PENGUNJUNG AIR PANAS DI SEMANGAT GUNUNG KENA PUNGLI, EMPAT PELAKU DIAMANKAN POLSEKTA BERASTAGI

Petunjuk7.com.- Pihak Polsekta Berastagi mengamankan empat (4) warga Desa Doulu, Kecamatan Berastagi, terkait pungutan llar ( pungli) terhadap tamu (pengunjung) yang akan berkunjung ke objek wisata pemandian air panas di Desa Semangat Gunung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatra Utara, Sabtu, (25/1/2020) Pukul 11.00 WIB.

Adapun keempat pelaku tersebut adalah Saul Silalahi (39), Puja Ginting (16), Jointa Ginting (35) dan Alfiansyah Tarigan.

Demikian disampaikan oleh Kapolsekta Berastagi, Kompol Pawang Ternalem Sembiring kepada wartawan, Sabtu (25/1/2020) terkait masalah pungli tersebut.

Diungkapkannya, dari keempat pelaku polisi mengamankan barang bukti 3 (tiga) buah kardus aqua, uang tunai berjumlah Rp231.000 dan delapan (8) buah botol aqua sedang.

“Pelaku memberhentikan kenderaan baik mobil maupun sepeda motor dengan menawarkan air mineral dan meminta uang masuk sebesar Rp 5000/ orang dengan dalih jaga malam. Dan terkadang para pelaku meminta uang dengan memaksa, sehingga terjadi keributan dengan pengunjung yang akan bertamasya ke pemandian air panas ke Desa Semangat Gunung,” beber Kapolsekta Berastagi.

Ditambahkannya, bahwa aktivitas para pelaku sudah beberapa minggu beraksi terhitung sejak malam pergantian tahun 2019 – 2020.

“Dan ada beberapa kelompok yang melakukan pungutan liar dengan masing – masing koordinator,” ungkap Kapolsekta Berastagi.

“Saat ini ke 4 pelaku masih diamankan dan di Berita Acara Pemeriksaan ( BAP) di Polsekta Berastagi guna penyidikan lebih lanjut,” kata Kompol Pawang Ternalem Sembiring. (KS).

fb KARO News

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo | Leave a comment

TANGKAL VIRUS CORONA, RI AKAN TUTUP PENERBANGAN KE SELURUH CINA

TEMPO.CO, Jakarta – Kementerian Perhubungan mengkaji kemungkinan melarang penerbangan ke wilayah lain dari dan ke negara China akibat virus corona. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menuturkan pemberitaan virus corona cukup masif dan pihaknya masih memperhatikan berbagai kemungkinan yang terjadi.

“Kita bertahap meninjau (perluasan larangan terbang), apa yang kita sampaikan tak lepas dari rekomendasi Kemenkes dan Kemenlu tiap hari kami berkorespondensi,” ujar Budi Karya, Minggu, 26 Januari 2020.

Dia berharap kasus virus corona ini tidak menimbuilkan perselisihan dan melihat ini sebagai bencana. “Di satu sisi kita lakukan suatu kegiatan preventif untuk menangkal jangan sampai terjadi perpindahan virus ke Indonesia,” ujar Budi Karya.

Sementara itu Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero), Muhammad Awaluddin, terus berkoordinasi untuk memastikan antisipasi masuknya virus tersebut ke wilayah Indonesia.

“Kami melakukan koordinasi dengan yang terkait dengan KKP dan Kemenkes. Ini perlu, contohnya dalam konteks pemasangan infrastruktur seperti thermal scanner. Tiap bandara kita pastikan alat ini dengan mudah terpasang, di semua 19 bandara termasuk Bandara Soekarno-Hatta sudah terpasang dan beroperasi,” katanya.

Sementara itu tim di bandara pun sudah bergerak termasuk dari pihak karantina dan memperhatikan pergerakan penumpang serta berkoordinasi dengan pihak imigrasi.

“Kedua, melakukan koordinasi dengan regulator karena dia yang memiliki akses terhadap kebijakan regulasi dan kebijakan antarregulator lain, seperti kemenhub regulator transportasi udara, harus berkoordinasi dengan regulator pergerakan penumpang dalam konteks imigrasi,” ujarnya.

Ketiga, AP II melakukan konsolidasi di internal, terkait pihak mana saja yang bertugas dan yang langsung berhadapan dengan penumpang atau frontliner seperti keamanan bandara, kebersihan, ground handler, customer service, dan lain-lainnya.

“Mereka yang terdepan bertemu akses terhadap pergerakan penumpang. Ini kita sudah minta mereka menggunakan masker N95,” tuturnya.

sumber: tempo
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

NGELESISASI TERBARU WAN TOA, MENJAGA RASA PERIKEPOHONAN

Tadeus-Ada yang bisa memberi pencerahan kepada penulis, mengapa DKI Jakarta di bawah pimpinan Anies terus menerus mempertontonkan lakon konyol di panggung Ibu Kota?

Lakon yang hanya membuat kita yang waras ini tersenyum kecut, kok bisa-bisanya Jakarta membuat kesalahan yang fatal dengan memilih sosok pemimpin seperti ini?

Bahasa Koreanya ‘MoTeJi’, mo tepok jidat, saking kebaliknya logika yang dipakai.

Parahnya, logika dunia terbalik ini yang malah diajukan sebagai pembenaran atas kisruh yang terjadi. Ape lo ape lo pokoknya gue yang bener, mau apa elo?

Masih belum kering ingatan kita soal banjir awal tahun 2020, yang mungkin akan menjadi cara merayakan tahun baru yang terburuk dalam sejarah negara berflower, negara +62.

Ngomong-ngomong, bijimane kelanjutan upaya gugatan class action para korban banjir?

Padahal puncak musim penghujan masih di bulan Februari atau Maret, dan hujan pada Jumat (24/1) lalu masih memunculkan genangan ‘bukan kolam susu’ di beberapa daerah di Jakarta.

Lah kok bisa-bisanya menyatakan bahwa membiarkan beberapa daerah tergenang merupakan strategi dalam mengelola banjir?

Seolah kurang puas dalam upaya menghancurkan Jakarta, kawasan Monumen Nasional pun diobok-obok.

Padahal wilayah itu merupakan daerah Ring-1. Yang kewenangannya ada pada pemerintah pusat dalam hal ini Setneg.

Tapi bukan didikan Wan Abud namanya kalo tidak bisa membeberkan narasi bahwa mereka telah bertindak sesuai prosedur.

Dalil-dalil peraturan dan kewenangan, hukum dan sebagainya, dibolak-balik bagaikan akrobat badut Joker demi memuaskan ego dan ambisi pribadi.

Malah daerah Underpass Gandhi dianggap sebagai kewenangan pusat dan Setneg, sedang Pemprov DKI hanya dalam posisi ‘membantu’.

190 pucuk pohon menyusul menjadi korban. Bergabung bersama puluhan ribu warga pengungsi, dan ratusan kendaraan bermotor korban banjir.

Walaupun pohon tersebut sebelumnya telah ditreatment selayaknya bumil (Ibu hamil) lewat proses USG, yang entah apa faedahnya.

Mungkin sebagai alternatif bagi para dokter Obgyn, untuk mendapat ceperan melayani proses USG pohon-pohon di seantero Jakarta. Hahaha.

Faktanya, Jakarta hanya memiliki 5% RTH (Ruang Terbuka Hijau) dari ketentuan minimal 30%. Apalagi polusi Jakarta bukan main-main kadarnya. Bagaimana kabar tanaman lidah mertua yang digagas mampu mengurangi polusi?

Si Sekda Pemprov DKI yang ga ada seksi-seksinya itu, bro Saefullah, malah dengan yakin mengatakan dengan pembabatan pohon akan menambah RTH.

Yakin bener si bro yang satu ini bahwa mereka tak berdosa dengan apa yang sudah diperbuat, walau dihujat sedemikian rupa oleh para netijen.

Yang lebih lucu lagi, coba simak ucapannya berikut ini. “Pada waktunya nanti kita akan mengundang semuanya bagaimana Pemprov DKI mengelola rasa prikepohonan. Bagaimana kita ini menyayangi pohon karena dia mahkluk hidup juga yang harus kita sayangi dan pelihara. Nanti teman-teman merasakan empati kita kepada pohon. Nanti di sisi selatan,” ucapnya.

Iya betul, PERIKEPOHONAN!!!

Hayo, mau ngomong apa sekarang. Bukan hanya perikemanusiaan dan perikeadilan yang penting, perikepohonan pun sudah dipraktekkan dalam mengelola pemerintahan daerah.

Ini menambah lagi wujud dari kebeRpihakan si pemimpin dari 7 juta umat. Tentu area yang direvitalisasi akan menambah daya tampung untuk acara reuni golongan Wiro Sableng tahun depan.

Mungkin untuk menyambut kepulangan si bang Thoyib yang masih merana di sono.

Gitu kok ga terima ketika disandingkan dengan Risma, Walikota Surabaya.

Waktu sebuah perusahaan es krim nasioal mengadakan acara bagi-bagi gratis produknya yang mengakibatkan rusaknya sejumlah tanaman di median jalan Kota Surabaya saja, Risma sampai misuh-misuh memarahi pihak yang dianggap merusak fasilitas kota.

Sampai-sampai ketika demo mahasiswa menolak RUU KPK di Surabaya, beredar peringatan agar jangan sampai merusak tanaman kalau tidak mau berhadapan dengan amukan Surabaya-1.

Tapi, semoga tahun 2020 ini si Wan Toa akan tersandung. Dukungan kepadanya pun mulai surut seiring defisit anggaran yang jadi bancakan masal itu.

Walaupun sekarang kursi pendamping dirinya sedang diperebutkan. Bahkan calon dari PKS sudah siap menggantikan posisi Anies dalam menghadapi bullyan.

Karena menurutnya biarlah Anies bekerja maksimal membahagiakan warganya. Situ waras mas?

Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya gr

Posted in Berita | Leave a comment

EDAN, ANIES BARU MINTA IJIN REVITALISASI MONAS SETELAH GUNDUL DULUAN?

Rahmatika-Ada sebuah pemberitaan di CNN yang sayangnya baru saya baca hari ini. Intinya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengirimkan surat persetujuan revitalisasi Monas ke Kementerian Sekretariat Negara. Yang menyatakan hal ini adalah Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan DKI Jakarta Heru Hermawanto.

“Sudah disiapkan. Sore ini kemungkinan dikirim. Ya kalau di dalam ketentuannya kan kita bahasanya itu bukan izin ya, tapi persetujuan,”

“Ya namanya proyek itu kan enggak semudah harus kemudian dihentikan kan, ini kan ada mekanisme kontrak. Itu saja aturan yang kita pegang. Kalau perjanjian kan enggak mungkin langsung putus,”

Sebelumnya Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara (Setneg) Setya Utama mengatakan revitalisasi kawasan Monas belum mengantongi izin dari Komisi Pengarah Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Merujuk Keppres Nomor 25 Tahun 1995, kawasan Medan Merdeka meliputi Taman Medan Merdeka, Zona Penyangga Taman Medan Merdeka, dan Zona Pelindung Taman Medan Merdeka. Nah dalam hal ini ternyata ada beberapa struktur yang mesti kita ketahui yakni Komisi Pengarah dan Badan Pelaksana Pembangunan Kawasan Medan Merdeka. Komisi Pengarah diketuai oleh Menteri Sekretaris Negara. Sementara Badan Pelaksana dipimpin gubernur DKI Jakarta yang merangkap Sekretaris Komisi Pengarah. Badan Pelaksana sendiri bertanggung jawab kepada presiden melalui Komisi Pengarah.

Saya jadi makin geleng-geleng kepala. Begini, semua tahu bahwa Monas ini termasuk obyek vital nasional. Artinya, tim di Pemprov termasuk Gubernur Anies Baswedan mestinya juga tahu bahwa ada aturan yang harus dipenuhi dan ada pintu-pintu yang harus diketuk kalau mau mengubah tatanan di sana. Nggak mungkin dong level Gubernur nggak tahu. Atau kalau Gubernurnya nggak ngerti mestinya Sekdanya mengingatkan. Apa juga fungsinya TGUPP yang anggotanya banyak itu kalau tidak bisa memberi masukan atau memberi tahu Gubernur aturan yang berlaku? Seingat saya dulu salah satu tujuan Anies membentuk banyak tim-tim itu antara lain supaya tidak terjadi tumpang tindih aturan. Nah kalau aturan mau tidak tumpang tindih berarti mereka harusnya sudah khatam tentang aturan yang ada bukan?

Seratus sembilan puluh pohon sudah ditebang. Nggak jelas juga pohon-pohon itu dikemanakan. Area di Monas sudah gundul. Padahal untuk membuat suasana jadi teduh seperti itu butuh waktu puluhan tahun. Ya kalau semuanya sudah prosedural, okelah walau mengecewakan tapi mungkin kita lebih legowo. Namun kenyataannya sepertinya penebangan pohon ini ilegal karena kenyataannya baru setelah gundul mereka minta ijin revitalisasi Monas. Harusnya kan ijin keluar dulu baru step by step proyek dijalankan. Ini sih kelakuannya jadi mirip laki-laki takut istri tapi nekat yang memegang paham “Lebih baik minta maaf daripada minta ijin”, maksudnya kalau sudah kejadian kan mau nggak mau akan dimaklumi daripada harus minta ijin yang mungkin akan memunculkan perdebatan, ijin tidak turun, sehingga rencana pun malah gagal.

Ya sekarang bola liarnya mau nggak mau ada di tangan Sekretariat Negara mau dibawa ke mana arah revitalisasi Monas ini. Kalau menurut saya pribadi ya suruh ditanami lagi saja dengan pohon meskipun butuh puluhan tahun lagi untuk membuat suasana di sana kembali rindang. Jelas saya nggak setuju dengan konsep pembangunan Pemprov DKI Jakarta dan PT Bahana Prima Nusantara yang akan menjadikannya plaza dan kolam.

Ya buat apa kolam yang hanya untuk memantulkan bayangan tugu Monas. Kalau memang niatnya untuk kolam, apa iya butuh sampai menebang 190 pohon seperti itu? Apalagi kalau alasannya untuk dijadikan plaza. Jakarta itu sudah punya terlalu banyak pusat perbelanjaan. Dan tak sedikit yang jaraknya dengan Monas pun tak terlalu jauh. Rakyat Jakarta jauh lebih butuh tambahan ruang terbuka hijau. Jangan malah membuat makin lama makin banyak area yang justru diperuntukkan kelas ekonomi menengah ke atas. Beberapa waktu lalu saja misalnya, di GBK ada yang dialihfungsikan jadi hutan kota yang dikelola salah satu chain hotel dan restoran kelas menengah ke atas. Apa iya yang seperti itu bisa dinikmati dengan mudah dan dijangkau masyarakat kebanyakan? Eh sekarang malah ketambahan Monas ini. Ckckckckckckck….
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

PRIA INDIA TEWAS DISERANG AYAM SAAT MENUJU LOKASI SABUNG AYAM

TEMPO.CO, New Delhi – Seorang pria India meninggal setelah diserang ayam jantan peliharaannya saat dalam perjalanan ke lokasi sabung ayam.

Saripalli Chanavenkateshwaram Rao, 50 tahun, diserang ayam jantan itu tepat di bagian lehernya pada 15 Januari 2020. Taji ayam itu telah dipasangi pisau kecil untuk keperluan sabung ayam dan mengenai lehernya.

Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada CNN bahwa ayah dari tiga anak itu sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, dia kemudian meninggal akibat stroke.
Ads by Kiosked

“Rao tinggal di desa Pragadavaram di negara bagian Andhra Pradesh, India Selatan,” kata petugas polisi Kranti Kumar seperti dilansir CNN pada Kamis, 23 Januari 2020.

Rao dikenal sering menghadiri kegiatan sabung ayam. Saat peristiwa itu terjadi, dia sedang dalam perjalanan menuju lokasi sabung ayam saat ayam peliharaannya itu memberontak mencoba melepaskan diri.

Adu ayam merupakan kegiatan ilegal di India sejak 1960. Namun, adu hewan itu terus menjadi kebiasaan sebagian masyarakat di negara ini, menurut Gauri Maulekhi, wali amanat Yayasan Rakyat untuk Hewan India.

“Pelanggaran telah dibuat sangat jelas dan dijelaskan kepada pemerintah kabupaten dan negara bagian, tetapi mereka memilih untuk menutup mata terhadap sabung ayam. Hewan-hewan ini dibuat untuk bertarung bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga karena pertaruhan besar dan perjudian yang berlangsung di acara ini,” kata Maulekhi.
sumber: tempo
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

PEMPROV ATAU DPRD DKI YANG TIDAK PAHAM KEPPRES?

Jaya Surbakti-Tidak usah lagi mempersoalkan kenapa pohon di kawasan Monas ditebangi, yang bertentangan dengan kampanye Anies dulu, bahwa akan membuat Jakarta memiliki udara sesejuk Puncak. Atau, kenapa area resapan air malah ditutupi semen dan keramik, yang bertentangan dengan sunatullah. Itu semua sudah tidak ada yang memusingi. Selain karena warga sangat cinta kepada gubernurnya, juga karena kalah heboh dengan masalah perizinan yang jadi polemik baru.

Seyogianya satu Keppres itu bisa menjadi acuan yang sama dengan nilai dan persepsi yang sama pula, bagi siapa saja yang menggunakannya sebagai panduan. Namun kali ini, ada perbedaan yang sangat mencolok, terutama perbandingan persepsi antara Pemprov DKI dengan DPRD DKI Komisi D.

Komisi D beranggapan bahwa Pemprov DKI sudah “lancang” melakukan revitalisasi kawasan Monas karena tanpa mengantongi izin dari pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Sekretariat Negara (Mensetneg). Masalah izin ini, menurut Komisi D sesuai dengan Keppres 25 Tahun 1995 tentang Penataan Kawasan Medan Merdeka.

Bahkan Ketua Komisi D Ida Mahmudah meminta Pemprov DKI Jakarta berkomunikasi dengan Sekretariat Negara. Selama itu, pembangunan diminta ditunda atau dihentikan sementara.

“Pokoknya semua kegiatan di Monas Bapak hentikan sementara sampai ada persetujuan dari Mensetneg terkait Keppres. Semua aturan (daerah) tetap kalah dengan Keppres,” kata Ida.

Di lain pihak, Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Pertanahan (CKTRP) belum memutuskan apakah akan menghentikan revitalisasi Monas seperti saran DPRD DKI Jakarta, atau lanjut. Dinas akan melapor kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan soal usul tersebut.

“Nanti akan kami laporkan (kepada Anies). Kalau menang harus kami hentikan, sementara kan sifatnya, kalau memang harus kami lengkapi, kami lengkapi,” kata Kepala Dinas CKTRP Heru Hermawanto.

Namun, hari ini, Sekda DKI mengatakan, apa yang sudah dilakukan oleh Pemprov adalah sesuai dengan Keppres yang dipermasalahkan. Dia bilang Pemprov taat aturan.

“Pertama bahwa yang sekarang DKI sedang kerjakan adalah revitalisasi kawasan Medan Merdeka sisi selatan. Yang kita kerjakan ini masih sesuai dengan Keppres 25 Tahun ’95, jadi masih cocok,” ujar Sekda DKI Jakarta Saefullah di Balai Kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2020).

Hal itu memperkuat pernyataan sebelumnya dari Asisten Sekda Bidang Pembangunan dan Lingkungan Hidup Yusmada Faizal. Dia menyebut Pemprov memiliki hak pengelolaan. Namun, untuk lebih jelasnya akan dilakukan kajian dan dilaporkan kembali kepada Komisi D.

“Masterplan Monas kan hak pengelolaan kawasan dari DKI. Kita semua yang merawat. Dari Ruang Agung, tugu. Tapi aturan seperti apa, nanti akan diperjelas. Bahkan UPK (Unit Pengelola Kawasan), itu kita,” ucap Yusmada.

Kita yang awam jadi bingung sendiri. Ini ada dua pihak yang punya interpretasi yang berbeda terhadap Keppres yang sama. Jadi, siapa yang benar dan siapa yang salah?

Terus terang sulit juga menjelaskannya, karena kita bukan orang hukum. Terutama, Keppres yang dibuat, kalau tidak salah, di jaman pemerintahan Suharto itu, bahasanya juga tidak tegas dan tidak spesifik. Mudah sekali akan terjadi multi tafsir.

Pada Pasal 5 Kepres, disebutkan tugas dari Komisi Pengarah (Mensetneg dan tim) yaitu: a. Memberikan pendapat dan pengarahan kepada Badan Pelaksana (Pemprov DKI) dalam melaksanakan tugasnya; b. Memberikan persetujuan terhadap perencanaan beserta pembiayaan.

Komisi D beranggapan bahwa poin di atas mewajibkan Pemprov untuk meminta persetujuan, pendapat dan pengarahan dari Setneg. Namun Pemprov memaknainya sebagai opsi kalau diminta saja, baru Setneg akan memberikan persetujuan, pendapat atau pengarahan.

Yah, wajar juga memang semua menjadi tidak jelas. Kalau kita mau tanya sama pembuat Keppresnya, mau tanya ke mana juga? Sulit menentukan siapa benar siapa salah, sebelum ada kajian hukum dari yang memahaminya. Sementara anggap saja Keppresnya yang salah. Hahaha.

Lalu, kalau begini, bagaimana kelanjutannya?

Sudah, biarkan saja Anies beserta jajarannya dengan keyakinannya, dan biarkan pula Komisi D beserta timnya dengan keyakinannya. Kita sebagai yang awam, cukup yakin saja bahwa Monas dan Jakarta akan kembali asri dan sejuk, pohon-pohon area Monas akan rindang kembali, nanti, saat Ibu Kota sudah benar-benar dipindah ke Kalimantan.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

SUP CORONA

Bukan perang, bukan bom nuklir, bukan tumbukan asteroid yang kini ditakuti dunia. Tapi makanan, penyakit dari santapan.

Awalnya dari Wuhan, kota berpenduduk 11 juta jiwa di Provinsi Hubei, China. Kota ini diisolasi sejak kemarin. Warganya dilarang meninggalkan kota, transportasi umum seperti bis kota, kereta bawah tanah, kapal feri, bis antarkota. Seluruh penerbangan dan pemberangkatan kereta api dari Wuhan dibatalkan.

Itu dampak ketakutan manusia terhadap virus Corona, penyakit mematikan yang belum ditemukanpenyembuhnya. Sejauh ini, lebih 600 orang terjangkit Corona di China, 25 di antaranya meninggal dunia. Yang membuat kota Wuhan diisolasi, penyebaran Corona sudah mencapai negara-negara lain seperti Thailand, Hongkong, Macau, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Amerika, dan Vietnam.

Dari mana virus itu? Ya dari Wuhan, dari selera purba manusia menyantap hewan unik. Meski masih harus dibuktikan lebih jauh, virus Corona diduga menjangkiti seorang warga yang gemar menyantap sop hewan liar: sop kelelawar. Sop kampret. Makanan ini dijual di Pasar Huanan di Wuhan — pasar yang terkenal menjual aneka hewan liar dan tak biasa untuk disantap seperti rubah, anak serigala, beruk merah, unta, burung unta, koala, ular sampai landak. Dan kelelawar, tentunya.

Sebagian orang memang punya selera makan yang aneh. Saya ingat suatu malam di kota Guangzhou. Saya menginap di Hotel Mandarin, tak jauh dari tepian sungai Mutiara. Suatu malam bersama beberapa kawan, kami mampir di restoran seafood di belakang hotel. Baru melangkah masuk, sebuah pemandangan mengejutkan terpampang di balik etalase: monyet panggang dan buaya yang separuh badannya sudah dikuliti dipajang sebagai menu andalan.

Ada pengunjung yang menelan air liur, ada juga yang hampir muntah dan menahan rasa ngeri. Saya mengundurkan langkah pelkan-pelan dan berjalan kembali ke hotel, mencari sepotong roti.

Dan kini, dari selera unik seperti itulah, lahir Corona. Berpindah dari hewan menjadi penyakit mematikan pada manusia, lalu yang ditakutkan datang: virus ini ternyata bisa menular antarmanusia.

Wabahnya mengingatkan kita tentang SARS yang juga pertama kali muncul di China pada tahun 2002, lalu menyebar dan menyebabkan kematian ratusan orang di berbagai belahan dunia. Ada juga virus MERS, Ebola, Anthrax dan lain-lain yang timbul tenggelam, bahkan HIV/AIDS yang sudah menjangkiti seluruh kawasan di dunia.

Hampir seluruh penyakit aneh dan mematikan ini lekat dengan cerita asal muasalnya: dari hasrat purba manusia menyantap hewan yang tidak lazim sebagai makanan.

Begitulah. Semoga negeri kita yang kaya dengan beras, sagu, jagung, ikan mas, tongkol, ayam kampung, kangkung dan rebung, terlindung dari marabahaya. Terlalu banyak pintu masuk ke negara kepulauan ini. Ancaman yang datang bukan tentara asing, tapi virus yang mengendap di tubuh manusia yang berkunjung dan harus disambut penuh keramahan.
.
.
.
Tomi Lebang

fb KataKita

Posted in Berita, Informasi Kesehatan | Leave a comment

YESA SANG WARRIOR KANGKER ITU MELOMPAT BAHAGIA

Oleh: Birgaldo Sinaga

Tidak terasa mata saya berkaca2. Menjadi buliran. Jatuh. Jatuh begitu saja.

Kemarin malam. Di studio Kick Andy Show. Kedoya. Saya hadir menemani Yesaya Fermindi Hohu yang akrab dipanggil Yesa.

Yesa seorang pejuang kanker. Kankernya sudah stadium IV. Sudah menyebar ke seluruh organ tubuh. Kelenjar Getah Bening, Rahim, Tulang, Payudara, Otak. Semua kena. Sejak 2014 lalu.

Beberapa bulan lalu Yesa chat saya di inbox. Sebelumnya saya tidak mengenalnya sama sekali. Ia follower saya. Ia bilang mengagumi saya. Lalu ia cerita sedikit perjuangannya melawan penyakit kanker.

Saya berjanji menemuinya. Saya pikir Yesa tidak lama lagi umurnya. Mana tahu itu permintaan terakhirnya sebelum Tuhan memanggilnya. Saya ingin menghibur dan memberinya kekuatan.

Janji itu saya tepati. Beberapa bulan lampau, saya datang menemuinya. Di Bumi Serpong Damai saat Yesa sedang berjualan kacamata.

Saya bawa gitar. Untuk menghibur Yesa, saya ajak ia bernyanyi. Lagunya berjudul Cinta Yang Tulus dari The Rollies. Saya berusaha membuatnya bahagia. Dan kamipun bernyanyi bersama. Di pinggir jalan. Di lapaknya.

Sepulang dari sana, saya tulis kisahnya. Tentang perjuangan hebatnya m melalui masa2 sangat berat melawan kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya.

Dan yang teristimewa perjuangannya untuk hidup menghidupi kehidupan sesama teman2 senasib sepenanggungan kanker.

Tulisan itu viral. Banyak orang terinspirasi dengan Yesa. Dibaca juga oleh teman2 Kick Andy Show.

Seminggu lalu Yesa dapat chat dari tim Kick Andy. Ia diundang menjadi narasumber. Yesa diundang sebagai sosok yang sangat menginspirasi banyak orang.

Yesa memberitahu tawaran Kick Andy itu pada saya. Ia bertanya pada saya apakah menerima atau tidak.

Saya jawab harus diterima. Pesan kekuatan cinta dan perjuangan Yesa menolong banyak orang itu harus dibagikan ke banyak orang. Kick Andy salah satu program yang sangat menginspirasi. Jutaan orang penontonnya.

Yesa akhirnya setuju. Ia menerima undangan Kick Andy.

Tadinya saya tidak akan hadir di sana. Saya sedang di Batam. Tapi last minute saya berubah pikiran. Yesa harus saya temani. Ia ingin saya hadir.

“Ya Tuhan…terimakasih..terimakasih. Bang Andi..doa saya terkabul. Ada seseorang yang meminta kaki palsu pada saya. Nilainya sekitar 15 juta. Akhirnya bisa saya belikan”, ucap Yesa terbata2 sambil melompat kegirangan saking gembiranya.

Saya dan ratusan penonton ikut larut dalam kegembiraan Yesa. Perasaan saya campur aduk. Mau nangis dan tertawa bersamaan. Saking haru dan bahagianya.

Yesa menangis. Ia memalingkan wajahnya ke belakang. Ia malu tersorot kamera. Ia tidak mau terlihat cengeng.

Yesa terus memegang sekeping kertas yang bertuliskan ” Apresiasi dari BUMN PT Telkom senilai Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Ia gembira sekali. Matanya berbinar2.

“Bang Bir…terimakasih ya”, bisiknya lembut saat saya memeluknya erat.

Kami berpisah. Yesa pulang bersama anak semata wayangnya bersama saudara2 dan teman2nya ke Tangerang.

Saya juga pulang. Pulang dengan hati bahagia.

Yesa memang luar biasa. Ia bahagia bukan karena mendapat 50 juta yang menjadi miliknya. Ia bahagia karena dengan uang itu Yesa bisa menolong orang lain yang lebih membutuhkan.

Terimakasih Yesa untuk setiap cinta tulusmu bagi sesama…

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga & fb

Posted in Berita | Leave a comment

KENAPA SOEHARTO MELARANG IMLEK ?

“Oke, silahkan kalian merayakan Imlek..”

Begitu spontan kata Gus Dur saat menjabat Presiden kepada Budi Tanuwibowo. Rohaniwan Konghucu ini kaget luar biasa saat Gus Dur berkata seperti itu.

Gimana gak kaget, puluhan tahun Imlek dilarang oleh Soeharto dirayakan ditempat terbuka. Bahkan Soeharto menerbitkan Inpres untuk itu, no 14 tahun 1967.

Kenapa dulu Soeharto melarang Imlek ?

Menurut buku “Chinese Indonesian Reassesed” (2013), Soeharto menganggap bahwa imlek adalah budaya Cina dan itu bisa mempengaruhi psikologis rakyat Indonesia.

Ini bisa jadi langkah politik dari Soeharto dalam menimbulkan ketakutan terhadap negara Cina. Apalagi sesudah kejadian G30/SPKI, dimana disebut2 negara Cina berada dibelakang partai Komunis itu.

Selain melarang imlek, Soeharto juga melarang penggunaan kata “Tiongkok dan Tionghoa” sebagai pengganti kata Cina. Soeharto sudah membangun tembok tebal di masyarakat antara “pribumi” dan “Cina”, melalui perbedaan ras dan agama.

Dan ini akan menjadi senjata ketika ia merasa terancam kedudukannya. Tragedi 98 adalah buah dari kebijakan itu.

Menariknya, disisi lain Soeharto banyak mempermudah etnis China berdagang dan mengambil keuntungan darinya.

Gus Dur pun mencoba mengubah pandangan akan perbedaan itu, supaya tidak ada yang memanfaatkan untuk kepentingan politiknya. Tanggal 17 Januari, ia menerbitkan Keppres no 6 tahun 2000. Dan sejak itu, perayaan Imlek terjadi dimana-mana dengan maskot barongsainya.

Langkah berani Gus Dur pelan-pelan menghapus kecurigaan akan etnis Tionghoa di Indonesia dan mengubur pelan-pelan konsep pribumi di Indonesia. Gus Dur ingin membangun persatuan Indonesia diatas suku, ras dan agama.

Gus Dur lah yang berjasa membongkar semua perbedaan itu. Dan sepatutnya dalam Imlek ini, mereka yang merayakan turut memasukkan nama Gus Dur dalam doa kebaikan.

Meskipun masih ada beberapa orang jadoel yang masih sibuk mempermasalahkan Cina dan Pribumi, tetapi secara luas apa yang dilakukan Gus Dur, berpengaruh terhadap hubungan persaudaraan kita tanpa membedakan apa ras, etnis dan agama kita.

Karena sejatinya manusia itu sama dihadapan Tuhan, hanya amal dan perbuatannyalah yang membedakan.

Alfatihah untuk Gus Dur dan selamat merayakan Imlek untuk saudara sebangsa yang sedang merayakannya.

Seruput kopinya..

Denny Siregar & fb

Posted in Berita | Leave a comment

SAAT PEREMPUAN IRAN RAMAI-RAMAI MELEPAS HIJAB

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Peribahasa ini mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia dan Iran saat ini terkait cadar, hijab, dan jilbab. Di Indonesia, sejak beberapa hari lalu, lebih tepatnya UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dirundung dengan permasalahan cadar. Permasalahan yang memicu polemik di jagat nyata maupun maya.

Cadar, bagi sebagian pihak, dikatakan wajib karena berdasarkan keyakinan. Sedangkan pihak yang lain mengatakan bahwa cadar adalah tradisi Arab yang sesungguhnya tak elok jika dibawa ke Indonesia.

Selain itu, polemik cadar terkait dengan adanya indikasi bahwa perempuan yang menggunakan cadar adalah mereka yang terkena virus radikalisme. Virus tersebut dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk bagi bangsa Indonesia. Meski menuai pro-kontra, larangan penggunaan cadar akhirnya dicabut dan cadar tetap diperbolehkan dikenakan di kampus tersebut.

Lalu, bagaimana dengan Iran? Di Iran justru mengalami polemik sebaliknya. Sejak akhir 2017 hingga Maret ini para perempuan beramai-ramai melepaskan hijab. Caranya, dengan menarik perhatian publik, mereka melepas hijabnya di taman dan kemudian menggantungkannya di atas pohon. Tak lupa mereka mengunggahnya ke media sosial masing-masing.

Selain itu, ada pula perempuan yang melakukan atraksi dengan melepaskan hijabnya di dalam mobil. Kemudian, dengan menggunakan tongkat, ia kibarkan jilbabnya di kaca depan mobil setelah sebelumnya berkata dalam sebuah video,

“This is my flag of freedom. As an Iranian women, I like to choose what I want to wear.”

Tentu saja beredarnya video dan foto-foto tersebut menuai reaksi keras dari pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Beliau mengatakan bahwa sikap dari para perempuan tersebut sangat berlebihan. Bahkan, Khamenei tak segan mengatakan bahwa Islam telah menghalangi gaya hidup yang demikian.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang membuat para perempuan Iran melakukan sikap demikian? Membuang-buang hijab di ruang publik dan mengunggahnya di media sosial.
Faktor Sejarah

Berkaca dari masa lampau, peraturan hijab justru hadir saat kemenangan Revolusi Iran pada 1979. Saat itu Ayatulloh Khomeini mewajibkan kepada seluruh perempuan untuk mengenakan hijab di ruang publik. Ini berbanding terbalik ketika Reza Pahlevi yang memimpin di tahun 1930an. Ia justru melarang penggunaan hijab sebagai salah satu bagian dari modernisasi.

Entah apa yang melandasi Khomeini menerapkan peraturan baru di tahun tersebut. Namun, yang jelas, peraturan tersebut tak langsung dilaksanakan oleh para perempuan Iran. Malah pada 8 Maret 1979 mereka melaksanakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut membatalkan kebijakan Khomeini yang dinilai kontroversial.

Merunut sejarahnya, protes perempuan Iran terhadap masalah hijab bukan terjadi sekali saja. Bahkan mungkin berulang kali, hanya saja isu tentang permasalahan hijab masih kalah dibanding isu nuklir maupun isu embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran. Menurut Janet Afary dalam bukunya, Sexual Politics in Modern Iran, kebijakan negara yang terlalu mentekstualisasikan Islam tidak menghadirkan kenyamanan ekonomi bagi rakyat Iran. Bahkan, gagasan-gagasan yang hadir melalui hukum Islam justru menyebabkan perempuan kurang berkembang.

Ada bentuk patriarki yang menyulitkan perempuan untuk menciptakan tatanan ekonomi maupun sosial politik. Selain itu, kebebasan untuk mengemukakan pendapat selayaknya laki-laki bagi perempuan ‘agaknya’ dikekang. Ia mencontohkan pada tahun 2005, ada jurnal daring Zanestan yang mengampanyekan hak-hak perempuan dalam keluarga ataupun pernikahan. Jurnal tersebut ingin mengakhiri adanya penindasan dan intimidasi terhadap perempuan.

Namun, yang terjadi adalah jurnal mereka ditutup oleh pemerintah. Tidak hanya itu, sekitar Januari 2008, sebuah majalah feminis yang telah berdiri selama enam belas tahun, yaitu Zanan, ditutup juga oleh pemerintah. Padahal majalah tersebut telah mengklaim dan menyebarkan virus baik dari zaman kegelapan menuju zaman pencerahan perempuan.

Yang terbaru bahkan Presiden Rouhani sampai memohon pimpinan tertinggi untuk melonggarkan aturan sosial tentang hijab. Permohonan tersebut mengacu pada laporan di tahun 2014 bahwa setidaknya 49,8% perempuan Iran menganggap bahwa penggunaan hijab menjadi milik pribadi. Uniknya, Rouhani tak menyampaikan laporan terkini dan yang diungkapkan adalah laporan pada saat ia tak menjabat sebagai presiden.

Korupsi Moral

Solidaritas yang telah diungkapkan pada saat Hari Perempuan Internasional 2018 mungkin tak bisa mengajak, bahkan mengubah, pandangan ulama terhadap perempuan Iran. Bagi mereka, sudah jelas bahwa sebagai Republik Islam Iran, penggunaan hijab adalah sesuatu yang sifatnya wajib. Tidak ada kompromi apa pun, termasuk peristiwa penangkapan tiga puluh perempuan pada akhir Desember 2017.

Menariknya adalah, pemberlakuan hukuman dua tahun penjara bagi perempuan jika terbukti melepaskan jilbab di ruang publik. Hukuman yang cukup aneh karena dakwaan yang boleh dibilang unik. Salah satu perempuan yang mengalaminya adalah Narges Hosseini. Ia telah dijatuhi hukuman dua tahun dengan dakwaan “mendorong korupsi moral”. Tentu ini dakwaan yang menggelikan.

Andaikan dakwaan tersebut diberlakukan di Indonesia, mungkin bukan perempuan yang terkena jeratan hukuman tersebut, melainkan laki-laki yang mengklaim diri ulama, dan sedang bermigrasi ke tempat yang lebih aman, namun melakukan korupsi moral. Bedanya jika perempuan di Iran dianggap mendorong korupsi moral, maka laki-laki itu justru menolak korupsi moral.

Moral memang layak diperdebatkan, namun alangkah eloknya negara tak mengambil alih untuk mengurus masalah pribadi seseorang. Iran seharusnya mawas diri untuk lebih baik memperbaiki kondisi perekonomiannya. Begitu pula dengan negara tercinta kita, Indonesia.
sumber: geotimes.co.id
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment