ADA APA DENGAN MEREKA, HINGGA LOGO HUT RI KE-75 PUN DIBILANG MIRIP SALIB

Xhardy – Imajinasi yang terlalu tinggi hingga otak menjadi kacau, pikiran menjadi phobia yang berlebihan. Ibarat orang ketakutan setengah mati hingga berpikiran konyol dan bertindak di luar batas logika.

Ini terjadi di Solo.

Sekelompok orang mempersoalkan Logo HUT RI ke-75 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Dalam audiensi dengan Pemkot Solo, mereka menganggap jika salah satu desain logo menyerupai simbol salib.

Mereka menemukan desain logo yang dianggapnya mengarah ke agama tertentu dan terlanjur dipasang di beberapa tempat di Solo. Ujungnya jelas, meminta agar menarik logo tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di beberapa kalangan. Supaya HUT RI ditengah pandemi ini tidak mempertentangkan urusan SARA.

Tidak usah permasalahkan apakah kemauan mereka diakomodir atau bagaimana akhir dari masalah ini. Yang kita fokuskan adalah satu pertanyaan sederhana, namun bisa bikin pusing: Apa yang sedang terjadi dengab negeri kita tercinta ini? Atau ada apa dengan mereka ini hingga memakai cocoklogi murahan dan membuat kekisruhan soal agama?

Kelompok ini harusnya tidak perlu diberi panggung, tidak perlu diakomodir, karena jumlahnya tidak banyak meski bisingnya setengah mati. Cuma gitu doang sampai harus bikin heboh, ngakunya paling beriman, giliran melihat sesuatu yang mirip dengan simbol agama lain, langsung kebakaran jenggot dan kejang-kejang. Iman mereka cuma setipis kertas kah? Apakah sebegitu lemah iman mereka sehingga melihat sesuatu yang mirip saja sampai keringat dingin?

Inilah akibat terlalu fanatik plus otak diisi dengan kebencian sehingga mengakibatkan halusinasi. Mereka ini memang mirip gila, melihat segitiga langsung teriak-teriak, melihat mata satu langsung kejang-kejang, melihat sesuatu yang mirip salib langsung kepanasan, melihat sesuatu yang mirip palu arit sedikit langsung kebakaran jenggot.

Kalau soal cocoklogi murahan pun dijadikan kehebohan, ini namanya pembodohan massal. Bagaimana dengan tiang listrik, bukankah mirip salib? Bagaimana dengan tiang jemuran baju, bukankah mirip dengan salib juga? Kalau mau gila, ubin keramik di rumah juga bisa dibayangkan mirip dengan salib.

Ini adalah contoh daya khayal yang terlalu tinggi tapi terlalu bodoh untuk berpikir jernih. Saking tingginya khayalan mereka, lantas membuat keresahan atas nama melindungi iman dan agama. Kalau kelompok ini dibiarkan bebas, malah menunjukkan kalau negara ini sedang mengalami sesuatu yang tidak beres.

Memangnya hanya dengan melihat simbol tanda salib secara rutin bakalan membuat seseorang lemah imannya? Ini cuma simbol loh, beda kalau seseorang tiap hari digoda dengan rayuan dan bujukan agar pindah agama. Kalau lemah iman suatu hari mungkin bakal tertarik untuk mencoba. Lah ini? Simbol doang, itu juga bukan simbol salib, cuma dicocoklogi oleh gerombolan tak ada kerjaan. Mereka ini sepertinya sengaja memancing keributan. Masa sesuatu dimirip-miripkan? Gila bener sih ini.

Saya saja sampai butuh waktu beberapa detik untuk memahami di mana simbol salib yang diributkan itu. Dan ternyata, tepok jidat. Dibikin cocoklogi sehingga terlihat jadi mirip. Gak sekalian demo minta robohkan semua tiang listrik di Indonesia karena mirip salib?

Seperti yang kita katakan berkali-kali, inilah bahaya yang sedang mengintai negara yang majemuk ini. Harus diwaspadai kelompok yang bikin keributan dengan sesuatu yang konyol. Sudah jelas di lapangan ada sebuah ancaman nyata bagi negara dan masyarakat, yaitu kelompok yang ingin membuat keributan melalui sentimen agama. Negara seharusnya jangan kalah sama kelompok ini. Mau dibawa kemana negara ini kalau mereka terus didengar dan diakomodir apalagi cenderung takut menindak mereka? Tapi tampaknya masalah ini terus saja terjadi.

Masalah ini sebenarnya adalah bom waktu yang bakal meledak jika tidak segera dijinakkan secepat mungkin. Kelompok inilah yang akan menjadi pengacau sebenarnya jika terus diakomodir. Demo atau protes boleh. Tapi kalau yang diprotes adalah sesuatu yang dimirip-miripkan, ini tidak boleh dibiarkan. Apalagi ini menyenggol agama. Ini adalah masalah yang harus diseriuskan kalau tidak mau bikin negara ini kacau di masa depan.

Mereka bisa bebas teriak berlandaskan cocoklogi sampah. Bagaimana kalau minoritas yang begini? Apakah mereka bakal terima. Atau minoritas yang menjadi mayoritas di pulau lain melakukan hal yang sama, what happen? Mereka bakal beringas.

Miris, entah apa yang terjadi di negara ini, dan entah apa yang sudah dilakukan pemerintah untuk mengatasi ini.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *