YEL-YEL BERSENTIMEN SARA DI PELATIHAN PRAMUKA, ‘BUKTI EKSTRAKURIKULER PINTU MASUK PAHAM INTOLERAN’

Yel-yel bersentimen suku, agama, ras dan antar golongan atau SARA yang muncul dalam kegiatan Pramuka di sebuah sekolah dasar di Yogyakarta dinilai pengamat menguak tren ekstrakurikuler sebagai pintu masuk toleransi di kalangan pelajar.

Pengurus pusat Pramuka di Jakarta menyebut kasus tersebut bersifat orang per orang. Mereka mengklaim, secara prinsipil Pramuka mendidik pelajar untuk bersifat inklusif dan berbaur dalam perbedaan.

“Islam, Islam, yes. Kafir, kafir, no.”

Begitulah penggalan lirik kontroversial ‘tepuk anak saleh’ yang dinyanyikan di SD Negeri Timuran, Yogyakarta, 10 Januari lalu.

Yel-yel itu dipersoalkan publik karena nadanya serupa dengan ‘Tepuk Pramuka’.

Yang mengajarkannya pun adalah peserta kursus pembina Pramuka pada tingkat lanjutan.

Meski begitu, Wakil Kepala Humas Kwartir Nasional Pramuka, Berthold Sinaulan, menyebut yel-yel itu tidak mencerminkan sikap lembaganya.

Ia mengatakan nyanyian itu bukan materi yang diterima pembina Pramuka selama proses pelatihan.

Mengakui yel-yel tersebut menyinggung sentimen agama dan berpotensi memicu sikap intoleransi anak, pimpinan pusat Pramuka berjanji menjatuhkan hukuman pada pembina yang menganjurkan “tepuk anak saleh”.

“Ini kasuistik. Dalam kursus sudah ditekankan soal Pancasila dan ragam permainan iklusif. Kami tidak tahu kenapa dia begitu. Itu bukan tepuk Pramuka,” kata Berthold via telepon kepada wartawan BBC News Indonesia Abraham Utama, Selasa (14/01).

“Tentu ada sanksi. Ada dewan kehormatan yang akan menyelidiki sesuai aturan. Bisa saja ijazah kursusnya nantinya ditangguhkan,” ujar Berthold.

Yel-yel kontroversial itu sejak awal pekan ini dikutuk sejumlah pejabat dan tokoh publik, dari Menko Polhukam Mahfud MD, Gubernur DIY, Sultan Hamengkubuwono X, hingga Kiai Haji Mustafa Bisri.

DPRD Yogyakarta juga memanggil pengurus pimpinan Pramuka di provinsi itu untuk menjelaskan kasus dan tindak lanjut terhadapnya.

Menurut Direktur Maarif Institute, Abdul Rohim Ghazali, kejadian di SD Negeri Timuran itu mencerminkan fenomena umum ekstrakurikuler sebagai medium penyemai intoleransi di kalangan pelajar.

Merujuk hasil survei yang dilakukan Maarif Institute selama tahun 2017 di enam provinsi, aktivitas di sekolah setelah jam belajar-mengajar kerap disusupi paham intoleransi, bahkan radikalisme.

Rohim mengatakan pengawasan dan pencegahan hanya efektif dilakukan orang tua.

Alasannya, kata dia, guru dan kepala sekolah selama ini permisif dan bahkan kerap menerbitkan kebijakan yang antikeberagaman.

“Kepala sekolah harus mengawasi dan bertanggung jawab sepenuhnya. Persoalannya, intoleransi itu justru biasanya masuk lewat kebijakan kepala sekolah, menurut riset kami,” ujar Rohim.

“Misalnya soal pemisahan tempat duduk antara siswa laki-laki dan perempuan sampai kewajiban berjilbab.”

“Orang tua punya peran paling besar. Seperti yang terjadi di Jogja, kasus itu kan bermula dari protes orang tua,” ujar Rohim.

Bagaimanapun, walau diklaim kasuistik, pembenahan dalam tahap pengawasan dan pencegahan dianggap penting dilakukan Pramuka secara menyeluruh.

Apalagi, kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Retno Listyarti, Pramuka merupakan ekstrakurikuler yang wajib di tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 63/2014 menyatakan bahwa pendidikan kepramukaan merupakan ekstrakurikuler wajib dalam kurikulum 2013.

“Pramuka adalah ekskulurikuler wajib, setiap anak wajib mengikuti ini bahkan ini menentukan kenaikan dan kenaikan kelas,” ujar Retno.

“Ekstrakurikuler lain sifatnya opsional. Jadi nilai keberagaman dalam Pramuka harus dijaga, bahkan harusnya menjadi contoh penyemaian nilai kebangsaan,” kata dia.

Hingga berita ini diturunkan, pimpinan Pramuka telah meminta maaf atas yel-yel yang muncul di SD Timuran, Yogyakarta.

Mereka berjanji menindaklanjuti persoalan tersebut secara internal.

Pada Hari Pramuka ke-58 di Jakarta, 14 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo menyatakan Pramuka mampu melebur perbedaan suku dan agama.

Dalam kegiatan Pramuka juga, kata Jokowi, anak-anak dan remaja Indonesia diharapkan menumbuhkan semangat mencintai sesama dan lingkungan.
sumber: bbc
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

KETIKA ANIES NGUMPET DI BAWAH KETIAK FAHIRA IDRIS DAN BANG JAPAR SAAT DIDEMO

Niha Alif-Demo hari ini yang diprakarsai Permadi Arya, Dewi Tanjung dan beberapa pengacara yang menuntut Anies terkait banjir (class action) harus berakhir tragis. Bagaimana tidak, sekumpulan massa penjilat Anies yang diketuai Fahira Idris dan ormas Bang Japar lantang menghadang. Mereka tak hanya menghalau warga yang berdemo di Balaikota, lemparan botol minum, cacian hingga spanduk untuk mengusir keluar Jakarta dikeluarkan. Sayangnya Anies sendiri berlagak amnesia dan membiarkan demokrasi di Jakarta dikoyak para penjilatnya.

Ormas Bang Japar sendiri didirikan oleh senator jahat, Fahira Idris untuk mengawal putaran kedua Pilkada DKI 2017 lalu. Sayangnya pasca Pilkada ormas ini tak dibubarkan malah terus dipelihara untuk meminta balas jasa.

Bahkan Fahira Idris tanpa sungkan meminta Anies melibatkan Bang Japar dalam setiap program Pemprov DKI. Seperti program OK OCE tapi nyatanya tak membuahkan hasil hingga saat ini. Hingga santer kabar parkir lahan di DKI juga dikuasai ormas Bang Japar. Kelakuan mereka yang meminta-minta proyek sangat mencoreng demokrasi dan lebih memalukan ketimbang rengekan Ketua Projo kemarin. Itu karena Bang Japar meminta untuk semua anggotanya.

Bang Japar yang berisi kumpulan Jawara Betawi dan pengacara ini juga rentan dengan premanisme seperti halnya FPI. Makanya saat demo hari ini kepolisian meminta warga yang mendemo Anies untuk mengalah ke patung kuda agar tak terjadi gesekan yang berujung tindakan anarkis.

Sayangnya gubernur yang dipuja Aa Gym sebagai gubernur paling beruntung tak memiliki nyali menemui warganya sendiri. Alih-alih mendatangi massa seperti Jokowi yang mendatangi massa 212, Anies justru ngumpet ketakutan di bawah ketiak Fahira Idris dan Bang Japar.

Julukan gubernur terbodoh, pembohong, kini harus ditambah lagi yakni gubernur paling pecundang. Hingga saat ini tak ada keterangan apapun dari Anies terkait demo terhadap dirinya. Saya masih menunggu berita keberadaan Anies. Padahal sudah ada KPK DKI, kumpulan TGUPP, tapi Anies masih saja ngumpet dibalik Fahira Idris. Memalukan.

Masih ingat saat demo menuntut Jokowi untuk memproses hukum Ahok beberapa tahun lalu? Saat demo pertama Jokowi tak menemui mereka lantaran terjebak macet dan diberi tahu ada yang menunggangi massa. Kubu sebelah lantas memainkan isu Jokowi penakut dan sebagainya. Akhirnya saat demo massa terbesar 212, Jokowi hadir meski sempat dicegah. Jokowi menguasai panggung dan menghempaskan pamor Rizieq seketika.

Padahal saat itu beritanya demo massa akan dikerahkan untuk melengserkan Jokowi dan massa yang dihadapinya jumlahnya fantastis. Tapi dia tak gentar sedikitpun menemui rakyatnya. Karena bagi Jokowi rakyatnya adalah seluruh rakyat Indonesia, baik pendukungnya atau pembencinya. Sifat kesatria Jokowi inilah yang jarang dimiliki pemimpin.

Berbeda jauh dengan sikap Anies hari ini yang ketahuan pengecut dan rasis terhadap warga DKI. Terhadap pendukungnya dia gercep mendatangi, giliran ada yang kontra langsung lari bersembunyi. Mentalitas pecundang seperti ini mau memimpin Indonesia? Bisa hancur negeri kita.

Semoga ramalan yang menyatakan kalau Jakarta akan dipimpin wanita tegas segera menjadi kenyataan. Setidaknya Anies tak memiliki posisi politis lagi. Dan semoga kasus dugaan korupsinya segera diusut KPK. Dari saat menjabat Mendikbud hingga kini saat jadi Gubernur. Untuk itu Firli sebagai Ketua KPK baru hendaknya melakukan bersih-bersih internalnya terlebih dahulu. Dia harus menyingkirkan komplotan Novel yang suka tebang pilih menangani kasus dan membocorkan penyidikan ke media Tempo.

Kalau internal KPK kembali ke fitrahnya, rasanya tak susah mengusut dugaan korupsi nyata di Ibukota. Setelah banjir, bukannya menyiapkan ganti rugi pada warganya, Anies malah mengucurkan dana pengadaan TOA senilai 4 milyar. Ini benar-benar kekurang ajaran gubernur Anies. Di mana hati nurani dan akhlaknya? Kalau gubernurnya saja sedemikian parah apalagi anak buahnya. Belum lagi pendukung fanatik butanya.

Tapi saya yakin Anies kini hanya menunggu giliran menuai karma perbuatannya. Kalau bisa sebelum 2022 ia sudah terciduk memakai rompi orange. Anies bukan hanya dzalim pada warga DKI tapi juga merusak kota Jakarta dengan sengaja. Uang rakyat dihamburkan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Giliran warganya menjerit, mencari sesuatu untuk disalahkan hingga tak segan memainkan isu SARA. Anies tak cocok jadi gubernur bahkan lurah, Ia cocoknya menemani Pandji bermain kata.

Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

DRAMA KPK-TEMPO TERMEHEK-MEHEK, TAPI GAGAL VIRAL, INI PENYEBABNYA

Alifurrahman-Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum, kalau Tempo punya kerjasama dengan KPK. Itulah sebabnya Tempo selalu mendapat bocoran informasi. Tempo ini udah kayak PR nya KPK. Entah apakah ada bayarannya atau seikhlasnya.

Terkait penangkapan OTT terhadap komisioner KPU, Tempo begitu konsisten mengejar Hasto. Di majalah Tempo, dalam cerita investigasinya, Hasto disebut bersembunyi di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Kemudian dengan sangat menarik dan penuh intrik, disebut juga bahwa anggota KPK dihalang-halangi, digeledah oleh Polisi.

Cerita drama tersebut mencuat seperti biasanya. Terkesan ingin membenturkan lagi antara Polisi dan KPK. Hasto dicitrakan sedang dilindungi oleh Polisi. Sementara KPK dicegat dalam tugas, sehingga gagal menangkap Hasto.

Tapi entah kenapa kombinasi antara Tempo dan KPK kali ini kurang mendapat perhatian. Padahal ceritanya sudah cukup termehek-mehek, yang nyeburin hape ke air lah, yang tim KPK niat mau shalat di PTIK lah. Kombinasi yang cukup keren, sudah seperti film-film barat. Pun sudah memenuhi unsur emosi SARA. Tapi apa daya, publik terlihat acuh dan malas menanggapi.

Lalu pertanyaanya, kenapa bisa begitu? kenapa serangkaian cerita bombastis dan termehek-mehek, tak mampu menjaring emosi masyarakat? Apakah karena KPK sudah terlanjur dipandang sebelah mata? yang banyak kadrunnya dan sangat politis?

Mungkin sekilas, entah kebetulan atau tidak, KPK memang terlihat sangat politis. Memaksakan OTT, padahal lebih pantas disebut OTW, di saat PDI Perjuangan sedang mempersiapkan HUT yang ke 46. Tempo dan dayang-dayangnya juga terlihat sangat memaksakan diri untuk bisa menjangkau Sekjen PDIP.

Selain itu, sebenarnya ada satu narasi bantahan yang sangat luar biasa. Yang membuat semua drama termehek-mehek KPK di Tempo jadi hambar dan tak menarik lagi. Yakni pernyataan Djarot yang menyebut Hasto sedang diare atau mencret, saat ditanya kenapa tidak hadir di geladi resik Rakernas dan HUT.

Sontak tim hastag dan sorak sorai di twitter seperti mendapat umpan lambung. Mereka serentak menaikkan hastag #HastoMencret. Tertawa terbahak-bahak, sudah merasa menang dengan aneka ledekan dan caciannya. Padahal sejatinya mereka dibuat mabuk dengan satu pernyataan Djarot. Sehingga lupa untuk mengolah cerita termehek-mehek yang sudah disusun begitu rapi oleh Tempo.

Selain itu, keesokan harinya, Hasto datang dalam pembukaan HUT dan pameran kebudayaan. Hasto terlihat begitu tenang menanggapi segala cerita bombastis yang beredar. Beliau bilang begitu sibuk mempersiapkan acara Rakernas dan HUT. Selanjutnya mendukung upaya penindakan kasus korupsi.

Tak ada amarah. Tak ada bantahan yang berlebihan. Semua disampaikan begitu datar dan biasa saja. Tapi justru di situlah kekuatan sebuah bantahan. Hasto yang diberitakan dilindungi oleh Polisi, sembunyi di PTIK dan sebagainya, sehingga tim KPK gagal menangkap, nyatanya hadir di ruang publik dengan santai dan tanpa pengawalan.

Dengan begitu, otomatis publik menilai, bahwa cerita gagal menangkap Hasto dan sebagainya itu hanya omong kosong. Sinetron murahan ala KPK.

Maka wajar kalau kemudian, cerita selanjutnya, terkait gagalnya KPK menggeledah kantor DPP PDI Perjuangan, juga jadi kurang mendapat perhatian publik. Ya gimana lagi? Publik sudah tidak percaya dengan cerita termehek-mehek Tempo sejak awal, yang katanya gagal menangkap Hasto dan dihalang-halangi. Ada logika sederhana yang tidak nyambung. Sehingga cerita Tempo selanjutnya juga otomatis diabaikan.

Entah apakah sengaja meledek KPK, atau memang pengakuan jujur Djarot soal Hasto sakit diare, tapi pada intinya saya melihat satu pernyataan tersebut sukses menjadi umpan lambung yang memabukkan. Yang membuat lawan lupa dengan tujuan awal. Hahaha

Apalagi belakangan ini Abraham Samad ikut berkomentar. Yang mengatakan bahwa OTT tanpa penggeledahan tidak sesuai SOP dan memungkinkan untuk penghilangan barang bukti. Semakin terang dan jelaslah ingatan publik terkait Samad.

Seseorang yang dulu mengemis pada Hasto, meminta agar bisa dijadikan Cawapres Jokowi. Dan setelah gagal, lalu sakit hati dan menggunakan KPK untuk menjatuhkan status tersangka pada Budi Gunawan.

Mungkin Abraham Samad berpikir dirinya masih menarik perhatian publik. Padahal nyatanya kita masih ingat betul dengan tingkah polahnya. Sehingga pernyataannya justru membuat publik semakin jengah, dan berkesimpulan bahwa dendam Samad pada Hasto dan PDIP masih belum selesai. Begitulah kura-kura.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

JATI DIRI BANGSO BATAK BKN AGAMANYA TP KEBATAKANNYA!

Si edy bkn orng BATAK.
Apakah BATAK perlu edy?
Sy pribadi tdk!
Apakah edy lbh hebat dr orng BATAK? Tidak!
Lalu mengapa edy mau menggurui orng BATAK DNG WACANA; ” WISATA HALAL- MUSNAHKAN TERNAK BABI- MENIADAKAN FESTIFAL DANAU TOBA !!!”

Pola pikir edy ini hrs dilawan secara frontal jng di halusin.
Sampai saat ini sy blm dengar dan blm tau apa program edy secara khuSus untuk kemajuan BANGSO BATAK.

SI edy perlu tau, sebelum dia jd tentara sdh banyak BANGSO BATAK jdi tentara, sebelum dia jd jenderal sdh Banyak BANGSO BATAK JD JENDERAL. Sebelum dia jd gbernur sdh banyak BANGSO BATAK JD GUBERNUR.
Dan dia blm pernah jd mentri , BANGSO BATAK sdh banyak yg jd mentri

Mungkin jg tdk lama lg jd presiden ada dr BANGSO BATAK jika permainan politik bs fair.

Jd seharusnya edy bertanya kpd TOKOH2 BANGSO BATAK JIKA INGIN MEMBUAT SUATU WACANA TERUTAMA YG BERHUBUNGAN DNG KEHIDUPAN DAN BUDAYA BANGSO BATAK.

TP itupun kl niatan edy murni ingin berbuat bg kemajuan BANGSO BATAK.

NAmun kl motifnya dendam, tdk suka atw sentimen agama dll…mohon maaf..krn BANGSO BATAK TDK MENCARI MUSUH DAN BANGSO BATAK TDK MUNDUR KRN INTIMIDASI.

KHUSUS TUK PERHELATAN TAHUNAN FESTIFAL DANAU TOBA
mari kita semarakan dng swadaya dan kemampuan BANGSO BATAK. terutama untk Para PEMKAB SEKITAR DANAU TOBA.

Selain acara budaya yg sdh rutin diselenggarakan, potensi2 BANGSO BATAK yg blm di expose, Panorama keindahan danau toba dll.. mungkin sdh perlu di tambahkan satu even lg yaitu..
“KULINER MAKANAN KHAS BATAK KHUSUSNYA YG BERBAHAN OLAHAN DAGING BABI MISAL; SAKSANG, PANGGANG, LOMOK2, BABI GULING, SATE BABI, BABI KECAP, DLL”

Oh ya seblm sy lupa…kl ada orng atw oknum pejabat yg benci dan dendam kpd BANGSO BATAK hanya krn agamanya yg mayoritas kristen, perlu anda ketahui BAHWA BANGSO BATAK LBH DAHULU ADA DI TANAH BATAK dr agama kristen itu sendiri.
Jd Agama bukan jati diri BANGSO BATAK melainkan KEBATAKAN itu sendirilah atw KEBANGSOAN BATAK itu sendirilah JATI DIRI ORNG BATAK.

NB;
perlu sy infò kan kpd sdr edy bhw tulisan ini dibuat olh masyarakt biasa yg terbatas dng ilmu pengetahuan..tp bg sy tdk sulit untuk tau apa yg baik bg sy sbg bagian dr BANGSO BATAK..dan apa yg coba mengusik jati diri kami BANGSO BATAK.

Dan perlu sdr edy ketahui ada RIBUAN PEMIKIR HEBAT BANGSO BATAK, PENGUSAHA HEBAT BANGSO BATAK, PENGACARA HEBAT BANGSO BATAK, PEJABAT HEBAT BANGSO BATAK,JENDERAL HEBAT BANGSO BATAK,BUDAYAWAN HEBAT BANGSO BATAK dan pribadi2 Hebat lainnya yg bisa menyurat kpd anda dan menuding telunjuknya kewajah anda sembari berkata; BANGSA BATAK TIDAK MEMBUTUHKANMU KL MOTIVMU MAU MERUSAK JATI DIRI BANGSO BATAK!!!

https://www.indonesiakininews.com/2020/01/gubernur-sumut-edy-rahmayadi-tiadakan.html?m=1

fb Townson Aritonang

Posted in Berita | Leave a comment

TEPUK PRAMUKA

Sri Sultan HB IX (alm) Bapak Pramuka pasti tidak akan mentolerir Pramuka semacam itu.. bukan jiwa Pramuka.. telah melanggar UUD’45, Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Tepuk Pramuka Rasis di DIY

[https://youtu.be/Bmfz_JAZi8c](https://youtu.be/Bmfz_JAZi8c?fbclid=IwAR2qZW5KixZOblPCGnPHpnTzPoRHSRF1I2iqeTFnNnR6LFPtwWTpQlggTBY)

“Baru tau saya ada pembina pramuka yang ngasih pembinaan ke anak SD Negeri dengan mengajarkan tepuk rasis.

Salah satu pembina mengajarkan tepuk Islam di mana di akhir tepuk ada yel-yel Islam Islam yes Kafir Kafir No.

Sebagai ortu siswa aku proteslah, ini nih biang kerok perpecahan dan penabur kebencian, ke-Bhinekaan Pramuka tercoreng oknum pembina berakal tumpul.

Awalnya semua bernyanyi normal aja, lalu tiba-tiba ada salah satu pembina putri masuk dan ngajak anak-anak tepuk Islam.

Saya kaget karena di akhir tepuk kok ada yel-yel “Islam Islam yes, kafir kafir No”.

Spontan saya protes dengan salah satu pembina senior, saya menyampaikan keberatan dengan adanya tepuk itu, karena menurut saya itu mencemari kebinekaan Pramuka.

Pembina senior itu menyampaikan permintaan maaf dan menyelesaikan dengan pembina terkait.

Dalam hal ini sekolah sama sekali tidak tahu menahu peristiwa ini karena ini pembina praktik dari kwarcab bukan sekolah, sekolah hanya ketempatan aja untuk praktik.

SDN Timuran sendiri termasuk open dengan keberagaman.”

Tanggapan Wakil Wali Kota Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Kota Yogyakarta yang juga Ketua Kwarcab Pramuka Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan bahwa

Klik dan Baca Lengkap

[http://indonesiahariini.id/…/islam-islam-yes-kafir-kafir-n…/](http://indonesiahariini.id/2020/01/13/islam-islam-yes-kafir-kafir-no-pada-kegiatan-pramuka-di-di-yogyakarta/?fbclid=IwAR1npfprQBEsxdAWfTm08FyiwN2sI3pM4yaOFg7NJyCgiR16NR8990DAH1s)

Opa Jappy | KANAL IHI

[K melihat (dan mendengar) seorang pembina Pramuka mengajarkan yel-yel berbau SARA. K ‘publikasikan’ temuan tersebut melalui WA. Menurut K, Senin 13 Januari 2…](https://youtu.be/Bmfz_JAZi8c?fbclid=IwAR0a8tNsP5JrAjJnz2egO0cjltYWJwR2zsHV9L7_Yp1onY6ahviGRKU2ql0)

fb Philip Hartono

Posted in Berita | Leave a comment

TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 3

Mpok Desy-Artikel ini penutup dari tulisan perjalanan liburan Natal penulis kemarin mencoba Tol Trans Sumatra. Heheh…ada pembaca yang mengatakan penulis kok curhat sih. Ehhm…sebenarnya nggak curhat, tapi bisa juga curhat. Kalaupun curhat tapi positip banget loh. Hehe… Berbagi pengalaman dan mengajak pembaca membuka mata lari kencang Presiden Jokowi untuk negeri ini. Makanya penulis namakan Tol Trans Sumatra dan Sejuta Cinta. Soalnya, memang semua yang dilakukan Jokowi ini atas nama cinta! Nggak percaya, baca deh lengkapnya dan pahami. Heheh…

Oiya, untuk yang mau ngikutin dari awal ceritanya, ini link dari artikel sebelumnya Link

Buat penulis menyusuri Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) kemarin berarti banget. Berkat JTTS nggak nyangka setelah sekian tahun bisa kembali ke Jambi, kota yang punya arti tersendiri untuk penulis. Takjub, membayangkan jika Pakhde Jokowi sempat menghubungkan dari ujung Barat hingga ujung Timur dan bahkan pelosok-pelosok negeri ini di periode terakhir kepemimpinannya. Semoga, Ya dan Amien.

Melenceng dikit, ambil contoh lainnya, penulis dan keluarga sudah mencoba Jalan Tol Trans Jawa (JTTJ) lumayan sering. Jangan tanya betapa mudah dan sering penulis ke Jogya gara-gara JTTJ. Yup, sekarang semua jadi berasa dekat banget! Bahkan bablas sampai Bali saja sudah 3 kali, dan cuma dalam hitungan 1 hari! Maksudnya pergi hari Jumat malam, dan Sabtu malamnya sudah di Bali! Lalu kemarin di akhir penghujung tahun 2019 gokil kita dihadiahi JTTS. Wuih…

Heheh…mungkin hari gini masih ada yang komentar, “Ah…apa hebatnya dengan tol trans. Biasa aja keles!” Cius, kasihan banget jika masih ada yang nggak tahu mengucap syukur. Menurut kacamata penulis kehadiran JTTS dan JTTJ mempunyai nilai banyak, yaitu:

Tanggugjawab Di dalam salah satu artikel penulis mengatakan jalan lintas Timur Palembang-Jambi sepanjang kebun kelapa sawit, dan jalan di dalam kota Jambi itu kebangetan hancurnya. Padahal ada pemerintah daerah. Capek hati kalau kita mengatakan minim dan nyaris tidak adanya tanggungjawab dari pejabat daerah ataupun wakil rakyat, padahal jelas APBD itu ada! Nggak jelas larinya kemana uang rakyat. Sementara penulis menyaksikan sendiri kerasnya kehidupan para pengemudi truk dan mobil pengakut logistik bertaruh nyawa menyusuri jalan kebun sawit Palembang-Jambi yang amat sangat buruk, gelap dan penuh lobang. Ironis banget dengan nyamannya para wakil rakyat. Intinya, seberapa pun banyak anggaran yang dimiliki tetapi jika peruntukkannya entah menguap yah sama juga bohong! Pun, termasuk perawatannya! Membangun tetapi tidak merawat itu sih pemborosan!

Percaya Diri dan Inovasi Mengagumi jajaran pohon sawit di sepanjang lintas Timur Palembang-Jambi dan Jambi-Pekanbaru. Teringat optimisme Jokowi menggenjot B50 (solar dengan campur minyak sawit 50 persen alias biodiesel 50) untuk segera maju menggeser B30. Membangun mimpi Indonesia mampu berdiri dengan bangga berjajar diantara bangsa besar lainnya. Diskriminasi Uni Eropa terhadap sawit Indonesia bukan berarti kita kehilangan nyali. Justru ini cambuk dan memutar balik buat Uni Eropa minder. Fakta Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, ngapain khawatir. Sekalian saja stop ekspor minyak kelapa sawit dan kita olah sendiri jadi biodiesel. Percaya, lambat laun Indonesia dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM sekaligus mengantarkan kelapa sawit berjaya sebagai komoditas primadona Indonesia di pasar global! Ini juga sekalian mengangkat kehidupan para petani sawit kita. Mantul banget khan!

Wisata dan Budaya Kehadiran JTTS dan JTTJ, juga tol trans antar daerah nantinya diharapkan mampu menggerakkan sumber wisata daerah setempat. Pengalaman di dalam perjalanan penulis hanya Lampung yang serius menggarap obyek wisatanya. Sangat disayangkan sekali tidak demikian dengan Palembang, Jambi dan Pekanbaru yang belum sepenuh hati. Padahal negeri ini terlalu kaya, jadi sangat disayangkan obyek wisata yang ada lebih fokus kepada yang buatan, dan bukan yang alami. Demikian juga dengan (maaf) penduduk setempat yang kurang komunikasi kepada pendatang. Terkesan cuek, asal jawab, atau sekalian menjawab tidak tahu, begitu pengalaman penulis ketika bertanya. Hehe…Beda banget dengan keramahan masyarakat Bali dan Jogya misalnya. Maklumin kok, mungkin karena bukan daerah tujuan wisata, meski pasti ada potensinya tetapi belum digali secara maksimal.

Ekonomi Kehadiran tol trans pastinya sangat menghemat bagi keluarga Indonesia. Jika dulu untuk ke Pekanbaru misalnya harus dengan pesawat, maka kini bahkan ke Medan saja sekalipun bisa sebagian lewat Tol Trans Sumatra! Ini juga menghemat biaya dan waktu pada logistik misalnya. Jika dulu harus lewat jalan biasa lebih lama, ataupun lewat laut. Maka kehadiran tol trans membuat semua dipersingkat sehingga biayapun dapat ditekan, dan perputaran ekonomi menjadi lebih baik.

Pendidikan Ada banyak yang bisa dipelajari anak Indonesia dengan kehadiran tol trans. Memberikan kesempatan untuk singgah antar kota satu dan kota lainnya, atau bahkan kesempatan menyusuri kebun kelapa sawit dan karet misalnya. Tidak hanya membuka mata anak Indonesia betapa kayanya Indonesia, tetapi mengajarkan juga menghargai kehidupan. Menyaksikan sendiri toleransi antar umat beragama, terselip di jajaran kebun kelapa sawit dan karet rumah ibadah berdiri berdampingan dengan harmonis. Melihat perjuangan pekerja kelapa sawit, keragaman kehidupan di perkebunan dalam arti agama dan etnis, juga kerasnya kehidupan pengemudi truk mencari nafkah untuk keluarganya melewati jalan-jalan rusak. Termasuk juga melihat bahwa malam sekalipun negeri ini tidak tidur. Lalu lalang mobil-mobil besar dengan berbagai muatan logistik justru makin ramai, artinya apa yang kita nikmati itu juga karena kerja keras orang lain. Mengajari mereka untuk mengucap syukur untuk apa yang dimiliki.

Keluarga Kehadiran tol trans tidak hanya menghemat, tetapi juga mengakrabkan dan menghadirkan cinta. Perjalanan membuat kita saling bantu dan dukung. Mengisi waktu di perjalanan dengan berbagi cerita. Mungkin tanpa disengaja kesibukan selama ini membuat ada yang terhilang. Rutinitas telah menjauhkan hubungan antara kakak dan adek, atau anak dan orangtua. Tetapi kebersamaan di perjalanan menjadi mendekatkan. Sebut saja di dalam artikel penulis sebelumnya mengatakan bekal nasi, teri sambal dan dadar telur di tempat istirahat (TI) nikmatnya pun jadi selangit loh! Heheh…hal sederhana yang mahal karena tidak bisa dinilai.

Tol Trans Sumatra, Tol Trans Jawa dan tol trans berikutnya nanti jangan dilihat hanya sebagai fisik infrastruktur yang dibangun di era pemerintahan Jokowi. Tetapi, harus melihatnya dalam gambaran yang lebih luas lagi! Buka mata, dan lihat disana ada mimpi, dan disana ada cinta! Tidak bisa kita mengharapkan satu Jokowi membangun, sementara yang lainnya menghancurkan. Miris banget ketika Jokowi berjibaku membangun, sementara masih ada wakil rakyat tega memakan uang rakyat. Apakah hanya Jokowi dan segelintir orang saja yang mencintai Indonesia, sementara sisanya parasit yang menggerogoti?

Indonesia ini negara besar, kita tahu itu. Ada banyak potensi yang bisa digali dan dikembangkan. Terlalu kurang dan tidak adil jika semua menjadi tanggungjawab Jokowi! Petik satu contoh sederhana saja bahkan tol trans saja mampu membangun kedekatan dan menghadirkan cinta didalam keluarga Indonesia! Nggak ngerti apakah ini termasuk yang diimpikan oleh Jokowi dulu, tetapi inilah dampak positip yang ada. Puji Tuhan pastinya!

Menyimpulkan tol trans memang tidak bisa dimakan karena memang tidak untuk dimakan. Buah dari kehadiran tol trans itulah yang kita makan, kita nikmati bersama! Nggak bisa kita pungkiri kehadiran tol trans jelas menghubungkan segalanya, baik itu ekonomi ataupun hubungan antara kita semua. Nggak hanya keluarga inti, tetapi juga sebagai satu keluarga Indonesia yang tersebar dari Barat hingga Timur dalam bingkai kebhinekaan.

Ini cinta yang abstrak dalam arti luas, hubungan sebagai orang Indonesia, mengenal satu dengan lainya, saling menghargai, dan saling dukung mengolah semua potensi yang ada untuk satu negeri yang kita cintai Indonesia.

Mengingatkan saja, malu dan apa kata dunia kalau hari gini saja kita masih belajar mencintai Indonesia! Mau sampai kapan hanya bisa lahir dan hidup di negeri ini tapi hanya numpang bernafas doang?

Terimakasih untuk pembaca yang mengikuti dari awal artikel liburan penulis. Mudah-mudahan ada berkat atau rejeki,yuk jangan lupa atur tanggal untuk liburan berikutnya cobain Jalan Tol Trans Sumatra ataupun Tol Trans Jawa yah. Jangan ngaku Indonesia, jika belum melihat eloknya negeri kita ini. Mantap!

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 2

Mpok Desy-Lanjut yah. Lanjut, lanjut ngapain penulis? Heheh…begini di artikel sebelumnya penulis cerita berlibur nyobain Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Kejutan manis Jokowi di penghujung akhir tahun 2019. Nah penulis tuh pindah-pindah dari satu kota ke kota lain sampai akhirnya mentok di Pekanbaru deh. Supaya klop ceritanya ini link dari artikel sebelumnya Link https://seword.com/sosbud/tol-trans-sumatra-dan-sejuta-cinta-part-1-IiNnsGHo7R

Pekanbaru Sip, sampailah penulis di Pekanbaru tanggal 27 Desember sekitar pukul 21.58 WIB, dan langsung mencoba kuliner setempat teh telor dan sate padang. Menariknya disini sate padang dan teh telur seperti sejoli. Keduanya selalu berdampingan ada dimana-mana. Setelah menikmati kuliner khas Pekanbaru penulis lalu keliling kota sekalian mencari penginapan.

Penulis kagum karena budaya Melayu masih kental sekali disini, terlihat sentuhannya pada keindahan kantor-kantor pemerintahan di kota ini. Juga nama-nama jalan yang dilengkapi tulisan Melayu dibawahnya. Mengingatkan penulis pada Kota Jogya dengan tulisan Jawa di setiap nama jalan. Tetapi, ada satu bangunan disini yang memiliki disain futuristik, yaitu Balai Pustaka Soeman Hasibuan (HS) yang dijuluki perpustakaan termegah di Indonesia. Sayangnya penulis tidak sempat mengambil foto langsung. Tetapi ini gambar yang penulis ambil dari goggle sangking penulis suka dengan disain futuristiknya.

Sayangnya menurut penulis tidak banyak obyek wisata yang alami menurut penurut penulis. Kebanyakan hanyalah obyek buatan. Entah karena informasi yang kurang, atau memang belum diolah dengan baik. Sehingga yang benar-benar penulis kunjungi adalah Masjid Agung An Nur yang bergaya keren seperti Taj Mahal di India itu loh. Tambah menarik sekaligus haru karena masjid indah ini berhadapan dengan Gereja HKBP Hang Tuah, dan gerejanya pun berdiri megah dengan sentuhan Melayu.

Nggak banyak yang penulis lakukan di kota ini selain keliling menganggumi kebersihan, kerapihan dan adat budaya yang kental. Termasuk juga mencoba kuliner ikan Kampar khas Pekanbaru dan kedai kopi jadul di sekitar Jalan Hang Tuah. Yup hanya 2 malam di kota ini dan pada 29 Desember penulis lanjut balik ke Jambi lewat jalan darat pastinya.

Jambi Kota Jambi memang sudah jauh berubah ketimbang waktu penulis pernah tinggal di kota ini. Puji Tuhan diijinkan kembali ke kota ini, mengulang semua kenangan masa kecil. Maklum ketika itu belum sempat pamit karena orangtua dipindah tugas ke Balikpapan. Uupps…napa jadi curhat penulis. Heheh…

Yup, Pembangunan Jambi memang kelihatan pesat sekali. Mungkin ada yang terhilang suasana Pasar Angso Duo di pinggir Sungai Batanghari yang kini berdiri sebuah Mall. Maaf, tetapi jadi kelihatannya semerawut sekali, dan membatasi jarak pandang melihat keindahan Sungai Batanghari. Penulis juga kehilangan pemandangan khas tumpukan nenas yang dulu biasa penulis lihat ketika lewat menuju sekolah. Selebihnya suasana Jambi masih sama, termasuk ramainya suara burung walet di pagi hari dan pemandangan ramainya walet bertengger di kabel listrik ketika malam.

Jambi memang pesat, tetapi penataannya menurut penulis tidak sebaik Pekanbaru. Kebanting melihat kondisi pertokoan seberang Pasar Angso Duo ketika hujan, terlihat kumuh dengan genangan airnya. Beda jauh dengan jalan lintas Timur Jambi yang bahkan jauh lebih baik.

Penasaran kulinernya apa nih di Jambi? Pastinya Pempek yang banyak ditemui di daerah Talang Banjar, juga beberapa variasi mie. Uniknya mie disini menurut penulis rasanya agak manis sih, beda dengan Jakarta yang gurih. Oiya, penulis nggak lupa memburu lempok durian jadul Maulagi, makanan sejenis dodol yang memang kerap jadi oleh-oleh. Lanjut memburu kopi jadul AA (maaf sebut merek). Heheh..

Hanya semalam di Jambi dan lanjut ke Kota Palembang pada 30 Desember pagi. Meninggalkan kota masa kecil penulis dengan kenangan yang kini terbungkus rapi.

Palembang

Yup, Palembang menjadi pilihan penulis dan keluarga untuk menutup tahun. Lupa buruknya akses menuju kota ini, terkagum dengan Jembatan Ampera yang menjadi identitas kota ini.

Tetapi, ada yang berbeda kali ini karena LRT terlihat membentang ditengah kota menuju Stadion Jakabaring. Yup, tahu dong pada Asian Games 2018 Palembang juga menjadi kota penyelenggara, khususnya Sungai Musi untuk olahraga dayung. Tetapi sayangnya semua fasilitas itu banyak yang tidak terawat kini, contohnya Kaka, salah satu maskot Asian Games yang berada di tepi Sungai Musi sudah rusak, demikian juga fasilitas kran air minum bersih di pinggir Sungai Musi terlihat tidak terawat.

Nggak banyak obyek wisata yang penulis kunjungi, hanya Benteng Kuto Besak di pinggir Sungai Musi yang berlatar indahnya Jembatan Ampera, dan Gereja Santo Mikhael yang konon merupakan gereja tertua. Oiya, ada yang menarik, melihat rupanya sampai sekarang pun kapal pengangkut batubara lewat di bawah Jembatan Ampera loh! Gokil khan, kaya betul negeri ini.

Menutup tahun 2019 di Kota Palembang sambil memandangi Jembatan Ampera dari dalam kamar tempat penulis bermalam. Haru, seru dan bersyukur menutup tahun bersama suami dan kedua buah hati dengan berdoa mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, dan menitipkan orang-orang terkasih juga negeri ini dalam penyertaanNya di tahun 2020.

Serunya menikmati pedasnya sambal pecel lele yang dibeli dekat hotel dan pempek sebagai hidangan tahun baru kami. Sebagai penutup ada lempok Maulagi asli Jambi ditemani teh panas menambah serunya tahun baru kami sekeluarga kali ini. Bahkan penulis masih sempat loh menuliskan artikel tahun baru malam itu. Ini linknya biar yakin, hehe…… Link https://seword.com/umum/selamat-tahun-baru-indonesiaku-QpIMtxqrBa

Lampung Tanggal 1 Januari penulis tinggalkan Palembang menuju Lampung. Maksud hati ingin melihat indahnya pantai-pantai di Lampung. Apa daya kami terjebak macet berjam-jam saat menuju lokasi. Yup, soal pantai memang Lampung jagonya. Ada banyak pantai dan pulau yang eksotis di kota ini. Tetapi, berhubung terjebak dan bahkan seperti diarahkan untuk kembali, maka penulis bersama keluarga pun kembali ke kota. Memutuskan keesokan harinya menikmati kuliner saja deh. Heheh…

Secara umum Lampung berbeda dengan Palembang, Jambi dan Pekanbaru. Lampung memiliki lebih banyak obyek wisata alam. Mobil plat Jakarta dan Palembang terlihat penuh di Lampung. Mantul! Pasti efek jalan tol Pakde yang buat rakyatnya bisa wara-wiri antar provinsi dengan mudahnya.

Memutuskan kembali ke Jakarta pada tanggal 3 Januari, dan kali ini ada pengalaman berharga penulis bagikan.

Begini, ketika penulis ingin menyeberang ke Jakarta, dan kali ini ingin mencoba kelas eksekutif, eorang bapak menghampiri menawarkan tiket. Katanya, daripada menunggu 2 jam penyeberangan mending membeli lewat calo. Harga tiket calo sama seperti normalnya, Rp 650 ribu, dengan pembagian Rp 550 ribu untuk orang dalam, dan Rp 100 ribu untuk calonya. Entah jujur atau bohong tetapi pengakuannya sih ini biasa, bagi-bagi rejeki antara orang dalam dan calo. Waduh…

Penasaran penulis beli di calo nggak yah? Heheh… pastinya tidak dong. Penulis Seword mau dikadalin mana bisa! Hehe…siapa yang jamin kalau itu bukan tipu-tipu khan? Lagian hari gini masih percaya calo, mau sampai kapan kita biarkan negeri ini dipenuhi korupsi. Praktek calo itu juga khan bagian dari korupsi, meskipun kecil-kecilan. Jangan mau jadi bagian menjerumuskan bangsa ini dong.

Singkat cerita, penulis kembali memilih kelas bisnis yang langsung dapat. Terlanjur bete dengan calo yang bertebaran di pintu masuk eksekutif. Miris, ternyata susah banget membentuk akhlak rakyat kita euy.

Di tengah lautan penulis melihat perlahan kapal fery meninggalkan pulau Sumatra dengan banyak cerita. Itu baru sepenggal cerita dari beberapa kota, dan itu pun masih bersambung. Bayangkan jika kita keliling Indonesia berapa banyak pengalaman dan kaget-kagetnya kita melihat negeri ini.

Tol Trans baik Jawa ataupun Sumatra bukan hanya membuat kita bisa jalan kesana kemari tetapi lebih dari itu! Mau tahu aja, atau mau tahu pakai banget? Tunggu dong artikel berikutnya yah.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

TOL TRANS SUMATRA DAN SEJUTA CINTA PART 1

Mpok Desy-Artikel ini oleh-oleh dari jelong-jelong alias jalan-jalannya penulis liburan Natal kemarin. Heheh…nepati janji penulis berbagi pengalaman mencoba Tol Trans Sumatra hadiah tutup tahun 2019 Jokowi untuk Indonesia.

Tetapi maaf yah, penulis nggak pasti akan terbagi menjadi berapa bagian artikel ini nantinya. Kita lihat saja seberapa bawelnya penulis curhat. Hehehhe…mungkin ada pembaca Seword yang tahu, bahkan didalam perjalanan saja penulis sempat menulis artikel loh untuk Indonesia, dan pastinya sahabat Seword.

Sumpah gokilnya Presiden Jokowi membangun Indonesia! Nggak hanya di Jawa, tetapi juga seluruh pelosok Indonesia. Menyebutnya ini sebagai pembangunan Indonesia-sentris, artinya pembangunan yang merata dengan tujuan menumbuhkan pusat-pusat ekonomi baru nantinya.

Decak kagum, bahwa Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) adalah infrastruktur konektivitas yang terbentang dan menghubungkan ujung Selatan Lampung hingga ujung Utara Banda Aceh, dengan panjang 2.818 kilometer. Bahkan ternyata JTTS digagas sejak zaman Soesilo Bambang Hudoyono menjadi presiden. Puji Tuhan, di era Presiden Jokowi berhasil dieksekusi.

Jakarta-Lampung Sip, lanjut penulis bercerita yah. Tanggal 25 Desember meninggalkan Jakarta menuju Pelabuhan Merak. Setelah Ibadah Natal, ziarah dan berkumpul dengan keluarga almarhum Papa. Di pelabuhan, lancar nggak ada masalah. Cukup tunjukkan KTP dan membayar tiket penyeberangan kelas bisnis Rp. 374 ribu menggunakan E-Toll. Tepat pukul 18.51 malam kapal pun berangkat, dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam 15 menit. Jadi sekitar pukul 21.06 malam kapal sudah aman merapat di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Cck…ekonomis romantis banget khan ketimbang naik pesawat nggak bisa menikmati ombak dan indahnya langit ditengah lautan. Catatan nih, semisalnya mau kapal yang lebih bagusan, eksekutif juga bisa, tiketnya Rp 650 ribu. Hanya saja adanya setiap 2 jam sekali.

Semangat tinggi setelah merapat, penulis bersama dua anak dan tentunya belahan jiwa alias suami langsung bablas masuk Tol Bakauheni- Terbanggi Besar dengan membayar Rp 112,500 (maaf ini kalau tidak salah yah). Nah berhubung semua masih serba darurat, jadi saran penulis pastikan dana E-Toll cukup, kondisi kendaraan prima, siapkan uang kecil untuk di toilet dan jangan lupa membawa bekal karena Tempat Istirahat (TI) di sepanjang JTTS jumlahnya terbatas, dan masih sangat minim fasilitas. Penulis saja bawa nasi, teri sambal dan telur dadar. Jangan ditanya nikmatnya menu sederhana kalau dimakan dengan keluarga tercinta jadi rasa selangit loh! Hehe…

Lari dengan kecepatan 120 km/ jam rasanya bebas merdeka sekali karena kondisi jalan yang mulus. Meski memang kebanyakan jalan masih beton, hanya beberapa ruas yang sudah diaspal. Menurut suami yang kebetulan orang sipil, kondisi ini rawan pecah ban jika lari kelewat kencang dan ban tidak mendukung. Maklumin kenapa belum semua diaspal karena pasti Pakde Jokowi mengejar waktu supaya rakyat Indonesia yang mau ke Sumatra berkesempatan coba JTTS karena lebih hemat dan lebih seru. Benaran presiden mantul euy Pakde Jokowi!

Satu lagi yang harus diingat ketika hari semakin larut maka kondisi jalan masih kurang penerangannya dan juga sangatlah sepi. Hanya satu dua mobil yang lewat, itu pun sangat jarang. Itu sebabnya kembali penulis ingatkan kondisi kendaraan harus prima. Amit-amit pecah ban siapa yang bantu. Bahkan ngeri nanti menginspirasi kejahatan.

Nah, TI pertama yang bakal kita ketemui itu di km 32. Seperti penulis katakan, jangan berharap terlalu tinggi karena semua masih serba darurat. Buka bekal dari rumah dan nikmati teri sambal beserta teman-temannya didalam mobil. Mantul euy! Oiya, penjual makanan sih ada, tetapi masih menggunakan tenda, demikian juga toilet, dan bahkan POM Bensin semua darurat sifatnya. Total TI di Tol Bakauheni sementara ini ada 5, yaitu di km 32, km 87, km 116, km 207 dan km 236 sebagai TI terakhir sebelum Tol Kayu Agung. Semua TI kondisinya sama-sama minim, tetapi salut di perjalanan penulis kemarin di setiap TI terdapat cukup banyak aparat yang berjaga dan sangat bersahabat. Mungkin karena suasana Natal dan Tahun Baru sekaligus libur anak sekolah.

Hari semakin larut, dan waktu sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari tanggal 26 Desember ketika penulis tiba di km 206 TI terakhir. Memutuskan untuk bermalam di TI ini mengingat jika ingin lanjut lewat tol harus menunggu besok pagi saat Tol Kayu Agung dibuka sekitar pukul 06.00 pagi. Sedangkan jika lewat jalan biasa amat sangat tidak dianjurkan karena rawannya kejahatan, terlebih di daerah Mesuji, Lampung. Begitu saran dari beberapa pengemudi yang kemudian akrab menjadi teman perjalanan. Bahkan dua diantara kendaraan di TI yang penulis temui kena ulah iseng entah siapa yang melempar telur dan mengotori kaca sehingga berkerak dan mengganggu jarak pandang. Katanya sih itu biasa terjadi, dan bagian dari strategi kejahatan.

Lampung-Palembang Istirahat dari pukul 01.20 dini hari dan pukul 04.00 penulis lanjut mengejar pintu Tol Kayu Agung tujuan Palembang. Seingat penulis sih di tol ini membayar Rp 112,500, dan puas banget karena kondisi jalan yang mulus, lancar tanpa hambatan. Bahkan di beberapa persimpangan ada petugas yang membantu mengarahkan. Memakan waktu hampir 3 jam, sekitar pukul 06.52 penulis memasuki kota Palembang. Heheh…nggak pakai nunggu, penulis langsung sarapan Pempek mengobati rindu setelah belasan tahun baru kali ini kesampaian melihat kota ini.

Palembang-Jambi

Tetapi, penulis nggak lama di Palembang karena sekitar pukul 10.00 pagi langsung berangkat menuju Jambi. Kota kecil tempat penulis sempat dibesarkan, kebetulan almarhum papa pernah bertugas di kota ini.

Wuihh….jangan tanya ngerinya jalan Palembang-Jambi amat sangat parah. Perjalanan menyusuri kebun kelapa sawit menjadi sangat menyiksa, dan kecepatan mobil hanya bisa 80 km/ jam. Bukan hanya jalan yang rusak parah, tetapi juga saling salip dengan mobil dan truk besar dan gandeng pengangkut logistik. Serem selama perjalanan 3 kali penulis melihat kecelakaan, entah karena truk terbalik akibat jalan yang rusak, bahkan ada yang ban belakangnya lepas!

Penasaran bagaimana dengan tempat makan dan POM bensin apakah mudah? Jawabannya, nggak terlalu! Lebih baik isi bensin yang cukup, termasuk juga penumpangnya harus kenyang. Mengingat sepanjang jalan nantinya hanyalah kebun sawit dan karet. Singkat cerita, Puji Tuhan penulis memasuki Kota Jambi sekitar pukul 19.00 malam, artinya perkiraan jarak tempuh Palembang ke Jambi itu 9 jam, dengan catatan karena kondisi jalan amat sangat buruk! Numpang istirahat semalam, dan lanjut keesokan harinya tanggal 27 Desember menuju Pekanbaru. Heheh…kalap yah penulis.

Jambi-Pekanbaru Tanggal 27 Desember sekitar pukul 09.30 pagi penulis lanjut ke Pekanbaru. Kagum dengan kondisi jalan lintas Timur Jambi terbilang mulus dan tertata menyusuri kebun sawit dan karet. Disini bolehlah lari 80-100 km/ jam tergantung kondisi jalan. Bertambah kagum dan haru karena sering banget penulis menemui rumah ibadah, entah gereja ataupun masjid dengan jarak cukup dekat, bahkan ada yang berdampingan. Mengenai POM bensin dan rumah makan memang jarang. Palingan lapo, kedai makan ala Sumatra Utara yang cukup banyak penulis temui. Sepertinya di perkebunan sawit Jambi-Pekanbaru ini banyak pekerja suku Batak mungkin. Heheh…

Menurut catatan penulis, malam tepat pukul 21.58 memasuki Kota Pekanbaru. Disambut jajaran durian dipinggir jalan yang berbaris rapi menggoda. Tetapi, malam itu penulis dan keluarga memilih menikmati sate padang dan teh telor, yang kata orang kombinasi kuliner khas Pekanbaru.

Wuih…seru khan perjalanan penulis. Yup, Pekanbaru jadi kota pemberhentian terakhir penulis. Saran penulis hindari perjalanan malam untuk perjalanan lewat lintas Timur. Selain kondisi jalan masih banyak yang rusak, rawan kejahatan, dan juga saingan dengan kendaraan besar.

Sekarang, pastinya penasaran berapa sih total biaya yang dikeluarkan lewat JTTS dari Jakarta hingga Pekanbaru. Totalnya Rp 1,819 ribu, dengan catatan ini termasuk pemakaian di dalam kota ketika keliling sebentar. Nah, ini catatan penulis sebagai gambarannya:

– Nyebrang Merak – Bakauheni Rp 374 ribu
– Tol JTTS: Rp 225 ribu
– Bensin Rp 1,220 ribu
– Jakarta – Jambi: Rp 820 ribu
– Jambi – Pekanbaru: Rp 400 ribu

Bagaimana pembaca tertarik? Mantulnya Jokowi dengan Rp 1,819 ribu penulis beserta 3 anggota keluarga bisa sampai ke Pekanbaru dalam 2 hari. Jika menggunakan pesawat pastinya memang lebih cepat, tetapi khan tidak bisa menikmati pemandangan di berbagai kota, dan berat di ongkos pula. Heheh…

Puji Tuhan negeri ini dipimpin oleh Presiden Jokowi. Mimpinya menghubungkan setiap pelosok Indonesia bukan hisapan jempol! Lihat Tol Trans Jawa sudah semakin populer, dan kini lewat Tol Trans Sumatra memungkinkan kita mengucap lebih banyak lagi puji Tuhan untuk semua kebaikanNya lahir sebagai orang Indonesia. Negeri elok dengan keragamannya.

Sip, tunggu artikel Part 2 yah. Nanti penulis bagi cerita yang berbeda, lebih seru dan berwarna.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

KRONOLOGI KASUS SUAP BUPATI SIDOARJO

Jakarta, CNN Indonesia — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan enam orang sebagai tersangka terkait kasus dugaan suap pengadaan proyek infrastruktur di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Sidoarjo. Satu di antaranya ialah Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah.

Dari kronologi perkara tangkap tangan, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengatakan pihaknya menyita uang senilai Rp1.813.300.000 dari sejumlah pihak.

Alex menuturkan suap bermula dari pembangunan proyek infrastrukur di Sidoarjo. Pada 2019 Dinas PU dan Bina Marga, Sumber Daya Air (BMSDA) Kabupaten Sidoarjo melakukan pengadaan beberapa proyek.

Ibnu Ghopur (swasta) merupakan salah satu kontraktor yang mengikuti pengadaan untuk proyek-proyek tersebut. Sekitar Juli 2019, Ibnu melapor ke Bupati Saiful bahwa ada proyek yang ia inginkan namun ada proses sanggahan dalam pengadaannya.

Sanggahan tersebut membuat Ibnu bisa tidak mendapatkan proyek. Berdasarkan hal tersebut, Ibnu lantas meminta Saiful untuk tidak menanggapi sanggahan dan memenangkan pihaknya dalam proyek Jalan Candi-Prasung senilai Rp21,5 miliar.

Pada periode Agustus – September 2019, Ibnu melalui beberapa perusahaan memenangkan empat proyek, yakni: proyek pembangunan wisma atlet senilai Rp13,4 miliar; proyek pembangunan pasar porong Rp17,5 miliar; proyek jalan Candi-Prasung senilai Rp21,5 miliar; dan proyek peningkatan Afv. Karag Pucang Desa Pagerwojo Kecamatan Buduran senilai Rp5,5 miliar.

Setelah menerima termin pembayaran, Ibnu bersama Totok Sumedi (swasta) diduga memberikan sejumlah fee kepada beberapa pihak di Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Alex menjelaskan pemberian fee tersebut merupakan penerimaan yang sudah terjadi sebelum OTT dilakukan pada 7 Januari 2020.

Ia merinci sejumlah pihak yang mendapatkan uang. Pertama, Sanadjihitu Sangadji, Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan diduga menerima Rp300 juta pada akhir September. Sebanyak Rp200 juta di antaranya, terang Alex, diberikan kepada Bupati Saiful pada Oktober 2019.

Kedua, Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Pekerjaan Umum BMSDA, Judi Tetrahastoto diduga menerima Rp240 juta. Ketiga, Sunarti Setyaningsih selaku Kepala Dinas PU dan BMSDA sebesar Rp200 juta pada 3 Januari 2020.

“Pada tanggal 7 Januari 2020, IGR [Ibnu] diduga menyerahkan fee proyek kepada SFI [Saiful Ilah] Bupati Sidoarjo sebesar Rp350 juta dalam tas ransel melalui N [Novianto], ajudan bupati di rumah dinas Bupati,” tutur Alex.

Selain Bupati Saiful, lembaga antirasuah KPK juga menetapkan lima orang lain sebagai tersangka. Sebagai pihak penerima suap ada Sunarti, Judi dan Sanadjihitu. Sedangkan pemberi suap adalah Ibnu dan Totok.
sumber: cnnindonesia
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

Posted in Berita | Leave a comment

RUMAH GARISTA

Rumah. Rumah bagi kita bukan sekedar tempat berteduh dari hujan dan panas. Rumah bukan saja tempat berlindung dari lingkungan yang keras. Rumah juga menjadi tempat cinta memekar dan menghangat.

Betapa nestapanya perasaan kita ketika rumah kita disapu banjir. Lumpur dan air menyapu sampai lemari. Kita naik ke atap. Kedinginan. Lelah. Stres. Kita bukan saja kehilangan rumah tempat berteduh dan istirahat tetapi juga kehilangan kebahagiaan.

Kemarin, saya diajak teman Jun Franco mengunjungi rumah. Rumah ini bukan rumah biasa seperti rumah modern. Rumah ini sudah berusia ratusan tahun. Rumah orang Karo pada abad ke 19. Rumah yang dibangun komunitas masyarakat Karo di Lingga pada tahun 1893. Nama rumahnya Garista.

Rumah Garista tidak begitu jauh dari pusat kota Medan. Terletak di Medan Selayang.

Pengelola Rumah Garista ternyata Ekarina. Ekarina seorang relawan kemanusiaan saya di Medan. Saat gempa Palu Donggala Sigi, Ekarina dan Jun Franco menggalang dana untuk diserahkan ke korban gempa.

Saat saya menggalang dana untuk beasiswa anak2 Bu Meiliana, Ekarina juga turun ke jalan mencari donasi.

Saya surprise juga melihatnya sudah berkembang begitu maju. Ia bersama teman2nya menerima tantangan mengelola Rumah Adat Karo Garista menjadi salah satu tempat destinasi wisata di Kota Medan.

Garista adalah Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu Pertama di Kota Medan. Rumah ini awalnya terletak di Desa Pernantin , Kec . Juhar Tanah Karo – Sumatera Utara. Sekitar 120 km dari kota Medan.

Konsep bangunan Garista masih menggunakan pola bangunan yang sama dengan aslinya yaitu dibangun tanpa menggunakan paku atau baut. Sistem sambungannya pake pasak. Hebatnya konsep rumah ini tahan gempa.

Tiang penyangga terbuat dari kayu bangunan tahun 1893. Adapun yang diganti hanya beberapa lembar kayu pada lantai. Tulang atap setinggi 10 meter terbuat dari 10.000 batang bambu. Atapnya terbuat dari ijuk.

Saya masuk ke dalam rumah. Menaiki 8 anak tangga. Begitu masuk, rumah seluas lapangan basket ini terasa adem. Kita seperti berada dalam joglo yang luas. Di dalam rumah itu ada 4 tungku dapur.

4 tungku dapur itu milik 8 keluarga yang tinggal di dalam. Ada batas teritorial dalam rumah itu. Batasnya harus ditaati penghuni rumah yang ternyata masih punya hubungan kekerabatan keluarga.

Langit2 rumah Garista sangat tinggi. Mencapai 10 meter. Sekalian berfungsi jadi cerobong asap juga saat masak.

“Bagaimana 8 keluarga ini tinggal bersama dengan anak2nya?”, tanya saya.

Untuk anak2 yang sudah akil balig, mereka akan tidur di lumbung padi. Mereka tidak boleh lagi tinggal dalam rumah bersama.

Saya melihat arsitektur rumah adat Karo ini. Cukup unik juga konsep kekerabatan masyarakatnya. Batas2 ruang private dibangun dengan kearifan lokal.

Meskipun batas private itu imajiner tapi mereka taat dan tunduk pada aturan yang telah disepakati. Bayangkan satu rumah berisi 8 keluarga dengan 4 dapur bisa rukun dan damai tinggal bersama.

Rumah pada masa dulu tentu tidak mudah mendirikannya. Gotong royong menjadi keniscayaan. Saling menjaga dan melindungi menjadi utama. Mereka tinggal di hutan yang masih lebat. Tentu sangat riskan diserang binatang buas.

Kekayaan negeri kita memang luar biasa. Melestarikan rumah adat sebagai warisan budaya wajib kita perjuangkan.

Ekarina menjadi sosok tokoh muda yang patut kita dukung. Pemikiran dan keberaniannya menjaga, merawat dan melestarikan salah satu kekayaan budaya nusantara patut diacungi jempol.

Teman2 di seluruh Indonesia…datanglah ke Garista Rumah Adat Karo. Kalian akan menjadi bangga sebagai orang Indonesia bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana leluhur kita membangun peradabannya dengan hebat.

Silakan datang ke Garista yang beralamat di Jl. Bunga Herba 5 No.89, Sempakata , Kec . Medan Selayang , Kota Medan, Sumatera Utara 20131.

Atau menghubungi 081264596766 untuk mengetahui jadwal dan kegiatan serta penyewaan ruangan .

Adapun fasilitas yang tersedia adalah Tour Guide, Spot foto yang cantik , Cafe dan area parkir yang luas sehingga membuat nyaman saat berkunjung .

Garista buka sejak 1 Desember 2019 dengan Jadwal buka pukul 10.00 – 17. 00 Wib , dan harga tiket promo untuk bulan Januari :

– Selasa s/d Jumat : Dewasa Rp.7.000,- / Anak Rp.5.000,-

– Sabtu , Minggu & Hari Libur : Dewasa Rp.10.000,- / Anak Rp.5.000,-

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga & fb

Posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima, Informasi Untuk Kab. Karo | Leave a comment