MARDANI SARANKAN GIBRAN JADI KETUA RT DULU? GAK KOMENTARI ANAK MANTAN PRESIDEN?

Xhardy РNampaknya ada yang sangat gerah dengan pencalonan Gibran sebagai calon wali kota Solo. Salah satunya adalah partai PKS yang di ambang terjepit karena kekurangan kursi untuk mengusung calon tandingan, dan di sisi lain makin berat karena partai lain kemungkinan akan mendukung Gibran. Kalau tinggal PKS seorang, mari rayakan saja. Penderitaan partai ini adalah kemenangan bagi kita semua.

Ini terbukti dari Mardani Ali Sera yang terus menyindir dan mengkritik pencalonan Gibran. Dia dengan tegas mengatakan bahwa proses seseorang menjadi pemimpin itu tidak instan, melainkan harus dirintis dari bawah yaitu mulai dengan menjadi Ketua RT, Ketua RW, Karang Taruna, KNPI, dan seterusnya.

Pernyataan Mardani disampaikan dalam kaitan mengkritisi keberadaan Gibran yang menurutnya ‘ujug-ujug’ mencalonkan sebagai wali kota Solo. Menurutnya, jangan sampai dinasti politik ini menihilkan unsur pengalaman seseorang dalam mengelola urusan publik.

Iri bilang aja deh, gak usah gengsi. Gerah bilang aja. Malu PKS terperosok, gak usah malu-malu mengakui itu. Tak usahlah mengkritik Gibran dengan analisis yang bijaksana.

Pak Jokowi juga tidak mulai dari ketua RT. Tapi berhasil sejak menjadi wali kota Solo. Periode kedua malah menang sangat telak. Kemudian menang Pilkada DKI, dan kemudian menang pilpres dua kali. Toh, prestasinya luar biasa. Indonesia maju pesat mengejar ketertinggalan dari negara tetangga karena ketidakbecusan presiden dulu yang hobi prihatin dan bikin album tapi proyek mangkrak di mana-mana.

Tak senang dengan Gibran, atau merasa Gibran tidak cocok jadi pemimpin, silakan tidak usah dipilih, tidak ada yang memaksa apalagi mengancam jenazah disuruh nguburin diri sendiri.

Dan satu lagi, apakah Mardani pernah jadi ketua RT? Sendiri aja gak pernah. Lantas kenapa sarankan orang lain mulai dari sana? Apakah iri karena ada anak muda yang sudah diberi peluang sebagai calon wali kota sedangkan di sisi lain ada politisi tua dan karatan di dunia politik tapi tidak dapat apa pun dan terpaksa jadi gelandangan politik?

Harusnya Mardani sebelum mengatakan ini, harusnya lihat dulu ke belakang dan komentari bagaimana anak sang mantan presiden prihatin dicalonkan langsung sebagai gubernur DKI Jakarta. Ini lebih gila, tak ada pengalaman politik langsung mau tangani ibu kota? Kegilaan macam apa ini? Memangnya ibu kota ini kabupaten atau apa? Atau mau meroketkan anaknya langsung jadi presiden?

Gibran masih mending, mulai dari wali kota. Kalau Gibran langsung nyagub DKI, saya juga bakal protes keras. Harusnya mata Mardani masih jelas dan mulai nyindir anak mantan presiden itu dulu. Itu lebih parah dan kebangetan, meski itu bukan dinasti politik juga karena harus dipilih rakyat langsung bukan ditunjuk seenak jidat.

Jelas ini hanya bentuk kegusaran partai PKS yang gigit jari karena pilkada Solo membuat mereka seperti orang tua renta tak berdaya. Sebelumnya juga DKI Jakarta lepas dari genggaman mereka karena ditikung telak oleh Gerindra dalam perebutan kursi wakil gubernur. Mungkin ini sudah takdir mereka. Terlalu fokus jualan agama tanpa benar-benar menjaring kader yang berkualitas. Tapi ya, jangan gara-gara ini mereka jadi iri dan mengkritik tanpa dasar.

Mardani bahkan menyatakan, harus ada regulasi atau aturan yang jelas untuk mencegah berkembangnya politik dinasti dalam demokrasi di tanah air. Menurutnya, sangat bahaya jika proses menjadi pemimpin dilakukan dengan cara instan, seperti praktik politik dinasti.

Kalau saya sarankan, lebih urgent aturan yang jelas agar para kadrun munafik pemuja khilafah sok bela Pancasila dilarang total ikut politik, masuk parlemen, nyalon jadi kepala daerah, haram jadi presiden dan ASN yang terlibat sekalian dibuang dari negara ini. Itu lebih mendesak saya rasa.

Kalau dinasti politik dalam bentuk presiden memilih keluarganya sebagai menteri, posisi startegis di BUMN atau kursi lain tanpa pemilihan dari rakyat, saya juga ikut tolak. Tapi kalau mereka ikut jalur pemilihan umum, tidak ada yang bisa melarang, karena rakyat punya akal dan pikiran untuk memilih yang terbaik.

Jadi protesnya PKS ini tidak beralasan, yang artinya, semakin jelas, apa pun yang diiyakan partai ini, jangan didengar.

Bagaimana menurut Anda?
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *