TIDAK KASIH KENDOR, POLITISI PDIP INI SEBUT TIDAK ADA DAMAI DI ATAS MATERAI 6000

Xhardy – Sebenarnya ada yang menyarankan agar kedua belah pihak antara PDIP dan Kelompok pembakar bendera PDIP ini damai saja. Ya sebenarnya mau begitu sih, tapi kalau melihat kelakuan kelompok ini, tentu saja banyak yang kesal dan emosi. Berkali-kali mereka membuat kegaduhan dan berusaha memancing permusuhan lewat ucapan, statement maupun perbuatan.

Salah satunya adalah saat membakar bendera PDIP saat demo menolak RUU HIP pada hari Rabu lalu. Mereka menyangkal dan berusaha mengelak padahal jelas-jelas semua tudingan itu mengarah ke mereka sendiri.

PDIP pun bakal mengambil jalur hukum untuk menindak pelaku pembakaran bendera partainya.

Politisi PDIP Dewi Tanjung juga ikut menyoroti kasus pembakaran bendera PDIP tersebut. Lewat akun Twitter-nya, Dewi menghimbau rekan-rekannya melawan pihak yang membakar bendera PDIP. Dia mengaku merasa terganggu dengan aksi pembakaran tersebut.

“Kepada Seluruh Teman-teman, LAWAN MEREKA 212 KHILAFAH YG TELAH MEMBAKAR BENDERA PARTAI PDI PERJUANGAN. Kita tidak pernah menggangu mereka TETAPI merekalah yang mengganggu,” kata Dewi. Dia menyatakan tidak akan berdamai dengan kelompok yang membakar bendera PDIP. Dia berharap ketua kelompok pembakar bendera PDIP diproses hukum.

“LOE JUAL GUA BORONG ABIESS. Tidak ada istilah damai di atas Materai 6000. Jeblosin Pimpinan dan Korlap 212 ke Penjara,” kata Dewi.

Mengenai kata Novel Bamukmin yang berharap PDIP tidak berlebihan atau lebay menyikapi kasus pembakaran bendera tersebut, justru kelompok penjual agama ini sudah berkali-kali bikin masalah, makanya kali ini mereka harus berhadapan dengan hukum. Silap atau khilaf itu cukup sekali dua kali. Kalau berkali-kali sampai tak terhitung pakai tangan lagi, ini namanya sengaja cari gara-gara. Kalau mau cari gara-gara, silakan berhadapan dengan hukum dulu. Kalau gentleman tidak melarikan diri, barulah cari gara-gara beneran.

Novel mengatakan, massa aksi tolak RUU HIP tidak membakar bendera PDIP. Mereka membakar lembaran plastik bersablon kepala banteng mirip salah satu logo partai di Indonesia. “Yang dibakar itu juga bukan bendera, hanya berupa lembaran plastik yang mirip tercetak logo atau gambar kepala banteng seperti salah satu partai yang berada di Indonesia,” katanya.

Lembaran plastik mirip kepala banteng? Oke, jadi itu apa? Coba jelaskan dulu itu plastik apa? Ngapain pulak bawa-bawa plastik itu? Ketemu di mana? Kalau misalnya ketemu di jalan, ketemu di mana tepatnya plastik itu? Dan yang paling penting adalah, ngapain plastik itu ikut dibakar bareng bendera PKI? Ini namanya kebodohan mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Cara ngeles pun amatiran banget.

Saya yakin mereka takkan bisa jawab. Udah gemetaran, jadinya asal ngomong. Ada yang bilang itu plastik, ada yang bilang tidak tahu, ada yang bilang mungkin penyusup, ada yg minta bijaksana, ada yang minta jangan berlebihan, ada yang teriak siaga I. Hanya selang satu hari saja, berbagai macam alasan kayak gado-gado keluar.

Mereka mungkin tidak menduga PDIP bakal menarik urusan ini hingga panjang. Saya juga tidak menyangka. Tapi proses hukum sudah cukup bijaksana. Kalau kelompok mereka yang tersinggung, lain lagi ceritanya, malah main demo hingga rusuh. Itu beda beradab dengan bertingkah kayak orang tak beradab.

Terlepas apa pun yang terjadi, PDIP menang telak di sini, kelompok sebelah rugi bandar. Masyarakat umum sudah pada bodo amat dan muak dengan aksi mereka, ditambah ngotot bikin demo di masa pandemi begini. Mereka tak dapat simpati, malah dapat hujatan. Mereka sepertinya sudah salah cari lawan. Ini adalah akibat dari sikap lupa diri. Lupa diri dan besar kepala karena merasa dibiarkan bebas selama ini. Ternyata ketemu lawan yang tak terima dan siap seruduk. Kelompok pendek akal ya gitulah. Cuma andalkan otot dan mulut.

Mungkin kelompok sebelah sudah siap melawan secara frontal. Tapi ragu juga sih, secara mereka ini pengecut yang kebetulan sok berani. Junjungannya aja penakut, apalagi pengikutnya. Tapi PDIP tidak akan sebodoh itu meladeni frontal. Pakai jalur hukum, itulah pejuang dewasa dan logis.

Mungkin pelakunya nanti tertangkap dan dikenai Ghost Protocol, tidak diakui, dianggap penyusup, di-Ratna Sarumpaet-kan. Apa pun itu, mereka kalah. Itu sudah cukup bikin mereka malu.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *