MASUK JEBAKAN AHOK, ERICK TAK BERANI BONGKAR BOROK PERTAMINA APALAGI JIWASRAYA

Ronindo – Erick sebenarnya sudah masuk jebakan dan terperosok begitu dalam ketika dia mrespon soal lobi-lobi Pertamina. Momen Komut Pertamina membongkar aib Pertamina dari dalam perkara adanya lobi-lobi direksi ke menteri akhirnya menunjukkan siapakah sosok Erick yang asli.

Hasilnya sudah jelas. Gebrakan di Kementerian BUMN yang mengusung motto atau semboyan AKHLAK itu hanyalah pencitraan semata. Publik akhirnya memahami bahwa aksi Erick selama ini di Kementerian BUMN itu hanyalah simbol atau gimmick pencitraan belaka.

Aksi bongkar Pertamina langsung diredam Erick. Erick memakai jurus diplomasi level pebisnis ulung untuk meredakan hiruk pikuk tepatnya meredam skandal di Pertamina yang sudah menimbulkan menggemparkan media sosial. Tapi kegemparan yang sesungguhnya ada di tubu Pertamina dan Kementerian BUMN ytang mulai panas dingin karena apa yang disulut oleh Komut.

Secara kerja di Pertamina yang sumber bahan bakar, si Komut sudha berbekal amunisi yang langsung membom, bukan lagi membakar. Makanya bom itu langsung menjalar ke si Tengkuzul berjenggot dan ke si politisi Gerindra yang kepalanya ikut kebakaran walau kepalanya plontos mengkilap.

Aksi hujaman ala Ahok memang menerabas ke tingkat zona nyaman tak hanya pemain lama. Erick sendiri merasa kegerahan dan kepanasan. Aksi Ahok ikut melucuti aksi pencitraan Erick yang selama ini sudah mulai membuai publik dengan gebrakan perubahannya.

Ujungnya reformasi itu terbelit dengan lobi-lobi plus aksi diplomasi sang Menteri BUMN yang dengan santun mementahkan apa yang sudah seharusnya ditindaklanjuti oleh sang pimpinan. Ahok sudah melakukan tugasnya dan itu kini keputusan di tangan pucuk pimpinan tertinggi di BUMN.

Erick sudah menunjukkan sikapnya. Dia mementahkan dan mementalkan terobosan yang dilakukan sang Komut. Erick sendiri tak membela Komut tapi memihak kepada para pelobi. Erick menepis sebutan lobi itu dan beralasan bahwa apa yang dilakukan direksi Pertamina hanyalah bentuk pembicaraan dalam rapat.

“Lho, kalau saya kan hubungan direksi, komisaris, dengan menteri kan hal yang biasa saya rasa. Kalau dibilang lobi-lobi, semua itu pembicaraan, rapat, bukan lobi. Sesuatu yang biasa,” tegas Erick ketika ditemui awak media usai menghadiri rapat kerja (Raker) dengan Komisi VI DPR RI, di Jakarta, Selasa (22/9/2020).

Ada tambahan lagi keberpihakan Erick ke direksi. Erick mengklaim bahwa direksi dan komisaris BUMN memang harus dekat dengan menteri-menteri. Pasalnya, jika tidak maka kerja sama tim tak berjalan efektif.

Ciyeee, harus dekat, iya dong. Kalau dekat demi kolaborasi yang lurus dan untuk kepentingan negara serta rakyat ya nggak masalah. Tapi kalau lobi-lobi kedekatan itu demi untuk sesuatu yang nggak benar ya harusnya ditindak dong.

“Komisaris, direksi harus dekat dengan menterinya. Kalau nggak nanti yang kita mau teamwork jadi nggak jalan,” terang Erick.

Ternyata hanya alasan basi semata.

Makanya jangan berharap kasus-kasus jumbo macam Jiwasraya yang masih membelit dan menjadi sengkarut itu tak akan bakal tuntas ditangani Erick. Beliau malah melempar ke pihak Kejagung dari awal.

Padahal akalau Erick berniat, dia mestinya bisa membongkar sampai ke akar-akarnya. Apalagi ujungnya kasus Jiwasraya kembali menguras APBN sampai Rp 20 T dan itu belum cukup. Erick tutup mata dengan para pemain lama yang sudah merugikan Jiwasraya dan pada saat yang sama sudha menggarong negara.

Sebagai pebisnis Erick terlalu dekat dengan para pebisnis apalagi yang bermasalah dengan Jiwasraya. Makanya relasi mesra dengan anaknya Bakrie sudah bisa ditebak akan membuat Erick untuk main aman.

Erick pasti akan mengutamakan kelanggengan relasi bisnis dan pertemanan. kendati Erick tahu betapa susahnya Menkeu menagih utang Bakrie perkara Lapindo. Tahun ini saja kembali gagal bayar padahal Bakrie itu masih banyak duitnya. Erick paham tapi dia nggak berani mengusiknya.

Coba di awal-awal menjabat, Erick bernai memberikan gertakan dan melempar ancaman ke pimpinan BUMN yang bermasalah. Kini ketika urusan Jiwasraya Erick menunjukkan sikap santun dan diam. Hanya mengumbar janji semata soal pembayaran tapi nggak kunjung beres juga.

Erick nggak mau melakukan perubahan yang signifikan untuk BUMN. Dia memilih bermain aman dan akhirnya kelanggengan lobi-lobi dan segala jurus mafia itu tak akan pernah bisa dibabat tuntas. Termasuk kasus gigantik, Jiwasraya.

Begitulah kura-kura!

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *