SEANDAINYA INDONESIA LOCKDOWN, EKONOMI INDONESIA MAKIN PARAH DAN PASTI RESESI

Xhardy – Ekonomi global diperkirakan akan mengalami resesi tahun ini. Negara-negara ekonoki terbesar di dunia mulai pontang panting menyelamatkan ekonomi agar terlepas dari jurang resesi.

Salah satu negara yang baru saja mengumumkan resesi adalah negara tetangga kita, Singapura. Hal ini terlihat dari perekonomian kuartal II yang mengalami kontraksi hingga 41,2%. Singapura yang selama ini ekonominya ditopang oleh ekspor dan pariwisata, mengalami tekanan yang kuat akibat pandemi corona.

Sekilas info, ekonomi sebuah negara dianggap sehat apabila mengalami pertumbuhan positif. Sedangkan resesi ekonomi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam periode satu tahun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani juga pernah mengatakan ini. “Technically kalau 2 kuartal berturut-turut negatif memang resesi. Kan itu definisi resesi memang bahwa pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut negatif. Itu berarti ekonomi mengalami resesi,” kata dia.

Secara sederhana, jika pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II ini negatif dan berlanjut hingga kuartal III maka Indonesia sudah masuk ke dalam resesi.

Dampaknya adalah penurunan aktivitas ekonomi. Salah satu efeknya adalah menurunnya jumlah lapangan pekerjaan yang tercipta, diikuti dengan ledakan jumlah pengangguran. Orang miskin akan bertambah. Kemiskinan dan pengangguran adalah momok menakutkan bagi semua negara.

Memang Indonesia juga terancam resesi. Butuh upaya ekstra dan kerja sama semua pihak agar keluar dari resesi. Apalagi Singapura adalah salah satu mitra dagang terbesar dan juga investor terbesar bagi Indonesia. Jatuhnya Singapura ke jurang resesi sedikit banyak akan berdampak bagi Indonesia.

Mengenai ini, saya jadi teringat, sekaligus sulit membayangkan bagaimana kalau dulu Indonesia memilih lockdown. Sebagai gantinya memilih PSBB. Presiden Jokowi mengatakan dengan tidak memilih lockdown, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh positif.

Sementara untuk kuartal II-2020 sendiri diperkirakan -4,3%. Proyeksi itu lebih tinggi dari prediksi pemerintah sebelumnya di angka -3,8%. Saya enggak bisa bayangin kalau kita dulu lockdown gitu mungkin bisa minus 17%,” kata Jokowi.

Kondisi ini sebenarnya banyak menuai reaksi yang beragam. Ada yang menyayangkan kenapa Indonesia tidak lockdown. Kalau lockdown, paling hanya sebulan, ekonomi memang nyungsep tapi setelahnya pandemi bisa ditekan dan ekonomi bisa cepat pulih seperti Malaysia, Thailand, Selandia Baru dan lainnya.

Ini tidak applicable di Indonesia. Harusnya bandingkan dengan India yang lockdown tapi kacau balau. Sekarang jumlah terinfeksi di sana sudah mencapai angka 1 juta.

Kunci lockdown berhasil adalah warga disiplin dan patuh, dan kalau tidak patuh harus dihukum atau dipukul. Apakah Indonesia bakal berhasil? PSBB aja banyak warga tidak patuh. Apalagi lockdown. Kalau tidak patuh, India bisa main pukul pantat pakai rotan, apakah Indonesia sanggup meniru? Nanti ada yang teriak HAM.

Lockdown bisa berhasil kalau negaranya kecil dengan jumlah penduduk yang tidak seberapa. Lah, wilayah Indonesia terpisah-pisah dengan jumlah penduduk yang banyak dan padat. Bagaimana dengan Cina? Memangnya mau pemerintah pakai gaya otoriter? Melanggar langsung dijebloskan ke penjara atau dilenyapkan kalau bikin resah? Nanti teriak rezim otoriter.

Lockdown tidak cocok dengan kultur penduduk Indonesia yang sebagian susah diatur dan menganut prinsip ‘aturan dibuat untuk dilanggar’ atau ‘patuh kalau ada aparat penegak hukum’. Kalau lockdown, resesi mungkin langsung terasa dan sekarang mungkin lebih parah.

Saya tahu banyak suara sumbang yang mengatakan pemerintah lebih memilih ekonomi ketimbang kesehatan. Menurut saya dua-duanya harus seimbang. Coba tanya deh mereka yang tidak patuh. Jawabnya, “Lebih takut tidak makan ketimbang kena corona.” Saya sering dengar ini berkali-kali.

Resesi dalam, rakyat lapar bisa memicu kriminalitas dan kerusuhan. Satu negara langsung down saat itu juga kalau chaos. Korban jiwa pasti jauh lebih banyak lagi.

Dan menurut saya, jangan berharap ekonomi pulih total kalau belum ada vaksin yang ditemukan. Butuh waktu bertahun-tahun agar bisa pulih total. Ini bukan pekerjaan semalam atau sebulan. Itulah mengapa efek pertama yang paling dibahas di masa pandemi ini adalah ekonomi. Apakah ekonomi lebih penting. Saya tak mau bilang apa-apa. Tapi bayangkan aja, ekonomi collapse, satu negara kena dan bisa ambruk. Satu negara.

Bagaimana menurut Anda?
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *