KAMI HALU!

Dhian Pras – Sejumlah tokoh yang mengatas-namakan perwakilan masyarakat peduli masa depan negara dan bangsa mendeklarasikan berdirinya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), di Fatmawati, Jakarta Selatan, Minggu (2/8/2020) siang.

Para tokoh dan aktivis yang hadir dalam acara itu antara lain Din Syamsuddin, Abdullah Hehamahua, Rocky Gerung, MS Ka’ban, M Said Didu, Refly Harun, Syahganda Nainggolan, Prof Anthony Kurniawan, Rohmat Wahab, Ahmad Yani, Adhie M Massardi, Moh Jumhur Hidayat, Ichsanudin Noorsy, Hatta Taliwang, Marwan Batubara, Edwin Sukowati, Joko Abdurrahman, Habib Muhsin Al Atas, Tamsil Linrung, Eko Suryo Santjojo, Chusnul Mariyah, dan Sri Bintang Pamungkas. Silahkan menilai para tokoh tersebut, waktu dan tempat dipersilahkan! Koalisi KAMI ini katanya adalah gerakan moral untuk mengembalikan arah perjalanan bangsa yang dianggap telah melenceng dari tujuannya sehingga menimbulkan berbagai kesulitan yang terjadi saat ini.

Hahaha jargonnya gerakan moral! Padahal gerakan moral sejatinya memiliki tujuan yang moralis, meski langkahnya kadang bernuansa politis. Jika gerakan moral hanya menjadi jargon, padahal tujuan akhirnya adalah kekuasaan politik, maka sama sekali bukan gerakan moral! Melihat kualitas para tokoh yang berkumpul, jujur saya cenderung mengatakan mereka koalisi oportunis dengan motivasi ofensif. Mereka yang boleh jadi di masa lalu saling serang dan sekarang berkumpul karena kebencian dan rasa halusinasi yang sama. Hmm masing-masing membawa senjata yang disembunyikan siap untuk saling menikam! Tak percaya? Kita lihat saja nanti ending koalisi ini.

KAMI versi Din Syamsudin, mau tidak mau mengingatkan kita pada KAMI versi lawas alias jaman Orde Lama yang berteriak bubarkan PKI! Bosan ya susah pasti, PKI lagi PKI lagi! Dulu KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) berdemonstrasi pada Pemerintah Orde Lama yang dipimpin Presiden Sukarno yang dianggap gagal.

Sekarang tampaknya roh KAMI lawas hendak dihidupkan lagi lewat KAMI debutan baru versi Din Syamsudin Cs. Sama-sama protes dengan tuntutan, dulu Tritura (Pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet Dwikora, turunkan harga pangan).

Sedangkan KAMI versi Din Syamsuddin protes bahwa kapal besar Indonesia telah goyang dan hampir karam. Maka anak-anak bangsa bangkit untuk:

menyelamatkan jutaan keluarga yang menderita karena kepala keluarga terpaksa berhenti bekerja dan harus berada di rumah, sementara kebutuhan bersama keluarga sangat tergantung kepada penghasilan hari itu.

Menyelamatkan Indonesia, adalah menyelamatkan jutaan anak-anak bangsa generasi masa depan yang tidak dapat belajar secara normal

Menyelamatkan Indonesia adalah menyelamatkan negara besar ini dari oligarki, kleptokrasi, politik dinasti yang bahkan dengan segala keangkuhan melabrak UU yang sudah ada dan melanggar konstitusi UUD 1945.

https://www.jpnn.com/news/reaksi-alumni-212-saat-din-syamsudin-cs-deklarasikan-kami

Gerombolan Din Syamsuddin ini kalau disebut peduli masa depan negara, ya tampaknya kurang pas wong mereka sudah tua-tua. Berumur namun hasrat masih menggebu karena tak mendapat tempat, ini yang tampak dari gerombolan itu. Mereka yang menjadi saksi jaman Sukarno, terlibat di jaman Soeharto, berkiprah di jaman Soeharto dan SBY, dan barangkali sekarang memendam rasa sakit hati karena tersingkir di jaman Jokowi. Ini tempat berkumpul gerombolan sakit hati tidak terpakai lagi!

KAMI sengaja dihidupkan, ini adalah tentang ingatan masa lampau dimana PKI harus dibubarkan. KAMI hidup demi halusinasi. Berharap ada demo besar-besaran lagi seperti dulu? Menyelamatkan Indonesia yang telah goyang dan hampir karam? Dari mana datanya?

Apa benar mereka tidak tau karena pandemi Covid-19 ini, seluruh dunia menderita, bukan hanya Indonesia? Coba tunjuk negara mana yang cepat bangkit karena pandemi? Belum ada! Jadi tuntutan soal jutaan rakyat tidak bekerja, menderita tidak mampu makan. Anak-anak tidak mampu belajar normal. Itu efek domino dari pandemi. Dan itu terjadi di seluruh dunia!

Setidaknya menurut World Bank, negara Indonesia bersama China dan India adalah tiga negara yang dianggap paling recovery diantara 185 negara yang terdampak bencana Covid-19. Etapi jangan-jangan gerombolan memang lebih pinter dari World Bank dalam hal menganalisa soal ekonomi.

Satu lagi soal oligarki, kleptokrasi dan politik dinasti. Kemana orang-orang sepuh ini saat Pak Harto mengangkat Mbak Tutut jadi Menteri Sosial? Lha pasti mereka lupa soal itu karena jaman Soeharto mereka hidup makmur. Maksudnya menyindir Gibran, anak Jokowi yang sedang nyalon jadi Walikota? Lha wong baru nyalon saja sudah pada galau dan dituduh politik dinasti!

Rasa tak puas, usia tua, merasa terbuang, tak terpakai, sakit hati, tak kenal berhenti untuk sebuah kekuasaan, benarkah menjadikan diri ‘halu’? Dan benarkah halusinasi yang sudah menetap menutup ruang kebenaran versi yang lain? Entahlah kita tonton saja episode dari KAMI selanjutnya.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup
www.sinabungjaya.com

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *