SUDAHLAH CAK IMIN, REALISTIS SAJALAH UNTUK PILPRES 2024


Widodo SP – Peneliti senior dari LIPI, Siti Zuhro belum lama ini menyuarakan pendapatnya soal Muhaimin “Cak Imin” Iskandar, yang terlihat begitu berambisi untuk menjadi calon presiden pada ajang Pilpres 2024 nanti. Meski balihonya bertebaran di mana-mana, yang sebenarnya juga terjadi menjelang Pilpres 2019 lalu, Cak Imin dinilai masih belum mendapatkan animo yang memadai dari masyarakat.

“Cak Imin sesuai animo masyarakat yang tidak tinggi, ya sebagai calon wakil presiden saja,” kata Siti pada Minggu (19/6), merespons adanya pertemuan antara Ketum PKB itu dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sehari sebelumnya.

Menariknya, menurut peneliti senior LIPI tadi, kedua sosok ketua umum ini jika hendak maju pada Pilpres 2024 nanti, disarankan agar Prabowo Subianto yang menjadi calon presiden, didampingi oleh Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

Jujur saya secara pribadi mulai bosan dengan munculnya nama yang itu-itu saja, yang terlihat berambisi atau kadang masih didorong untuk menjadi kontestan pada PIlpres 2024 nanti. Kadang saya berpikir bahwa beberapa di antara nama yang santer disebut oleh media atau menurut hasil survei politik masih menempati peringkat bawah … kok ya tidak tahu diri itu lho!

Apakah mengabdi pada negeri ini hanya dengan menjadi presiden atau wakil presiden? Kan tidak! Masih ada puluhan hingga ratusan cara agar bisa mengabdi untuk negeri ini, dengan membawa dampak positif yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Jangankan menjadi presiden atau wakil presiden, kalau dengan menjadi seorang bupati atau wali kota, tapi sukses menorehkan catatan positif yang menuju kebaikan bagi masyarakat, mengapa tidak dilakoni? Jika menjadi gubernur tapi berhasil membuat daerahnya lebih baik, misalkan dalam menurunkan angka kemiskinan dan membuat warganya mengalami peningkatan mutu SDM dan kondisi ekonomi, mengapa harus memaksa diri menjadi calon presiden atau wakil presiden?

Itu tadi sebagai contoh saja. Saya tidak hendak berkata bahwa Prabowo Subianto atau Cak Imin lebih cocok menjadi bupati, wali kota, atau gubernur saja. Namun faktanya, ada kok nama yang santer disebut dan sudah diumumkan untuk menjadi salah satu calon, tapi faktanya menjadi kepala daerah saja amburadul karena nggak bisa kerja. Ngapain memaksakan diri untuk bersedia dicalonkan, apalagi dengan berkata:

”Saya diminta untuk memikirkan negara, bukan hanya daerah tertentu.”

Yaelah, kalau cuma mikir negara, nggak harus jadi presiden atau wakil presiden kok. Jadilah seorang pemikir yang betul-betul brilian, lalu berikan sumbangsih pemikiran yang mengarah pada kepentingan nasional. Hasilnya akan sungguh luar biasa.

Kembali ke Cak Imin tadi …

Jika melihat elektabilitas yang masih mentok, benar nasihat peneliti senior LIPI tadi, bahwa Cak Imin sebaiknya tidak memaksakan diri untuk “Nyapres” atau “Nyawapres” pada 2024 nanti. Cukup jadikan PKB sebagai partai yang berdampak positif secara nasional, misalkan dengan menghasilkan sosok pemimpin daerah yang berkualitas, seperti dicontohkan oleh PDI Perjuangan selama ini. Itu sudah lebih dari cukup, Cak Imin!

Jangan boroskan uangmu dengan baliho, spanduk, bikin acara deklarasi, atau safari politik, jika nanti hasilnya tetap mentok. Mendingan uangnya dipakai untuk kegiatan lain yang lebih berguna, sehingga nama Cak Imin tetap bisa diingat orang banyak, tanpa harus menjadi presiden atau wakil presiden. Bukankah jauh lebih baik begini daripada diingat orang karena sering pasang baliho dan spanduk setiap kali menjelang Pilpres, tapi nampang di kertas suara Pilpres saja nggak pernah?

Begitulah kura-kura…
sumber: seword CAK IMIN, REALISTIS SAJALAH UNTUK PILPRES 2024

Widodo SP – Peneliti senior dari LIPI, Siti Zuhro belum lama ini menyuarakan pendapatnya soal Muhaimin “Cak Imin” Iskandar, yang terlihat begitu berambisi untuk menjadi calon presiden pada ajang Pilpres 2024 nanti. Meski balihonya bertebaran di mana-mana, yang sebenarnya juga terjadi menjelang Pilpres 2019 lalu, Cak Imin dinilai masih belum mendapatkan animo yang memadai dari masyarakat.

“Cak Imin sesuai animo masyarakat yang tidak tinggi, ya sebagai calon wakil presiden saja,” kata Siti pada Minggu (19/6), merespons adanya pertemuan antara Ketum PKB itu dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto, sehari sebelumnya.

Menariknya, menurut peneliti senior LIPI tadi, kedua sosok ketua umum ini jika hendak maju pada Pilpres 2024 nanti, disarankan agar Prabowo Subianto yang menjadi calon presiden, didampingi oleh Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

Jujur saya secara pribadi mulai bosan dengan munculnya nama yang itu-itu saja, yang terlihat berambisi atau kadang masih didorong untuk menjadi kontestan pada PIlpres 2024 nanti. Kadang saya berpikir bahwa beberapa di antara nama yang santer disebut oleh media atau menurut hasil survei politik masih menempati peringkat bawah … kok ya tidak tahu diri itu lho!

Apakah mengabdi pada negeri ini hanya dengan menjadi presiden atau wakil presiden? Kan tidak! Masih ada puluhan hingga ratusan cara agar bisa mengabdi untuk negeri ini, dengan membawa dampak positif yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Jangankan menjadi presiden atau wakil presiden, kalau dengan menjadi seorang bupati atau wali kota, tapi sukses menorehkan catatan positif yang menuju kebaikan bagi masyarakat, mengapa tidak dilakoni? Jika menjadi gubernur tapi berhasil membuat daerahnya lebih baik, misalkan dalam menurunkan angka kemiskinan dan membuat warganya mengalami peningkatan mutu SDM dan kondisi ekonomi, mengapa harus memaksa diri menjadi calon presiden atau wakil presiden?

Itu tadi sebagai contoh saja. Saya tidak hendak berkata bahwa Prabowo Subianto atau Cak Imin lebih cocok menjadi bupati, wali kota, atau gubernur saja. Namun faktanya, ada kok nama yang santer disebut dan sudah diumumkan untuk menjadi salah satu calon, tapi faktanya menjadi kepala daerah saja amburadul karena nggak bisa kerja. Ngapain memaksakan diri untuk bersedia dicalonkan, apalagi dengan berkata:

”Saya diminta untuk memikirkan negara, bukan hanya daerah tertentu.”

Yaelah, kalau cuma mikir negara, nggak harus jadi presiden atau wakil presiden kok. Jadilah seorang pemikir yang betul-betul brilian, lalu berikan sumbangsih pemikiran yang mengarah pada kepentingan nasional. Hasilnya akan sungguh luar biasa.

Kembali ke Cak Imin tadi …

Jika melihat elektabilitas yang masih mentok, benar nasihat peneliti senior LIPI tadi, bahwa Cak Imin sebaiknya tidak memaksakan diri untuk “Nyapres” atau “Nyawapres” pada 2024 nanti. Cukup jadikan PKB sebagai partai yang berdampak positif secara nasional, misalkan dengan menghasilkan sosok pemimpin daerah yang berkualitas, seperti dicontohkan oleh PDI Perjuangan selama ini. Itu sudah lebih dari cukup, Cak Imin!

Jangan boroskan uangmu dengan baliho, spanduk, bikin acara deklarasi, atau safari politik, jika nanti hasilnya tetap mentok. Mendingan uangnya dipakai untuk kegiatan lain yang lebih berguna, sehingga nama Cak Imin tetap bisa diingat orang banyak, tanpa harus menjadi presiden atau wakil presiden. Bukankah jauh lebih baik begini daripada diingat orang karena sering pasang baliho dan spanduk setiap kali menjelang Pilpres, tapi nampang di kertas suara Pilpres saja nggak pernah?

Begitulah kura-kura…
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.