PERHITUNGAN WAKTU “MENGIKIS HABIS” MENTAL ORBA PADA RAKYAT INDONESIA.

Erika EbenerĀ – Saya kemaren ngobrol panjang lebar selama 5 jam dengan seorang Pegawai Negara Sipil atau PNS dan seorang lagi adalah pejabat BUMN yang selalu berhubungan erat dan dekat dengan kalangan Pejabat Negara. Ini sangat menarik sekali untuk saya bagikan dengan Pembaca Seword. Sebenarnya ngobrol panjang kali lebar dengan PNS atau ASN, sudah sering saya lakukan. Panjang dan pendeknya kesimpulan yang saya dapatkan ya sama… yang kalau saya analogikan Indonesia sebagai satu tubuh manusia, yang berubah hanya warna rambut, tata rias wajah dan bajunya saja, tapi dalaman seperti otak, hati dan pikiran, tetap sama, yaitu Mental Orba.

Awalnya kita membicarakan soal “apa sih arti dari perkataan Jokowi yang tanpa beban?” Masing-masing mengeluarkan pendapatnya. Lalu satu dari mereka mengatakan, “Sekarang ini sepertinya Bapak lebih banyak mendengarkan pembisiknya. Dibandingkan Bapak yang dulu, sekarang ini Bapak terlihat lebih fragile!”. Saya setuju dan saya bilang, “Yaitulah yang tanpa beban. Dulu Bapak seakan-akan lebih memperlihatkan ke-Jokowi-annya. Sepak terjang dia yang tidak populer, membedakan dia dari presided presiden sebelumnya”. Lalu kita membicarakan soal betapa jumlah jari tangan dan kaki kita bertiga tidak cukup untuk menghitung banyaknya infrastruktur yang sudah berhasil Jokowi selesaikan selama periode pertama. Dari pembicaraan soal infrastruktur itu kemudian, kita menarik kesimpulan tentang “Jokowi menjadi Presiden RI di periode kedua yang tanpa beban”. Bahwa sebenarnya yang menjadi sasaran dan prioritas Jokowi itu hanya pembangunan pisik fasilitas yang dibiayai negara. Kawan saya yang pernah ditugaskan di Papua dan pelosok di Kalimantan memberi pernyataan betapa perubahan besar-besarnya terjadi di dua area itu. Jalan tol, jalan nasional hingga jalan arteri dibangun hampir di seluruh pelosok Indonesia. Kantor-Kantor di perbatasan Indonesia yang sejak dulu seperti kandang domba, sekarang megah dan berwibawa, bandara dan pelabuhan ibarat dipermak muka, Jaringan internet seperti Palapa Ring terpancang. Rakyat sekarang sudah tidak punya alasan untuk tidak bergerak lebih cepat secara nyata maupun secara virtual. Tapi kok Jokowi sepertinya gagal mengusung program Revolusi Mental?

“PNS yang milenial itu sebenarnya kesulitan untuk bekerja dengan atasan yang tua-tua. Kalau mereka memberi masukan yang out of the box, seringnya dijawab, ‘Biasanya’ begini caranya, pokoknya saya maunya begini! Dan si Milenial itu mengalah. Masa atasan dilawan…. Kalaupun ada perubahan paling 10 atau 20 persen, selebihnya ya cara lama.” Kawan yang bekerja di BUMN mendukung cerita kana yang PNS, “Iya sama di BUMN juga begitu. Seberapa besarpun kucuran dana dari pemerintah untuk perbaikan, kalau sudah di bawah, praktek-praktek lapangannya masih tidak berubah. Masih sama seperti dulu-dulu”.

“Tanpa beban itu karena sekarang di periode kedua ini Jokowi sudah sangat paham bagaimana dalaman Indonesia. Dia paham, walaupun dia orang no.1 di Indonesia, dia tak ubahnya seperti rambut wig yang dipakai dikepala yang setiap 5 tahun diganti. Syukur-syukur bisa dipakai selama 10 tahun. Kabinet itu ibarat baju yang bisa diganti juga. Tapi mental tak bisa dia ubah. Jokowi sepertinya juga paham bahwa yang bisa merubah dan memajukan Indonesia dari sisi mental itu hanya generasi Milenial. Jokowi hanya bisa membangun Indonesia secara pisik, tapi untuk merubah sistem dan budaya, 10 tahun tak mungkin bisa. Karena menyadari dan memahami itulah, Jokowi merasa tidak berbebani. Tahun 2024 digantipun, atau tahun depan digantipun, Jokowi tak rugi. Yang penting dia sudah berhasil menghubungkan Indonesia!”

Saya termasuk orang yang merasa terbeban kalau ada kejadian yang tidak saya pahami. Saya tidak akan berhenti untuk mencari jawaban atas pertanyaan “Mengapa ini tidak bisa saya lakukan?”. Dan ketika jawaban itu ada dan saya bisa menerimanya, maka rasa penasaran dan beban itu seketika hilang. Saya jadi lebih ikhlas atas apapun usaha yang saya lakukan.

Lalu kapan Indonesia mentalnya akan berubah? Wah kalau sudah berbicara soal “Mental Indonesia” itu sebenarnya merubah mental orang-orang yang duduk di 3 lembaga : Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif. Kalau orang-orang yang dudul di 3 lenbaga ini sudah berubah mentalnya, rakyat pasti mengikuti. Dan kalau bicara tentang “Kapan”. Saya langsung menjawabnya dengan lancar, “Nanti kalau pejabat tua dan mantan pejabat tua seperti Luhut, Moeldoko atau JK sudah mangkat. Kalau PNS, ASN, Hakim, Jaksa dan Polisi yang sekarang umurnya 40 tahunan sudah pesiun. Lalu tambahkan lagi 3 generasi berikutnya. Maka minimal mental bangsa Indonesia akan seperti Singapura, yang taat pada aturan tapi masih sedikit berbudaya KKN. Kalau mau seperti mental bangsa Eropa, tambahkan lagi 3 generasi.”. Teman-teman saya langsung menghitung, kira-kira perkiraan itu jatuhnya kapan. ha ha ha

Nah, bagi pembaca yang berhasil menemukan jawaban atas hitungan dengan perhitungannya yang mendekati perkiraan, silahkan kirimkan jawaban kalian ke redaksi Seword (redaksi@seword.com). Lengkapi dengan nama dan alamat. Jangan hanya menjawab dengan satu angka yah, harus dengan perhitungannya. Yang jawabannya mendekatan hitungan yang saya miliki, akan saya kirimi Novel “Emily” free!!!
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *