MENGAKU SEBAGAI ANAK ‘KARDINAL’

Untuk Yang Terkasih Para Sahabatku: “Pengikut” Dari Mereka Yang Suka Menjual Vatikan, Mantan Pastor, Anak Bruder Dan Anak “kardinal” Demi Kebohongan

Memilih agama apapun adalah hak asasi siapapun. Termasuk pindah ke agama lain itu juga kebebasan dan hak asasi. Namun ketika sudah pindah ke agama lain tetapi tidak menjaga nama baik agama yang baru dipilih dan dianutnya melainkan merusak dan melecehkannya melalui kebohongan yang terang benderang, sejatinya dia adalah penista yang sedang menistakan agama dan siapapun yang mendengarkan cerita omong kosongnya.

Vatikan adalah pusat Gereja Katolik yang dipimpin oleh seorang Paus yang berkedudukan di Vatikan. Disamping sebagai pusat agama Katolik, Vatikan juga merupakan sebuah negara terkecil di dunia di dalam wilayah Italia dan Roma. Di Vatikan itu pula didirikan Basilika Santo Petrus yang menjadi salah tempat ziarah di Italia-Roma dan menjadi pertemuan Paus dengan para peziarah pada waktu ada audiensi umum atau ada kegiatan Bapak Paus.

Dan di Vatikan tidak ada universitas. Apalagi ada yang mengaku ada sekolah Injili Kristen di Vatikan, itu adalah kebohongan besar yang sedang membohongi kalian yang mendengarnya dengan penuh bangga. Maka saya bisa memastikan bahwa jika ada yang mengaku pernah kuliah di Vatikan hanya untuk menaikan pamor agar kalian mengakui sebagai orang hebat, padahal kemungkinan terkecil dia hanya berwisata di luar Vatikan.

Universitas-universitas ternama seperti universitas-universitas Katolik itu adanya hanya di Roma seperti Universitas Gregoriana Roma, Universitas Urbaniana Roma, Universitas Alfonsiana, Universitas Salesian dan lainnya semuanya ada di Roma dan tidak ada di Vatikan.

Maka ketika kalian mendengar ada ustadz yang mualaf dan mengaku lulusan Vatikan, itu berarti dia sedang BERBOHONG dan MEMBOHONGI kalian. Kalau demikian maka ia sedang menistakan kesucian agama Islam yang memberitakan kedamaian, cinta dan kebenaran.

Kebohongan yang dipertontonkan kembali adalah kebohongan dengan mengaku sebagai anak “kardinal”. Dalam sejarah dan tradisi, Kardinal hanya dikenal dalam lingkungan agama Katolik. Dalam denominasi gereja lainnya dikenal pendeta. Dan dalam sejarah Indonesia khususnya agama-agama di Indonesia belum ada kardinal di dalam agama Protestan atau denominasi gereja lainnya. Kardinal hanya ada di dalam Gereja Katolik.

Kardinal adalah sebuah gelar rohani yang sangat tua dalam Gereja Katolik. Paus Silvester I menjadi pengagas dan pembentuk gelar ini. Kata ‘Kardinal’ diambil dari bahasa Latin yaitu ‘cardo‘ yang berarti engsel (pintu atau jendela). Para Kardinal membentuk sebuah Kolegium. Kolegium (dewan/senat) para Kardinal adalah sebuah organ pelayanan dalam Gereja Katolik.

Para Kardinal ini dibagi dalam tiga kelompok: Kardinal Uskup, Kardinal Imam dan Kardinal Diakon yang sejak millenium pertama membantu Paus dalam mengurus dan melaksanakan karya pastoral dalam Gereja di Roma. Pembagian ini berkaitan dengan sistem administratif Tahta Suci Vatikan yang terdiri dari gereja-gereja utama seputar Roma (untuk Kardinal Uskup), gereja-gereja titular di Roma (Kardinal Imam) dan institusi-institusi gereja di bagian diakonia dan sosial-karitatif di Roma dan sekitarnya (Kardinal
Diakon).

Awalnya, jumlah para Kardinal sekitar 30 orang, lalu Paus Sixtus V menambahkan menjadi 70. Kini jumlah para Kardinal disesuaikan dengan kebutuhan Paus. Paus Yohanes Paulus II dalam Konstitusi Apostolik Universi Dominici Gregis menentukan jumlah maksimum kardinal elektor (yang berhak memilih Paus) dalam konklaf sebanyak 120. Kolegium para Kardinal ini juga merupakan badan hukum dalam Gereja.

Seorang Kardinal dipilih dan diangkat dengan sebuah tugas dan fungsi untuk menyambungkan Sri Paus dengan Gereja lokal. Wewenang khas dari Kolegium para Kardinal adalah pemilihan Paus (dapat memilih dan dipilih) yang menjadi hak prerogatif mereka sejak abad IX. Dengan m.p. Ingravescentem aetatem 21.11.1970, Paus Paulus VI mengecualikan dari konklaf para Kardinal yang telah berusia 80 tahun (non-elektor). Hal ini dipertegas lagi dalam Konst. Ap. Romano Pontifici eligendo (1.10.1975) dan Universi Dominici Gregis Paus Yohanes Paulus II (22.2.199).

Dalam Tradisi Gereja Katolik, seorang Kardinal tidak memiliki istri atau tidak menikah karena dasar awalnya adalah sebagai seorang imam (pastor/romo) yang ditahbiskan dengan salah satu persyaratan radikal yaitu tidak menikah atau beristri.

Dan di Indonesia ada dua Kardinal dalam Gereja Katolik yang masih hidup yaitu: Kardinal Julius Darmaatmadja SJ (sudah pensiun) dan Kardinal terbaru adalah Kardinal Ignatius Suharyo yang sekarang menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta.

Jika kemudian kemarin hingga hari-hari ini ada ustadz mualaf yang mengaku sebagai anak “kardinal” itu juga adalah KEBOHONGAN yang sedang membohongi kalian dan sekaligus menodai bahkan menista agama Islam yang suci dan rahmatan lil’alamin.

Sumber:www.dokpenkwi.org

Manila: 03 Juli 2020
Pater Tuan Kopong MSF

fb Kristen Katolik

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *