MENJUAL PROTOKOL PENGUBURAN MAYAT AGAR COVID19 TETAP EKSIS

Nixson Manurung РUsia virus corona atau COVID19 di Indonesia sudah memasuki usia hampir 5 bulan sejak ditetapkannya 2 orang warga Indonesia yang terpapar COVID 19 pada awal bulan Maret 2020. Sejak itu segala upaya dilakukan pemerintah untuk membendung peningkatan penularan penyakit yang disebabkan oleh virus Corona.

Apakah berhasil ? Social distancing, physical distancing, penggunaan masker, handsanitizer, isolasi dirumah selama 14 hari, work from home/WFH, pembelajaran sistem daring sampai kepada protokol pemakaman orang yang meninggal karena COVID19 semua telah dilakukan, apakah ada penurunan jumlah yang terpapar virus corona?

Berdasarkan rilis yang dikeluarkan dari jurubicara Kemenkes bahwa penderita yang terkonfirmasi hari ini tercatat 57.770 orang dengan kasus meninggal sebanyak 2.934 orang dan orang yang dinyatakan sembuh 25.595 orang.

Sejak virus Corona melanda Indonesia maka yang kita dengar kalau orang pada batuk, pilek dan demam maka stigma yang akan melekat padanya minimal adalah ODP atau PDP. Bahkan masyarakatpun kalau ada orang batuk disampingnya atau pilek disampingnya akan langsung melihat sumber batuk dan menjauhinya.

Penderita dengan ODP dan PDP saja sudah langsung dijauhi oleh masyarakat, bagaimana pulak apabila orang tersebut sudah dinyatakan positif berdasarkan rapid test ? Langsung satu keluarga terdampak dan dikucilkan dari lingkungan masyarakat.

Stigma negatif dan takut dikucilkan ini membuat orang jadi ragu bahkan tidak mau melakukan uji rapid sekalipun itu cuma-cuma. Itu sebabnya ketika petugas kesehatan yang hendak melakukan rapid test dan swab test dipajak-pajak atau tempat kerumunan maka warga akan berupaya untuk menjauh karena takut akan stigma itu.

Begitu juga dengan kasus orang meninggal. Sejak diberlakukannya protokol penguburan bagi orang yang meninggal, hampir setiap hari rakyat Indonesia disuguhkan berita kasus meninggal disebabkan oleh virus Corona. Setiap kasus meninggal pasti selalu karena virus CORONA.

Hampir 5 bulan ini, sudah sangat jarang kita mendengar ada orang meninggal karena penyakit jantung, penyakit TBC, penyakit ginjal atau penyakit-penyakit lainnya, yang ada justru kita disuguhi bahwa rata-rata orang yang meninggal pasti karena virus CORONA.

Apakah tidak ada lagi manusia di Indonesia yang meninggal karena penyakit lain selain virus Corona?

Keterangan meninggal karena virus corona dan disiarkan melalui media baik televisi, radio, media sosial dan belum lagi media mainstream yang tidak bertanggung jawab akan isi pemberitaan membuat momok corona ini semakin mengerikan.

Apakah ini memang kesengajaan untuk memblow up berita yang super mengerikan agar membuat ketakutan masyarakat semakin-semakin meningkat ? Karena dengan ketakutan yang tinggi maka apapun akan dilakukan orang seperti membeli ventilator, melakukan rapid test dan swab test yang berulang-ulang, membeli obat-obat mahal bahkan mungkin sampai meminta pertolongan dengan orang yang mengaku pintar.

Dari sekian banyak kasus yang meninggal ternyata lebih banyak lagi yang sembuh, bahkan sudah mencapai 25.595 orang. Mengapa bukan ini yang diblow up oleh media untuk menceritakan kesembuhan mereka ? Mengapa media seakan diam terhadap orang-orang yang sembuh dari virus corona ?

Bayangkan bila 25 ribu orang ini menyebarkan pesan positif dan menyatakan bahwa virus Corona bisa diobati dan dilawan bukankah akan membuat masyarakat semakin optimis menjalani kehidupan ini ?

Saat ini masyarakat bukan hanya dipusingkan karena virus corona ini namun yang sangat mereka pusingkan adalah bagaimana melanjutkan kehidupan ini ditengah himpitan perekenomian yang semakin tidak menentu dan ditambah lagi pemberitaan yang mengerikan melalui media ?

Sekarang yang terjadi di masyarakat adalah apabila seseorang meninggal dirumah sakit maka ketika ditanya oleh warga yang lain pasti jawabannya adalah karena covid19. Bahkan kadang dari rumah sakitpun berita itu sudah diblow up bahwa ini kasus meninggal karena terpapar virus corona jadi harus langsung dikuburkan.

Jualan melalui protokol penguburan ini sukses membuat orang semakin takut. Walau kadang masyarakat juga bisa nekat seperti beberapa kasus sebelumnya dimana ada warga yang membawa keluarganya yang meninggal dengan dipanggul secara berama-ramai. Kadang mereka tidak terima ketika keluarga mereka yang meninggal karena paparan virus corona.

Jadi dimintakan kepada petugas medis yang bekerja dirumah sakit untuk memastikan dengan benar dan baik apakah orang yang meninggal itu karena terpapar covid19 atau karena ada penyakit penyerta yang lain ? Karena jangan-jangan mereka yang meninggal pada umumnya karena ada penyakit penyerta yang lain dan bukan tunggal karena paparan virus corona.

Sudah saatnya media berhenti untuk memberitakan orang dengan kasus meninggal dengan paparan virus corona. Lebih baik media mulai memberitakan tentang bagaimana 25 ribu orang berjuang untuk sembuh, karena itu akan menumbuhkan optimisme dimasyarakat bahwa harapan itu masih ada.
sumber: seword

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *