SUDAH 2X24 JAM TRAGEDI KANJURUHAN, PEJABAT PUBLIK BELUM ADA YANG MUNDUR?? EDAN!!

Rahmatika – Valentino ‘Jebret’ memutuskan mundur sebagai host dan komentator program Liga 1 2022-2023 pasca terjadinya tragedi pasca pertandingan Arema vs Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Malang, Sabtu malam kemarin. Ia mundur sebagai wujud empati dan simpatinya atas kejadian tersebut.

Kesedihan pasca tragedi ini itu membuat banyak orang trauma. Banyak yang mengatakan memutuskan tidak akan nribun lagi. Kapok dan trauma untuk datang ke stadion mendukung langsung tim kesayangannya bertanding.

Trauma pun dialami oleh Asisten Pelatih Arema, FX Yanuar. Dia sempat terbersit untuk meninggalkan sepakbola namun justru dikuatkan oleh ayah salah satu remaja yang menjadi korban. Anggota tim Arema jelas merasa trauma karena mereka pun terlibat dalam upaya perlindungan dan evakuasi korban. Abel Camara, striker Arema, menyampaikan seperti ini,

“Mereka meninggal dunia tepat di depan kami. Kami melihat sekitar tujuh atau delapan orang meninggal dunia di ruang ganti,”

Siapa yang tidak trauma dengan kondisi ini?

Tapi ya, sudah kejadiannya seperti ini kok sampai sudah lewat dari 2×24 jam belum terdengar adanya pejabat publik yang mestinya merasa punya tanggungjawab mbok ya mundur gitu lho dari jabatannya.

Betul Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat imbas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur (Jatim). Selain Kapolres, sejumlah perwira Satuan Brimob Polda Jatim dicopot mulai dari Danyon (komandan batalyon), Dankie (komandan kompi), sampai Danton (komandan pleton) Brimob sebanyak 9 orang juga dicopot. Tapi kan ini dicopot, bukan mundur.

Dalam pengamatan saya, mestinya ya minimal Kapolda Jatim dan Menpora itu mestinya mundur!!

Tapi mana nyatanya? Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta mengakui pengamanan saat Tragedi Kanjuruhan usai laga Arema FC vs Persebaya kurang. Siang ini dia menyampaikan permintaan maaf atas hal ini. Minta maaf doang bos? Nggak mundur??

Ini laga derby dua tim besar Jawa Timur yang sudah terkenal rivalitasnya selama puluhan tahun. Dari saya kecil, rivalitas Arema vs Persebaya itu sudah terkenal. Sebagai Kapolda yang memimpin propinsi Jawa Timur dia mestinya tahu adanya potensi-potensi masalah seperti ini. Harusnya laga seperti itu dipersiapkan matang termasuk SOP apabila ada situasi rusuh.

Ketidakjelasan SOP ini sudah kentara dari penggunaan gas air mata. FIFA mengeluarkan aturan larangan penggunaan gas air mata saat pengamanan. Dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, aparat menggunakan gas air mata.

Pembelaan Nico adalah anggotanya menggunakan gas air mata untuk mengendalikan suporter Arema FC yang turun ke tengah lapangan karena merasa kecewa usai timnya kalah karena suporter Arema telah bertindak anarkis dengan menyerang petugas, merusak stadion hingga berusaha mencari para pemain dan official Arema FC. Ya kenapa yang diserang bukan yang di lapangan saja? Kenapa harus ditembakkan bolak-balik ke arah tribun? Kalau misalnya nih yang nekat turun itu saja yang ‘dihajar’ aparat saya rasa nggak akan ada korban meninggal sebanyak ini, kalaupun sampai ada yang memang bandel karena memang seharusnya suporter nggak turun kemudian mereka jadi korban, orang mungkin nggak akan sereaktif ini. Di sini Nico sebagai bosnya Polisi se-Jatim menurut saya sudah gagal dan mestinya dia mundur.

Kemudian juga Menpora. Bagaimanapun Menpora itu bertanggungjawab dengan iklim olahraga yang ada di negara ini. Termasuk memastikan aturan-aturan yang diberlakukan oleh induk organisasi olahraga seperti FIFA bisa diaplikasikan di sini. Nggak cuma misalnya soalnya aturan pembangunan stadion, tapi juga misalnya aturan pengamanan seperti dilarang menggunakan gas air mata. Ini mestinya jadi poin yang dipertimbangkan oleh Menpora dengan stakeholder lain.

Ketiga jelaslah Ketua Umum PSSI. Ini kasus levelnya sudah dunia lho dan internasional memantau kasus ini. Kok ya nggak ada malunya buat tetep ada di jabatannya. Padahal ya secara langsung maupun tidak langsung ini jelas bukti kegagalan PSSI mengelola liga di tanah air.

Tapi ya sepertinya memang agak susah untuk meminta pejabat bertanggungjawab serta berbesar hati mundur saat ada hal-hal seperti ini di Republik tercinta.
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.