membangun fasiltas jalan dan perumahan di kawasan relokasi Desa Siosar,” kata orang pertama di Mabesad.

Nurmantyo menambahkan, jumlah prajurit TNI AD yang akan dikerahkan untuk membangun jalan baru di relokasi Desa Siosar sepanjang 3,4 kilometer, lebar 5 meter, sebanyak 893 personel dan ditambah warga pengungsi.

“Sedangkan pembangunan rumah tahap pertama sebanyak 50 unit dari jumlah 360 unit yang direncanakan pemerintah untuk pengungsi erupsi gunung Sinabung, harus selesai dikerjakan selama tiga minggu,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment