PERGANTIAN LOGO BUMN DI MASA PANDEMI. SENSE OF CRISIS? ATAU UPAYA PENCITRAAN DINI?

Daeng – Dulu saya pernah ikut beberapa lomba logo, baik untuk instansi pemerintahan maupun untuk umum. Bahkan di 99 design contest pun pernah saya ikuti. Dan karena persaingan begitu ketat, tentu saja tak mudah tembus dan menang.

Yang terakhir saya ikuti adalah lomba logo BKKBN sebelum musim pandemi corona melanda dunia. BKKBN waktu itu melibatkan masyarakat berpartisipasi aktif dengan membuka lomba logo barunya. Karena yang lama mungkin saja dirasa sudah agak ketinggalan jaman atau kuno. Maka karena itulah, BKKBN memberikan kriteria bagaimana logo yang diinginkannya.

Yang saya ingat baik-baik adalah bahwa logo tersebut tidak mengandung lagi unsur dua anak dan ayah-ibu, soalnya BKKBN bukan hanya mengurus masalah kelahiran, tapi semua aspek kekeluargaan atau pembinaan masyarakat. Jadi logo yang diwakilinya sangat melingkupi semua, terutama unsur cinta kasih sayang.

Masyarakat yang berkualitas dimulai dari pembinaan keluarga atau pendidikan di rumah.

Jadi lomba itu mudah diakses pengumumannya, bahkan sekarang mungkin masih ada di mesin pencari. Sehingga khayalak tahu berapa nominal hadiah pemenang lombanya, meskipun bisa dibilang lumayanlah.

Tapi tidak dengan logo Pertamina. Pada tahun 2005, berarti di zamannya SBY ya?, kabarnya sih kalau ini benar, logo pertamina di zaman itu seharga USD 350.000, kurs waktu itu kalau dirupiahkan sebanyak Rp 4,6 Milyar. Wow… wow… bandingkan dengan BKKBN di tahun 2019 yang juara satunya mendapatkan 35 juta. Xixixxi.

Kemudian Bank Mandiri pada tahun 2008 juga membuat logo seharga Rp. 15 Milyar. Pertamina dan Bank Mandiri, keduanya BUMN kan?

Dan di saat masa pandemi covid-19 ini belum berakhir, Kementrian BUMN pun mengganti logonya. Saya belum menemukan informasi berapa harga yang dianggarkan untuk logo baru ini. Apakah ini melibatkan masyarakat umum semacam lomba seperti yang dilakukan oleh BKKBN atau tidak? Atau hanya seperti anak perusahaan BUMN yang langsung mengambil tenaga desain pembuat logo? Sehingga bisa lebih mahal atau memang dimahalkan?

Apakah pembaca sudah melihat logo baru BUMN? Bagaimana pandangan pembaca dengan logo itu? Fresh atau kaku kelihatannya?

Logo yang baru ini hanya bermain bentuk font, meskipun ada logo garuda di samping kanannya dan tulisan kementriannya di sebelah kiri, dan di tengahnya itu permainan font yang menurut saya kaku dan tanggung, tak selembut dengan huruf M mcdonald, hehehe.

Justru logo ini berusaha membentuk pencitraan tapi tanggung sekali, kalau boleh saya bilang gagal. Meskipun Erick Tohir sendiri mengatakan bahwa dengan logo baru ini, ia tidak mau hanya jadi pencitraan. Kenapa Erick langsung menyingung masalah pencitraan? Apakah ada yang menuduh dirinya akan melakukan pencitraan untuk pilpres 2024?

Padahal umur logo Kementrian BUMN ini baru lima tahun, kok secepat itu berganti, bahkan kesannya pergantian logo ini sangat penting daripada penanganan covid-19.

Terlepas apa motif dan tujuan dari pembuatan logo baru ini, tetap saja bukan hal yang urgen dilakukan di saat masa pandemi covid-19 ini. Setidaknya dengan logo baru itu, tidak bakal membuat pandemi akan berakhir dan virus itu musnah dengan logo baru BUMN. Ituh!

Bahkan logo baru itu bukan pemicu meningkatkan akhlak. Untuk meningkatkan akhlak adalah kesadaran individu masing-masing, bagaimana memahami hidup ini dengan tujuan utamanya, bukan hanya mencari untung besar lalu yang lain terbengkalai. Atau apalagi menganggap hidup ini hanyalah pertandingan perebutan kekuasaan, atau adu siasat ala mafia? Bahaya kan?

Apakah Erick Tohir sudah memikirkan dengan jeli perubahan logo BUMN ini, dimana pandemi covid-19 belum juga reda? Apakah Erick tidak mau pusing dengan tantangan pandemi ini, sehingga mengutamakan penggantian logo? Apakah tidak memahami yang namanya sense of crisis? Seperti yang Presiden katakan?

Dengan pergantian logo ini, anggaran bisa bengkak atau menambah pengeluaran. Sementara, banyak perusahaan yang perlu dibenahi dulu, dan belum lagi banyak perusahaan yang mem-PHK-kan karyawannya.

Apakah logo baru BUMN itu bisa menormalkan kembali kesulitan ini? Jangan-jangan logo ini seperti jimat? #eah.

Mana akhlakmu ncuk?

Pergantian logo baru sudah pasti mengeluarkan anggaran. Apakah harga logo ini bersaing dengan harga logo Pertamina atau Bank Mandiri? Mmmhhhh…

Logo baru akan menambah pengeluaran juga pada item-item seperti Papan nama puluhan perusahaan induk, ratusan anak dan cucu serta cicit. Logo pada pakaian karyawan yang jumlahnya tentu saja banyak, meski sudah ada yang diphk. Lalu pada kop surat, atribut, kendaraan, dan tentunya iklan.

Nah, apakah semua ini upaya hanya untuk menghabiskan anggaran saja agar dibilang terus bekerja? Bukankah ada banyak gebrakan yang lebih bermanfaat buat penanganan covid-19 dan juga kesejahteraan masyarkat? Dan apakah ini semua berhubungan dengan akhlak?

Oee… Mana akhlakmu ncuk?

Begitulah ganti-ganti logo.

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *