MENGENANG IR. SOEKARNO, BAPAK PROKLAMATOR 75 TAHUN INDONESIA MERDEKA

Agus Oloan – Banyak cara dilakukan untuk merayakan tujuhbelasan di bulan Agustus, bulan penuh sejarah ini. Ya, jika tahun-tahun sebelumnya kita merayakan Hari Kemerdekaan dengan Upacara Bendera dan dilanjutkan dengan kemeriahan lomba-lomba khas tujuhbelasan?

Maka sekarang ketika pandemi global covid-19 menyerang hampir seluruh belahan dunia ini, kita dihadapkan harus mentaati protokol kesehatan yang telah diterapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk menerapkan Phyisical Distancing dan dengan kesadaran sendiri untuk ikut hening dan menghentikan segala kegiatan atau aktivitas selama kurang lebih tiga sampai empat menit selama Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dan ketika Detik-Detik Pembacaan Proklamasi Kemerdekaan di kumandangkan.

Inilah bagian dari bakti kita untuk Nusa dan Bangsa selama pandemi ini. Kita harus menjadi bagian dari upaya pemutusan rantai penyebaran covid-19 dengan tidak melakukan kegiatan-kegiatan lomba yang seperti biasa kita lakukan, seperti: tarik tambang, joget balon, panjat pinang, balap karung, dan lain sebagainya, sehingga tidak terjadi lonjakan penyebaran covid-19.

Nah, sebagai buah dari permenungan saya di Ulang Tahun Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-75 ini? Saya kembali terkenang akan sosok Soekarno yang kita sebut sebagai Bapak Pendiri Bangsa (The Founding Father) Indonesia. Bagaimana tidak? Kenangan akan sepak terjang dan perjuangan beliau untuk Memerdekakan Indonesia bersama dengan pejuang-pejuang lainnya sangat tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Bangsa ini.

Ir. Soekarno, Proklamator sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia, lahir di Blitar, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Soekarno adalah pencetus konsep Dasar Negara Indonesia, Pancasila.

Tahun 1951, Soekarno menjadi anggota organisasi JongJava cabang Surabaya yang bersifat Jawa sentries dan hanya memikirkan kebudayaan. Ia menggemparkan rapat pleno tahunan Jong Java dengan berpidato menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar). Pada lain waktu, ia juga mengajukan ide agar surat kabar Jong Java terbit dalam bahasa Melayu, bukan dalam bahasa Belanda. Soekarno juga mendirikan Algemene Atudie Club di Bandung yang merupakan cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) tahun 1927.

PNI dianggap Belanda berbahaya karena menyebarkan ajaran-ajaran pergerakan Kemerdekaan yang mengakibatkan tertangkapnya Soekarno pada 29 Desember 1929, PNI dibubarkan. Setelah kebebasan Soekarno pada tahun 1931, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo) yang tujuan pokoknya sama, menuju Indonesia Merdeka dan menjalankan politik nonkooperasi terhadap pemerintah Belanda.

Hal ini menyebabkan Soekarno ditangkap kembali oleh Belanda dan dipenjarakan di Ende, Flores, kemudian di Bengkulu. Soekarno bebas pada masa penjajahan Jepang, tahun 1942.

Pergerakan Soekarno dan tokoh-tokoh lain dalam persiapan Kemerdekaan Indonesia menghasilkan rumusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta dasar-dasar Pemerintahan Indonesia, yang salah satunya adalah Naskah Proklamasi Indonesia yang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Atas desakan para pemuda, Soekarno dan Muhammad Hatta memberanikan diri untuk Memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta Pusat, tepatnya jam 10.00 pagi dan keesokan harinya Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk pertamakalinya.

Presiden Soekarno setelah menjadi Presiden banyak memberikan buah pemikiran dan gagasan-gagasan brilian untuk Indonesia maupun dunia internasional. Sang arsitek alumni dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat tahun 1926 banyak memberikan konstribusi dan pengaruh terhadap beberapa karya arsitektur, diantaranya arsitektur Masjid Istiqlal, Monumen Nasional, dan Tugu Selamat Datang.

Melihat nasib bangsa Asia-Afrika yang masih belum merdeka menyebabkan Soekarno berinisiatif mengadakan Konferensi Asia-Afrika yang menghasilkan Gerakan Non Blok. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung dari tanggal 18 April sampai dengan 24 April 1955 menunjukkan bahwa Indonesia turut berperan dalam upaya menjaga perdamaian dunia dengan menjalin kerjasama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika, serta mengambil sikap untuk melawan kolonialisme atau neokolonialisme yang ditunjukkan oleh dua negara adidaya, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang kala itu terjadi perang dingin antar dua pihak.

Namun, akhirnya Gerakan 30 September 1965 menjadi titik balik dari pemerintahan Presiden Soekarno, karena terjadi situasi politik di Indonesia tidak menentu. Berbagai kontroversi sejarah yang belum bisa terkuak, masih menjadi misteri. Namun, Supersemar yang masih menjadi kontroversi pula menjadi pengalihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ketangan Letnan Jenderal Soeharto untuk naik panggung menjadi Presiden kedua di negeri ini dan berkuasa selama 32 tahun.

Surat Perintah Sebelas Maret digunakan Soeharto untuk membubarkan PKI dan Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka pada tanggal 20 Februari 1967 dan MPRS pun mencabut kekuasaan Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI ke-2.

Ir. Soekarno yang mengidap gangguan ginjal mengalami penurunan kesehatan pada tahun 1965. Ia disarankan untuk mengangkat ginjal kirinya, tetapi ia memilih pengobatan tradisional. Pada tanggal 21 Juni 1970, Soekarno dinyatakan meninggal dunia.

Untuk mengenang jasa-jasanya, nama Soekarno diabadikan sebagai nama untuk sarana keperluan Asian Games, yaitu Gelanggang Olahraga Bung Karno pada tahun 1958. Nama tersebut sempat diubah menjadi Gelora Senayan pada masa Orde Baru. Namun, dikembalikan lagi sebagaimana nama awalnya pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Pada tahun 2012, Ir. Soekarno diangkat menjadi Pahlawan Nasional melalui Kepres RI Nomor 83/TK/Tahun 2012 tanggal 7 November 2012.

Inilah sekelumit kenangan saya akan Ir. Soekarno yang memproklamirkan Kemerdekaan Republik Indonesia tanpa rasa takut.

“Apakah kelemahan kita? Kelemahan kita ialah kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri. Kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong.”

Dikutip dalam pidato Soekarno pada HUT Proklamasi, 17 Agustus 1966.

Apa kenangan Anda terhadap Soekarno? Silahkan komen di kolom komentar…

Merdeka…!

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *