JAM MALAM DI SRI LANKA DIPERPANJANG SETELAH LEBIH DARI 50 RUMAH PEJABAT DIBAKAR MASSA, WNI MERASAKAN KESULITAN EKONOMI

Banyak kendaraan dibakar oleh massa saat terjadi kerusuhan di Sri Lanka.

Pihak berwenang Sri Lanka memperpanjang jam malam hingga Kamis (12/05) setelah semakin banyak rumah pejabat yang dibakar massa, termasuk hotel mewah milik putra mantan presiden.

Dengan perpanjangan jam malam maka toko-toko, tempat usaha dan perkantoran ditutup selama tiga hari berturut-turut.

Larangan pergi keluar rumah diperpanjang sesudah pembakaran rumah-rumah pejabat oleh massa penentang pemerintah belum dapat diatasi meskipun aparat keamanan telah diperintahkan menembak para perusuh di tempat pada Selasa (10/05).

Para demonstran menyerukan mundurnya Presiden Gotabaya Rajapaksa karena terjadinya krisis ekonomi terparah negara itu. Abangnya, Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, mundur pada Senin (10/05) di tengah bentrokan tentara dan para pengunjuk rasa.

Namun mundurnya Mahinda Rajapaksa gagal meredam protes. Oleh karena itu, pemerintah menginstruksikan tentara untuk melepaskan tembakan bagi siapapun yang menjarah atau “membahayakan nyawa orang.”

Pemerintah mengerahkan puluhan ribu tentara, personel angkatan laut dan udara untuk berpatroli di jalan-jalan ibu kota Colombo.

Jalan-jalan pada umumnya lebih sepi pada Selasa (10/05) namun aksi protes masih terjadi di mana-mana.

Lebih dari 50 rumah milik para pejabat telah dibakar, termasuk rumah keluarga Rajapaksa, beberapa menteri, dan anggota parlemen. Dalam kerusuhan pada Selasa malam, massa juga membakar hotel mewah milik putra mantan Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa.

Sebelumnya para perusuh membakar kediaman yang dijadikan museum oleh keluarga Rajapaksa di Desa Hambantota, bagian selatan Sri Lanka.

Hingga kini delapan orang meninggal dunia dan lebih dari 200 orang diyakini terluka dalam bentrokan.

Rumah menteri Sanath Nishantha adalah salah satu yang dibakar massa.

Tayangan yang dibagikan di media sosial memperlihatkan sejumlah rumah dilalap api dan disambut gegap gempita.

Sebelum perpanjangan jam malam, pejabat KBRI di ibu kota Colombo, Heru Prayitno mengatakan jalan-jalan sepi.

“Situasi jalan-jalan pada malam ini mulai tenang, tak banyak masyarakat yang lalu lalang. Masyarakat membatasi keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak, karena adanya jam malam sejak Senin sampai Rabu pagi (11/05),” kata Heru.

Isi surat pengunduran diri

Perdana Menteri Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa, mengundurkan diri di tengah gelombang demonstrasi massal yang memprotes cara pemerintah menangani krisis ekonomi.

Pria berusia 76 tahun itu mengirimkan surat pengunduran diri kepada adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Dalam surat tersebut, dia menulis mengenai harapan dirinya untuk mengatasi krisis ekonomi namun kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya tampaknya tidak memuaskan kubu oposisi kecuali kalau dia mundur.

Pengunduran diri, menurut Rajapaksa, diniatkan untuk mendorong terbentuknya “pemerintahan yang terdiri dari semua partai demi menuntun negara ini keluar dari krisis ekonomi”.

Rumah menteri Sananth Nishantha dbakar massa.

Beberapa kendaraan dibakar di rumah kediaman resmi Mahinda Rajapaksa di Kota Kolombo.

Sejak gelombang demonstrasi muncul pada awal April, para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor perdana menteri guna menuntut Rajapaksa lengser.

Demonstrasi ini memicu bentrokan berdarah antara kubu antipemerintah dan pendukung Rajapaksa di Ibu Kota Kolombo.

Sri Lanka mengalami krisis ekonomi terburuk sejak meraih kemerdekaan dari Inggris pada 1948. Pemerintah bahkan meminta warganya yang berada di luar negeri untuk mengirimkan uang ke dalam negeri demi memenuhi kebutuhan bahan pangan dan bahan bakar, setelah negara itu gagal membayar utang luar negeri senilai $51 miliar (Rp732 triliun).

Mahinda Rajapaksa menjabat presiden selama dua periode, kemudian menjabat sebagai perdana menteri di bawah adiknya, Presiden Gotabaya Rajapaksa.

Cadangan devisa Sri Lanka telah habis dan tidak lagi bisa menopang kebutuhan rakyat, seperti makanan pokok, obat-obatan, dan bahan bakar.

Para dokter di Sri Lanka mengatakan sudah banyak rumah sakit kehabisan obat-obatan dan persediaan penting karena krisis ekonomi negara itu memburuk.

Kondisi ini membuat berang sebagian masyarakat mengingat kebutuhan hidup sehari-hari tak lagi terjangkau.

Pemerintah menyalahkan pandemi Covid yang mematikan sektor pariwisata. Namun, sejumlah pakar menilai pemerintah salah kelola ekonomi.

Para pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor kepresidenan guna menuntut Rajapaksa lengser.

WNI merasakan dampak krisis di Sri Lanka

Dua warga negara Indonesia yang tinggal di Sri Lanka mengatakan krisis di negara itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Ni Putu Eka Yuli Suswantari yang bekerja sebagai terapis spa di ibu kota Colombo mengatakan yang sangat ia rasakan adalah tingginya biaya hidup dan sulitnya pengiriman uang ke Indonesia dengan nilai mata uang yang anjlok.

“Krisis yang terjadi sangat mempengaruhi semua. Semua serba mahal, jadinya kita dapat gaji sekian, dan bekal hidup sekian, semua dihemat,” kata Yuli kepada BBC News Indonesia.

Terapis spa yang sudah bekerja di Sri Lanka selama tiga tahun ini mencontohkan uang yang biasa ia kirim sekitar 140.000 rupee dan biasanya bernilai sekitar Rp6 juta sampai Rp7 juta, “sekarang sampai di Bali, di bawah Rp5 juta”.

WNI lain, Dita Kleyn yang tinggal di Kandy, mengatakan sering mendengar kesulitan rekan-rekan lain yang bekerja di spa.

“Yang mendapat gaji rupee, banyak teman-teman Indonesia yang kerja sebagai terapis spa sangat terdampak sekali untuk pengiriman duit ke Indonesia karena mata uangnya jatuh.”

Dita tinggal selama 12 tahun di Sri Lanka dan suaminya, seorang warga setempat, bekerja di luar negeri.

Kami kelimpungan, kata Dita Klyen yang telah tinggal di Sri Lanka selama 12 tahun.

Namun ia mengatakan juga “sangat terdampak krisis” yang terjadi sejak Maret lalu.

“Kita susah sekali cari sembako, BBM, gas elpiji (untuk masak). Untuk BBM, kita tunggu berjam-jam, dan itupun dijatah. Ada yang antre semalaman,” cerita Dita kepada BBC News Indonesia.

“Sembako ada yang harganya naik empat kali lipat. Belum tarif dasar listrik, akan mengalami kenaikan 100%, yang saya dengar,” tambahnya lagi.

Baik Yuli di Colombo dan Dita di Kandy, yang berjarak sekitar tiga jam berkendara dari ibu kota, sama-sama merasakan pemadaman listrik.

“Bisa sampai empat sampai lima jam sehari. Kita juga pernah mengalami mati listrik sampai 13 jam sehari. Sangat mengganggu sekali untuk kegiatan sehari-hari. Saya sebagai WNI, kami saja sudah sangat kelimpungan, terbebani, apalagi masyarakat lokal,” cerita Dita. Ia biasa menyediakan katering masakan Indonesia bagi yang memesan.

Menurut KBRI di Kolombo, pekerja migran Indonesia di Sri Lanka berjumlah kurang dari 200 orang dan sebagian besar bekerja sebagai spa terapis di ibu kota Kolombo.

Krisis di Sri Lanka bermula setelah negara itu mengumumkan tidak memiliki cadangan devisa untuk membayar utang negara. Sejak bulan lalu, ribuan orang turun ke jalan-jalan untuk menuntut turunnya Presiden Gotabaya Rajapaksa yang terus menekankan ia tidak akan mundur.

Jumat lalu (06/05), polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan ribuan pengunjuk rasa di depan gedung parlemen di ibu kota Kolombo. Para demonstran marah karena naiknya harga kebutuhan pokok.

Transportasi, fasilitas kesehatan, pendidikan dan sistem perbankan sangat terganggu akibat protes dan pemogokan yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan.
sumber; bbc

 

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.