QUICK COUNT : CUMA UNGGUL DI 16 PROVINSI, JOKOWI MALAH MENANG ATAS PRABOWO YANG KUASAI 18 PROVINSI

TRIBUNNEWS.COM – Hitung cepat atau Quick Count Pilpres 2019 yang dilakukan oleh berbagai lembaga survei menunjukkan perolehan suara kedua paslon.

Walau dalam quick count paslon nomor urut 02 Prabowo-Sandi kalah, ternyata ada hal menarik dibaliknya.

Prabowo-Sandi menang di 18 provinsi versi quick count pilpres 2019.

Sementara Jokowi-Ma’ruf unggul di 16 provinsi.

Tapi malah paslon nomor urut 02 lah yang menang versi quick count pilpres 2019.

Mengapa bisa demikian?

Mengutip dari Tribun Wow, Jumat (19/4/2019) Untuk diketahui bersama, dari dulu sampai sekarang pemilihan presiden di Indonesia masih ditentukan oleh mayoritas suara rakyat (popular vote).

Sederhanannya siapapun yang bisa meraup pundi-pundi suara terbanyak maka jalan menuju Istana Negara terbuka lebar.
sumber: tribunnews
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

ANALISIS: JATENG DAN JATIM JADI KUNCI KEMENANGAN JOKOWI-AMIN

Samuel Anthony-Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang oleh sejumlah lembaga survei. Berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan beberapa jam setelah pemungutan suara, Jokowi unggul dengan angka 54,5 persen berbanding dengan Prabowo yang hanya mendapatkan 45,5 persen.

Hasil hitung cepat yang dilakukan oleh Indo Barometer menunjukkan bahwa Jokowi hanya menang di 15 provinsi saja yakni Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Sedangkan 19 provinsi lainnya dimenangkan oleh Prabowo yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Hasil hitung cepat ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa Jokowi bisa dinyatakan sebagai pemenang padahal jumlah provinsi yang dimenangkan Jokowi tidak lebih banyak dari jumlah provinsi yang dimenangkan oleh Prabowo?

Mari kita analisis bersama-sama.

Perolehan suara Jokowi di Aceh dan Sumatera Barat sangat buruk. Tidak mencapai 20 persen. Di Aceh Jokowi hanya mendapatkan 17,12 persen, sementara di Sumatera Barat angkanya lebih buruk karena tidak mencapai dua digit yakni hanya sebesar 9,12 persen. Sementara di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku perolehan suara Jokowi tidak mencapai 40 persen. Di Sulawesi Selatan yang merupakan provinsi dengan jumlah DPT terbesar di Indonesia Timur pun Jokowi kalah dengan selisih persentase mencapai dua digit.

Bahkan di Jawa Barat dimana menurut beberapa lembaga survei Jokowi akan unggul dan mampu merebutnya justru Jokowi kembali kalah telak. Bahkan perolehan suaranya menurun dibandingkan tahun 2014. Pada tahun 2014 Jokowi memperoleh 40,22 persen. Sementara pada hasil hitung cepat perolehan suara Jokowi hanya 39,06 persen.

Dengan angka partisipasi pada Pilpres 2019 mencapai 75 persen menurut Ketua KPU Jawa Barat Rifqi Ali Mubarok, Jokowi hanya mendapatkan 39,06 persen saja. Dari 33.270.845 DPT yang terdaftar ada sebanyak 24.953.133 DPT yang menggunakan hak pilihnya. Artinya berdasarkan hitung cepat Jokowi hanya mendapatkan sekitar 9.746.694 suara. Sisanya sebanyak 60,94 persen atau sebanyak 15.206.439 menjadi suara yang diberikan masyarakat Jawa Barat kepada Prabowo. Angka ini tentu sifatnya sementara karena kita masih menunggu hasil perhitungan resmi dari KPU. Namun jika kita berpatokan pada hasil hitung cepat yang dilakukan Indo Barometer maka kurang lebih seperti itulah gambaran perolehan suara Jokowi di Jawa Barat.

Dengan demikian, ada selisih suara sekitar 5,45 juta. Selisih ini tentu membesar dengan kekalahan telak yang dialami Jokowi di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Barat yang jumlah DPT nya rata-rata berjumlah tiga juta jiwa. Kekalahan di Sulawesi Selatan yang merupakan provinsi dengan jumlah DPT terbesar di Indonesia Timur juga semakin memperlebar jarak antara Jokowi dan Prabowo. Lantas mengapa Jokowi bisa keluar sebagai pemenang dengan kondisi kekalahan telak di beberapa provinsi serta jumlah provinsi yang dimenangkan tidak lebih banyak dari Prabowo?

Kemenangan telak di Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi kunci Jokowi untuk menutup selisih yang cukup besar di beberapa provinsi lain serta menjadi kunci kemenangannya. Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah provinsi dengan jumlah DPT terbesar di Indonesia setelah Jawa Barat. Dan di dua provinsi ini, Jokowi berhasil mendapatkan suara sekurang-kurangnya 70 persen.

Menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, partisipasi masyarakat Jawa Tengah pada Pilpres 2019 sebesar 80 persen. Artinya dari 27.896.902 DPT yang terdaftar ada sekitar 22.317.521 DPT yang menggunakan hak pilihnya. Dan dari jumlah itu menurut hasil hitung cepat Indo Barometer sekitar 78,51 persen memberikan suaranya untuk Jokowi. Artinya ada 17.521.485 suara diberikan untuk Jokowi dan sisanya sebanyak 5.995.044 suara untuk Prabowo. Jadi ada selisih sebesar 11,5 juta suara. Selisih yang sangat besar ini mampu menutupi selisih suara kekalahan Jokowi di provinsi-provinsi dimana Jokowi kalah telak.

Selisih itu mampu ditutupi lagi dengan perolehan suara Jokowi di Jawa Timur. Di Jawa Timur belum ada persentase partisipasi yang dikemukakan kepada publik. Maka dari itu, saya mengambil contoh angka partisipasi di Jawa Timur sebesar 77,5 persen seperti yang ditargetkan oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Maka dari itu, ada sekitar 23.957.570 DPT yang menggunakan hak pilihnya dari 30.912.994 DPT yang terdaftar.

Dari angka tersebut menurut hasil hitung cepat Indo Barometer sekitar 69,83 persen menggunakan hak pilihnya untuk Jokowi atau sekitar 16.729.571 suara berbanding Prabowo yang mendapatkan 30,17 persen suara atau sekitar 7.227.998. Artinya ada selisih suara sekitar 9,5 juta.

Dengan demikian dari dua provinsi tersebut Jokowi mampu mencetak selisih suara hingga 21 juta suara. Hal ini mampu menutupi kekalahan telak Jokowi di Jawa Barat, Banten, dan provinsi-provinsi lain. Kemenangan mutlak di Bali, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta juga mampu menutupi kekalahan telak Jokowi di beberapa provinsi di Pulau Sumatera dan Sulawesi.

Dengan fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi kunci kemenangan Jokowi pada Pilpres 2019 ini. Kemenangan telak beliau di dua provinsi yang menjadi lumbung suara nasional ini menjadi faktor yang membuat Jokowi kembali terpilih memimpin Indonesia hingga lima tahun ke depan. Dan sebagai masyarakat Indonesia yang tinggal di provinsi dimana Jokowi menelan kekalahan menurut hasil hitung cepat Indo Barometer, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada warga Jawa Tengah dan Jawa Timur yang solid dan militan dalam memenangkan Jokowi. Begitulah kura-kura.
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

JOKOWI UNGGUL DI PILPRES 2019, TAPI PRABOWO JUGA MENANG?

Hasil hitung cepat Pilpres 2019 menunjukkan bahwa Jokowi unggul, namun Prabowo juga mengklaim kemenangan. Jokowi mengatakan dia mempercayai hasil hitung cepat namun tidak terburu-buru mengklaim kemenangan, memilih menunggu hasil resmi dari KPU. Sementara itu Prabowo bersikukuh bahwa hitung cepat internal menemukan bahwa ia menang sampai 62 persen.

Oleh: Ben Otto dan I Made Sentana (The Wall Street Journal)

Hasil hitung cepat menunjukkan bahwa rakyat Indonesia memilih kembali Presiden Joko Widodo untuk masa jabatan lima tahun kedua, tetapi lawan nasionalisnya Prabowo Subianto, mempertanyakan penghitungan tersebut, yang menciptakan ketidakpastian politik di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini.

Hasil quick count pada Rabu (17/4) menunjukkan bahwa 54 persen hingga 56 persen dari pemilih di negara berpenduduk lebih dari 260 juta orang ini memilih Jokowi, di mana mereka mendukung pertumbuhan ekonomi yang stabil, pengeluaran infrastruktur, dan kehati-hatian dalam merangkul Islam konservatif di negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia tersebut.
Advertisement

Prabowo Subianto—menantu Soeharto yang berusia 67 tahun—mendapatkan sekitar 44 persen hingga 46 persen suara.

Hasil ini didasarkan pada hitung cepat surat suara oleh lembaga survei swasta yang disetujui pemerintah, melalui pengambilan sampel di tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh negeri. Hitung cepat telah terbukti akurat dalam pemilu sebelumnya.

Prabowo mengatakan kepada para pendukung di Jakarta, bahwa perhitungan timnya sendiri menunjukkan bahwa dia telah memenangkan 62 persen suara dengan hampir setengah dari semua surat suara telah dihitung, dan bahwa jumlahnya tidak mungkin berubah seiring penghitungan masih berjalan. “Saya akan menjadi presiden dan saya sudah menjadi presiden bagi semua rakyat Indonesia,” katanya.

“Tetap tenang, jangan terprovokasi, dan jangan bertindak anarkis, kekerasan, dan melanggar hukum,” katanya, seraya menambahkan bahwa para pendukung perlu mengawasi kotak-kotak suara seiring penghitungan resmi dilakukan, yang akan jatuh tempo pada bulan Mei. “Itu adalah kunci untuk melawan semua kebohongan,” katanya.

Seorang pemimpin Muslim garis keras menyerukan pertemuan massa pendukung Prabowo di pusat kota Jakarta pada Jumat (19/4).

Jokowi (57 tahun), berpidato di hadapan para pendukungnya, dan mengatakan kepada mereka bahwa pemilihan umum telah berlangsung bebas dan adil, dan menyerukan rekonsiliasi setelah musim kampanye yang memecah belah. “Kita harus sabar dan menunggu hasil resmi,” katanya. Dia menambahkan bahwa dia percaya pada kredibilitas lembaga survei yang menunjukkan bahwa dia menang.

Prabowo kalah dari Jokowi pada tahun 2014 dengan selisih enam poin. Setelah itu, Prabowo menantang hasil pemilu itu selama berminggu-minggu, dan mengajukan banding ke pengadilan konstitusi Indonesia.

Pemilu damai ini menandai tonggak sejarah lain bagi Indonesia menuju demokrasi dari kediktatoran militer sejak tahun 1998. Asia Tenggara telah mengalami kebangkitan otoritarianisme dalam beberapa tahun terakhir, seiring para pemimpin negara berupaya menghindari agar tidak terjebak dalam ketegangan AS-China terkait perdagangan dan Laut China Selatan.

Pemilihan presiden berlangsung untuk pertama kalinya bersamaan dengan pemilihan parlemen dan lokal. Lebih dari 20.000 kursi diperebutkan dalam apa yang digambarkan oleh para analis politik sebagai salah satu pemilu satu hari yang paling kompleks di dunia, yang membentang di 17.000 pulau.

Hampir 193 juta warga negara berhak untuk memilih di sekitar 800.000 tempat pemungutan suara, termasuk sebanyak 70 juta pemilih pemula yang memenuhi syarat untuk pertama kalinya. Lembaga survei yang terlibat dalam hitung cepat mengatakan bahwa jumlah pemilih mencapai lebih dari 80 persen—lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Kemenangan Jokowi—jika benar—akan memberinya mandat baru untuk terus memperluas layanan sosial, termasuk perawatan kesehatan, sambil mendorong lebih banyak investasi untuk membangun jalan baru, jembatan, bendungan, dan pelabuhan.

Di jalur kampanye, ia rutin berbicara tentang optimisme dalam pembangunan Indonesia yang stabil, berbeda dengan pidato berapi-api Prabowo yang menunjukkan bahwa negara yang kaya akan sumber daya ini sedang menurun dan dieksploitasi oleh asing.

Pelantikan presiden ditetapkan pada tanggal 20 Oktober. Jokowi—yang tidak akan memenuhi syarat untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga—akan memimpin lima tahun kritis di Indonesia, yang mengangkangi Samudra Pasifik dan Hindia. Negara ini sedang berupaya untuk menarik miliaran dolar investasi dari China dan membangun industri baru dalam e-commerce dan manufaktur, untuk meluncurkan ekonomi $1 triliun untuk masuk ke dalam jajaran 10 besar ekonomi global.

Jokowi menghadapi masalah-masalah termasuk ketimpangan pendapatan dan ketakutan di antara puluhan juta keluarga berpenghasilan rendah, bahwa harga-harga konsumsi telah naik lebih cepat daripada upah mereka.

Dia akan kembali menjabat bersama wakil presiden baru, Ma’ruf Amin. Amin adalah ulama konservatif berpengaruh yang tidak memiliki pengalaman pemerintahan, dan akan menjabat di tengah kekuatan politik Islamis yang berkembang.

Jokowi menunjuk Amin (76 tahun), menyusul mobilisasi Muslim garis keras dan konservatif terhadap mantan Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Pada tahun 2017, Ahok—yang juga anggota etnis minoritas Tionghoa—kalah dalam upaya pemilihan kembali, kemudian dipenjara atas tuduhan penistaan agama, yang ia bantah.

“Ma’ruf dipilih untuk mencegah menjauhnya para pemilih Muslim di tengah serangan agresif yang menyebut Jokowi anti-Islam, dan itu berhasil,” kata Achmad Sukarsono dari perusahaan konsultan global Control Risks.

Satu bintang yang muncul dari kampanye ini adalah Sandiaga Uno, calon wakil presiden dan salah satu pengusaha dan investor terkaya di Indonesia. Dia memenangkan banyak penggemar dari pertunjukan debatnya dan kampanyenya di seluruh negeri. Para analis mengatakan bahwa pria berusia 49 tahun itu berada dalam posisi yang baik untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2024.

Iman Satria, seorang warga Jakarta berusia 25 tahun, mengatakan bahwa dia memilih Prabowo karena dia merasa paslon 02 “lebih dekat dengan kaum Muslim”, dan bahwa dia akan mendukung Sandiaga Uno jika dia maju pada tahun 2024, karena “Dia dapat berhubungan dengan milenial serta ibu rumah tangga dan orang tua, karena kerendahan hatinya.”

Niska Utami, seorang mahasiswi berusia 21 tahun, mengatakan bahwa ia memilih Jokowi sebagian karena kekhawatiran bahwa Prabowo akan memberikan kekuatan kepada para pendukung ekstremis Muslim. “Saya juga memilih Jokowi karena dia membuktikan bahwa dia bekerja keras,” katanya.
sumber: matamatapolitik.
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

PILPRES 2019: DIDUKUNG ISLAM GARIS KERAS, MENGAPA PRABOWO MASIH BISA KALAH?

Untuk kampanyenya di Pilpres 2019, Prabowo Subianto telah menarik dukungan kelompok-kelompok Islam garis keras, berharap hal itu akan menarik pemilih Muslim konservatif memilihnya. Walau berhasil memperkecil selisih dari kandidat petahana Joko Widodo, hasil quick count menemukan, ia masih belum berhasil mengalahkan presiden. Apa penyebabnya?

Oleh: Yohanes Sulaiman (SCMP)

Jika hasil hitung cepat Pilpres 2019 pada Rabu (17/4) benar, itu berarti Presiden Joko Widodo berhasil mengalahkan lawannya, Prabowo Subianto, dengan margin sekitar 10 poin persentase.

Bagi para lembaga survei yang melacak kedua kandidat selama delapan bulan terakhir, hasilnya tidak mengejutkan. Indikator, IndoBarometer, CSIS, Kompas, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), telah memprediksi kemenangan Jokowi dan pasangannya, Ma’ruf Amin, meskipun dengan margin kemenangan yang lebih luas.

Pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2019, Jokowi dan Ma’ruf Amin. (Foto: Reuters)

Jika Prabowo dan Sandiaga Uno mampu menutup kesenjangan, mengapa mereka tidak bisa menutup kesenjangan lebih besar, tidak seperti Jokowi pada Pilpres 2014 yang mengalahkan Prabowo dengan 6 poin persentase.

Bagi Prabowo, itu bukan karena ia kurang berusaha. Lembaga survei mengatakan bahwa mantan jenderal itu memenangkan empat provinsi lebih banyak dibandingkan pada tahun 2014, meskipun hasil resmi Pilpres 2019 belum keluar dan mungkin baru akan dirilis pada bulan Mei.

Ke-14 provinsi ini—diperkirakan mencakup Jawa Barat, Banten, dan Sumatra Utara—dikenal sebagai tempat paling konservatif di Indonesia. Sejak Pilpres 2014, para pendukung Prabowo telah menggambarkan Jokowi sebagai musuh Islam, seorang komunis, dan seorang Kristen, meskipun Jokowi adalah seorang Muslim Jawa yang taat. Upaya mereka untuk mendiskreditkan kebijakan Jokowi telah berubah menjadi sentimen anti-China, dan serangan ini mencapai puncaknya pada tahun 2017.

Saat itulah sekutu Jokowi, Basuki Tjahja Purnama, atau Ahok—seorang Kristen Tionghoa—mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta. Para pendukung Prabowo melakukan serangan, mengklaim bahwa Ahok melakukan penistaan agama, dan bahwa dengan memilih seorang Kristen maka mereka akan masuk neraka.

Kampanye hitam—yang menurut surat kabar Jakarta Post adalah kampanye “yang paling kotor, paling terpolarisasi, dan paling memecah belah yang pernah ada”—membantu membawa kejatuhan Ahok, terlepas dari prestasinya dan peringkat persetujuannya yang tinggi.

Hasilnya sangat menyulut semangat para garis keras, sehingga Habib Rizieq Shihab—pendiri Front Pembela Islam (FPI)—ingin kubu Prabowo menggunakan kembali strategi itu untuk menjatuhkan Jokowi.

Namun Jokowi waspada dan menyadari bahwa ia mungkin akan kalah dalam upayanya untuk masa jabatan kedua, dan memutuskan untuk melindungi dirinya sendiri dengan bekerja sama dengan organisasi Muslim terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU).

Dia memilih Ma’ruf Amin, seorang tokoh senior di NU, sebagai calon wakilnya dan memecah lawan-lawan lslamisnya—misalnya memberikan posisi untuk lebih menerima dia, dan melarang kelompok militan Hizbut Tahrir, saingan NU. Tindakan-tindakan ini memperkuat posisinya di jantung NU di Jawa Tengah dan Timur, dua provinsi terpadat di Indonesia.

Pada saat yang sama, Jokowi mendapat keuntungan dari pertumbuhan ekonomi. Memang dia disalahkan karena ekonomi hanya tumbuh 5 persen—kurang dari 7 persen yang dijanjikannya—dan terlalu mengandalkan perusahaan milik negara untuk proyek infrastrukturnya.

Bahkan Sandiaga, selama lebih dari 1.500 kunjungannya ke pemilih di seluruh Indonesia dan debat antara calon presiden, juga menyerang kebijakan ekonomi Jokowi karena tidak memberi manfaat kepada masyarakat miskin dan mereka yang berjuang dengan meningkatnya biaya hidup.

Capres Prabowo Subianto berpidato selama kampanye dengan pasangannya Sandiaga Uno di Stadion GBK di Jakarta, Indonesia, 7 April 2019. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Jokowi juga mendapat keuntungan dari kelompok-kelompok Islamis yang melebih-lebihkan kekuatan mereka. Para pemilih moderat dan minoritas kecewa ketika Jokowi memilih Ma’ruf—yang berperan penting dalam menjatuhkan Ahok dan pernah melarang umat Islam untuk mengatakan “Selamat Natal” kepada umat Kristen—dan merasa kecewa dengan kurangnya perhatian Jokowi terhadap masalah hak asasi manusia.

Mereka mungkin berpikir untuk golput, tetapi akhirnya memutuskan untuk memberikan suara untuk Jokowi, yang menyebabkan kekhawatiran rendahnya jumlah pemilih atau banyaknya surat suara rusak—yang mungkin akan menguntungkan Prabowo—tidak terwujud.

Dari 192 juta pemilih terdaftar, sekitar 80 persen pergi ke lebih dari 800 ribu tempat pemungutan suara untuk mencoblos surat suara mereka, mungkin khawatir bahwa jika mereka golput, itu akan menghasilkan kemenangan Prabowo dan tindakan keras terhadap hak-hak mereka.

Contoh kasus Meiliana muncul dalam pikiran. Wanita etnis Tionghoa Buddha yang tinggal di Sumatra Utara ini, ditangkap dan dikirim ke penjara selama 18 bulan karena secara pribadi mengeluh kepada tetangganya bahwa azan dari sebuah masjid di dekat tempat tinggalnya terlalu keras. Ini menyebabkan penyerangan, pembakaran, dan perampokan kuil-kuil China setempat, dan pada akhirnya, mereka yang bertanggung jawab hanya mendapat hukuman yang sangat ringan.

Pada akhirnya, latar belakang Prabowo sebagai seorang mantan pemimpin militer yang dicurigai melakukan pelanggaran HAM—sesuatu yang mengacaukan upaya sebelumnya untuk jabatan yang lebih tinggi—tidak terlalu menjadi masalah dibandingkan kemampuan Jokowi untuk mendapatkan dukungan dari orang-orang moderat.

Sandiaga Uno, cawapres yang mendampingi Prabowo Subianto, melambaikan tangan kepada para pendukung mereka setelah berpidato di kampanye akbar di Stadion Gelora Bung Karno, di Jakarta, Indonesia, tanggal 7 April 2019. (Foto: Getty Images/Ed Wray)

Prabowo berusia 67 tahun, dan ini kemungkinan akan menjadi upaya terakhir baginya. Namun Sandiaga baru berusia 49 tahun dan bisa mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2024, karena Jokowi tidak akan diizinkan untuk bertarung lagi.

Periode kampanye telah memberikan pengakuan nasional kepada Sandiaga, dan jika Prabowo mundur dari politik, Sandiaga dapat dengan mudah mengambil alih kendali Gerindra—partai Prabowo yang kemungkinan akan menjadi yang terbesar kedua di Parlemen.

Sandiaga mendapat manfaat dari dukungan kaum Islamis, tetapi tidak pernah mengibarkan bendera mereka di tiangnya, memilih untuk menggambarkan dirinya sebagai seorang Muslim yang saleh namun toleran dan moderat. Fokusnya pada ekonomi membuatnya masih akan memiliki daya tarik bagi pemilih, yang membuka pintu ke kontes lain.

Ini sama sekali bukan berarti bahwa kaum Islamis tidak akan lagi menjadi faktor penting pada tahun 2024. Konservatisme agama saat ini sedang tumbuh di Indonesia seiring pertumbuhan bertahun-tahun sekolah-sekolah berorientasi salafi, yang didanai oleh Arab Saudi.

Dan seperti yang diperlihatkan oleh hasil hitung cepat, jika Prabowo-Sandi mendominasi 14 provinsi dengan menggambarkan Jokowi sebagai anti-Islam, maka dalam perlombaan terbuka dan luas pada tahun 2024, para kandidat dapat berusaha merayu para fundamentalis agama untuk mengumpulkan suara.

Namun, kemungkinan kemenangan Jokowi menunjukkan bahwa mereka masih bisa dikalahkan, jika koalisi masyarakat moderat dapat termotivasi untuk bersatu dan meniadakan masalah agama dalam pemilu. Ini adalah pelajaran yang dapat diambil dari Pilpres 2019.

Yohanes Sulaiman adalah Dosen Hubungan Internasional di Sekolah Pemerintahan di Universitas Jenderal Achmad Yani di Cimahi, Indonesia.
sumber: matamatapolitik.
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

TKD TANTANG AMIEN RAIS ADU DATA SOAL KLAIM MENANG DI JATIM

Jakarta, CNN Indonesia — Tim Kampanye Daerah (TKD) Jawa Timur Joko Widodo-Ma’ruf Amin membantah pernyataan Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Amien Rais, yang mengklaim bahwa calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 itu menang di Jawa Timur.

Ketua TKD Jatim Irjen (Purn) Machfud Arifin, menuding bahwa pernyataan Amien adalah upaya penyesatan persepsi publik belaka. Ia pun menantang Amien untuk membuktikannya, melalui adu data perhitungan perolehan suara.

“Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengajak untuk buka-bukaan data saja. Kan Pak Amien bilang punya real count tiga lembaga, mana itu datanya ayo dibuka. Kami juga punya data resmi dari rekapitulasi C1, semuanya valid,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (20/4).

Mantan Kapolda Jatim itu juga mengajak Amien Rais untuk saling membuka validitas data perolehan suara, bahkan jika perlu, kata Machfud hal itu bisa dilakukan di ruang terbuka, agar masyarakat Jawa Timur bisa secara langsung menyaksikannya.

“Bisa di Tugu Pahlawan, sekalian biar masyarakat menilai semua manuver-manuver 02 yang menyesatkan publik ini. Nanti biar kami siapkan tenda dan layar besar di Tugu Pahlawan. Pak Amien Rais tinggal datang saja bawa datanya,” ujar Machfud.

Machfud menambahkan, bahwa pihaknya kini telah mengantongi data rekapitulasi C1, yang dikumpulkannya melalui para saksi yang ditempatkan di seluruh TPS di Jatim. Hasilnya klaim Machfud, Jokowi-Ma’ruf memperoleh kemenangan dengan 68 persen suara.

“Ini data real count, sudah hampir 100 persen seluruh TPS masuk. Pak Jokowi dapat lebih dari 68 persen di Jatim, bahkan trennya naik. Kita masih hitung data yang terus masuk,” kata Machfud.

Data-data itu, kata Machfud, secara berkala juga terus dipublikasikan dengan transparan kepada publik di Posko TKD Jatim di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya. Data itu juga bisa diakses oleh media massa melalui layar televisi yang disediakan.

“Kami sangat terbuka, transparan, enggak asal klaim. Kalau Pak Amien Rais bersedia buka datanya, kami senang sekali. Janjian saja kapan mau ke Tugu Pahlawan,” katanya.
Lihat juga: Usai Quick Count, Amien Rais Sindir Banyak Tokoh Main Aman
Tak hanya TKD, sejumlah Kiai Sepuh se Jawa Timur juga menyayangkan video Mantan Ketua MPR Amien Rais, yang mengklaim bahwa hasil pemilihan presiden 2019 di Jawa Timur dimenangkan oleh pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

“Terus terang para kiai juga menyayangkan (sikap) Pak Amien yang mengeluarkan pernyataan tergesa-gesa sebelum ada pernyataan KPU, jangan-jangan nanti keliru lagi seperti kasus Ratna Sarumpaet, yang begitu tergesa-gesa ternyata hoaks,” kata Saifullah Yusuf, menyampaikan sikap para kiai, Jumat (19/4).

Sebelumnya, potongan video Amien Rais berdurasi 1,31 menit sempat viral. Video itu memperlihatkan Amien Rais tengah mengatakan bahwa hasil real count tiga lembaga, yang memenangkan Prabowo-Sandi di Jawa Timur, dengan raihan suara lebih dari 50 persen.
sumber: cnnindonesia.com
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

LEMBAGA SURVEI: QUICK COUNT BUKAN AKTIVITAS MENIPU PENGUIN

Jakarta, CNN Indonesia — Ketua Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) Philips Vermonte mengatakan quick count dan exit poll yang dilakukan sejumlah lembaga di bawah naungan pihaknya bukan aktivitas yang dilakukan untuk menipu penguin.

Menurutnya, quick count dan exit poll dilakukan secara serius dan tidak main-main. Pernyataan Philips itu membalas sindiran calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto yang meminta lembaga survei pindah ke Antartika.

“Quick count dan exit poll bukan abal-abal atau mengarang atau aktivitas menipu penguin-penguin. Kita adalah scientific dan diselenggarakan secara serius dan bukan main-main,” kata Philips saat memberikan keterangan pers di Hotel Morrissey, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Dia menerangkan, lembaga survei di bawah Persepi tidak pernah menyatakan bahwa hasil quick count dan exit poll merupakan hasil resmi. Di sejumlah negara, menurutnya, quick count dan exit poll dilakukan lembaga nonnegara untuk menjadi pembanding hasil yang dikeluarkan oleh aktor negara, Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Philips kemudian menegaskan, quick count dan exit poll merupakan aktivitas yang legal dan diakui secara hukum dalam konteks penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

“Boleh dibilang dia difasilitasi dalam konteks penguatan demokrasi dan penyelenggaaran pemilu di Indonesia,” ujar Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) itu.

Prabowo meluapkan kekesalannya pada sejumlah lembaga survei yang menampilkan hasil quick count terkait Pilpres 2019. Hasil hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga sebelumnya menunjukan perolehan suara terbanyak dimiliki pasangan capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Di hadapan massa pendukungnya, Prabowo menganggap lembaga survei adalah tukang bohong. Ketua Umum Partai Gerindra itu pun meminta para lembaga survei yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf pergi dari Indonesia ke Antartika untuk membohongi penguin.
Lembaga Survei: Quick Count Bukan Aktivitas Menipu PengiunPrabowo Subianto. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Terkait ketidakpercayaan publik terhadap hasil hitung cepat, Philips menyatakan hal tersebut hanya dilakukan para elite politik.

Menurutnya, elite politik akan menyukai hasil hitung cepat jika calon yang didukung dinyatakan menang. Namun, elite politik akan menyatakan lembaga survei abal-abal jika hitung cepat menyatakan hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya.

“Itu hal biasa. Cuma ini kewajiban anggota Persepi sudah buka saja datanya supaya orang bisa lihat ini proses sistematik dan ada metodenya bukan seperti yang dituduhkan dan dibuat sedemikian rupa agar KPU menyesuaikan atau menjadi penggiring opini,” ujarnya.

Kata Philips, sejarah mencatat hasil hitung cepat tidak pernah jauh berbeda dengan perhitungan yang dikeluarkan oleh pihak KPU sepanjang sejarah keterlibatan lembaga survei dalam pemilu di Indonesia.

“Lebih tepat hasil penghitungan quick count tidak jauh dari hasil penghitungan KPU karena kan hasil resmi tetap KPU. Selama ini record baik jadi tidak beda jauh,” katanya.

Philips menjelaskan, lembaga survei yang tergabung di Persepi mempunyai metode randominisasi dengan sampel minimal dari 2.000 tempat pemungutan suara (TPS).

“[Sebanyak] 2.000 orang melaporkan C1 itu difoto dan dilaporkan ke kita. Margin of error 1 persen. Kalau survei bisa 2,5 hingga 3 persen tergantung sampel,” ujarnya.
sumber: cnnindonesia.com
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

CALON PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO MENYEBUT LEMBAGA SURVEI YANG MENGELUARKAN QUICK COUNT ‘TUKANG BOHONG’

Calon presiden Prabowo Subianto menyebut lembaga survei yang mengeluarkan quick count atau hitung cepat dengan keunggulan sementara Joko Widodo, berbohong dan minta mereka pindah ke Antartika.

Dalam pidato pada acara yang disebut Syukur Kemenangan Indonesia di kediaman pribadinya di Jakarta Selatan, Prabowo mengatakan, “Rakyat Indonesia sudah sadar, rakyat Indonesia tidak bisa dibohongi lagi”.

Pidato yang dilakukan setelah kembali melakukan sujud sukur di masjid Al-Azar menyusul salat Jumat ia bertanya kepada para pendukungnya, “Saudara-saudara, lembaga survei abal-abal percaya enggak?”

Pertanyaan yang dijawab oleh pekikan takbir para pendukungnya.

Perhitungan sejumlah lembaga survei melalui quick count pada Rabu (17/04) menunjukkan Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul sekitar 54% sementara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sekitar 45%.

Hasil resmi real count melalui Komisi Pemilihan Umum, KPU, akan diumumkan pada 22 Mei mendatang.

Dalam pidatonya, Prabowo juga menyebut sejumlah lembaga survei sebagai “tukang bohong” dan diminta pindah ke negara lain.

“Hei tukang bohong, rakyat tidak percaya sama kalian. Mungkin kalian harus pindah ke negara lain. Mungkin kau bisa pindah ke Antartika,” tegas Prabowo.

“Mungkin kalian tukang bohong lembaga survei, bisa bohongi penguin-penguin di Antartika. Indonesia sudah tidak mau dengar kamu lagi,” tambah Prabowo.

Prabowo kembali menegaskan bahwa dukungan rakyat, terutama emak-emak yang datang di kediamannya hari ini dipastikan tidak diberikan uang.

Prabowo kemudian memastikan ia dan Sandiaga Uno adalah pemenang pilpres 2019 pilihan rakyat.

Ia juga mengklaim dengan menyatakan, “Saudara-saudara ini adalah kemenangan rakyat semuanya. Rakyat Indonesia sudah bangkit,” kata Prabowo.

Dalam kesempatan itu, Prabowo menyatakan terima kasih kepada relawan, khususnya “emak-emak relawan semuanya kalian berkorban ke sini.”

Pada Kamis (18/04), Prabowo yang didampingi Sandiaga Uno, kembali mendeklarasikan dirinya sebagai presiden berdasarkan perhitungan internal kubunya.

Joko Widodo sendiri pada hari yang sama menyatakan sudah mengirimkan utusan untuk bertemu Prabowo dalam rangka berkomunikasi.

“Tadi siang saya sudah utus seseorang untuk bertemu beliau (Prabowo Subianto) agar kita bisa berkomunikasi dan kalau bisa bertemu,” ungkap Joko Widodo kepada para wartawan Kamis (18/04).

Menurutnya, persahabatan dan tali silaturrahmi antara dirinya dengan Prabowo dan Sandiaga Uno tidak akan putus. “Itu sudah saya sering sampaikan,” katanya.

“Sehingga rakyat melihat pemilu itu lancar, aman, damai dan tidak ada sesuatu apapun,” tambah Jokowi.

Jokowi juga mengatakan ia telah menerima telepon dari Perdana Menteri Malaysia, DR Tun Mahathir Mohamad, PM Singapura, Lee Hsien Loong, dan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Mereka, menurut Jokowi, telah memberi ucapan selamat atas pesta demokrasi Indonesia yang berjalan lancar.

Jokowi juga menyebut soal hasil hitung cepat. Menurutnya, penghitungan resmi dari KPU masih ditunggu. “Tetapi quick count telah memberi angka yang jelas.”

“Hari ini karena sudah mencapai hampir 100%, kami menyampaikan bahwa hasil quick count dari 12 lembaga survei menyatakan Jokowi-Maruf Amin mendapatkan persentase 54,5% dan Prabowo-Sandi mendapatkan persentase 45,5%.”

“Kita tahu semuanya bahwa yang namanya penghitungan quick count adalah cara penghitungan ilmiah, yang dari pemilu lalu akurasinya 99%, hampir sama dengan perhitungan real count.”

“Tapi kita tetap harus sabar, sabar menunggu penghitungan resmi dari KPU,” kata Jokowi.

Sementara itu Komisioner KPU, Pramono Ubaid Tanthowi, mengatakan Jumat (19/04) agar semua pihak tidak saling mengklaim kemenangan dan menunggu hasil perhitungan suara KPU pada tanggal 22 Mei.

“Kita berharap klaim-klaim kemenangan dilakukan setelah hasil resmi yang dikeluarkan KPU,” kata Pramono kepada para wartawan.

“Saya ulangi lagi”

Tidak lama setelah Jokowi menggelar jumpa pers di kawasan Menteng, Jakarta, Prabowo menggelar jumpa pers di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.

Di hadapan wartawan, Prabowo kembali menyatakan bahwa dirinya adalah pemenang pemilihan presiden berdasarkan perhitungan dari internal kubunya.

“Saya ulangi pada hari ini, menyatakan bahwa saya dan Sandiaga Uno mendeklarasikan kemenangan sebagai presiden 2019-2024 berdasarkan perhitungan kami,” kata Prabowo Subianto.

“Kemenangan ini kami deklarasikan lebih cepat, karena kami punya bukti usaha-usaha berbagai ragam kecurangan (dalam pemilu 2019),” katanya.

Di mana Sandiaga Uno?

Dalam deklarasi kemenangan pada Rabu (17/04), Prabowo Subianto tidak didampingi oleh Sandiaga.
Hak cipta gambar @sandiuno @sandiuno

Meski angka hitung cepat menunjukkan keunggulan pasangan petahana, warganet ramai mempertanyakan keberadaan kandidat cawapres nomor urut 02,

Warganet menggunakan tagar #MisteriHilangnyaSandiagaUno untuk menyoroti pertanyaan mereka itu.
sumber: bbc
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

PENGAKUAN INTERNASIONAL !!!

Arti sebuah pengakuan Internasional, teramat sangat penting dalam sebuah kepemimpinan Nasional sebuah negara !

Melihat,Membaca, Mendengar apa saja upaya yang dilakukan oleh kubu sebelah tentunya membuat kita tidak habis pikir !

Soal klaim kemenangan yang masih sangat prematur pun sebenarnya sangat janggal untuk dilakukan oleh siapapun !

Karena semua nya sudah punya standar tersendiri dalam hal pemilu !

Rasanya tidak akan mungkin “kemenangan” DIKLAIM begitu saja dan dianggap SAH secara hukum.

Pengakuan Internasional, tidak lah sembarangan diucapkan oleh para kepala Pemerintahan negara luar kepada Jokowi !

Quick count, adalah ilmu pasti, bukan ilmu “duga menduga”
Quick count didasari oleh pengetahuan yang yang luas dan kombinasi dari beberapa ilmu yang diawali dari “data lapangan” yang kemudian berubah jadi informasi.
Statistika dan Matematika tidak bisa dibuat dari angka angka “bikinan” !

Ilmu pengetahuan tidak boleh BOHONG !

Pemimpin Internasional sangat faham dengan arti kata quick count yang biasanya dilengkapi dengan “margin error” yang bisa di artikan “lebih kurang” yang diikuti dengan angka PASTI !

Jadi teringat kita dengan “,debat capres” kemarin yang sangat terlihat sebagai adu “inside” yang jika di ibaratkan sebagai pertandingan antara “PENTIUM 1” dengan PENTIUM 4 ha ha ha ha ha ha ha ha ha.

Sejatinya, seorang pimpinan negara Asing tidak sembarangan dalam mengucapkan kata-kata “SELAMAT” kepada pemenang quick count.

Lantas,jika kemudian ada pihak-pihak yang merasa LEBIH KPU DARI KPU, artinya adalah bahwa ybs TIDAK MENGERTI DENGAN ILMU PENGETAHUAN alias MASA BODO bahkan mungkin SUDAH KADALUWARSA ILMU nya.

Adalah hal yang TIDAK MUNGKIN bagi sebuah pemimpin negara LUAR untuk MERALAT UCAPAN itu dan akan mengucapkan HAL YANG SAMA kepada calon lainnya, karena itu sudah pasti akan MENJATUHKAN WIBAWA negaranya yang bisa berakibat FATAL bahkan bisa di minta pertanggungjawaban oleh rakyatnya !

Semoga pihak pihak yang TELAH MERASA MENANG ataupun KALAH dapat menahan diri untuk ber euforia, karena masih panjang batas waktu untuk penentuan PEMENANG !

Salam WARAS !!

fb Telah Karo Karo Purba

Posted in Berita | Leave a comment

PRABOWO MENYATAKAN DIRINYA SEBAGAI PRESIDEN 2019 SANDIAGA HANYA PASRAH

Desy-Selang sehari setelah hari pencoblosan serentak selesai dilakukan, salah satu televisi swasta yakni Tv One menayangkan konferensi pers Prabowo. Dalam pernyataan Prabowo yang dilakukan kamis tanggal 18 April menghebohkan publik. Untuk yang kesekian kali dia mendeklarasikan kemenanganya kembali. Namun kali ini ada pernyataanya yang menurut saya lucu. Saya seperti melihat dagelan politik yang dimainkan Prabowo dan elite pendukungnya.

Jika dalam pernyataan Prabowo sebelumnya terkait hasil penghitungan cepat lembaga survey, dia tidak didampingi oleh wakilnya. Kali ini dia didampingi oleh Sandiaga dan juga Amien Rais. Dalam konferensi persnya kembali Prabowo mengklaim kemenanganya sebesar 62 persen. Dan yang membuat saya sontak tercengang dan kaget adalah dia menyatakan dirinya sebagai presiden periode 2019 – 2024. Baru kali ini saya mendengar pernyataan yang begitu percaya dirinya, bahkan sebelum penghitungan real counts dari lembaga resmi pemilu selesai dilakukan, Prabowo sudah menyatakan dirinya sebagai presiden.

Yang menarik juga adalah melihat ekspresi Sandiaga yang tampak terus menunduk dan memberikan ekspresi datar. Apakah dia menahan malu atau sebenarnya dia terpaksa datang untuk mendengar Prabowo menyatakan secara sepihak dirinya adalah presiden terpilih. Meskipun Sandi sendiri sebenarnya sudah mengakui kemenangan Jokowi. Sandi tidak seperti yang sudah sudah ketika dia mendampingi prabowo dalam setiap orasi, pidato atau saat memberikan pernyataanya kepada wartawan. Sandi pasti selalu terlihat sumringah, antusias, semangat dan tersenyum. Namun kali ini dia terlihat begitu berbeda. Jika ditanyakan kepada tim kemenangan Prabowo bisa saja mereka berdalih bahwa Sandi sedang sakit. Namun secara psikologis sepertinya Sandi sedang berada pada puncak rasa lelahnya, puncak keputusasaanya. Saya pikir Sandi sebagai orang yang berpendidikan pasti bisa memainkan logikanya untuk melihat validitas dan fakta lapangan terkait lembaga survey yang memaparkan hasil hitung cepat, karena hal ini terkait dengan methodologi dan sistem. Dengan catatan Sandi akan bisa memainkan logikanya jika dia tidak menjadi kontestan pemilu yang apatis.

Dengan Prabowo mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai presiden 2019 dan mengklaim kemenangan 62 persen berdasar data internal yang masuk dari 300 ribu TPS dari total TPS yang tersebar di 34 Provinsi sebesar kurang lebih 800 ribuan, maka Prabowo tidak seharusnya dengan gegabah menyatakan kemenanganya. Prabowo seharusnya berkaca dari pemilu tahun 2014 untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri. Entah siapa yang membisikkan Prabowo untuk menyatakan dirinya sebagai presiden. Pernyataan ini ibarat orang yang telah putus asa dan ingin melakukan bunuh diri karena berada dalam level under pressure dan mengalami guncangan jiwa.

Jika Prabowo mengklaim menang dengan sample suara di TPS dengan jumlah 300 ribu maka hasil yang didapat belum setengahnya dari total TPS yang tersebar di Indonesia. Jika 300 ribu hasil TPS diambil dari daerah yang memang Prabowo mendominasi seperti daerah Sumatera dan Jawa Barat maka tidak heran jika hasil yang diperoleh adalah kemenangan Prabowo. Karena untuk Sumatera Selatan sendiri saja Prabowo menang kurang lebih 60 persen. Namun jika Prabowo mendapatkan hasil secara menyeluruh atau dia diberikan hasil C1 dari TPS di daerah Jawa Tengah dan Papua maka akan sangat aneh jika dia masih mengklaim dirinya menang. Daerah Papua sendiri menjadi daerah kemenangan mutlak untuk Jokowi karena suara untuk Jokowi jauh diatas 80 persen. Jika kenyataanya seperti ini siapa yang terindikasi melakukan kecurangan dan mencuri start?

Kenapa Prabowo tidak bisa sabar menunggu hasil penghitungan resmi KPU jika memang dia merasa tidak dapat mempercayai lembaga survey? Karena Prabowo memang tidak pernah percaya terhadap siapapun dan apapun kecuali kelompoknya sendiri. Komisi Pemilihan Umum dari awal mendapat intimidasi dari pihak Prabowo begitu juga Polri. Bahkan untuk lembaga hukum tinggi seperti mahkamah konstitusi juga tidak dipercayai sehingga pernah tercetus kata people power.

Tetapi yang pasti perlu diwaspadai dari pernyataan Prabowo yang mengumumkan dirinya sebagai presiden 2019 tanpa menunggu hasil resmi KPU. Pernyataan ini berbahaya, justru sangat berbahaya karena memungkinkan adanya kudeta. Jangan sampai Indonesia menjadi Venezuela kedua. Jangan sampai rakyat sengsara hanya karena sebuah ambisi tak terpenuhi. Entah apakah Prabowo saat ini berpikir waras dengan menyatakan dirinya sebagai presiden, mengingat Prabowo memiliki emosional yang labil dan kesulitan dalam mengendalikan diri. Jangan sampai Prabowo mengulang kembali moment mempermalukan dirinya sendiri, karena bukan hanya dirinya yang akan dipermalukan namun Sandiaga dan seluruh pendukungnya juga akan kehilangan harga diri jika tidak bisa menunjukkan kebesaran hati menerima kekalahan.
sumber: seword.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

KLAIM MENANG 62% PRABOWO, DARI MANA DATANYA?

Jakarta – Prabowo Subianto menyatakan menang di Pilpres 2019. Klaimnya didasarkan atas penghitungan suara yang diterimanya. Namun data yang disebut Prabowo itu masih menyisakan tanda tanya.

“Saya mau kasih update bahwa berdasarkan real count kita, kita sudah berada di posisi 62%. Ini adalah hasil real count. Dalam posisi lebih dari 300 ribu TPS. Sudah diyakinkan ahli-ahli statistik bahwa ini tidak akan berubah banyak,” ujar Prabowo di depan kediamannya, Jl Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019).

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Andre Rosiade, menjelaskan perihal angka 62% itu. Angka itu adalah hasil real count dari banyak TPS di seluruh Indonesia. Andre menyebut real count tersebut dilakukan di sekitar 800 ribu TPS, namun baru 61% yang selesai dihitung saat Prabowo menyampaikannya ke muka publik, kemarin.

“Suara Pak Prabowo mencapai 62% berdasarkan real count itu,” kata Andre.

Prabowo juga menyebut ada ahli statistik yang meyakinkannya. Siapa ahli statistik yang berhubungan dengan ‘angka 62%’ itu?

“Saya tidak tahu,” jawab Andre. Kebetulan dia tidak berada di lokasi saat pembahasan hasil real count itu. Namun dia mendapatkan informasi bahwa angka itu muncul dari hasil penghitungan C1 yang nyata dari TPS. C1 plano adalah catatan yang memuat hasil penghitungan suara.

Sekadar perbandingan, sejumlah lembaga survei juga melakukan hitung cepat. Kebanyakan menunjukkan kemenangan untuk Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, bukan Prabowo-Sandi. Berdasarkan data sampai pukul 06.27 WIB, Litbang Kompas menunjukkan Jokowi-Ma’ruf meraup 54,52% dan Prabowo-Sandi 45,48%. Indo Barometer menunjukkan Jokowi-Ma’ruf mendapat 54,32% dan Prabowo-Sandi 45,68%. Media Survei Nasional menunjukkan Jokowi-Ma’ruf mengantongi 54,52% dan Prabowo-Sandi 45,48%. Kedai Kopi (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) menunjukkan Jokowi-Ma’ruf mendapat 52,45% dan Prabowo-Sandi 45,23%.

Lalu dari mana data yang menyatakan Prabowo telah menang 62% di Pilpres 2019?
sumber : detik.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment