MUKA TEMBOK TERUS DEH, REKLAMASI ANCOL VERSI ANIES DISEBUT BRILIAN BANGETTTT

Xhardy – Kemarin ada demo menolak reklamasi yang diwarnai dengan aksi bakar ban dan lemparan ikan busuk ke kompleks Balai Kota. Sebagian pendukung Anies sangat kecewa dengan keputusan mengizinkan reklamasi kawasan Ancol. Dia dianggap ingkar janji.

Ketua Media Center Persaudaraan Alumni PA 212 Novel Bamukmin mendukung keputusan Anies memberi izin reklamasi tersebut. Menurut Novel, reklamasi versi Anies sangat brilian. “Reklamasi versi Anies brilian banget,” katanya.

Alasan Novel menyebut brilian, karena reklamasi versi Anies bertujuan untuk mengatasi banjir di Ibukota, karena tanah untuk reklamasi bakal diambil dari kerukan lumpur sungai dan waduk di Jakarta dan sekitarnya. Apa yang dilakukan Anies itu belum dilakukan oleh gubernur-gubernur terdahulu.

“Karena selama ini dari beberapa gubernur belum pernah tuntas terhadap permasalahan endapan atau lumpur yang semakin meninggi yang terjadi dalam dasar sungai-sungai dan waduk waduk yang ada di Jakarta, sehingga semakin hari keadaan sungai sungai dan waduk-waduk menjadi dangkal yang bertambah minin dalam menerima debit air yang ada,” kata Novel.

Hahaha, inilah yang mungkin disebut dengan penjilat sejati. Memuja sampai segitunya sehingga terlihat bodoh. Proyek pengerukan sungai sudah dilakukan sejak tahun 2009, hingga sekarang menjadi timbunan lahan seluas 20 hektar di kawasan Ancol. Memangnya Anies sudah menjabat sejak tahun 2009? Jangan dong ‘menjilat’ seseorang sampai memborong semua pekerjaan yang dilakukan di era terdahulu. Gak tahu malu, dasar.

“Ternyata dengan kepemimpinan Anies telah menemui jalan keluarnya dengan mengeruk sedalam dalamnya sungai sungai dan waduk-waduk untuk lumpur-lumpur itu dipindahkan ketempat yang sangat tepat karena selama ini pembuangan lumpur-lumpur sungai-sungai serta waduk-waduk yang ada tidak mendapatkan tempat yang tepat sehingga menjadi permasalahan baru,” katanya.

Nah, ini juga sama saja. Ini bukan Anies yang temui jalan keluar. Soal keruk-keruk sungai, Ahok sudah lakukan sejak dulu. Bahkan masif saat melakukan normalisasi Sungai Ciliwung. Waduk dan sungai lain juga dikeruk masif. Sedangkan Anies, nyaris tidak menyentuh, makanya kawasan yang dulunya sudah bebas banjir malah kembali dilanda banjir.

Cuma baru-baru ini saja sibuk keruk demi reklamasi. Demi reklamasi, barulah rajin mengeruk sungai, barulah sibuk mengatakan demi mengendalikan banjir. Kemarin ke mana aja?

Selain mengatasi banjir, reklamasi Ancol dan Dufan juga diperuntukan untuk kepentingan warga Jakarta, sehingga tak hanya pengembang yang untung. “Reklamasi Anies demi warganya agar manfaat di dua sisi baik pengembang maupun rakyat yang nanti akan menikmati juga,” katanya.

Apalagi, kata Novel, nantinya hasil reklamasi Ancol dan Dufan akan dibangun pusat hiburan terbesar dan terhebat, serta tereligi, sehingga warga mendapat manfaat jiwa dan raga. “Bahkan Ancol akan dijadikan tempat hiburan terbesar dan terhebat bahkan tereligi dengan Masjid dan museum Nabi dan bisa dijadikan tujuan wisata rohani, sehingga warga Jakarta mendapat manfaat jiwa dan raganya,” kata Novel.

Ini juga menggelikan. Ya, katakanlah ada manfaatnya, jadi pusat hiburan yang katanya akan jadi terbesar se-Asia Tenggara, dan mau dibangun Masjid dan Museum. Cuma itu saja, kan?

Di manakah kontribusi pengembang yang 15 persen? Nilainya mencapai Rp 100 triliun kalau diuangkan. Kalau dulu Ahok masih menjabat, kontribusi sebesar itu dapat digunakan untuk banyak hal. Bangun rusun untuk warga tak mampu, rusun untuk nelayan, membangun DKI, membantu warga tidak mampu dalam bentuk subsidi, bantuan atau apa pun bentuknya.

Kontribusi pengembang dalam reklamasi Ancol berapa? Paling hanya sedikit. Soal pembangunan rumah ibadah, itu hanyalah pemanis agar tidak ada penolakan besar-besaran. Secara kita tahu, gerombolan sebelah suka sekali dibuai dengan segala yang berbau agama dan surga.

Sudahlah, jangan jadi penjilat. Kalau bermanfaat, kenapa masih saja ada demo dan pendukung sendiri pun menolak? Reklamasi ditolak, tapi sekarang diterima dengan alasan tidak masuk dalam janji kampanye dulu. Reklamasi ya tetaplah reklamasi.

Pola ini sama seperti penggusuran. Bilangnya tidak mau menggusur, tapi kenyataannya tetap menggusur. Menyalahkan apa yang benar demi berkuasa dan kemudian membenarkan apa yang dulunya disalahkan. Munafik, kan?

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword TEMBOK TERUS DEH, REKLAMASI ANCOL VERSI ANIES DISEBUT BRILIAN BANGETTTT

Xhardy – Kemarin ada demo menolak reklamasi yang diwarnai dengan aksi bakar ban dan lemparan ikan busuk ke kompleks Balai Kota. Sebagian pendukung Anies sangat kecewa dengan keputusan mengizinkan reklamasi kawasan Ancol. Dia dianggap ingkar janji.

Ketua Media Center Persaudaraan Alumni PA 212 Novel Bamukmin mendukung keputusan Anies memberi izin reklamasi tersebut. Menurut Novel, reklamasi versi Anies sangat brilian. “Reklamasi versi Anies brilian banget,” katanya.

Alasan Novel menyebut brilian, karena reklamasi versi Anies bertujuan untuk mengatasi banjir di Ibukota, karena tanah untuk reklamasi bakal diambil dari kerukan lumpur sungai dan waduk di Jakarta dan sekitarnya. Apa yang dilakukan Anies itu belum dilakukan oleh gubernur-gubernur terdahulu.

“Karena selama ini dari beberapa gubernur belum pernah tuntas terhadap permasalahan endapan atau lumpur yang semakin meninggi yang terjadi dalam dasar sungai-sungai dan waduk waduk yang ada di Jakarta, sehingga semakin hari keadaan sungai sungai dan waduk-waduk menjadi dangkal yang bertambah minin dalam menerima debit air yang ada,” kata Novel.

Hahaha, inilah yang mungkin disebut dengan penjilat sejati. Memuja sampai segitunya sehingga terlihat bodoh. Proyek pengerukan sungai sudah dilakukan sejak tahun 2009, hingga sekarang menjadi timbunan lahan seluas 20 hektar di kawasan Ancol. Memangnya Anies sudah menjabat sejak tahun 2009? Jangan dong ‘menjilat’ seseorang sampai memborong semua pekerjaan yang dilakukan di era terdahulu. Gak tahu malu, dasar.

“Ternyata dengan kepemimpinan Anies telah menemui jalan keluarnya dengan mengeruk sedalam dalamnya sungai sungai dan waduk-waduk untuk lumpur-lumpur itu dipindahkan ketempat yang sangat tepat karena selama ini pembuangan lumpur-lumpur sungai-sungai serta waduk-waduk yang ada tidak mendapatkan tempat yang tepat sehingga menjadi permasalahan baru,” katanya.

Nah, ini juga sama saja. Ini bukan Anies yang temui jalan keluar. Soal keruk-keruk sungai, Ahok sudah lakukan sejak dulu. Bahkan masif saat melakukan normalisasi Sungai Ciliwung. Waduk dan sungai lain juga dikeruk masif. Sedangkan Anies, nyaris tidak menyentuh, makanya kawasan yang dulunya sudah bebas banjir malah kembali dilanda banjir.

Cuma baru-baru ini saja sibuk keruk demi reklamasi. Demi reklamasi, barulah rajin mengeruk sungai, barulah sibuk mengatakan demi mengendalikan banjir. Kemarin ke mana aja?

Selain mengatasi banjir, reklamasi Ancol dan Dufan juga diperuntukan untuk kepentingan warga Jakarta, sehingga tak hanya pengembang yang untung. “Reklamasi Anies demi warganya agar manfaat di dua sisi baik pengembang maupun rakyat yang nanti akan menikmati juga,” katanya.

Apalagi, kata Novel, nantinya hasil reklamasi Ancol dan Dufan akan dibangun pusat hiburan terbesar dan terhebat, serta tereligi, sehingga warga mendapat manfaat jiwa dan raga. “Bahkan Ancol akan dijadikan tempat hiburan terbesar dan terhebat bahkan tereligi dengan Masjid dan museum Nabi dan bisa dijadikan tujuan wisata rohani, sehingga warga Jakarta mendapat manfaat jiwa dan raganya,” kata Novel.

Ini juga menggelikan. Ya, katakanlah ada manfaatnya, jadi pusat hiburan yang katanya akan jadi terbesar se-Asia Tenggara, dan mau dibangun Masjid dan Museum. Cuma itu saja, kan?

Di manakah kontribusi pengembang yang 15 persen? Nilainya mencapai Rp 100 triliun kalau diuangkan. Kalau dulu Ahok masih menjabat, kontribusi sebesar itu dapat digunakan untuk banyak hal. Bangun rusun untuk warga tak mampu, rusun untuk nelayan, membangun DKI, membantu warga tidak mampu dalam bentuk subsidi, bantuan atau apa pun bentuknya.

Kontribusi pengembang dalam reklamasi Ancol berapa? Paling hanya sedikit. Soal pembangunan rumah ibadah, itu hanyalah pemanis agar tidak ada penolakan besar-besaran. Secara kita tahu, gerombolan sebelah suka sekali dibuai dengan segala yang berbau agama dan surga.

Sudahlah, jangan jadi penjilat. Kalau bermanfaat, kenapa masih saja ada demo dan pendukung sendiri pun menolak? Reklamasi ditolak, tapi sekarang diterima dengan alasan tidak masuk dalam janji kampanye dulu. Reklamasi ya tetaplah reklamasi.

Pola ini sama seperti penggusuran. Bilangnya tidak mau menggusur, tapi kenyataannya tetap menggusur. Menyalahkan apa yang benar demi berkuasa dan kemudian membenarkan apa yang dulunya disalahkan. Munafik, kan?

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *