DIHAJAR TERUS, KALI INI PENELITI LIPI SIKAT FADLI ZON SOAL DENSUS 88

Xhardy – Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo juga ikut komentari pernyataan Fadli Zon yang meminta pembubaran Densus 88.

Menurut dia, kerja Densus 88 sangat penting dan krusial, meski tidak selalu terlihat.

Kalau menurut saya, ini dikarenakan Densus 88 harus bekerja dalam senyap untuk mengatasi terorisme. Kalau tidak senyap, terorisnya bakal lari duluan dong, bener gak? Bayangkan aja, sebelum bergerak, Densus 88 bikin pengumuman, konferensi pers dulu bahwa mereka akan menangkap terduga teroris. Ini namanya bodoh, kan?

“Kalau komentarnya Fadli Zon itu saya (mengikuti), mulai dari cara kerjanya (Densus) itu enggak sembarangan,” kata Hermawan.

Hermawan mencontohkan kinerja Densus 88 dalam menggagalkan aksi terorisme di Serpong. Pelaku ingin meledakkan jalur pipa gas Krakatau Steel yang terhubung ke Jakarta. Upaya tersebut berhasil digagalkan, karena Densus 88 berhasil menyamar dan mengintai dalam pemasangan bom tersebut. Kalau tidak ada Densus 88, bayangkan saja itu meledak dan seperempat Jakarta akan meledak karena itu saluran pipa gas. Menurut dia, penyelidikan seperti ini seringkali bisa memakan waktu 6 bulan.

Hermawan mengatakan bahwa kinerja Densus 88 akuntabel. Tapi polisi terkadang tidak bisa menjelaskan kinerja Densus 88 dalam upaya pencegahan tindak terorisme kepada masyarakat.

Seperti yang saya katakan tadi. Pergerakan, strategi dan rencana harus rahasia atau ditutup rapat agar tidak tercium oleh teroris. Kalau ketahuan, bakal lebih sulit melacak dan menangkan mereka.

“Kalau mau dibubarkan, maka saya sarankan bubarin aja, nanti kalau ada bom di rumahnya Fadli Zon biar tahu dia,” sindir Hermawan.

Hahaha, kalau beneran misalnya ada bom di kediaman Fadli Zon, saya yakin dia yang bakal duluan lari terbirit-birit dengan wajah pucat pasi seputih kertas fotocopy. Baru kemudian teriak salahkan pemerintah yang tidak mampu memberikan rasa aman kepada rakyatnya. Ini tipikal tukang nyinyir yang memang sakit hati. Tidak ada kepekaan sama sekali terhadap mereka yang pernah menjadi korban dari tindak terorisme.

Hermawan Sulistyo juga pernah cerita soal pelaku Bom Bali I, Ali Imron. Saat bertemu dengannya, Ali bertanya apakah masih ada orang yang tidak percaya bahwa kelompoknya bisa membuat bom.

“Waktu saya wawancarai pertama kali itu, Ali Imron bilang, Pak apa masih ada orang-orang yang tidak percaya kami yang bikin, kami yang ngebom?” kata Hermawan.

Hermawan menjawab masih banyak orang yang tidak percaya. “Ya mana orang percaya kamu orang Tenggulun, Desa di Lamongan, desa miskin di Lamongan, mana punya kemampuan,” kata Hermawan.

Ali Imron pun lantas meminta agar dia diizinkan melakukan demonstrasi membuat bom dan diledakkan di halaman Polda Metro Jaya. Bahkan, jika belum cukup membuat orang percaya, Ali Imron akan meledakkan bom di rumah bekas Ketua MPR RI Amien Rais.

“Kalau masih kurang bapak kasih tahu alamat rumahnya Amien Rais saya mau ledakkan di rumahnya boleh enggak? Supaya orang percaya. Ini omongannya Ali Imron,” kata Hermawan.

Ucapan Fadli Zon ini menyerempet ke arah kalau terorisme itu seolah tidak perlu dianggap terlalu serius sehingga keberadaan Densus 88 tidak diperlukan alias lebih baik dibubarkan. Sungguh menyesatkan dan disayangkan keluar dari mulut seorang wakil rakyat (memangnya dia pantas jadi wakil rakyat?).

Kata orang, jangan pernah pertanyakan jangan pernah komentari kehidupan orang miskin kalau belum pernah hidup susah. Hidup enak selama ini ya gampang komentari orang miskin, betul?

Sama seperti Fadli Zon yang kita yakini hidup enak dari gaji dan tunjangan yang besar sebagai anggota DPR, jangan pernah banyak tingkah mengomentari soal terorisme kalau sendiri belum pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai akibat terorisme.

Selama ini hidup nyaman dan belum pernah jadi korban terorisme, gampang lah mulut seenak jidat ngomong Densus 88 dibubarkan. Coba tanya tuh keluarga yang jadi korban terorisme. Seumur hidup harus teringat dengan luka dan trauma yang mendalam. Dampak psikologisnya sangat berat. Kadang tak bisa keluar dari jeratan psikologis seumur hidup.

Sungguh pemikiran yang sesat.

Bagaimana menurut Anda?
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *