MEMULUNG DEMI KEMANUSIAAN

Beberapa tahun silam saat di Amerika Serikat, saya sempat mengunjungi kantor pusat Mennonite Central Committee (MCC) di Akron, Pennsylvania. Didirikan pada tahun 1920, MCC adalah sebuah lembaga nirlaba milik kelompok Kristen Anabaptis, khususnya Mennonite, Brethren in Christ dan Amish, di Amerika Utara (Amerika Serikat & Kanada). Yang di Amerika berpusat di Akron, sedang yang di Kanada berpusat di Winnipeg, Manitoba.

Lembaga ini fokus mengurusi masalah perdamaian, pelayanan, dan pertolongan kemanusiaan yang melintas batas agama, negara, dan suku-bangsa. Anabaptis dikenal kuat sebagai kelompok Kristen yang memegang teguh prinsip dan spirit Yesus Kristus bukan hanya melalui kata-kata saja tetapi juga tindakan nyata, yaitu prinsip dan spirit perdamaian global dan cinta-kasih universal pada siapapun, dari agama apapun, serta etnis & suku-bangsa manapun.

Anabaptis (bersama Quaker) dikenal sebagai kelompok anti-kekerasan dan pejuang sejati kemanusiaan. Banyak dari mereka yang menjadi “Peacemakers” dan dikirim ke berbagai negara, termasuk negara-negara rawan konflik, untuk menjadi “duta perdamaian.”

Sudah tak terhitung berapa banyak uang yang dikeluarkan MCC untuk membantu perdamaian dan kemanusiaan global dari Afrika hingga Amerika Latin, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara. Sudah tak terhitung berapa banyak para umat manusia korban perang dan bencana alam di berbagai negara di jagat ini yang mendapat uluran tangan kasih MCC. Meskipun berpusat di Amerika & Kanada, MCC mempunyai “kantor cabang” di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Untuk Indonesia, program-program kemanusiaan MCC dilakukan di berbagai tempat dari Aceh sampai Papua. Saat Aceh diguncang Sunami, tim MCC langsung terjun membantu. Begitu pula saat Jogja diguncang gunung meletus dan Papua dilanda banjir bandang.

Bantuan MCC di berbagai negara itu bukan hanya dalam bentuk dana dan tenaga saja tetapi juga dalam bentuk apa saja yang bisa dimanfaatkan dalam situasi darurat: pakaian, selimut, buku, bahan makanan dlsb. MCC juga membantu kemanusiaan berdasarkan kebutuhan masyarakat lokal di berbagai negara.

Lalu, dari mana MCC mendapatkan sumber-sumber finansial dan bantuan lainnya untuk membantu umat manusia di berbagai negara itu? Bantuan bisa dari mana saja tapi yang jelas bukan dari pemerintah / negara. Misalnya dari para donatur, filantropis, dan gereja-gereja mereka.

MCC juga mengelola toko-toko barang bekas yang menjual apa saja – dari buku & pakaian sampai alat-alat dapur dan rumah tangga lainnya – dengan harga murah. Dulu, saat masih menjadi mahasiswa, saya termasuk “pengunjung setia” toko-toko bekas mereka karena harganya pas dengan “kantong mahasiswa”. Banyak orang mendonasikan barang-barang bekas (second) ke toko-toko ini. Yang bekerja disitu juga voluntir, rata-rata para orang tua atau setengah tua (STW).

Di Akron, MCC juga mempunyai “pabrik barang bekas.” Di pabrik ini, saya melihat gunungan pakaian, selimut, buku dlsb. Oleh MCC, barang-barang itu didaur ulang atau diolah kembali hingga dianggap layak. Buat apa? Ya untuk dikirim dan diberikan ke orang-orang yang membutuhkan: para pengungsi, korban perang & bencana alam, serta fakir-miskin di seantero jagat raya.

Prinsip dan spirit “memulung” ala MCC ini perlu kita contoh. Kalau misalnya nggak ada barang bekas untuk dimulung ya “orang bekas” mungkin nggak apa-apa juga. Kita benerin dan daur ulang para “manusia rombengan” ini, misalnya otaknya ditaruh di kepala jangan di dengkul. Siapa tahu dengan cara ini, mereka bisa jadi waras lagi nggak jadi WEA alias Wong Edan Anyaran. Kalau sudah dicoba didaur ulang tetapi kualitas mereka masih amburadul juga ya mohon maaf terpaksa dibuang saja, jangan malah dijadiin gubernur. Oops keceplosanšŸ™Š

Sumanto Al Qurtuby & fb
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *