SUMUT GENJOT PRODUKSI AREN GANTIKAN GULA TEBU

MedanBisnis – Medan. Swasembada gula yang ditargetkan Sumatera Utara (Sumut) akan dicapai dengan menggenjot produksi aren. Sebab, produksi gula yang selama ini menggunakan bahan baku tebu, semakin menurun.
Karena itu, komoditas ini terus dikembangkan sehingga produksinya bisa meningkat dan memberikan kontribusi bagi target swasembada gula di Sumut.

Dinas Perkebunan Sumut mencatat, produksi aren per tahun 2014 mencapai 3.233,25 ton dengan lahan seluas 5.288,91 hektare. Jumlah itu semuanya berasal dari perkebunan rakyat. Hingga saat ini, produksi aren di Sumut memang masih jauh di bawah produksi tebu sebanyak 34.490 ton dengan lahan seluas 7.872 hektare.
Dengan rincian perkebunan tebu rakyat seluas 900 hektare dan produksi 3.408 ton, kemudian PTPN seluas 6.972 hektare dan produksi 31.082 ton.

“Aren merupakan tanaman yang tidak bisa dibudidayakan secara monokultur. Hingga saat ini, semuanya diusahai oleh rakyat. Petani membentuk Gapoktan dan itu menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksinya. Disbun juga telah memberikan bantuan ke petani berupa alat-alat yang diharapkan bisa mendongkrak produksi aren,” kata Kepala Dinas Perkebunan Samut Herawati, Jumat (29/4) di Medan.

Herawati mengatakan, daerah penghasil aren terbesar di Sumut masih Tapanuli Selatan (Tapsel). Selain itu ada juga berasal dari Kabupaten Langkat, Padang Lawas Utara (Paluta), Madina, Nias, Deliserdang dan Labuhanbatu.

Saat ini, untuk pengembangan aren sedang dilakukan di Kabupaten Samosir. Daerah ini memiliki potensi dalam pengembangan komoditas aren. “Nilai ekonomi aren tinggi. Sekarang sudah mulai banyak yang menggunakannya pengganti gula pasir. Namun memang kendala dalam produksi aren ini karena pengembangannya tidak bisa dibudidayakan secara monokultur. Tapi terus ada upaya agar produksinya bisa digenjot,” katanya.

Pengamat pertanian Sumut Prof Abdul Rauf mengatakan, pohon aren memang tumbuh cukup bagus di Sumut. Namun selama ini, belum ada yang sengaja melakukan pembudidayaan aren dengan serius. Aren hanya tumbuh alami.

“Dengan budidaya, tentu produksi akan meningkat. Namun, meski bisa membuat gula dari aren, rasa aren memang belum bisa menggantikan gula tebu,” katanya.

Wakil Ketua Masyarakat Agribisnis dan Agronomi Indonesia (MAI) Sumut Syahri Syawal Harahap mengatakan, potensi pasar gula aren sudah semakin besar. Bahkan produk ini berpotensi ekspor karena konsumsi dari gula non glukosa (yang diproduksi dari aren) di sejumlah negara lebih tinggi dibandingkan gula glukosa (dari tebu).

“Ini tentu harus dibidik. Apalagi saat ini, Indonesia masih menjadi negara produsen aren terbesar dunia di atas Birma,” katanya.

Di Sumut, ada sejumlah daerah berpotensi besar dalam pertanaman aren. Namun, pengelolaannya harus lebih baik supaya produksinya bisa digenjot. Apalagi, ada nilai tambah bagi petani jika produksinya bisa digunakan sebagai bahan baku gula. (elvidaris simamora)
sumber : medanbisnisdaily

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi AgriBisnis, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MOBIL MEWAH MILIK BUPATI SUBANG DISITA KPK

Starberita – Jakarta – Dua mobil mewah Wrangler warna oranye dan Toyota Vellfire warna hitam milik Bupati Subang, Ojang Sohandi disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mobil disita karena diduga berasal dari gratifikasi.

“Sitaan gratifikasi OJS,” kata Plh Kabiro Humas KPK Yuyuk Andriati saat dikonfirmasi, Kamis (28/4/2016).

Adapun dua mobil itu sudah diparkir di samping gedung KPK. Mobil Wrangler tampak telah dimodifikasi dengan pelat nomor D 50 KR sementara Vellfire berpelat nomor T 1978.

Diketahui, Bupati Subang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap terkait perkara di Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Selain itu, KPK juga memberi sangkaan gratifikasi terhadap Ojang.

Hari ini KPK melakukan pemeriksaan terhadap empat tersangka kasus itu. Keempat tersangka yang diperiksa yaitu Ojang Sohandi (OJS), Lenih Marliani (LM), Fahri Nurmallo (FN), dan Devyanti Rochaeni (DVR). Sementara itu, masih ada satu tersangka lainnya yang tidak diperiksa lantaran berstatus sebagai terdakwa di Kejati Jabar yaitu Jajang Abdul Holik (JAH).

Dalam kasus ini, Bupati Subang Ojang Sohandi ditahan terkait dengan penyuapan terhadap dua jaksa Kejati Jabar Devyanti Rochaeni (DVR) dan Fahri Nurmallo (FN) soal perkara BPJS Kabupaten Subang tahun 2014. KPK pun mengamankan uang berjumlah Rp528 juta dari ruang kerja DVR.

Namun, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jabar Feri Wibisono menyebut bahwa uang yang dibawa KPK senilai Rp528 juta dari meja Devyanti adalah uang pengganti cicilan yang dibayarkan terdakwa.

Feri menjelaskan total kerugian negara dalam kasus ini sekitar Rp4,7 miliar yang dibayar secara bertahap atau dicicil terdakwa, tapi hal itu telah dibantah KPK bahwa petruntukan duit itu masih didalami.

KPK sendiri menduga duit Rp528 juta adalah hasil kesepakatan antara Lenih Marliani (LM) yang merupakan istri dari terdakwa kasus korupsi, Jajang Abdul Kholik (JAK), dengan DVR serta seorang jaksa FN.

Namun FN telah dipindahtugaskan ke Semarang, Jawa Tengah. Uang tersebut bersumber dari Bupati Subang Ojang Sohandi agar namanya tidak terjerat perkara itu.

Atas perbuatannya, tersangka LM, JAH, dan OJS disangkakan Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b dan/atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2001, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana. Namun khusus tersangka OJS juga dikenakan Pasal 12 huruf B Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2001.

Untuk tersangka DVR dan FN disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-undang nomor 20 tahun 20021, juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana.(inc/YEZ)
sumber: starberita

Posted in Berita | Leave a comment

MASJID DAN GEREJA DIRESMIKAN DI DESA PENGUNGSI SINABUNG

REPUBLIKA.CO.ID, KARO — Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo didampingi Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi meresmikan Gereja Oikumene Bahtera Kasih dan Masjid Al Hikmah di Desa Siosar, Kecamatan Merek, Karo, Rabu (27/4). Penduduk desa ini merupakan pengungsi erupsi gunung Sinabung yang telah direlokasi sejak akhir tahun lalu.

Gatot mengatakan, gedung gereja dan masjid yang dibangun secara swadaya ini diharapkan menjadi perekat kehidupan bermasyarakat di Siosar.”Inilah bentuk kebhinnekatunggalikaan. Gereja dan masjid itu adalah lambang kebaikan, lambang kasih tuhan. Semoga dapat memberi semangat bagi warga agar bisa membangun dan memberi kehidupan yang lebih indah dari sebelumnya,” kata Gatot.

Gatot mengatakan, sejak dilantik, Presiden Joko Widodo telah berkomitmen dalam penanganan pengungsi erupsi gunung Sinabung. Jokowi pun telah memerintahkan kepada TNI untuk membangun relokasi bagi para pengungsi.

“Seminggu kemudian saya yang waktu itu KSAD datang ke sini dan berkoordinasi. Tempat ini (Siosar) ditentukan bersama dan merupakan yang terbaik dari beberapa alternatif. Saya senang, saat ini semua pengungsi di sini sudah bisa tersenyum,” kata Gatot.

Sementara itu, Plt Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan, pembangunan rumah ibadah seperti gereja dan mesjid penting karena bukan hanya menjadi tempat beribadah. Pembangunan rumah ibadah, menurutnya, juga dapat berperan sebagai tempat bersosialisasi bagi pemeluk agama yang sama dan memupuk toleransi antar pemeluk agama.

“Diharapkan para pemeluk agama yang berbeda dapat menjalin hubungan dalam kegiatan sosial ekonomi sehingga pemulihan kehidupan masyarakat relokasi di Siosar mampu tumbuh dan berkembang dengan cepat mengejar ketertinggalan,” kata Erry.

Erry menjelaskan, masyarakat yang direlokasi ke Siosar adalah bagian dari relokasi tahap pertama yang dilakukan TNI dan pemerintah. Ada 370 KK dari tiga desa, yakni Simacem, Bekerah dan Sukameriah yang direlokasi ke desa yang sebelumnya hutan ini. Masyarakat pun diberikan lahan pertanian untuk menopang kehidupan mereka yang sebelum Sinabung erupsi memang bertani.

“Pemerintah juga memberi bantuan percepatan relokasi untuk mendukung infrastruktur dan supratruktur sosial ekonomi, seperti rumah ibadah, kantor desa, gapura, drainase, jalan tersier, penambahan energi listrik, jalan usaha tani ke lokasi lahan pertanian, sekolah, dan terminal,” jelas Erry.
sumber: republika

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

PENGUNGSI SINABUNG DIBERI RP 110 JUTA UNTUK CARI LAHAN SENDIRI

REPUBLIKA.CO.ID, KARO — Pemerintah Kabupaten Karo terus menggodok relokasi tahap dua bagi 1.683 kepala keluarga dari empat desa yang terdampak erupsi gunung Sinabung. Bupati Karo Terkelin Brahmana mengatakan diberi tenggat waktu hingga Juni 2016 untuk menyiapkan relokasi tahap kedua.

Berbeda dengan relokasi tahap pertama di Siosar, untuk relokasi tahap kedua ini, Terkelin mengatakan, akan dilakukan secara mandiri dan pemerintah tidak lagi menyiapkan lahan. Ada empat desa yang warganya akan direlokasi, yakni Desa Guru Kinayan, Berastepu, Kuta Tonggal, dan Gamber.

“Jadi, nanti kita berikan dana ke warga empat desa itu dan mereka akan mencari lahan secara berkelompok. Ini supaya pemerintah bisa terlibat di dalamnya. Kalau diberikan secara pribadi-pribadi akan sulit bagi pemerintah untuk menjangkau mereka,” kata Terkelin, Kamis (28/4).

Menurut Terkelin, relokasi mandiri ini dilakukan karena izin pembukaan lahan hutan untuk relokasi tahap dua tidak keluar. Oleh karena itu, diputuskan masyarakat secara berkelompok mencari sendiri areal untuk pembangunan rumah dan ladang. Sedangkan fasilitas umum pendukung perumahan nantinya akan disiapkan oleh pemerintah.

“Jadi, per kelompok diberikan anggaran, tunjukkan lahannya, nanti pemerintah baru masuk. Sekarang belum (berjalan), masih kita jajaki,” ujarnya.

Terkelin menyebutkan, warga keempat desa yang akan direlokasi ini akan mendapatkan Rp110 juta per kepala keluarga. Dana ini terdiri dari Rp59,4 juta untuk penyediaan tanah dan pembangunan rumah serta Rp50,6 juta untuk lahan pertanian.

Pada relokasi tahap pertama, pemerintah bertanggungjawab penuh terhadap adanya rumah dan lahan pertanian. Ada tiga desa radius tiga kilometer dari Gunung Sinabung yang masuk dalam relokasi tahap pertama, yakni Desa Bekerah, Simacem dan Sukameriah.

Mereka direlokasi ke hutan lindung Siosar, kecamatan Merek, Karo yang dibuka. Pada relokasi tahap pertama ini, ada 370 unit rumah yang disediakan untuk warga tiga desa tersebut dan sudah bisa dihuni sejak akhir tahun lalu.
sumber: republika

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

MA CARI ‘ALGOJO’ UNTUK ADILI PERKARA KORUPSI TINGKAT PERTAMA DAN BANDING

Jakarta (SIB)- Mahkamah Agung (MA) sedang mencari hakim ad hoc buat mengadili perkara korupsi tingkat pertama dan banding. Masyarakat yang berminat memegang palu ‘algojo’ ditunggu berkas pendaftarannya hingga 26 Mei 2016.

Sebagaimana dikutip dari website MA, Selasa (26/4), hakim ad hoc itu akan ditempatkan di Pengadilan Tipikor dan Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia. Syarat utama adalah usia setidak-tidaknya berusia 40 tahun dan bekerja di sektor hukum dengan pengalaman minimal 15 tahun masa kerja.

Syarat lain, calon tidak terdaftar sebagai anggota dan pengurus partai politik dan tidak memiliki catatan tercela. Tidak hanya itu, sang calon juga tidak pernah dihukum pidana karena melakukan kejahatan dalam bentuk apa pun. Guna proses administrasi, pendaftar harus mengisi formulir dan berkas terkait yang syarat-syaratnya dapat diunduh website MA.

“Pengumuman kelulusan administrasi dilakukan pada 13 Juni 2016,” ujar ketua panitia seleksi hakim agung Artidjo Alkostar.

Artidjo merupakan hakim agung yang dikenal menjatuhkan hukuman maksimal kepada terdakwa korupsi. Adapun untuk sekretaris panitia seleksi dipegang oleh Roki Panjaitan. Nama Roki mulai dikenal publik saat ia bertugas di PN Jaksel menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Adrian Woworuntu dalam kasus pembobolan Bank BNI. Adrian dan Akil Mochtar kini menjadi dua terpidana korupsi dengan vonis terberat yaitu seumur hidup. Roki dkk pula yang menaikkan hukuman Irjen Djoko Susilo dari 10 tahun menjadi 18 tahun penjara di Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta. (detikcom/q)
sumber: hariansib

Posted in Berita | Leave a comment

PENYELUNDUPAN DI SELAT MALAKA MARAK, DJBC SUMUT SIAGAKAN EMPAT KAPAL PATROLI DI TANJUNGBALAI

Tanjungbalai (SIB)- Terkait maraknya aksi penyelundupan di Selat Malaka, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Sumatera Utara menyiagakan sebanyak empat kapal patroli.

Patroli yang melibatkan sejumlah kapal di Selat Malaka di bawah komando operasi DJBC Sumut dalam rangka mengantisipasi maraknya aksi penyelundupan dengan sandi Gerhana (Gerakan Habisi Narkoba) yang berlangsung sampai 6 Mei 2016.

Operasi bentuk upaya pencegahan terhadap tindak pidana penyelundupan barang illegal dari luar negeri, Malaysia, khususnya narkoba.

“Patroli penuh di laut dengan memeriksa kapal yang dicurigai membawa narkoba, selain itu jika ditemukan barang lain seperti bawang, daging, dan pakaian bekas, tetap akan ditindak,” kata Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Teluknibung, Fuad Fauzy melalui Kasi P2, M Firdaus, Senin (25/4).

Selama ini diketahui bahwa Kota Tanjungbalai yang berada di pesisir pantai Selat Malaka dan sangat dekat dengan Malaysia jadi sorotan terkait maraknya penyelundupan narkoba ke Indonesia.

Firdaus berharap masyarakat sadar dan mengetahui bahwa menyelundupkan barang illegal sangat dilarang. Terutama narkoba jenis sabu, karena dampaknya merusak generasi bangsa di masa yang akan datang.

Keempat kapal patroli yang siaga di Selat Malaka di antaranya kapal BC 6003, BC 200008, BC 15031, dan BC 15035. Banyak cara dan modus pelaku penyelundupan narkoba termasuk memanfaatkan TKI yang pulang maupun dengan kemauan sendiri karena dijanjikan menerima upah yang menggiurkan. (D22/f)
sumber; hariansib

Posted in Berita | Leave a comment

ASAL USUL MARGA SEMBIRING PADA MASYARAKAT KARO

Sekilas Masyarakat Karo

Masyarakat Karo adalah salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara. Etnis ini masuk ke dalam etnis Batak. Secara administrasi negara, Karo sebagai wilayah adalah sebuah Kabupaten dengan luas wilayah 2.127,25 Km2 atau 3,01 % dari luas wilayah Propinsi Sumatera Utara.

Akan tetapi bila membicarakan wilayah budaya masyarakat Karo secara tradisional, masyarakat Karo tidak hanya mencakup Kabupaten Dati II Karo sekarang ini saja, tetapi mencakup kewedanaan Karo Jahe yang mencakup daerah tingkat II Deli Serdang, terdiri dari Kecamatan Pancurbatu, Kecamatan Biru-Biru, Kecamatan Sibolangit, Kecamatan Lau Bakeri dan Kecamatan Namorambe (Tambun, 1952:177-179), Kecamatan Kutalimbaru, Kecamatan Gunung Meriah, Kecamatan STM Hulu, Kecamatan STM Hilir, Kecamatan Bangun Purba, Kecamatan Galang, Kecamatan Tanjong Morawa, Kecamatan Deli Tua, Kecamatan Patumbak, Kecamatan Sunggal (Brahmana, 1995:11). Di daerah tingkat II Langkat mencakup Kecamatan Sei Binge, Kecamatan Salapian dan Kecamatan Bahorok, Kecamatan Kuala, Kecamatan Selesai dan Kecamatan Padang Tualang. Di daerah tingkat II Dairi, di Kecamatan Tanah Pinem, Kutabuluh, di daerah tingkat II Simalungun di sekitar perbatasan Karo dengan Simalungun, dan di daerah Aceh Tenggara (Prop NAD). Di daerah-daerah ini banyak ditemukan masyarakat Karo.

Masyarakat Karo dan Hindu

Dalam beberapa literatur tentang Karo, etimologi Karo berasal dari kata Haru. Kata Haru ini berasal dari nama kerajaan Haru yang berdiri sekitar abad 14 sampai abad 15 di daerah Sumatera Bagian Utara. Kemudian pengucapan kata Haru ini berubah menjadi Karo. Inilah diperkirakan awal terbentuknya nama Karo.

Menurut Sangti (1976:130) dan Sinar (1991:1617), sebelum klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin menjadi bagian dari masyarakat Karo sekarang, telah ada penduduk asli Karo pertama yakni klen Karo Sekali. Kedatangan kelompok klen Karo-Karo, Ginting, Sembiring, Tarigan dan Perangin-Angin, akhirnya membuat klen pada masyarakat Karo semakin bertambah. Klen Ginting misalnya adalah petualangan yang datang ke Tanah Karo melalui pegunungan Layo Lingga, Tongging dan akhirnya sampai di Dataran Tinggi Karo. Klen Tarigan adalah petualangan yang datang dari Simalungun dan Dairi. Perangin-angin adalah petualangan yang datang dari Tanah Pinem Dairi. Sembiring diidentifikasikan berasal dari orang-orang Hindu Tamil yang terdesak oleh pedagang Arab di Pantai Barus menuju Dataran Tinggi Karo, karena mereka sama-sama menuju dataran tinggi Karo, kondisi ini akhirnya, menurut Sangti mendorong terjadi pembentukan merga si lima (Marga yang lima). Pembentukan ini bukan berdasarkan asal keturunan menurut garis bapak (secara genealogis patrilineal) seperti di Batak Toba, tetapi sesuai dengan proses peralihan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Karo Tua kepada masyarakat Karo Baru yakni lebih kurang pada tahun 1780. Pembentukan ini berkaitan dengan keamanan, sebagai salah satu jalan keluar untuk mengatasi pergolakan antara orang-orang yang datang dari kerajaan Aru dengan penduduk asli.

Kini hasil pembentukan klen ini akhirnya melahirkan merga si lima (klen yang lima) yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo saat ini. Akhirnya masyarakat Karo yang terdiri dari merga si lima yang berdomisili di Dataran Tinggi, kemudian menyebar ke berbagai wilayah di sekitarnya, seperti ke Deli Serdang, Dairi Langkat, Simalungun dan Tanah Alas (Aceh Tenggara). Bahkan secara individu kini mulai menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, maupun ke luar wilayah negara Indonesia.

Tidak dapat disangkal, walaupun kebudayaan Hindu telah mengalami masa surut pada daerah di Indonesia akibat didesak oleh Islam dan Kristen, namun sisa-sisa keberadaannya yang bersifat monumental masih banyak ditemukan. Di Sumatera, di Jawa maupun di daerah lainnya, dalam bentuk fisik, masih kokoh berdiri bangunan Candi, sedangkan dalam bentuk non-fisik, seperti agama Hindu, bahasa maupun tatacara kehidupan masyarakat masih dapat ditemui pada kelompok-kelompok masyarakat Indonesia tertentu. Khusus pada masyarakat Karo, peninggalan Hindu yang paling monumental adalah marga yaitu marga Sembiring.

Marga Sembiring dan Keturunan Masyarakat Hindu

Dari sekian banyak peninggalan Hindu yang terdapat pada masyarakat Karo, barangkali yang keabadiannnya kelak melebihi usia bangunan Candi adalah marga yaitu marga Sembiring.

Sejak kapan resmi Sembiring menjadi bagian dari marga masyarakat Karo, tidak diketahui pasti. Tetapi diperkirakan Sembiring ini adalah marga yang termuda dari lima cabang marga yang ada pada masyarakat Karo.

Sembiring berasal dari kata Si + e + mbiring. Mbiring artinya hitam. Si e mbiring artinya yang ini hitam. Melihat makna kata Si e mbiring, kiranya cukup jelas bahwa yang dimaksud adalah segerombolan manusia yang berkulit hitam. Bagi penduduk Asia Tenggara, orang-orang yang berkulit hitam ini adalah orang Tamil atau Keling yang berasal dari Asia Selatan (India).

Penyebaran atau kedatangan orang-orang Tamil ini diperkirakan tidak bersamaan waktunya. Penyebarannya secara bergelombang. Kedatangan mereka ke dataran tinggi Karo, tidak secara langsung. Boleh jadi setelah beberapa tahun atau puluhan tahun menetap di sekitar pantai Pulau Sumatera. Mereka ini masuk ke dataran tinggi Karo, boleh jadi terutama disebabkan terdesak oleh pedagang-pedagang Arab dengan Agama Islamnya.

Brahma Putro menyebutkan kedatangan orang Hindu ini ke pegunungan (Tanah Karo) di sekitar tahun l33l-l365 masehi. Mereka sampai di Karo disebabkan mengungsi karena kerajaan Haru Wampu tempat mereka berdiam selama ini diserang oleh Laskar Madjapahit. akan tetapi ada pula yang memberikan hipotesa, penyebaran orang-orang Tamil ini akibat terdesak oleh pedagang-pedagang Arab (Islam) yang masuk dari Barus.

Orang-orang Tamil (+ pembauran) yang kalah bersaing ini lalu menyingkir ke pedalaman pulau Sumatera, salah satu daerah yang mereka datangi adalah Tanah Karo. Menurut cerita-cerita dari tetua, kedatangan mereka di Tanah Karo diterima dengan baik. Mereka disapa dengan si mbiring. Akhirnya pengucapan si mbiring berubah menjadi Sembiring dan kemudian menjadi marga yang kedudukannya sama dengan marga yang lain.

Pembagian Marga Sembiring

Adapun pembagian marga Sembiring, setelah resmi menjadi bagian dari masyarakat Karo adalah sebagai berikut

No Sembiring Desa Asal (Kuta Kemulihen)

1 Kembaren Samperaya, Liangmelas
2 Sinulaki Silalahi, Paropo
3 Keloko Pergendangen, Tualang, Paropo
4 Pandia Seberaya, Payung, Beganding
5 Gurukinayan Gurukinayan, Gunungmeriah
6 Brahmana Rumah Kabanjahe, Perbesi, Limang, Bekawar
7 Meliala Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte
8 Depari Seberaya, Perbesi, Munte
9 Pelawi Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata.
10 Maha Martelu, Pandan, Pasirtengah
11 Sinupayung Jumaraja, Negeri
12 Colia Kubucolia, Seberaya
13 Pandebayang Buluhnaman, Gurusinga
14 Tekang Kaban
15 Muham Susuk, Perbesi
16 Busok Kidupen, Lau Perimbon
17 Sinukaban Tidak diketahui lagi desa asalnya
18 Keling Rajaberneh, Juhar
19 Bunu Aji Kutatengah, Beganding
20 Sinukapar Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken

Catatan: Desa asal ini dapat berarti desa yang dibangun atau didirikan oleh subklen marga tersebut, atau desa awal yang mereka tempati sejak menjadi bagian dari masyarakat Karo atau desa asal mereka dari daerah luar budaya Karo. Beberapa desa asal ini seperti Silalahi, Paropo, tidak terletak dalam wilayah Kabupaten Karo, tetapi terletak dalam wilayah Batak yang lain.

Sembiring dari Pagaruyung dan Sembiring dari Tamil

Klen Sembiring pada masyarakat tersebut di atas berasal dari dua sumber, sumber pertama yang berasal dari Hindu Tamil dan yang kedua berasal dari Kerajaan Pagarruyung. Sembiring yang berasal dari Hindu Tamil disebut Sembiring Singombak. Dijuluki Sembiring Singombak karena dahulu, apabila ada keluarga mereka yang meninggal dunia, mereka tidak mengubur jenasahnya tetapi memperabukannya (dibakar) dan abunya ditaburkan di Lau Biang (Sungai Wampu). Mereka ini berpantang memakan daging anjing. Sembiring Singombak ini terdiri dari 15 sub marga yaitu Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan, Keling, Depari, Pelawi, Bunu Aji, Busok, Muham, Meliala, Pande Bayang, Maha, Tekang dan Kapur.

Kelompok Sembiring Brahmana, Pandia, Colia, Gurukinayan dan Keling menganggap mereka seketurunan, sehingga mereka tidak boleh mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Demikian pula dengan Depari, Pelawi, Bunu Aji dan Busok, mereka ini juga menganggap seketurunan dan pantang mengadakan perkawinan antar sesama mereka. Namun kesembilan sub marga Sembiring yang terbagi ke dalam dua kelompok ini, boleh mengadakan perkawinan sesama mereka di luar dari kelompoknya.

Sedangkan Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung terdiri dari lima sub marga yaitu Sembiring Kembaren, Keloko, Sinulaki, Sinupayung dan Bangko. Kelompok Sembiring ini juga memperabukan jenasah keluarga mereka yang meninggal dunia, tetapi abu jenasahnya mereka kubur. Bukan dibuang seperti yang dilakukan kelompok Sembiring Singombak. Mereka ini tidak berpantang memakan daging anjing.

Sama seperti kelompok Sembiring Singombak, kelompok Sembiring yang berasal dari Kerajaan Pagarruyung ini juga dilarang mengadakan perkawinan sesama mereka. Khusus untuk Sembiring Bangko. Kelompok ini sekarang berdomisili di Alas, Aceh Tenggara dan sudah menjadi bagian dari masyarakat Alas, seperti halnya para keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang menetap di Sumatera Barat sudah pula menjadi bagian dari masyarakat Minangkabau. Saat ini pada umumnya kelompok marga Sembiring ini sudah memeluk agama Kristen atau Islam dan tidak lagi memperabukan jenasahnya seperti dahulu.

Adapun penyebab lahirnya sub-sub marga ini beberapa diantaranya, diduga berasal dari nama daerah asal mereka di India. Misalnya Sembiring Pandia diduga berasal dari daerah Pandya, Colia dari daerah Chola, Tekang dari daerah Teykaman, Muham dari daerah Muoham, Meliala dari daerah Malaylam, Brahmana dari kelompok Pendeta Hindu.

Dalam hal ini, kelompok marga Sembiring dalam masyarakat Karo, tidak memitoskan asal usulnya seperti etnis atau kelompok marga lain. Misalnya Batak Toba, yang mengusut asal-usul leluhurnya dari langit yang turun di puncak gunung Pusuh Buhit (Toba), atau yang mengusul asal usulnya dan berkesimpulan dari lapisan yang paling indah yang mereka sebut Tetoholi Ana’a yang turun di wilayah Gomo (Nias), atau yang mengkaitkannya dengan turunan Raja Iskandar Zulkarnain yang turun di Bukit Siguntang Palembang (Melayu).

Dalam masyarakat Karo mitos tersebut berkaitan dengan totem (totem yaitu kepercayaan adanya hubungan khusus antara sekelompok orang dengan binatang atau tanaman atau benda mati tertentu). Misalnya haram mengkonsumsi daging binatang seperti Kerbau Putih, oleh subklen Sebayang, Burung Balam oleh subklen klen Tarigan, Anjing oleh subklen Sembiring Brahmana.

Penutup

Dari uraian-uraian di atas, jelaslah bahwa orang-orang yang bermarga Sembiring pada masyarakat Karo pada mulanya bukanlah orang “Karo Asli”. Mereka adalah penduduk pendatang yang kemudian berbaur dengan penduduk setempat, yang akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Karo. Gejala-gejala seperti ini dapat disamakan dengan keadaan penduduk di pedesaan daerah Karo saat ini.

Di pedesaan Karo sekarang ini banyak penduduknya “bukan” lagi orang Karo tetapi sudah diisi dengan penduduk pendatang seperti dari Suku Jawa, mereka akhirnya fasih berbahasa Karo dan diberi marga dan justru lebih Karo dari individu Karo sendiri. Artinya banyak dari mereka lebih memahami adat istiadat masyarakat Karo daripada individu Karo tersebut.

Ciri-ciri utama yang kini masih dapat dikenali dari keturunan Hindu ini adalah marganya. Marganya mengingatkan kepada asal-usulnya, tetapi bila dilihat dari fisik atau warna kulit sudah semakin sulit. Banyak yang bermarga Sembiring tidak lagi berkulit Hitam seperti asal-usulnya, malah banyak yang berkulit kuning langsat mirip bangsa lain seperti Cina.

Dalam pengertian sempit Sembiring hanyalah yang terdapat dalam masyarakat Karo, tetapi dalam pengertian luas (lebih luas) bukan hanya yang terdapat pada masyarakat Karo saja, tetapi semua keturunan yang berasal dari Asia Selatan yang sekarang sudah membaur dengan penduduk setempat, yang ada di wilayah Indonesia. apakah itu di Aceh yang sudah menjadi bagian dari masyarkat Aceh, di Sumatera di luar masyarakat Karo yang sudah menjadi bagian dari masyarakat setempat. Di Sumatera Barat seperti keturunan Raja Hindu Pagarruyung yang lain yang sudah menjadi bagian dari masyarakat Minang, Jambi, Riau.

Manfaat Pengungkapan Histografi Tradisional

Apa manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini? Manfaat pengungkapan histografi tradisional seperti ini adalah untuk menunjukkan bahwa boleh jadi, apa yang kita klaim sebagai kemurnian etnis misalnya etnis X, etnis Y, bukanlah berasal dari klaim etnis yang murni. Mereka yang mengidentifikasi kelompoknya sebagai etnis X, etnis Y kini, dahulu kala sebenarnya boleh jadi berasal dari dukungan individu-individu etnis lain yang berasimiliasi, membaur yang akhirnya menjadi bagian etnis X, etnis Y tersebut pada hari ini, antara lain seperti yang terjadi pada masyarakat Karo.

Di luar masyarakat Karo, kasus yang sama dan hampir sama misalnya di Aceh. Dari data sejarah etnis Aceh ada pandangan yang mengatakan Aceh itu adalah akronim dari A (Arab), C (Campa), E (Eropah – Portugis) dan H (Hindi – Hindu). Pandangan ini berasal dari kemiripan bentuk fisik orang Aceh saat ini dengan bangsa-bangsa yang disebut di atas. Misalnya masyarakat Aceh yang tinggal di Kabupaten Aceh Besar, banyak yang bergelar Sayid atau Syarifah, fisik mereka menyerupai orang Arab. Masyarakat Lamno di Aceh Barat menyerupai orang Portugis, masyarakat Aceh di Sigli (Pidie) dan Lhokseumawe (Aceh Utara) banyak yang mirip India (Tamil). Di Sumatera Barat, keturunan Raja Hindu Pagarruyung. Sedangkan di luar Pulau Sumatera, misalnya masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi ada yang berasal dari keturunan bangsa Eropah (Portugis atau Belanda). Kini para pembauran tersebut sudah menjadi bagian dari masyarakat etnis tersebut.

Kesadaran, pemahaman seperti ini sangat penting, agar kita sebagai individu atau sebagai kelompok tidak mudah terjebak dalam klaim kemurnian etnis, padahal dalam klaim itu ada spirit provokasi yang dilakukan oleh kalangan tertentu untuk kepentingannya apakah itu atas nama etnis untuk kepentingan diri si elit, untuk kelompok si elit atau mungkin aspirasi politik si elit di era otonomi daerah ini khususnya dalam kepentingan pilkada atau kepentingan lainnya yang bersifat merusak spirit multikulturalisme atau pluralisme bangsa yang sudah terbangun sejak dahulu kala, sebelum Indonesia menjadi satu negara.

Ditulis oleh Pertampilan Sembiring Brahmana
sumber: satyasembiring

Posted in Adat Istiadat Karo, Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin), Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

POLDA METRO TANGKAP PENCURI MOTOR ANTARPROVINSI

Jakarta (ANTARA News) – Petugas Polda Metro Jaya menangkap tiga pelaku sindikat spesialis pencurian kendaraan sepeda motor yang beraksi antarprovinsi di sekitar Jakarta, Bekasi dan Karawang Jawa Barat.

“Pelaku telah beraksi sekitar 10 kali di wilayah Bekasi dan Karawang,” kata Kepala Subdirektorat Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Hadi Santoso di Jakarta, Selasa.

Ketiga tersangka itu yakni Amsor alias Acong (34) dan Adi (29) sebagai “pemetik”, serta Sain alias Kupra (30) menjadi penadah dari barang hasil pencurian.

Tim Unit V Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya menerima informasi adanya kelompok pencuri kendaraan roda dua.

Selanjutnya, polisi mengendus dan mengawasi lokasi yang menjadi tempat persembunyian para pelaku di wilayah Bekasi dan Karawang.

Kepala Unit V Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya Komisaris Polisi Handik Zusen menambahkan komplotan tersebut terakhir kali beraksi di Jalan Medan Satria Kota Bekasi pada 8 April 2016.

“Pelaku mengincar sepeda motor yang parkir di halaman rumah,” ujar Handik.

Berbekal kunci “T”, pelaku mampu membawa kabur sepeda motor milik korban dalam hitungan menit, kemudian dijual kepada penadah.

Dari para pelaku, polisi menyita satu unit motor curian, satu buah kunci T berikut enam buah anak kunci, kunci duplikat dan tiga unit telepon selular.(Ant)

Posted in Berita | Leave a comment

POLDA BABEL IMBAU MASYARAKAT WASPADA NARKOBA BERBENTUK PERMEN

Pangkalpinang (ANTARA News) – Kepolisian Daerah Kepulauan Bangka Belitung mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai peredaran narkoba dalam bentuk permen dan coklat yang mengincar anak-anak di bawah umur.

“Kami imbau masyarakat untuk mengawasi anak-anaknya untuk tidak jajan sembarangan. karena saat ini berbagai macam cara di lakukan oleh mafia narkoba dalam menjalankan bisnis haramnya, mulai dari merubah bentuk dan juga konsumennya,” kata Kabid Humas Polda Kepulauan Bangka Belitung, AKBP Abdul Munim, Selasa.

Ia mengatakan, saat ini di kota-kota besar sudah mulai beredar narkoba dalam bentuk permen dan coklat yang di jual di sekolah-sekolah, di mana sasarannya adalah anak-anak SD yang masih polos dan tidak mengetahui apa-apa tentang narkoba.

“Sangat sulit membedakan antara permen asli dengan permen yang telah dimasukan narkoba. Kita bisa mengetahuinya setelah anak yang mengkonsumsi permen narkoba tersebut tingkah laku sehari-harinya berubah, misalnya dari anak yang dulunya periang menjadi pendiam dan juga bisa dilihat dari meningkatnya secara drastis uang belanja pada anak tersebut,” katanya.

Dikatakannya, adapun modus yang digunakan oleh pengedar narkoba adalah dengan cara memberikan secara gratis kepada anak tersebut. Setelah anak-anak mulai ketagihan mulai diajarkan untuk mengambil barang orang tuanya.

“Saat ketagihan inilah, si penjual narkoba memberitahukan kepada anak itu untuk mengambil barang berharga orang tuannya untuk ditukarkan dengan permen atau cokelat narkoba,” ujarnya.

Ia menyebutkan, bahaya narkoba saat ini sudah pada tingkat yang sangat parah, konsumen mereka bukan lagi orang-orang kaya dan juga orang dewasa melainkan anak-anak SD usia dini.

“Untuk itu dihimbau kepada para orang tua agar selalu memproteksi dan juga memperhatikan perilaku serta lingkungan anak-anaknya. Para guru yang hampir setiap hari berinteraksi dengan murid-muridnya agar selalu mengawasi setiap tingkah laku yang aneh-aneh yang di lakukan oleh muridnya. Orang asing atau para pedagang yang masuk ke sekolah mereka pun harus selalu dipantau dan diawasi,” katanya.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kabupaten Karo | Leave a comment

UNPAD BUKA JURUSAN KEDOKTERAN HEWAN

Bandung (ANTARA News) – Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung membuka jurusan baru kedokteran hewan pada tahun anggaran 2016-2017 dan menjaring mahasiswa baru melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016.

“Tahun ini Unpad membuka jurusan Kedokteran Hewan di bawah Fakultas Kedokteran. Hal itu untuk menjawab permintaan dokter hewan yang kian dibutuhkan di masyarakat,” kata Rektor Unpad Prof Dr Tri Hanggono Achmad di pada sosialisasi SBMPTN 2016 di Sekretariat Panitia Lokal 34 Bandung, Selasa.

Ia menyebutkan, pembukaan kedokteran hewan itu sudah direncanakan sejak beberapa tahun terakhir menyusul tingginya kebutuhan dokter hewan di masyarakat.

Tidak disebutkan jumlah kuota bagi jurusan baru itu, namun menurut dia diperkirakan peminatnya cukup tinggi. Tahun 2015 lalu, Unpad juga membuka jurusan baru yakni Jurusan Film dan Televisi.

“Ya dalam dua tahun tahun terakhir kita buka dua jurusan baru, dan pemintanya memang langsung tinggi,” kata Tri Hanggono.

Sementara itu lima rektor perguruan tinggi negeri di Jabar hadir dan turun langsung melakukan sosialisasi. Mereka adalah Rektor ITB Prof Dr Achmaloka, Rektor Unpad Prof Dr Tri Hanggono, Universitas Rektor Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr H Furqon, Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Prof Dr H Mahmud dan Rektor Universitas Siliwangi Prof Dr Rudy Priyadi hadir pada sosialisasi SBMPTN Panlok 34 Bandung.

Pendaftaran online SBMPTN 2016 dimulai 25 April 2016 hingga 20 Mei 2016. Ujian tulis akan dilakukan pada 31 Mei 2016 dan ujian keterampilan pada 1-2 Juni, dan pengumuman hasil tes akan dilakukan pada 28 Juni 2016.

Sekretaris Eksekutif I Panitia Lokal 34 Bandung Asep Gana Suganda menyebutkan, test selain menggunakan metode paper based testing, pada 2016 ini menggunakan sistem computer based testing (CBT).

“Jumlah perguruan tinggi yang menggelar SBMPTN ada 78 perguruan tinggi, itupun tidak semuanya dan 30 perguruan tinggi menyelenggarakan dengan CBT,” kata Asep Gana.

Di Panlok 34 Bandung seleksi dengan metode CBT diselengarakan di Unpad 100 peserta, UPI 100 peserta d ITB 120 peserta.

Sedangkan beberapa perubahan pada 2016 yakni alamat website yang hingga tahun 2015 menggunakan www.sbmptn.or.id menjadi www.sbmptn.ac.id. Kemudian metode tulisan selain sistem paper baset testing pada tahun ini ditampah lagu dengan sistem computer based testing. Serta biaya dari Rp100 ribu menjadi Rp200 ribu.

“Daya tampung atau kuota di lima perguruan tinggi di Jabar sebanyak 21.368 kursi, 8.960 diantaranya melalui jalur SBMPTN 2016,” kata Asep Gana menambahkan.(Ant)

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima | Leave a comment