PANJAT TIANG BENDERA, MENPORA UNDANG JONI BELU KE JAKARTA

Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bakal mengajak Yohanes Andigala alias Joni, siswa SMPN Silawan di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) ke Jakarta dalam waktu dekat.

Undangan ini ini diberikan usai ia mengetahui aksi heroik Joni yang memanjat tiang bendera karena tali di ujung tiang putus, sehingga bendera merah putih tidak dapat dikibarkan.

“Kami menghargai dan sebisa mungkin akan panggil Joni ke Jakarta. Dia tidak ada rasa takutnya kecuali bendera Merah Putih diselamatkan dan bisa berkibar di perbatasan Atambua dan Timor Leste,” kata Imam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (17/8).

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, aksi ini terjadi ketika pengibar membentangkan bendera tetapi ternyata tali yang mengkaitnya terlepas. Insiden itu tak menyurutkan petugas dan peserta. Mereka tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya hingga selesai.

Menurut Ika, usai lagu Indonesia Raya dinyanyikan, bendera tersebut semula akan kembali dilipat. Namun, Wakil Bupati Belu tiba-tiba meminta agar bendera tersebut tetap dibentangkan.

“Terus tiba-tiba Joni lari dari sisi kanan panggung, sudah buka sepatu, langsung naik tiang. Setelah (Joni) menurunkan tali yang terputus, bendera kembali dikibarkan. ” terang dia.

Ia menduga Joni memanjat usai petugas pemerintah mencari anak yang suka memanjat di antara peserta upacara. “Karena waktu ditanya Pak Wagub, Joni bilang suka panjat pohon,” ungkap dia.

Mengetahui aksi tersebut, imam berpendapat Joni merupakan sosok idola baru saat ini.

“Kalau ada yang bertanya siapa pahlawan hari ini saya katakan adalah Joni (dari) Belu. Joni telah menyelamatkan kita semua, menyelamatkan bendera Merah Putih. Ada yang minta dia turun ternyata tekadnya tidak pupus. Semakin bulat dan naik ke tiang paling tinggi,” terang Iman.

Oleh karena itu, selain mengajak Joni ke Jakarta, Imam berharap bisa mengajaknya nonton ke salah satu cabang olahraga.

“Semoga saya bisa ajak Joni nonton salah satu cabang olahraga di Asian Games,” harapnya. (agi/agi)
sumber: cnnindonesia.com
fb: Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

HUT RI KE-73: JOKOWI DI ISTANA, MARUF AMIN DI JEDDAH, PRABOWO DAN SANDIAGA DI UBK

Seperti tahun sebelumnya, Jokowi melanjutkan penggunaan busana adat dalam upacara peringatan kemerdekaan di Istana, sementara Prabowo di Universitas Bung Karno di Jakarta.

Presiden Joko Widodo melanjutkan tradisi menggunakan busana adat dalam acara kenegaraan dengan mengenakan busana adat Aceh dalam peringatan kemerdekaan Indonesia di Istana Merdeka.

Jokowi ditemani cucunya Jan Ethes yang juga mengenakan busana baju adat beserta Ibu Negara Iriana Widodo yang mengenakan baju adat Minangkabau.

Para tamu undangan – dua pertiganya adalah masyarakat dan sepertiganya tamu dan pejabat negara – juga mengenakan baju adat.

Sementara itu calon wakil presiden Maruf Amin sedang berada di Jeddah untuk menunaikan ibadah haji.

Calon presiden Prabowo Subianto juga melanjutkan ‘tradisi’ tahun sebelumnya yang merayakan peringatan kemerdakaan Indonesia di Universitas Bung Karno di Jakarta Pusat.

Peringatan di UBK juga dihadiri oleh calon wakil presiden Sandiaga Uno. Keduanya mengenakan jas hitam, dasi merah dan peci.

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, Titiek Soeharto serta pendiri Universitas Bung Karno Rachmawati juga hadir di acara tersebut.

Akhir 2016 lalu Rachmawati ditangkap polisi dengan tuduhan makar.
sumber: bbc.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

KETIKA RATUSAN ORANG INDONESIA YANG ‘HILANG’ MENDAPAT KEWARGANEGARAAN LAGI

Lebih dari 500 orang asal Indonesia yang puluhan tahun tinggal di Filipina, yang boleh dikata tanpa kewarganegaraan, akhirnya memperoleh paspor Indonesia dalam sebuah acara di Konsulat Jenderal Indonesia di Davao.

Dini hari yang dingin, di tepi dermaga Pulau Balut, Filipina, angin Barat bertiup kencang, membuat ombak bergulung tinggi dan laut tak bersahabat. Namun puluhan orang itu tetap memutuskan berangkat berlayar menuju daratan Pulau Mindanao yang berjarak 13 km, terpisah Selat Saranggani, dengan sebuah perahu motor yang tak begitu besar.

“Menakutkan juga perjalanannya, tapi kami sudah biasa. Dan terutama, ini kesempatan untuk tidak lagi jadi orang stateless,” kata Nestor Kuinage, 48 tahun, sesaat setelah turun berlabuh.

“Dengan paspor ini berarti saya sah sebagai warga Indonesia,” katanya.

Nestor, dan ratusan orang lain, memenuhi kompleks KJRI Davao selama tiga hari, awal Juni lalu, untuk menjalani proses mendapatkan paspor Indonesia.

Ini merupakan gelombang kedua proses pemberian paspor kepada warga asal Indonesia di kawasan itu, kata Berlian Napitupulu, Konsul Jenderal Indonesia di Davao.

Gelombang pertama, prosesnya berlangsung akhir tahun lalu, dipuncaki pemberian paspor kepada sekitar 300 orang oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, dalam suatu acara khusus, 3 Januari 2018.

“Ini gelombang kedua, dan kali ini agak berbeda,” kata Berlian Napitupulu, di tengah kesibukan para staf Deplu staf KJRI dan relawan, yang melakukan pendataan terhadap ratusan orang hari itu.

“Kali ini, kami tak hanya memproses paspor, tetapi juga Nomor Induk Kependudukan (NIK). Data mereka dimasukkan dalam sistem administrasi kependudukan, sehingga mereka nantinya kalau pulang dan menetap di Indonesia lagi, akan bisa punya KTP.”

Ia menyebut, data mereka juga dimasukkan dalam sistem portal peduli WNI yang dibuat oleh Kemenlu sebagai mekanisme perlindungan para WNI.

Sudah tinggal sejak dua abad lalu

Dalam pendataan yang dilakukan pemerintah Indonesia bersama pemerintah Filipina dan UNHCR sejak 2011, di Filipina terdapat 8.745 orang yang berdarah Indonesia, namun bukan berarti mereka semua pasti orang Indonesia atau warga Indonesia.

“Dari jumlah itu, 2.619 terdata murni Indonesia. Sementara 2.655 justru murni Filipina, kendati memiliki darah Indonesia. Lalu sebagian memiliki dua kewarganegaraan, yakni anak-anak di bawah 18 tahun yang lahir dari perkawinan campur,” kata Berlian.

Mereka terpencar di 28 kantung di Mindanao. Paling banyak di Pulau Balut dan pulau tetangganya, Pulau Sarangani.

Orang-orang itu, khususnya yang dianggap warga Indonesia, selama ini hanya memiliki kartu ACR (Alien Certificate of Registration,) kartu bagi orang asing yang tak memiliki dokumen, namun dicatat resmi bermukim di Filipina.

Mereka adalah generasi ketiga dari orang-orang yang datang dari Sulawesi Utara sekitar dua abad lalu, saat indonesia dan Filipina belum merdeka, dan belum menentukan batas-batas negara.

Saat itu, orang-orang dari Sangir dan sekitarnya terbiasa berlayar menangkap ikan di perairan sekitar Filipina, dan berlabuh di Pulau Balut dan Sarangani, yang jaraknya hanya 75 km dari pulau Marore, salah satu pulau di Sulawesi Utara.

Sebagian dari mereka kemudian bermukim di Balut dan Saranggani, dan di Pulau Mindanao. Sebagian besar menjadi nelayan, atau bertani kopra.

“Ada pula yang datang belakangan, ketika ada boom industri ikan di General Santos, kota yang menjadi pusat industri perikanan Filipina,” kata Berlian.

Disebutkan, untuk berkomunikasi dengan warga Indonesia di 28 kantung itu, KJRI menunjuk 16 orang, empat di antaranya perempuan, untuk menjadi penghubung antara warga Indonesia di Filipina dengan KJRI.

Salah satu penghubung itu adalah Jembres Sesamu, yang saat itu sibuk mengurus perjalanan puluhan warga Pulau Balut dan Pulau Sarangani.

“Seharusnya kami berangkat dari Balut lebih awal, namun cuacanya buruk, sehingga kami harus menunggu sampai cuacanya lebih memungkinkan,” kata Jembres.

Karenanya, kedatangan di Mindanao jadi lebih siang, dan lokasi pendaratan yang asalnya direncanakan di Margus Bay, dialihkan ke pantai Balangunan, sebuah kampung nelayan yang terletak lebih ke utara.

Dari tempat pendaratan, warga Balut dan Sarangani itu harus berjalan lagi sekitar satu kilometer menyeberangi sungai yang harus ditembus dengan berjalan kaki, atau menggunakan ojek, ke lokasi bis-bis kecil yang akan membawa mereka ke KJRI di Davao, yang jaraknya sekitar empat jam perjalanan.

“Syukurlah semua lancar” kata Jembres yang tampak kelelahan.

Di KJRI, sudah ada sekitar 100 orang lain yang menjalani proses pendataan untuk paspor. Khususnya warga yang tinggal di Margus Bay, di daratan Mindanao.

Salah satunya Niawulain, perempuan berusia 78 tahun yang tinggal di Margus, desa di kawasan pantai di seberang Pulau Balut.

“Di usia saya setua ini, ya saya bisa juga dapat paspor,” katanya dalam bahasa Bisaya, yang disampaikan melalui penerjemah.

Niawulain tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah punya paspor nanti. “Mungkin jadi lebih gampang ke sana kemari, tapi mau ke mana juga,” katanya tersenyum.

Yang pasti, katanya, dia merasa diakui. “Jadi sama seperti orang Indonesia lain,” tegasnya.

Perempuan sepuh ini, sebagaimana sebagian besar warga berdarah Indonesia di sana, tidak lagi, atau memang tak pernah bisa berbahasa Indonesia. Mereka berbicara sehari-hari dalam bahasa Sangir -bahasa daerah di tempat leluhur mereka di Sulawesi Utara, atau bahasa Bisaya- salah satu bahasa daerah di kawasan Midanao, Filipina Selatan.

Menetap atau pulang

Ada pun Ratna Makatiho, 68 tahun, yang begitu antusias untuk memperoleh paspor, bisa berbahasa Indonesia walaupun tak terlalu lancar.

“Kalau sudah punya paspor, saya akan jadi orang Indonesia biasa, walaupun masih menetap di sini,” katanya.

“Dan maunya sih, jadi lebih bebas untuk ketemu saudara-saudara di Sangir,” tambahnya pula.

“Kalau bisa, nanti saya pulang ke Sangir saja. Tapi tidak tahu,” tambahnya pula.

Tentang orang-orang yang mau pulang ini, kata Konjen RI di Davao, Berlian Napitupulu, pemerintah Indonesia sudah mulai menyiapkannya.

“Kami mempersiapkan kuesioner, apakah mereka mau tinggal di sini, atau pulang. Nah yang mau tinggal di sini lah yang diprioritaskan untuk mendapat paspor,” paparnya.

Mereka yang mau tinggal itu nantinya diusahakan mendapat izin tinggal dari pemerintah Filipina, yang memungkinkan mereka mencari pekerjaan lain, di luar profesi mereka sekarang, yang kebanyakan adalah nelayan dan petani atau buruh perkebunan kopra.

“Sisanya, yang memilih pulang, kami koordinasikan dengan pemerintah Jakarta dan daerah. Karena mereka belum tentu di kampung itu masih punya rumah atau tanah, karena sudah dua tiga generasi tinggal di sini.”

Disebutkannya, Deplu sudah berkoordinasi dengan Pemda Sulawesi Utara, menyiapkan lima pilihan lokasi di Sulawesi Utara bagi yang ingin pulang: Tahuna, Talaud, Marore, Bitung, Manado, Laina.

Rospince Sarageti, 33, adalah salah satu yang belum bisa memastikan, apakah akan menetap atau pulang.

“Ya sekarang ini, kami di sini. Nantinya bagaimana, kalau sudah punya paspor, nanti lihat saja. Tapi yang jelas sangat senang akan mendapat paspor. Jadi merasa berharga saja sebagai manusia,” katanya.

Adapun Nestor termasuk di antara yang berniat pulang, karena ibunya sudah terlebih dahulu pulang ke Bitung, beberapa tahun lalu.

“Anak saya juga sudah sempat pulang ke Bitung, tinggal bersama neneknya, dan sekolah di sana, selama setahun. Tapi karena kami, saya dan isteri saya masih di sini, dia kembali ke sini,” kata Nestor.

Anaknya kini sekolah setingkat SMP.

“Rencananya, kalau nanti dia sudah lulus sekolah setingkat SMA, kami akan pulang ke Bitung. Saya mau dia jadi orang Indonesia sepenuhnya, bekerja di sana,” tegas Nestor, mantap.

Dengan tekad itu pula Nestor menjalani seluruh proses pembuatan paspor saat itu, bersama ratusan orang lain, yang berlangsung sejak pagi hingga malam.

Ia mesti menunggu seluruh proses hari itu selesai, karena ia bagian dari rombongan besar yang akan kembali ke Balut bersama-sama.

Larut malam, rombongan berangkat dengan bis-bis kecil; semula, menuju pantai Balangunan. Sekitar subuh rombongan sampai di sana, beristirahat sekitar tiga jam, menunggu kapal yang akan membawa mereka kembali.

Ada pula Drikson Adilang, 38 yang juga sibuk sebagai penghubung, memandang masa depan secara berbeda.

“Saya tidak tahu. Saya sejak lahir di sini. Orang tua di sini. Kakek nenek, di sini. Tapi saya juga orang Indonesia,” katanya nanar, sambil berjalan menuju bis di Balangunan.

“Tetapi, kalau pulang, di sana, juga tak punya tanah. Dan di sini, saya punya lingkungan, kawan-kawan, keluarga. Apakah menjadi orang Indonesia, berarti harus pulang ke Indonesia?” dia melontarkan pertanyaan retorik.

Betapa pun, sebagaimana ratusan orang lain hari itu yang memproses paspor, dan hari ini mendapatkannya ia mengungkapkan, betapa ia merasa dihargai, ketika memperoleh paspor itu.

“Mungkin selama ini kami tak mendapat masalah juga di sini, walaupun tak punya dokumen, dan cuma punya kartu ACR, sebagai orang asing. Petugas Filipina tak menghalang-halangi kami. Warga Filipina juga tak memperlakukan kami secara berbeda,” katanya, terutama karena dia dan seluruh warga Indonesia di sana berbahasa Bisaya dengan sangat lancar.

“Namun, memiliki paspor, membuat saya merasa jadi orang yang berbeda saja. Tak terkatakan,” dan wajahnya yang kelelahan akibat kurang istirahat sepanjang hari, tampak berseri.
sumber: bbc.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

IMRAN KHAN, DARI PLAYBOY MENJADI POLITISI DAN PM PAKISTAN

Mantan bintang kriket, Imran Khan menjadi perdana menteri terpilih Pakistan lewat sebuah pemilihan di majelis nasional negara itu.

Partainya, Gerakan Keadilan Pakistan atau Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) memenangkan sebagian besar kursi pada pemilihan umum bulan Juli – menjadikannya perdana menteri dengan bantuan sejumlah partai kecil, lebih dua puluh tahun setelah Khan pertama kali terjun ke dunia politik.

Imran, 65 tahun, akan diambil sumpahnya pada hari Sabtu (18/08) mewarisi negara yang menghadapi krisis ekonomi parah.

Tetapi siapakah tokoh ini sebenarnya?

Pemilihan sebagai PM ini adalah puncak dari karir yang dimulai pada tahun 1970-an seorang pria yang dipandang banyak pihak di Barat, terutama di Inggris, sebagai seorang playboy lulusan Universtias Oxford yang akrab dengan kehidupan klub malam dan olah raga kriket.

Di Barat, tulis Jonathan Boone, mantan koresponden Guardian di Pakistan, pandangan politiknya masih “dianggap sebebas kehidupan pribadinya”.

Tetapi bulan dan tahun ke depan akan menentukan apakah pandangan tersebut memang berdasar.

Janji perubahan

Dia memulai karir politiknya pada akhir tahun 1990-an, saat masih menikmati kegembiraan memimpin tim kriket Pakistan memenangkan Piala Dunia pada tahun 1992. Tetapi diperlukan dua dekade sebelum Khan benar-benar dipandang sebagai pesaing serius untuk menjadi pemimpin negara.

Tahun 2013, PTI muncul menjadi kekuatan politik ketiga terbesar, setelah Liga Nawaz Muslim Pakistan (PML-N) mantan Perdana Menteri Nawaz Sharif dan Partai Rakyat Pakistan (PPP) mantan presiden Asif Zardari.

Jadi bagi Khan dan kebanyakan pendukungnya, ini sebenarnya mirip sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Imran Khan menjanjikan perubahan lewat perbaikan pendidikan dan fasilitas kesehatan, serta peningkatan lapangan pekerjaan bagi generasi muda – yang merupakan 64% dari keseluruhan penduduk dan merupakan kelompok terbesar pendukungnya.

Dia sepertinya ada di tempat yang tepat untuk mewujudkannya. Dengan jumlah kursinya di parlemen, Khan akan dapat memiliki mayoritas suara yang diperlukan dengan menarik perhatian calon independen, bukannya membuat persekutuan dengan partai-partai mapan.

Tantangan permulaannya sebagai perdana menteri adalah mendapatkan legitimasi – dia dipandang pengecam dan pesaingnya sebagai wakil kelompok mapan militer yang mereka katakan merekayasa proses pemilihan agar Khan berkuasa.

Dia juga dituduh meremehkan demokrasi lewat kampanye lima tahun menentang Sharif – yang diturunkan Mahkamah Agung tahun lalu – meskipun pada kenyataannya pemilu tahun 2013 yang memilih Sharif dipandang pengamat dalam negeri dan internasional sebagai bebas dan adil.

Tetapi ini baru sebagian dari masalah.

Tamparan ke politik dinasti

Para pengamat mengatakan tantangan paling berarti yang dihadapi Khan kemungkinan berasal dari pandangannya yang menyederhanakan apa yang dianggap penyakit yang diderita Pakistan. Ini terlihat dari apa yang dia katakan kepada para pendukungnya dalam beberapa tahun terakhir.

Khan mengatakan satu-satunya cara agar dirinya dapat memenuhi janji penciptaan lapangan kerja dan memperbaiki layanan umum adalah dengan mengatasi politik dinasti – dua saingan utamanya, partai PML-N dan PPP, berganti-ganti berkuasa sejak tahun 1988 – serta menangkap pemimpin korup dan memaksa mereka menyerahkan kekayaan curiannya.

Dia juga tidak menunjukkan keinginan untuk membedakan demokrasi murni dengan demokrasi di permukaan yang didominasi pihak militer, yang berusaha menguasai kebijakan keamanan dan luar negeri, serta menjalankan kerajaan bisnis mereka sendiri.

Khan juga tidak mengisyaratkan dirinya memandang militansi keagamaan sebagai suatu masalah.

Kekuatan militer

Banyak pihak meyakini di pertengahan masa jabatannya, Khan akan konflik dengan kelompok mapan militer, sama seperti yang dialami kedua pendahulunya.

Ini karena begitu dia berkuasa dan mengkaji gambaran menyeluruh, para pengamat politik mengatakan, Khan akan menemukan cara untuk memperbaiki sektor kesehatan dan pendidikan, serta menciptakan pekerjaan dan memicu pertumbuhan ekonomi yang Pakistan perlukan.

Seperti pendahulunya dia akan menyadari bahwa dirinya harus mengurangi konflik dan ketegangan kawasan, terutama dengan India.

Khan juga harus mereformasi birokrasi dan lembaga peradilan Pakistan, memastikan dan menguatkan posisi pemerintah pada hal-hal yang dikuasai pebisnis yang sering kali bersekutu dengan pihak militer.

Tetapi karena memasukkan kelompok kapitalis tersebut ke dalam partainya sebelum pemilu, kemungkinan sasaran ini akan sulit Khan raih.

Kegagalan mengontrol angkatan bersenjata juga akan merusak posisi Pakistan di dunia.

Negara tersebut sudah menghadapi pembatasan pemberian bantuan dari Washington, yang merupakan sumber utama keamanan dan pendanaan pembangunan.

Pakistan juga dimasukkan ke dalam daftar badan pengawas penyandang dana teror internasional atau Financial Action Task Force (FATF) di Paris, yang juga akan mempengaruhi pendanaan.

Negara ini sedang mengalami krisis keuangan – utang luar negeri melonjak dan mata uangnya anjlok.

Yang menarik adalah, sementara dimasukkan dalam daftar abu-abu FATF pada bulan Juni, Pakistan justru mencabut pembatasan terhadap sejumlah pemimpin milisi buron dunia untuk mengikuti pemilu. Kebijakan yang dilaporkan berdasarkan kebijakan “memasukkan orang-orang militan ke dalam kehidupan umum” itu didukung pihak militer.

Tetapi hal ini tidak didukung oleh Delhi maupun Washington. Berbeda dengan pesaing politiknya, Khan menghindari untuk membicarakan hal ini saat kampanye pemilu.

Pilihan yang ada

Para pengamat mengatakan kemungkinan besar dia pada akhirnya akan melakukan beberapa pilihan strategi.

Khan kemungkinan akan menemukan cara untuk bekerja sama dengan partai saingannya seperti PML-N dan PPP – yang telah melihat dunia nyata dari kursi kekuasaan dan sekarang siap membentuk kelompok oposisi yang kuat, mengingat gabungan kekuatan di parlemen, yang tidak terlalu berbeda dengan Khan dan PTI-nya.

Tetapi karena kegiatan politiknya selama puluhan tahun terfokus pada melihat kedua partai tersebut sebagai musuh utama, kemungkinan diperlukan keberanian yang besar untuk merangkul mereka.

Pilihan lain adalah memerintah dengan pendukungnya yang masih muda dengan terus menerapkan sistem demokrasi terpimpin. Jika cara ini yang dipilih, maka Khan dapat bersantai dan menikmati kedudukannya selama keadaan masih mendukung.
sumber: bbc.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita | Leave a comment

MENGUAK MISTERI BEGU GANJANG

Belakangan ini berkembang isu begu ganjang di tanah karo, dan orang yang disangka memiliki begu ganjang diusir dari desa, malahan ada yang sampai dibunuh dan rumahnya dibakar. Fenomena tersebut membuat orang bertanya apakah begu ganjang, darimanakah asal-usul dan makna kata tersebut.

Secara sederhana dan harafiah begu sebetulnya berarti roh, sedangkan ganjang artinya panjang. Untuk memahaminya, begu ganjang mesti dilihat dalam konteks yang lebih luas dari ‘teologi’ dan ‘agama’ tradisional suku karo sendiri, secara khusus paham ‘pneumatologi’ Karo (pneuma = roh, spirit). Dari sudut pandang ilmu agama-agama dapat dikatakan bahwa dalam diri orang karo jaman dulu, telah terdapat konsep tentang keagamaan, yang walaupun orang karo sendiri belum menyadarinya sebagai manifestasi keagamaan.

Selanjutnya, masyarakat karo percaya, disamping para Dibata masih ada kekuatan lain yang erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Malah baik buruknya hidup manusia tergantung pada respon yang diberikan pada kekuatan dan tenaga ini. Mereka itulah yang disebut dengan tendi dan begu.

Tendi (roh, nyawa) berada dalam tubuh manusia dan merupakan satu kesatuan. Manusia menjadi makhluk yang hidup karena memiliki tendi. Tendii memiliki zat kehidupan yang berlangsung selama-lamanya dan tidak dapat dirusak oleh apapun. Orang karo jaman dulu mengenal dua jenis tendi, yaitu: tendi yang terdapat dalam tubuh manusia dan berhubungan dengannya pada masa kehidupan manusia saja. Kedua, tendi yang merupakan bayangan yang melanjutkan aktivitas manusia. Artinya, manusia secara biologis mungkin telah mati, tapi aktivitasnya masih dilanjutkan oleh tendi nya.

Kehadiran tendi dalam tubuh manusia merupakan faktor penentu bagi kesehatan manusia. Timbulnya sesuatu penyakit, kegelisahan, atau kemalangan diyakini sebagai akibat dari lemahnya tendi, atau kepergian tendi dari tubuh manusia. Bila kepergian tendi berlangsung lama dan tidak datang lagi ke dalam tubuh dikhawatirkan bisa menyebabkan kematian bagi manusia. Konon ada empat penyebab tendi meninggalkan tubuh manusia yaitu saat tidur, terkejut, mimpi dan kematian.

Demikian ulasan singkat mengenai paham orang karo tentang begu dalam konteks ‘pneumatologi’ Batak karo tradisional. Sehubungan dengan begu ganjang yang diyakini sebagai personifikasi bagi segala jenis roh-roh yang mampu membuat orang meninggal secara mendadak, segera muncul pertanyaan berikut: Adakah gejala dan isu begu ganjang yang sempat hangat di tanah karo sebetulnya hanya merupakan gejala menularnya berbagai jenis penyakit membahayakan yang tentu saja dapat merenggut nyawa manusia dalam waktu singkat? Kalau memang itu, cara mengatasinya adalah menggalakkan pengobatan secara medis, bukan dengan menuduh dan membinasakan orang yang diduga memiliki dan memelihara begu ganjang.(Si Pesikap Kuta Kemulihenta.blogspot.com)
sumber: limamarga.blogspot

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Cerita (Turi - Turin) | Leave a comment

TERBENTUKNYA TENTARA KEAMANAN RAKYAT (TKR) DI TANAH KARO

Meskipun Jepang menyatakan menyerah pada tanggal 15 Agustus 1945 namun serdadu Belanda baru mendarat di Pantai Cermin, pada tanggal 10 Oktober 1945 atau hampir dua bulan setelah Republik Indonesia berdiri, dengan membonceng para serdadu sekutu (Inggris). Serdadu sekutu yang mendarat itu berjumlah 800 orang dengan bersenjata lengkap dan mutakhir, Royal Artelery 26 Th Indian Division dipimpin oleh Brigjen Ted Kelly, yang sebenarnya bertugas menyerbu daratan Semenanjung Malaya.

Dalam situasi demikian, api perjuangan semakin membara di segenap persada nusantara, juga halnya di Sumatera Utara maka saat bersamaan dengan mendaratnya pasukan sekutu di Pantai Cermin. Di kota Medan dibentuklah tentara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dipimpin oleh Mayor Achmad Tahir dengan kepala markas umum Kapten R. Sucipto.

Namun sebelumnya pada tanggal 29 September 1945 di Kabanjahe telah terbentuk Barisan Pemuda Indonesia (BPI) cabang Tanah Karo, dipimpin oleh Matang Sitepu. Sebagai ketua umum dibantu oleh Tama Ginting, Payung Bangun, Selamat Ginting, Ulung Sitepu, Rakutta Sembiring, R.M. Pandia, Koran Karo-karo dan Keterangan Sebayang.

Tugas BPI ini cukup berat.

Pertama menyebarluaskan Proklamasi Kemerdekaan ke desa-desa Tanah Karo, Kedua membentuk ranting-ranting BPI di desa-desa, dan ketiga mencari senjata untuk memperkuat barisan.

Beberapa jenis senjata Karabin, Pistol, Pedang panjang yang dikuasai dengan berbagai cara memang sudah dimiliki, namun jauh sekali dari cukup. Satu-satunya jalan untuk memiliki senjata api itu adalah mengambil atau merebutnya dari tentara Jepang.

Peristiwa yang sangat penting pada saat itu adalah, insiden Tiga Panah pada tanggal 9 Desember 1945 dimana terjadi serangan barisan pemuda terhadap konvoi tentara Jepang.

Terjadilah pertempuran yang sangat seru. Namun karena jumlah tentara Jepang lebih besar dan bersenjata lengkap serta sudah berpengalaman dalam pertempuran maka dalam pertempuran itu barisan kita terpaksa mengundurkan diri dengan kerugian yang cukup besar.

Setelah insiden ini, terjadi reorganisasi kepengurusan Barisan Pemuda Indonesia Tanah Karo. Dalam proses yang sangat cepat sesuai revolusi, orang pertama BPI Tanah Karo beralih dari Matang Sitepu kepada Payung Bangun dan wakilnya Selamat Ginting.

Di Minggu kedua Desember 1945 beralih lagi pimpinan kepada Selamat Ginting.
Adapun susunan pengurus BPI Tanah Karo setelah itu adalah Selamat Ginting dibantu oleh wakil ketua Tama Ginting serta koordinator-koordinator: Keterangan Sebayang, Ulung Sitepu, Tampe Malem Sinulingga, Turah Perangin-angin, Rakutta Sembiring dan Koran Karo-karo.

Di dalam Barisan Pemuda Indonesia Tanah Karo ini semua potensi pimpinan pemuda dengan berisan-barisan perjuangannya, dirangkul, bergabung ke dalam Barisan Pemuda Indonesia termasuk bekas Gyugun atau Haiho seperti: Djamin Ginting, Nelang Sembiring, Bom Ginting.

Sedangkan dari Talapeta: Payung Bangun, Gandil Bangun, Meriam Ginting, Tampe Malem Sinulingga.

Dari N.V. mas Persada: Koran Karo-karo.

Dari Pusera Medan: Selamat Ginting dan Rakutta Sembiring.

Demikian pula dari potensi-potensi pemuda lain seperti: Ulung Sitepu, Tama Ginting, Matang Sitepu, R.M. Pandia, Batas Perangin-angin dan Turah Perangin-angin.

Dalam proses sejarah selanjutnya, BPI kemudian berubah menjadi BKR (Badan Keselamatan Rakyat) yang merupakan tentara resmi pemerintah dimana Djamin Ginting’s ditetapkan sebagai komandan pasukan teras bersama-sama Nelang Sembiring dan Bom Ginting yang anggotanya antara lain Selamat Ginting’s, Nahud Bangun, Rimrim Ginting, Kapiten Purba, Tampak Sebayang dan lain-lain.

Pada umumnya yang menjadi anggota BKR ini adalah para bekas anggota Gyugun atau Heiho dan berisan-barisan bentukan Jepang. Djamin Ginting.S bekas komandan pleton Gyugun ditunjuk menjadi Komandan Batalyon BKR Tanah Karo.

Di samping itu barisan-barisan rakyat yang tergabung dalam kesatuan lasykar di Tanah Karo juga mengalami penyusunan organisasi.

Barisan lasykar rakyat Napindo Halilintar Tanah Karo dipimpin oleh Selamat Ginting dan Ulung Sitepu dibantu oleh Koran Karo-karo, Tama Ginting, T.M. Sinulingga, Turah Perangin-angin, Batas Perangin-angin, dan Matang Sitepu.

Para pemuda yang bergabung dalam barisan Napindo ini pada mulanya bersifat sukarela dan tidak terikat secara organisatoris, kecuali terdaftar dalam organisasi itu di kampung masing-masing. Pemuda-pemuda ini berlatih pada sore hari di bawah pimpinan seseorang yang pernah mendapat latihan militer atau semi militer. Pelatih ini umumnya adalah bekas Gyugun, Haiho, Talapeta, atau peserta kursus sekolah guru.

Dapatlah dibayangkan bagaimana beratnya membentuk pasukan bersenjata kita pada tahap permulaan ini, tapi dengan kesungguhan para komandan pasukan dan para pelatihnya, dapat juga dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang merupakan cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat Republik Indonesia.
Sumber : Pemkap Karo/ limamarga.blogspot

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Penting, Informasi Untuk Kab. Karo | Leave a comment

ULUNG SITEPU PEJUANG YANG TERLUPAKAN

Dalam rangka menyongsong HUT Kemerdekan RI yang ke – 73 ijinkan kami menampilkan sosok Bapak ULUNG SITEPU yang merupakan salah satu pejuang 45 yang mungkin generasi now tidak mengetahuinya bahwa di daerah mereka ada pejuang 45 yang terlupakan dalam sejarah perjuangan di Sumatera Timur dan sekitarnya.
Semoga dapat bermanfaat dan merupakan salah satu tambahan catatan sejarah di daerah ini, semoga. (admin)

“Ini adalah salah satu nama marga Suku Karo; Marga tokoh ini adalah SITEPU”

Ulung Sitepu ataupun Brigjend. Ulung Sitepu merupakan seorang tokoh militer, pejuang, dan Gubernur Sumatera Utara ke-8, yang menjabat sebagai Gubernur Sumut sejak 15 Juli 1963 hingga 16 November 1965. Dia tidak dapat mengakhiri priode jabatannya (5 tahun) dikarenakan dituduh terlibat dengan gerakan G30S/PKI oleh Pemerintahan Orde Baru, walau pun hingga saat ini tuduhan tersebut tidak dapat dibuktikan. (wikipedia.org).

Brigjend. Ulung Sitepu adalah Tokoh Karo Pejuang 45 dan seorang Nasionalis tulen dan tidak pernah berafiliasi dengan partai politik manapun termasuk PKI (Partai Komunis Indonesia) pada masanya, masyarakat Sumatera Utara khususnya masyarakat Karo tahu pasti beliau adalah seorang nasionalis dan cinta kepada NKRI sampai akhir hayatnya, dimana pada tahun 1963 terjadi pergantian gubernur Sumatera Utara dari Eny Karim ( 8 April 1963 s/d 16 Juli 1963, wikipedia.org).

Pada waktu itu tidak ada kesepakatan mufakat dalam menentukan siapa yang layak menjadi Gubernur Sumatera Utara pada tahun 1963 antara Partai Komunis Indonesia, Parta Nasional Indonesia maupun Parta Islam dan parta pendukungnya sehingga untuk jalan tengah dicalonkanlah dari TNI yang pada waktu itu Presiden Soekarno menujuk bapak Kolonel Ulung Sitepu dari pihak meliter.

Sebagai prajurit TNI yang notabene pejuang 45, beliau bersedia dan patuh kepada penunjukan Presiden Soekarno pada Juli 1963 dan kebetulan pencalonan tersebut secara aklamasi didukung sepenuhnya oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) dan para pendukung partai lainnya, dan akhirnya pada tanggal 8 April 1963 bapak Kolonel Ulung Sitepu (pada waktu pelantikan beliau masih berpangkat Kolonel) menjadi Gubernur Sumatera Utara menggantikan Eny Karim.

Pada tangal 30 September 1965 terjadi yang kita kenal dengan Peristiwa G-30-S adalah peristiwa yang sangat berpengaruh dalam sejarah masyarakat Indonesia. Paska peristiwa ini pluralitas ideologi di Indonesia mulai dibatasi. Tidak hanya pembatasan terhadap pluralitas ideologi (terutama ideologi Marxisme-Leninisme yang dilarang untuk dipelajari dan disebarkan), pembantaian jutaan manusia yang dituduh sebagai kader/simpatisan PKI (Partai Komunis Indonesia) juga terjadi pascaperistiwa tersebut.(https://philosophyangkringan.wordpres…), dimana Bapak Kolonel Ulung Sitepu yang pada masa tersebut menduduki jabatan Gubernur Sumatera Utara ditangkap oleh Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soharto dan diadili oleh Pengadilan Meliter dengan tuduhan terlibat langsung maupun tidak langsung dalam Peristiwa G-30-S hanya karena pada waktu pencalonan beliau yang karena patuhnya kepada instruksi pemimpinya Bapak Presiden Sokekarno untuk menduduki jabatan Gubernur Sumatera Utara dan kebetulan didukung sepenuhnya oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) maka dianggap bahwa beliau berafiliasi kepada PKI.
Padahal beliau adalah seorang Nasionalis dan cinta NKRI dan kamar beliau di Jalan Pasar Baru No. 5 Padang Bulan Medan sampai akhir hayatnya dipajang foto Presiden Soekarno ukuran lebih kurang 100 X 60 cm hitam putih, melebihi dari ukuran fotonya bersama keluarganya.

Pengadilan Meliter dengan tuduhan terlibat Peristiwa G-30-S, Bapak Brigjen Ulung Sitepu divonis Hukuman Seumur Hidup, walaupun tuduhan tersebut tidak terbukti sampai akhir hayatnya karena memang beliau adalah seorang Nasionalis sejati yang cinta kepada NKRI dan seorang salah satu Pejuang 45 dari provinsi Sumatera Utara dan seangkatan dengan Bapak Jenderal Djamin Ginting (Pahlawan Nasional), dan Bapak Selamat Ginting (Pa Kilap).

Akhirnya pada tahun 1989 beliau dibebaskan oleh Pemerintahan Orde Baru setelah mendekam di penjara “Orde Baru” selama 24 (dua puluh empat) tahun lamanya, dan sampai akhir hayatnya tuduhan keterlibatan beliau langsung maupun tidak langsung sampai saat ini tidak dapat dibuktikan, biarlah Tuhan yang maha pengasih mengetahui yang sebenarnya termasuk para hakim pemutus perkara maupun jaksa penuntut pada waktu itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di akhirat.

Terlampirkan kami tampilkan Acara NJUJUNGI BERAS ULUNG SITEPU (PA TIMUR) dilaksanakan pada hari Minggu, 09 Agustus 1987 jam 08.00 wib s/d selesai bertempat di Losd Desa Sukanalu Simbelang Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Karo Sumut.

Acara tersebut adalah acara pengucapan syukur Adat Batak Karo sebagai ungkapan syukur karena Bapak Ulung Sitepu dan keluarga yang di masyarakat Karo dikenal dengan sebutan Pa Timur (Bapaknya Timur), panggilan beliau sesuai dengan nama anak sulungnya dra. Meryoldina Timur bru Sitepu karena walaupun ditahan selama 24 tahun lamanya beliau dibebaskan dalam keadaan sehat walafiatwalaupun umurnya sudah uzur, mungkin yang membuat dia dibui selama itu para eksekutornya dan lain yang tersliibat langsung maupun tidak langsung sudah mendahului dia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di pengadilan akhirat.
Pengucapan syukur ini dilaksanakan di Balai Desa/ Losd Desa, desa Sukanalu Simbelang Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Karo Sumut, desa kelahiran beliau.

Disamping itu beliau juga masih diberi Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang merayakan Pesta Emas Perkawinan 50 (lima puluh) perkawinannya dengan Ibu Bagem bru Ginting Suka (Nande Timur) Pesta Perkawinan Emas 50 Tahun (tanggal 09 September 1942 – 09 September 1992) juga ditempat yang sama di Losd Desa Sukanalu Simbelang Kecamatan Barus Jahe Kabupaten Karo Sumut pada hari Rabu tanggal 09 September 1992.

Dalam video ini ibu Bagem bru Ginting Suka (Nande Timur) menceritakan suka dukanya sebagai ibu rumah tangga mendampingi Bapak Ulung Sitepu (Pa Timur) selama 50 (lima puluh tahun) mendampinginya.
Maaf acara dalam bahasa Karo, mungkin suatu saat nanti ada sukarelawan yang dengan sukarela menampilkan teksnya dalam bahasa Indonesia, semoga.

fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup
www.sinabungjaya

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Penting, Informasi Untuk Kab. Karo | Leave a comment

LENYAPNYA FILM TURANG (1957) DAN PISO SURIT (1960)

“Film TURANG yang mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus 45 di Sumatra Timur, pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka dan disaksikan oleh Presiden Sukarno”

TURANG (1957)

Sinopsis :

Filem berjudul “Turang” terpilih sebagai Filem Terbaik FFI (Festival Filem Indonesia) tahun 1960. Bercerita tentang perjuangan Rusli dalam melawan penjajah di Sumatera. Ketika terluka, ia dirawat oleh Tipi. Tumbuhlah rasa cinta diantara mereka tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka bersama karena Belanda terus menyerang dan pasukan harus terus berpindah-pindah.

Kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaja, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nizmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin). Tumbuhlah
cinta antara Rusli dan Tipi, namun keadaan tidak memungkinkan mereka terus bersama. Serangan Belanda, atas petunjuk mata-mata Dendam (Hadisjam Tahax), memaksa pasukan terus berpindah-pindah, bergerilya. (sumber : klik)

Titles : TURANG

Main Director : BACHTIAR SIAGIAN

Year : 1957

Length : –

Countries : Indonesia

Genre : Series

Actors :

NIZMAH
OMAR BACH
AHMADI HAMID
TUAHTA PERANGIN-ANGIN
ZUBIER LELO
HADISJAM TAHAX
Directors

BACHTIAR SIAGIAN
Director Of Photography

AKIN
Composer

Author

Companies

RENJONG FILM CORP.
JAJASAN GEDUNG PEMUDA MEDAN
Movie Posters

TURANG
Additional Information

Mengapa Ada Film Turang dan Ada Apa dengan Film ini

Film ini terkena masalah pada Isu PKI, Bachtiar sebagai ketua Lekra itu dipenjara di pulau Buru. Tetapi film ini film terbaik FFI’60 sebelum adanya isu PKI, dan setelah itu film ini hilang atau dihilangkan.

Film Turang diproduksi tahun 1957 dan memenangkan piala Citra (Film dan Sutradara terbaik) pada FFI II tahun 1960.Disutradarai oleh Bachtiar Siagian, produksi REFIC (Rencong Film Cooperation). Dibintangi oleh Nimah Zaglulsyah dan beberapa aktor Karo lainnya. Nimah sendiri tidak mendapatkan piala Citra untuk penampilannya. Film ini mengambil lokasi shooting di Seberaya, Kabanjahe dan Tiganderket. Pernah diputar di Bioskop Broadway New York. Film ini sendiri menceritakan tentang perjuangan Karo dalam merebut kemerdekaan. Disamping percintaan tragis yang membumbui film tersebut.

Sebelum Film ini dibuat, awalnya Turang adalah drama 3 babak yang dipentaskan di medan perjuangan. Sebuah lagu berjudul “OH TURANG” diciptakan oleh Sersan Mayor Hasyim Ngalimun, yang mendedikasikan lagu itu untuk para korban ketika tanggal 26 Mei 1949 serangan 6 pesawat Mustang Hagers menerjang tanah Alas (Resimen IV) dibawah pimpinan Djamin Gintings. Dimana menjadi korban adalah Letnan Kerani Tarigan dan Kopral M Zain. Lagu itu sendiri menjadi Movie Soundtrack Film Turang yang dinyanyikan oleh Tuti Daulai.

OH TURANG

Oh Turang Turangku turang
Ijadah deleng erdilo
Megersing Pagena mejile
Ijadah me kap sapo terulang
Kutimai kam Turangku turang
Oh Turang turangku turang
Ijadah me kap kam kutimai
Cirem nari ukurku o turang
Seh ulina o turangku turang

Reff
Kubayu tanda mata mejile
Man inget ingetenta duana
Oh turang turangku turang
Begiken sorangku o turang
Oh turang tedeh kal ateku
Ijadah me kap kam kutimai
Aloi aku turangku turang

Dimana film Turang sekarang ?

Seorang seniman yang saya tanyai mengatakan film itu sudah tidak ada lagi di Indonesia. Konon film itu ada di Belanda. Tersimpan di sebuah museum. Tapi entah dimana. Mungkin Turang/ Senina yang tinggal di Belanda bisa mencoba mencari jejak film Turang di negeri itu.

Sebagai pekerja seni, saya mencoba menjadikan film itu sebagai studi banding agar film-film bertema sama lahir di bumi nusantara ini. Disamping itu adalah kegelisahan kita akan suatu karya yang lahir dari tangan-tangan seniman/sineas asli Karo yang menghasilkan film tentang Karo tapi tidak hanya dikonsumsi untuk Karo tapi untuk skala penonton Nasional. (sumber : klik).

PISO SURIT (1960)

Sinopsis :

Wita (Mieke Wijaya), mahasiswi datang ke Tanah Karo untuk mengadakan penelitian budaya. Untuk itu ia menyewa kuda dari Pande (Ahmadi Hamid), orang tua pandir yang mengimpikan punya sado sendiri. Hubungan yang makin lama makin erat, Pande antara lain mengajarkan lagu Piso Surit yang membuat Pande lama-lama jatuh cinta. Segala tindakan Wita dianggapnya balasan cinta, hingga suatu hari ia tak tahan dan berusaha memperkosa Wita. Untung Wita bisa menginsyafkan Pande, yang lalu jadi malu dan lari untuk bunuh diri. Kawan Pande yang disuruh Wita, berhasil mengajak pulang Pande. Wita memaafkan tindakan Pande dan besoknya pulang kembali ke kota. Di jalan Wita ketemu Pande yang memberinya kenangan berupa selendang Karo.

Arti dari Piso dalam bahasa karo sebenarnya berarti pisau dan banyak orang mengira bahwa Piso Surit merupakan nama sejenis pisau khas orang karo. Sebenarnya Piso Surit adalah nama sejenis burung yang suka bernyanyi. Kicau burung ini bila didengar secara seksama sepertinya sedang memanggil-manggil
seseorang dan kedengaran sangat menyedihkan.

Tarian Piso Surit adalah tarian yang menggambarkan seorang gadis yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung Piso Surit yang sedang memanggil-manggil.

Lagu Piso Surit Diciptakan Oleh Djaga Depari salah seorang tokoh masyarakat karo sekaligus komponis nasional pada masa orde lama. (sumber : klik)

Soekarno dan Djaga Depari

Titles : PISO SURIT

Main Director : BACHTIAR SIAGIAN

Year : 1960

Length :

Countries : Indonesia

Genre : Series

Actors :

MIEKE WIJAYA
AHMADI HAMID
SLAMET BAJU

Directors : BACHTIAR SIAGIAN

Director Of Photography : AKIN

Composer : ISKANDAR

Author

Companies : RENJONG FILM CORP.

Movie Posters

PISO SURIT
Additional Information

Literary Sources

Catatan tambahan :

Penelusuran tentang Turang dan Piso Surit.

Dalam buku Krishna Sen. Indonesian Cinema: Framing the New Order. London & New Jersey: Zed Books, 1994, dimuat tentang:

1. Bachtiar Siagian, hal. 24, 36-38, 41-47, 49, 97

2. Films and film-maker (Bachtiar juga disebut pada bagian ini), hal. 36-38

3. Biodata Bachtiar dan karyanya, hal. 41-47

4. Film Turang, hal. 42-43 (Disebut-sebut perwira Sumatra Kolonel Jamin Gintings sebagai salah satu penyandang dana.) Periksa juga berita di Harian Rakjat, 24 Mei 1958 tentang film Turang.

5. Film Piso Surit, hal. 46

6. Tentang sumber, periksa kembali Harian Rakjat dan Bintang Timur (Perpustakaan Nasional di Jakarta memiliki koleksi cukup lengkap tentang kedua koran tersebut. Katalog Perpustakaan Nasional di Jakarta mendata koleksi yang ada dari edisi Th. 2 no. 1 (1951) – Th. 17 No. 9 (1966) atau 15 jilid.

sumber : M. Fauzi (klik)

Biodata BACHTIAR SIAGIAN (ACTOR & FILM DIRECTOR) :

Lahir di Binjai Sumatra Utara, 19 Febuari 1923.

Sebelumnya ia aktif dalam menulis naskah drama, The Blood People, The Blood of Worker, dan Rosanti.

1974 ia belajar menulis skenario dari buku “Pundovkin’s Book” , sebelumnya ikut berjuang melawan Belanda dan Jepang.

1955 Bachtiar terjun ke film, langsung sebagai sutradara untuk film “Tjorak Dunia”, “Kabut Desember” 1955, “Daerah Hilang” 1956, dan juga merangkap sebagai peran utama dalam film “Melati Sendja” 1956. Dan dalam FFI 1960 ia mendapat penghargaan sutradara terbaik dalam film “Turang” 1957.

Bachtiar juga di kenal sebagai Ketua Lembaga Film Indonesia (LEKRA), karena itu ia lama mendekam di pulau buru, 1977 baru ia bebas.

FILM dan POLITIK

Setelah masa peralihan kemerdekaan, pada tahun 1949, produksi film di Indonesia meningkat dengan pesat dan mencapai puncaknya padata tahun 1955, yaitu mencapai 58 per tahun. Pada saat yang sama terjadi pergeseran sosial dalam industri film, yaitu lebih banyak “pribumi” yang terlibat di dalamnya. Banyak film tentang perjuangan yang dibuat. Pada awal 1960-an dunia perfilman menjadi ajang berpolitik. Sutradara yang menonjol pada waktu itu, a.l. Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik yang berlatar belakang Islam (NU) dan Bachtiar Siagian yang berideologikan komunisme (PKI). Setelah upaya kudeta tahun 1965, Bachtiar Siagian dipenjarakan di Buru dan baru dibebaskan tahun 1979.

Nama : Bachtiar Siagian
Profesi : Sutradara
Tempat Tahir : Binjai, Sumut Tanggal Lahir : 19 Februari 1923
Pendidikan Formal :
Penghargaan Khusus : Penghargaan Sutradara Terbaik untuk film “Turang” dalam FFI 1960

NJANJIAN DILERENG DIENG 1964 BACHTIAR SIAGIAN
Director
KAMI BANGUN HARI ESOK 1963 BACHTIAR SIAGIAN
Director
DAERAH HILANG 1956 BACHTIAR SIAGIAN
Director
KABUT DESEMBER 1955 BACHTIAR SIAGIAN
Director
TURANG 1957 BACHTIAR SIAGIAN
Director
VIOLETTA 1962 BACHTIAR SIAGIAN
Director
PISO SURIT 1960 BACHTIAR SIAGIAN
Director
SEKEDJAP MATA 1959 BACHTIAR SIAGIAN
Director
NOTARIS SULAMI 1961 BACHTIAR SIAGIAN
Director
TJORAK DUNIA 1955 BACHTIAR SIAGIAN
Director
BADJA MEMBARA 1961 BACHTIAR SIAGIAN
Director
MELATI SENDJA 1956 BACHTIAR SIAGIAN
Actor.Director.

sumber : indonesiancinematheque.blogspot.com

Kesaksian salah satu pemainnya :

Bung Zoubier yang lahir tanggal 22 Januari 1931 di Bireuen, Aceh ikut main dalam filem Turang dan Piso Surit. Sejak usia 13 tahun beliau memang sudah main sandiwara di sekolahnya. Karirnya dapat dideretkan sebagai berikut:

1.Main di film “ Kuala Deli “, yang dibuat pada tahun 1955
2. Main di film “Bintang Pelajar“, yang dibuat pada tahun 1957
3. Main di film “Anakku Sayang”, yang dibuat pada tahun 1957
4. Main di film “Piso Surit ”, yang dibuat pada tahun 1957
5. Main di film “Turang”, yang dibuat pada tahun 1960.

Khusus mengenai film “Turang” yang mengisahkan perjuangan orang-orang dari suku Karo pada waktu Revolusi Agustus 45di Sumatra Timur, pemutaran pertamanya dilangsungkan di Istana Merdeka dan disaksikan oleh Presiden Sukarno. Di situlah Bung Zoubier bertemu dan berdialog langsung dengan Presiden Sukarno untuk pertama kalinya. Pertemuan berikutnya dengan Presiden Sukarno terjadi di KBRI di Moscow, ketika Presiden Sukarno berkunjung ke Uni Sovjet. Saat itu Presiden Sukarno berpesan kepada Bung Zoubier demikian: “Baik-baik belajar, dan cepat pulang”.

Sebagai seniman yang sudah banyak berperan dalam pementasan drama dan pembuatan film, beliau tentu saja banyak berhubungan, bergaul dan bekerja sama dengan Bung Bachtiar Siagian. Karena itu beliau mengenal dekat dan akrab dengan Bung Bachtiar Siagian – Seniman kondang, Ketua Lembaga Film Lekra. Bung Zoubier sangat mengagumi dan menghormati Bung Bachtiar Siagian.

Ketika mendengar berita kematian Bung Bachiar yang menyedihkan itu, beliau terharu dan sangat sedih. Dengan nada marah beliau mencela perlakuan yang tidak manusiawi oleh rezim Orba terhadap Bung Bachtiar Siagian yang semasa Revolusi Agustus 45 aktif dalam pasukan gerilya di Kabupaten Langkat dalam mempertahankan Kemerdekaan RI, dan di samping itu telah banyak pula memberikan sumbangan dalam memperkaya hazanah seni dan budaya Indonesia yang berkepribadian Indonesia.

Pada tahun 1959, Bung Zoubir dikirim oleh Perfi ( Persatuan Film Indonesia ) ke luar negeri, belajar di Institut Kesenian dan Perfileman Negara Moscow atas beasiswa Pemerintah Indonesia. Semasa belajar di teater tersebut, pada tahun 60-an, untuk tujuan lebih memperkenalkan Kebudayaan Indonesia di Uni Sovjet, dibentuk Lembaga Kebudayaan Indonesia, yang diketuai oleh Prof. Intojo, dan Bung Zoubir sebagai Sekretarisnya.

Setelah terjadi peristiwa G-30-S, Bung Zoubier juga menjadi korban kekerasan rezim militer fasis Suharto, karena identitasnya sebagai pendukung kebijakan politik Presiden Sukarno sudah diketahui oleh Atase Militer AD Indonesia di Moscow. Pasport Bung Zoubier dicabut, dan jadilah beliau orang yang terhalang pulang di luar negeri. Pada saat-saat itu juga di Moscow didirikan OPI ( Organisasi Pemuda Indonesia ) untuk tujuan menghimpun orang-orang Indonesia yang tidak bisa pulang dan sedang berada di Uni Sovjet, dimana Bung Zoubir juga masuk menjadi anggotanya.

Sejak itu Bung Zoubier bekerja di teater Mossoveta, salah satu teater drama terbesar di Moscow. Seluruh pekerjanya ada sejumlah 325 orang, di antaranya 91 orang akteur dan aktris. Semasa hidup di Moscow, Bg. Zoubir telah menikah dengan seorang wanita Warga Negara Uni Sovjet, dan dikarunia seorang putra. (sumber lengkapnya : klik)

sumber: karosiadi.blogspot.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup
www.sinabungjaya.com

Posted in Berita | Leave a comment

FILM TURANG

Dalam rangka menyongsong HUT Kemerdekan RI yang ke – 73 kami tampilkan TURANG, yang pada waktu itu para pejuang kita dengan dengan tulus mengorbankan jiwa dan raganya maupun hartanya demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan UUD’45 dan Pancasila yang Berbineka Tunggal Ika dan tidak mengenal adanya istilah SARA.
Bujur/ Terima kasih ras menjuah-juah kita kerina (admin)

Turang (1957) adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1957 dengan disutradarai oleh Bachtiar Siagian. Film ini dibintangi antara lain oleh Nizmah dan Omar Bach.

Film : Turang

Sutradara : bachtiar Siagian

Produser : Abubakar Abdy

Penulis : Bachtiar Siagian

Pemeran :

Nizmah
Omar Bach
Ahmadi Hamid
Hadisjam Tahax
Tuahta Perangin-angin
Zubier Lelo

Distributor : Rentjong Film Corp

Yayasan Gedung Pemuda Medan (Refic Film)

Durasi : … menit

Tahun : 1957

Negara : Indonesia

Penghargaan : Pekan Apresiasi Film Nasional 1960

Sutradara Terbaik : Bachtiar Siagian
Pemeran Pendukung Pria Terbaik : Ahmad Hamid

Film ini dinobatkan sebagai film terbaik dalam Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia pada tahun 1960. Film Turang mengambil seting di Desa Seberaya dan desa lainnya di Kabupaten Karo.

SINOPSIS

Kisah perjuangan gerilya melawan Belanda di Tanah Karo (Sumatera Utara), khususnya di Seberaja, kampung yang pernah jadi pusat komando. Wakil komandan Rusli (Omar Bach) yang terluka diserahkan perawatannya kepada Tipi (Nizmah), adik anggota gerilyawan Tuah (Tuahta Perangin-angin), maka terbitlah jalinan cinta antara Rusli dan Tipi, namun keadaan tidak memungkinkan mereka terus bersama. Serangan Belanda, atas petunjuk mata-mata Belanda, Dendam (Hadisjam Tahax), memaksa pasukan terus berpindah-pindah untuk melaksanakan perang bergerilya.

Saat ini tidak diketahui lagi keberadan film ini, kemungkinan sudah dimusnahkan karena Sutradara Bachtiar Siagian dicap sebagai pengikut komunis (PKI).

Turang dalam bahasa Karo berarti Saudara yang berlainan jenis kelamin tetapi semarga, dalam bahasa Batak Toba disebut Ito. Turang juga biasa disebutkan sebagai panggilan yang sopan kepada orang yang belum dikenal namun kira-kira sebaya dan berlainan jenis kelamin.

OH TURANG

Karya Sersan Mayor Hasyim Ngalimun

Oh Turang Turangku turang
Ijadah deleng erdilo
Megersing Pagena mejile
Ijadah me kap sapo terulang
Kutimai kam Turangku turang
Oh Turang turangku turang
Ijadah me kap kam kutimai
Cirem nari ukurku o turang
Seh ulina o turangku turang

Reff

Kubayu tanda mata mejile
Man inget ingetenta duana
Oh turang turangku turang
Begiken sorangku o turang
Oh turang tedeh kal ateku
Ijadah me kap kam kutimai
Aloi aku turangku turang

sumber: wikipedia.or
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Silahkan klik di bawah ini :

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Penting, Informasi Untuk Kab. Karo | Leave a comment

GOOGLE TETAP BISA MELACAK ANDA WALAU FITUR LOKASI SUDAH DINONAKTIFKAN

Sebuah penelitian yang dilakukan kantor berita Associated Press menyebutkan, Google tetap bisa melacak keberadaan para penggunanya meski mereka telah menonaktifkan lokasi pada ponsel.

Masalah ini dapat memengaruhi hingga dua miliar perangkat Android dan Apple yang menggunakan Google untuk peta atau penelusuran.

Kajian yang diverifikasi oleh para peneliti di Universitas Princeton, membuat para pembuat kebijakan hukum di AS marah.

Menanggapi hal itu, pihak Google mengatakan mereka justru ingin memberikan gambaran yang jelas tentang perangkat tersebut dan cara mematikannya.

Dalam kajian itu disebutkan bahwa, keberadaan para pengguna akan tetap terlacak walaupun mereka tidak mengaktifkan lokasinya.

Contohnya:

Google menyimpan catatan tentang keberadaan Anda ketika Anda membuka aplikasi Map atau Peta.
Pembaruan cuaca otomatis pada ponsel Android menunjukkan secara kasar di mana pengguna berada.
Pencarian yang tidak ada hubungannya dengan lokasi, menentukan garis bujur dan lintang pengguna dengan tepat.

‘Agak licik’

Untuk menggambarkan efek penanda lokasi ini, AP membuat sebuah peta visual yang menunjukkan pergerakan seorang peneliti Princeton, Gunes Acar, yang mematikan fitur lokasi pada ponsel Androidnya.

Dalam peta tersebut, Acar terdeteksi melakukan perjalanan dengan kereta cepat di sekitar New York, mengunjungi taman High Line, Pasar Chelsea, Hell’s Kitchen, Central Park, dan Harlem. Tak hanya perjalanan, peta tersebut juga mengungkap alamat rumah Acar.

Agar Google berhenti menyimpan semua penanda lokasi ini, para pengguna harus mematikan pengaturan lain yang disebut Web and App Activity, yang aktif secara default dan tidak menyebutkan data lokasi.

Penonaktifan ini akan mencegah Google menyimpan informasi yang dihasilkan oleh pencarian dan aktivitas lain yang dapat membatasi efektivitas bantuan digitalnya.

“Anda mengira bahwa memberi tahu Google bahwa Anda tidak ingin lokasi Anda dilacak dengan menonaktifkan pilihan “Location History ” akan menghentikan raksasa internet itu menyimpan data tentang lokasi Anda,” tulis peneliti keamanan Graham Cluley di blognya.

“Bagi saya Google agak licik karena terus menerus menyimpan data lokasi, kecuali jika Anda menonaktifkan “Location history” dan” Web & App Activity.”

Menanggapi hal ini, Google mengatakan kepada kantor berita AP: “Ada sejumlah cara yang berbeda bagi Google dalam menggunakan fitur lokasi untuk meningkatkan pengalaman orang, di antaranya: Location History, Web and AppActivity, dan Location Services.

“Kami memberikan penjelasan tentang perangkat ini, dan kontrol yang kuat sehingga orang dapat mengaktifkan atau menonaktifkannya, serta menghapus jejak lokasi mereka kapan saja.”

Praktik perusahaan

Setelah melakukan riset, AP menciptakan panduan untuk menunjukkan kepada para pengguna cara menghapus data lokasi.

Saat AP menyampaikan hasil penelitian, senator Demokrat Mark Warner menuduh perusahaan teknologi itu menjalankan “praktik perusahaan yang berbeda jauh dari harapan pengguna mereka yang benar-benar masuk akal”.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat, Frank Pallone, menyerukan “undang-undang privasi dan keamanan data konsumen yang komprehensif”.

Di Inggris, juru bicara Kantor Komisi Informasi mengatakan kepada BBC: “Di bawah GDPR dan UU Perlindungan Data 2018, berbagai organisasi memiliki kewajiban hukum untuk terbuka, transparan dan adil dengan publik tentang bagaimana data pribadi mereka digunakan.

“Siapa pun yang memiliki kekhawatiran tentang bagaimana sebuah organisasi menangani informasi pribadi mereka dapat menghubungi ICO.”

Sebelumnya, sejumlah perusahaan teknologi diserang karena tidak blak-blakan menjelaskan pengaturan privasi dan cara menggunakannya.

Pada bulan Juni, laporan dari Norwegian Consumer Council menemukan bukti bahwa berbagai pilihan soal privasi disembunyikan atau dikaburkan.

Iklan berbasis lokasi menawarkan peluang besar bagi para pelaku pasar. Menurut lembaga riset BIA / Kelsey, berbagai pemegang merek AS siap untuk menghabiskan biaya hingga US$20,6 miliar (atau Rp371 triliun) pada iklan seluler yang ditargetkan pada tahun 2018.

Sejak tahun 2014, Google telah mengizinkan para pengiklan melacak keefektifan iklan daring dengan fitur berdasarkan data footfall, yang bergantung pada riwayat lokasi.
sumber: bbc.com
fb Bus Sinabung Jaya
wa SINABUNG JAYA grup

Posted in Berita, Informasi Penting | 2 Comments