KIM JONG-UN ‘PEROKOK BERAT’: APA HASIL KAMPANYE ANTIROKOK DI KOREA UTARA?

Bagaimana negara seperti Korea Utara mengatasi masalah kebiasaan merokok warganya, ketika pemimpinnya kerap mengirimkan pesan yang salah dengan terus merokok di depan umum?

Korea Utara adalah satu negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia. Hampir setengah dari semua pria di sana merokok, tetapi tidak ada perempuan yang merokok, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia.

Sebuah undang-undang yang disahkan awal bulan ini menetapkan larangan merokok di tempat umum di Korea Utara dan menetapkan aturan untuk mewujudkan lingkungan yang “lebih berbudaya dan higienis” bagi masyarakat.

Namun, media pemerintah sering menunjukkan Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un dengan sebatang rokok di tangan, hal yang disebut memberikan contoh yang buruk pada warga.

Jadi, bagaimana implementasi aturan larangan merokok di negara itu?

Apa yang diatur undang-undang itu?

Undang-Undang Larangan Tembakau yang diterapkan pada awal November ini menetapkan aturan “yang harus diikuti oleh semua lembaga, organisasi, dan warga negara untuk melindungi kehidupan dan kesehatan masyarakat “.

Undang-undang tersebut juga memperketat “kontrol hukum dan sosial atas produksi dan penjualan rokok”.

Aturan itu menyebutkan tempat-tempat di mana kegiatan merokok dilarang, seperti di area yang dimaksudkan untuk “pendidikan politik dan ideologis”, teater dan bioskop, unit pendidikan, fasilitas kesehatan umum, dan transportasi umum.

Ada wacana soal hukuman, tetapi media pemerintah belum mengumumkannya.

Beberapa hari setelah mengesahkan undang-undang baru itu, kantor berita negara KCNA melaporkan bahwa perokok berisiko lebih besar tertular virus corona, mengutip “dokter dan ahli di seluruh dunia”.

Kapan kampanye antirokok dimulai?

Gerakan antirokok Korea Utara dimulai setelah penandatangan Konvensi Kerangka Kerja WHO tentang Pengendalian Tembakau, yang diratifikasi pada tahun 2005.

Sebagai bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Pengendalian Tembakau negara itu, label peringatan dipasang pada kemasan rokok dan aktivitas merokok di tempat umum dibatasi.

Sebuah kampanye dilakukan pada tahun 2019 untuk menginformasikan perokok tentang “bahaya” merokok, seperti dilaporkan KCNA.

Media pemerintah juga mengatakan langkah-langkah telah diambil untuk membatasi impor tembakau dari luar negeri.

Televisi Sentral Korea menggambarkan mereka yang merokok di pagi dan sore hari sebagai orang yang “tidak berbudi”, seperti dilaporkan situs web The Daily NK yang berbasis di Seoul.

Tahun ini diluncurkan situs yang memberikan informasi tentang bahaya rokok.

“Sains dan informasi penting dalam kampanye antirokok,” kata outlet berita propaganda Arirang-Meari.

Seorang pemimpin perokok berat …
Tapi Kim Jong-un adalah seorang perokok berat.

Dia sering terlihat memegang sebatang rokok dalam kegiatannya- baik dalam kunjungan ke kamp anak-anak atau saat mengawasi uji coba rudal.

Pada Februari 2019, dia terekam sedang merokok saat istirahat dalam perjalanan kereta api ke Vietnam untuk pertemuan puncak keduanya dengan Presiden AS Donald Trump.

Saudara perempuannya Kim Yo-jong memegang asbak untuknya.

Istri Kim, Ri Sol-ju, dilaporkan telah mendesaknya untuk berhenti, tetapi dia “tidak mendengarkan”, seperti dilaporkan beberapa media.

Benarkah perempuan tidak merokok?

Jumlah perokok di Korea Utara tinggi selama bertahun-tahun dan tetap seperti itu- meskipun terlihat angka penurunan yang lamban.

Laporan WHO untuk 2019 mengatakan 46,1% dari semua pria di atas usia 15 tahun di Korea Utara adalah perokok.

Menurut data itu tidak ada perempuan yang merokok.

Dalam masyarakat Korea Utara, perempuan yang merokok bisa diremehkan.

“Perempuan yang merokok di depan umum dianggap tabu secara budaya dan sosial, terlebih jika yang melakukan adalah perempuan muda, bahkan jika dibandingkan dengan di Korea Selatan.

“Di Korea Utara, beberapa perempuan yang sudah menikah atau lansia merokok secara sembunyi-sembunyi,” kata James Banfill, direktur CoreanaConnect, LSM berbasis di AS yang bekerja di Korea Utara, kepada BBC Monitoring.

“Rokok di Korea Utara dianggap sebagai konsumsi pria. Rokok memiliki peran dalam budaya sosial, pekerjaan, dan militer pria Korea Utara. Konsumsi tembakau yang berlebihan secara budaya dapat diterima jika dilakukan oleh pria,” kata Min Chao Choy, seorang jurnalis situs NK News.

Faktanya, perempuan digunakan dalam kampanye negara untuk mencegah pria merokok.

TV pemerintah pernah menayangkan program bertajuk “The Extra Quality Favourite Item Threatening Life.”

Pada tayangan itu, para perempuan memarahi para perokok pria, menyebut mereka “orang bodoh yang mengganggu lingkungannya”.

Terlepas dari konteks budaya dan gender, kebiasaan merokok sudah membunuh banyak orang di Korea Utara.

Setiap tahun, lebih dari 71.300 orang meninggal di Korea Utara karena penyakit yang disebabkan oleh konsumsi tembakau, menurut data yang dikumpulkan oleh Tobacco Atlas.

Sebagai perbandingan, Australia – negara dengan populasi serupa, yakni sekitar 25 juta orang – mengalami 22.200 kematian setiap tahun karena konsumsi produk tembakau.

Jadi, apa yang telah dicapai kampanye ini?
Beberapa ahli kesehatan merasa inisiatif tersebut membawa dampak.

“Kurang dari separuh pria dewasa atau 46,1% adalah perokok: angka ini turun dari 52,3% pada 2009. Selama lebih dari 20 kunjungan terakhir saya Korea Utara selama 13 tahun belakangan, saya melihat lebih sedikit perokok di Pyongyang, terutama pada pria yang lebih muda,” kata Kee B Park, direktur Proyek Kebijakan Kesehatan Korea di Harvard Medical School kepada BBC Monitoring.

Tetapi tampaknya ada pesan yang beragam karena rokok tersedia dengan harga terjangkau di Korea Utara.

“Seperti banyak negara, Korea Utara berjuang menuju konsep modernitasnya sendiri, yang mencakup beberapa kebijakan kesehatan modern seperti yang meminta warga berhenti merokok.

“Perbedaan antara aspirasi rezim dan apa yang terjadi dalam kenyataan seringkali sangat besar dan hal itu dapat dilihat dari aturan larangan merokok versus kebiasaan warga untuk merokok,” kata Min Chao Choy.

Beberapa analis merasa bahwa pencegah yang lebih kuat diperlukan untuk membuat orang menghentikan kebiasaan merokok itu.

“Kampanye antirokok mungkin bertujuan untuk mengurangi jumlah perokok di tempat-tempat tertentu. Selain kemauan keras, tidak banyak mekanisme yang bisa dilakukan untuk membantu seseorang berhenti merokok di Korea Utara,” kata Banfill.

Namun, bayangkan betapa kuat pesan kampanye itu jika pemimpinnya memberikan contoh yang lebih baik dan memutuskan untuk berhenti merokok?

Tentu saja tidak ada yang tahu kapan atau apakah itu akan terjadi.
sumber: bbc

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *