STRATEGI POLITIK MURAHAN “CHAPLIN”, BIKIN ANIES MALAH TERSANDERA FPI

Jaya Wijaya – Mantan politisi demokrat Ferdinand berkata bahwa “Chaplin” akan membuat kekecauan politik yang besar di Indonesia. Kini, perlahan tapi pasti akhirnya rencana “Chaplin” mulai terbuka.

Kepulangan Bibib sebagai penggalang massa terlaksana dan membuat Jakarta dilanda kekacauan yang lumayan parah. Akses ke bandara lumpuh, fasilitas bandara rusak, penerbangan delay berjam-jam, kepentingan umum terganggu.

Di lain sisi, “Chaplin” juga dengan semangat mempersiapkan pembangunan Museum Nabi di Jakarta sebagai modal Anies tahun 2024 yang akan ditunggangi “Chaplin” setelah Jokowi tidak bisa lagi dimanfaatkan seperti periode pertama.

Hal menarik lainnya adalah kehadiran salah satu menteri penting di kabinet utama Jokowi, beliau hadir ikut meresmikan pembangunan Museum Nabi. Menteri BUMN mengurusi pembangunan Museum Nabi? Kok tidak nyambung ya, ada apa ini?

Jadi kekacauan politik yang Ferdinand katakan tampaknya terjadi, bahkan masih akan berlanjut hingga 2024. Banyak pendukung Jokowi yang mulai gelisah, panas dan kehilangan rasa percaya diri dengan gebrakan dari “Chaplin” ini yang menunggangi Anies beserta FPI demi mengamankan bisnis besarnya. Apalagi dengan diamnya Jokowi melihat semua kejadian ini.

Pertanyaannya adalah, apakah kita harus takut dengan gebrakan “Chaplin” dan diamnya Jokowi? Memang jejak digital “Chaplin” lumayan menyeramkan, contohnya adalah menjamu “Taliban” kelompok terorisme di Afghanistan yang hanya bisa digambarkan dengan satu kata “Ngeri”. Apalagi beliau adalah ketua dewan masjid, yang akan membuat politik SARA dan politik Agama terus menggema hingga 2024 nanti.

Mari kita tenangkan diri sejenak, minum air putih sambil mendengarkan musik kesayangan. Supaya kita bisa melihat permasalahan ini tidak terfokus pada satu titik, tapi melihatnya secara utuh, menyeluruh. Karena, ini permasalahan nasional, dimana tidak hanya Jakarta, melainkan provinsi-provinsi lainnya di seluruh Indonesia.

Pertama, mari kita kembali ke tahun 2009 dimana SBY dengan meyakinkan mengalahkan “Chaplin” dalam pertarungan politik yang tidak seimbang. Jadi kita harus paham, kalau strategi politik “Chaplin” itu tidak spesial-spesial amat. “Chaplin” hanya menang di dana dan logistik yang melimpah karena dia pengusaha besar.

Lalu soal FPI, ormas satu ini boleh petantang petenteng di JAKARTA dan JABAR, karena itu memang kandangnya. Tapi perlu kita ingat, pada 2019 Prabowo dibantu FPI sekaligus kader militan PKS saja kalah oleh Jokowi di Jakarta.

Pada kenyataannya, Indonesia bukan cuma Jakarta. Provinsi lain juga memantau tingkah FPI dan jika Jakarta hancur ditangan FPI maka Anies akan dihindari oleh pemilih dari provinsi lainnya, bukan hanya Anies tetapi “Chaplin” dan orang-orang dibelakang Anies lainnya akan dihindari oleh pemilih di seluruh Indonesia.

Maka taktik “Chaplin” memulangkan Bibib ke Jakarta untuk menggalang kekuatan massa sebenarnya bisa jadi bumerang bagi “Chaplin” dan kelompoknya di 2024 nanti. Jakarta boleh jadi dikuasai oleh kelompok “Chaplin”, walaupun belum tentu juga karena masih banyak silent majority yang masih diam.

Tapi bagaimana dengan Provinsi lain? FPI tidak berdaya di Bali, masih ingat dimana FPI ditantang perang puputan saat ingin menggagalkan acara Miss Universe di Bali. Di JATENG jelas akan dihajar habis-habisan juga karena ini provinsi adalah kandang Banteng, dan Jokowi menang lebar lawan Prabowo di provinsi ini.

Jawa Timur sudah ada Banser dan NU yang siap menunggu dan menghajar FPI jika berbuat ulah di wilayah mereka. Di Jawa Timur juga Jokowi menang dengan margin yang lebar. Kalimantan? Wah ngeri kalau ini sih, bisa-bisa mandau bersarang di leher. Papua? Sama ini juga ngeri, bisa mati berdiri di panah kalau macam-macam di Papua.

Jadi jelas sudah, taktik “Chaplin” memulangkan Bibib untuk penggalangan massa di Jakarta adalah taktik yang sebenarnya menyandera Anies dan kelompok mereka sendiri.

Tingkah mereka akan dilihat oleh seluruh Indonesia. Jika Jakarta amburadul karena politik “Chaplin”, maka ketika Anies maju dengan dukungan “Chaplin” di 2024, provinsi lain siap memukul balik mereka dengan cara tidak memilih Anies dan kelompoknya.

Hal ini tampaknya disadari Anies, maka pemprov DKI kali ini sedang mencari cara agar reuni 212 tidak dilaksanakan karena Jakarta sedang PSBB. Alasan sementara Monas tutup. Kita lihat nanti apakah Anies bisa lepas dari sandera FPI.
Begitulah Kura-Kura.
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *