NYINYIRI KERJA CEPAT POLISI DALAM KASUS DENNY SIREGAR, FADLI ZON MAUNYA APA SIH?

Widodo SP – Jubir Rakyat yang satu ini memang fenomenal. Entah rakyat mana yang dia maksud, tetapi seorang Fadli Zon rasanya tak pernah kehabisan ide untuk nyinyir setiap hal yang dianggap tidak pas dengan pemikiran atau keinginannya, juga yang terlihat tidak pas dengan kelompok tertentu yang didukungnya.

Seperti belum lama ini saat Fadli Zon bersuara terkait cepatnya gerak polisi dalam mengamankan pelaku pembocoran data Denny Siregar. Jika wajarnya hal ini diapresiasi, karena dampak yang dihasilkan dari bocornya data tersebut memang tidak main-main—meski masih ada bagian yang kudu dituntaskan oleh Telkomsel sebagai bentuk tanggung jawab kepada pelanggan—eh, ini malah dapat respons nyinyir begini:

”Melindungi dan mengayomi sesuai selera.”

Mungkin Fadli Zon langsung teringat koleganya, Ratna Sarumpaet atau Ahmad Dhani yang dianggap tidak mendapat pengayoman dan perlindungan yang cukup, sehingga harus merasakan meringkuk di balik jeruji besi … dia pun lantas membandingkan perlakuan ini terhadap Denny Siregar.

Mungkin dalam benaknya, yang hendak dicuatkan untuk mempengaruhi opini publik:

“Enak ya, Denny Siregar bisa mendapat perlindungan dan pengayoman dari polisi. Beda sama teman-teman gue….”

Nah, nyinyiran ini lantas di-skak mat oleh Teddy Gusnaidi dalam akun IG-nya “teddygusnaidi” seperti ini, sambil mencolek yang bersangkutan pada bagian akhir balasan IG-nya:

“Kalau ini fadlizon ngawur, karena menilai sesuai dengan seleranya. Wong jelas ada kejahatan, bukti dan lokasi kejahatannya juga jelas, ya mudah. Kalau kasus lain, karena buktinya belum kuat, sehingga butuh waktu. Mosok mau disamain? Analoginya begini.. ada dua pria bandel. Yang pertama kepergok istri lagi berduaan dengan perempuan lain dan yang kedua hanya kecurigaan istri melihat sikap suami berubah. Jika dilaporkan ke polisi, mana yang lebih cepat prosesnya? Tentu yang pertama. Ngerti ya Fadlizon.. @fadlizon

Entah bagaimana respons politisi yang sekarang seperti tak terpakai di Gerindra ini. Namun yang jelas, tanggapan atau komentar netizen di kolom komentar unggahan Teddy Gusnaidi tadi tak kalah pedasnya. Saya kutipkan lima saja contohnya ya:

Polisi cepat tangkap pelaku kejahatanpun dinyinyirin juga, apa jangan2 yg ditangkap itu… hadeeuh zooonk. (bhoowank)

Biarin aja sih suka suka si zonk ngomong gak usah didengerin mending ditinggal tidur aja,dari pada perut nek dengernya hehehe. (donikapatidonikapati)

Yah begitulah kalau orang yg gak ada prestasi, bisanya nyinyir… gak bayangin kalau dia jadi pejabat publik… jgn sampai deh. (panggil_aku_yuni)

Ciyeee… Ikan buntel lg doyan nebar hoax, kepintaran si zonk cmn kek gitu. (adiajja0110)

Tunggu tanggal mainnya, bentar lg tuh mulutnya kena karma. (neng_mhalaa)

Saya yakin komentar para pembaca SEWORD tidak kalah pedasnya. Saya pun kadang eneg dan males merespons tulisan-tulisan atau cuitan-cuitan dari politisi yang satu ini. Namun, saya harus mengalahkan rasa eneg dan malas itu selama orang ini masih berulah, supaya masyarakat dapat semakin mengerti dengan terang benderang kualitas politisi yang satu ini.

Kalau orang ini menganggap dirinya sebagai jubir rakyat, tapi kok kualitasnya semakin hari tidak semakin baik ya. Rakyat mana yang sebenarnya diwakili orang ini? Oh, mungkin rakyat yang kemarin memilihnya ketika pemilihan wakil rakyat dari dapil dimana Fadli Zon bertarung.

Lolosnya orang ini sebagai wakil rakyat mungkin membuatnya jemawa dan besar kepala, lantas menamai dirinya wakil (dari segelintir) rakyat saja … plus orang-orang yang berada satu barisan dengannya selama ini.

Jadi … kesimpulan akhir dari artikel ini … sambil menghela napas … ya sudahlah … sakmuni-munine lambene Fadli Zon kita anggap saja dia sebagai dagelan di jagat politik tanah air. Seorang politisi yang tak bisa memahami perbedaan kasus-kasus yang melibatkan respons penegak hukum (seperti disampaikan pada ilustrasi Tedyd Gusnaidi tadi) memang seharusnya tak menjadi wakil rakyat, apalagi menamai dirinya “Jubir Rakyat”. Bibirmu memble, kuwi Fadli Zon!

Eh, tapi sebenarnya orang ini tidak paham atau pura-pura tidak paham, ya? Saya pura-pura tidak tahu saja deh, meskipun saya tahu jawabannya. Hahaha …!

Begitulah kura-kura…

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *