DULU KADRUN KOMENTARI PRANCIS, SEKARANG LARANG SBY & JOKOWI KOMENTARI MYANMAR

Jaya Wijaya РTidak pernah terbayangkan dalam hidup penulis akan membela SBY. Tapi harus penulis akui kali ini pernyataan SBY benar, terkait dukungan beliau kepada Jokowi soal Myanmar. Penulis bukanlah dukun yang bisa menebak isi hati SBY, apa tujuan beliau berkata demikian. Tapi bagi penulis perkataannya benar.

Dalam akun twitternya SBY berkata :

Sebagai mantan Presiden, saya dukung usulan Presiden Jokowi agar dilaksanakan ASEAN High Level Meeting (HLM) untuk isu Myanmar. Inisiatif ini tepat, sesuai tradisi Indonesia sbg peacemaker & peacekeeper di dunia. Setelah HLM tentu dilanjutkan dgn ASEAN Summit agar lebih powerful.

Ucapan SBY ini sesuai dengan isu UUD negara Indonesia. Bahwa negara akan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Baik Jokowi maupun SBY keduanya benar dan sesuai dengan amanat UUD. Jokowi sebagai presiden Indonesia, menyatakan sikapnya sebagai berikut :

“Dan Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar segera dihentikan sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan, keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama,” katanya.

Jadi penulis sangat aneh ketika kadrun malah menyerang SBY, memintanya agar mengurusi masalah kekerasan di Indonesia dan tidak mengomentari soal Myanmar.

Padahal belum hilang dari ingataan kita bagaimana kadrun mengomentari soal pernyataan Macron, Presiden Prancis. Kita belum lupa bagaimana kadrun menuduh Macron menyebarkan Islamphobia karena menyebut “radikal islamis”, padahal tujuan Macron adalah untuk membedakan dengan umat muslim yang cinta damai.

Kita juga masih terngiang bagaimana kadrun teriak boikot produk Prancis, lalu mereka semua memborong produk minuman asal Prancis dan kemudian minuman tersebut dibuang sebagai bentuk protes kepada Macron.

Kita tidak bisa melupakan ada seorang artis yang menaruh barang mewah asal Prancis di lantai. Dengan gagah dia berkata akan membakar tas tersebut sebagai bentuk protes kepada Macron, namun kemudian tas tersebut tidak jadi dibakar. Memang konyol sih, tapi bagaimanapun kadrun sudah bersikap.

Jadi kenapa kadrun begitu protes ketika SBY dan Jokowi bersikap juga terhadap permasalahan di luar negeri? jelas jawabannya adalah karena hal tersebut tidak berhubungan dengan kepentingan kelompoknya. Bagi kadrun kebenaran itu tidak mutlak, tapi kebenaran itu standartnya adalah kepentingan kelompok. Ini yang dinamakan dengan standart ganda.

Coba jika yang jadi korban adalah suku Rohingya? maka kadrun akan teriak-teriak dan malah berbalik mendukung SBY.

Demikian juga halnya dengan masalah pemaksaan memakai Jilbab, kadrun dengan bangga mempertontonkan standart ganda yang begitu menjijikan. Mereka membela mati-matian pemerintahan daerah yang mewajilbkan siswi non muslim menggunakan hijab, namun mereka menentang keras pelarangan burqa di Sri Lanka walaupun itu demi keamanan.

Baik Sri Lanka, Myanmar dan Prancis adalah sama-sama masalah luar negeri. Namun respon kadrun tergantung dari siapa yang menjadi korban, kasus Prancis malah jauh lebih parah karena jelas-jelas yang jadi korban bukanlah dari pihak mereka.

Apalagi jika mendengar alasan kadrun bahwa di negara Indonesia juga terjadi kasus kekerasan, sehingga tidak perlu mengomentari kasus kekerasan di Myanmar. Padahal mereka teriak kencang bahwa Macron menyebarkan islamphobia, di tengah kasus intoleransi dan penindasan kepada minoritas di Indonesia.

Sudah banyak rumah ibadah ditutup, sudah banyak rumah ibadah minoritas dibakar, sudah banyak pula yang menjadi korban kekerasan karena intoleransi. Jamaah Ahmadiyah dan Syiah banyak yang diusir dari tempat tinggalnya, bahkan banyak yang meninggal karena darahnya dihalalkan. Kadrun diam dan bahkan membela FPI, salah satu ormas yang menghalalkan pembunuhan terhadap jemaah Ahmadiyah.

Sedangkan di Prancis tidak ada umat muslim yang menjadi korban, yang terpenggal justru warga negara Prancis sehingga Macron mengeluarkan pernyataan untuk membela rakyatnya. Tapi kadrun begitu kepanasan dan bahkan memaksa Jokowi untuk memberikan keceman terhadap Macron.

Lalu sekarang ketika terjadi pembunuhan terhadap 220 rakyat Myanmar, kadrun melarang Jokowi dan SBY untuk memberikan pernyataan sikap?

Kejadian di Myanmar yang banyak korban, kadrun melarang Jokowi dan SBY untuk komentar dengan alasan masih banyak kasus kekerasan di Indonesia. Sedangkan kasus Prancis kadrun ramai-ramai memaksa Jokowi untuk komentar, walaupun masih banyak intoleransi di Indonesia dan tidak ada korban jiwa muslim di sana.

Sungguh standart ganda dipertontonkan terang-terangan di sini. Begitulah Kura-Kura.

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *