KOPLAK KUADRAT! PA 212 TOLAK REKLAMASI AHOK TAPI MENDUKUNG REKLAMASI ANIES

Fery Padli РDari PA 212 kita belajar bahwa orang-orang yang pake gamis dengan gaya kearab-araban itu belum tentu orang baik. Bisa saja mereka itu lebih jahat dari orang jahat yang sesungguhnya, lantaran memanfaatkan agama untuk kepentingan politik.

Karena, penjahat tidak menjadikan Tuhan sebagai senjata untuk menjatuhkan lawan politik. Tapi kelompok ini, yang merasa pemegang kunci surga menghajar lawannya pakek isu agama.

Dan, karena mereka memakai baju agama untuk tujuan politik, orang bodoh kerap kali terpengaruh, dan ikut-ikutan jadi laskar Kadrun.

-o0o-

Selain itu, kalau soal ketidakkonsistenan antara prilaku dan perkataan, kelompok ini jago-nya.

Kita perhatikan saja bagaimana track record PA 212 ini, banyak banget yang antara apa mereka omongkan dan yang mereka lakukan berbeda.

Dulu, ngakunya bela agama dan menuntut agar Ahok segera dipenjarakan karena telah menista agama. Eh ketika Ahok benar-benar sudah dijebloskan ke penjara, mereka malah mendukung Prabowo di Pilpres 2019.

Padahal hubungan antara Ahok dengan Prabowo semua sudah tahu. Tidak baik. Yang mana hal itu diawali oleh cabutnya Ahok dari Gerindra, karena partai berlambang burung Garuda itu kala itu mendukung Pilkada tidak langsung. Alias masyarakat tidak usah memilih kepala daerahnya lagi, biar anggota DPRD saja yang menentukan.

Dan hal inilah yang tidak disetujui oleh Ahok, sehingga ia memutuskan untuk cabut dari Gerindra.

Kelanjutannya, Prabowo memakai Anies untuk menghantam Ahok kala itu di Pilkada DKI 2017. Dan si Anies ini, dalam mencalonkan diri sebagai gubernur DKI juga didukung oleh PA 212.

Jadi, kelihatan banget kalau PA 212 itu sebenarnya relawan Prabowo, bukan pembela agama seperti yang selama ini mereka gembor-gemborkan.

Tapi wajar sih mereka tidak konsisten. Imam besar-nya saja melanggar norma asusila, yakni melakukan chat enak dengan seorang janda cantik bernama Firza Husein.

Eh bukannya bertanggung jawab atas perbuatannya tersebut, si preman yang kerap disapa Habib itu malah kabur ke Arab Saudi.

Ngakunya sih umroh, tapi intinya tetap saja agar kasus chat yang melanggar syariah itu tidak terbongkar kemana-mana.

Jadi, ibarat pepatah, ikan busuk mulai dari kepala. Kalau imam besarnya saja kelakuannya kayak gitu, gimana pengikutnya yang kerap disebut Kadrun itu?

Pasti lebih parah lagi.

Kemudian, ketidakkonsistenan lainnya yang mereka pertontonkan adalah soal reklamasi.

Dulu mereka mengatakan, mendukung Anies karena Wan Anies itu menolak reklamasi.

Padahal Anies kala itu belum tentu yakin kalau dia benar-benar menolak reklamasi. Karena negara-negara maju di dunia, seperti Tiongkok, Belanda, Korsel bahkan Jepang juga melakukan reklamasi.

Dan terbukti, pasca ia terpilih jadi gubernur, isu menolak reklamasi itu memang mainan Anies.

Pertama, pada tahun 2019 silam ia menerbitkan lebih dari 1.000 IMB di pulau reklamasi.

Kedua, baru-baru ini ia menerbitkan izin reklamasi Ancol dan Dufan seluas 155 hektar.

Lagi, untuk menghantam mereka yang mengkritik ketidakonsistenan Anies itu pake isu agama. Kali ini isu yang dimainkan adalah di lahan reklamasi yang dizinkan oleh Anies itu akan dibangun masjid apung dan museum Nabi Muhammad.

Jadi, siapa yang berani mengkritik kebijakan yang melanggar janji kampanye itu, siap-siap dicap tidak pro terhadap pembangunan masjid dan umat islam. Yang ujung-ujungnya dicap sebagai PKI.

Yang lucunya lagi, kelakuan umat PA 212 ini. Dulu mereka keras banget menolak reklamasi di masa Ahok, tapi kini malah ikut-ikutan pro terhadap reklamasi ala Anies.

“Itu memang kebijakan Pak Anies untuk melaksanakan apa yang memang menjadi kebutuhan mereka,” ujar Sekjen PA 212, Bernard Abdul Jabbar.

Menurut peternak sapi itu, izin reklamasi yang diterbitkan Anies bisa mendatangkan dampak positif, sedangkan yang diterbitkan Ahok tidak. Kwkwkwk

“Kan itu untuk menambah fasilitas untuk rekreasi warga ya khususnya Jakarta. Kalau memang itu menjadi kebijakan. Asal jangan reklamasi yang di Pluit itu,” ujar Bernard tanpa punya rasa malu.

Padahal kalau mau melihat ke belakang, justru reklamasi ala Ahok yang lebih menguntungkan, karena ia memperjuangkan kotribusi 15 persen dari reklamasi itu.

Dan jumlahnya pun tidak sedikit, yakni mencapai angka 179 triliun rupiah. Yang mana duit itu bisa digunakan oleh Pemprov DKI untuk membangun berbagai fasilitas kesehatan, pendidikan, olahraga, dll.

Ketika Anies terpilih jadi gubernur DKI. Lebih dari 1.000 IMB di pulau reklamasi diterbitkan, dan kontribusi 15 persen itu hilang entah kemana.

-o0o-

Tapi, apa yang disampaikan oleh Sekjen PA 212 itu ada benarnya juga sih, izin reklamasi yang diterbitkan Anies berdampak positif.

Berdampak positif bagi segelintir orang, berdampak positif bagi Anies, berdampak positif bagi pengembang dan berdampak positif bagi PA 212 itu sendiri.
sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *