ANGGOTA KOMISI III PERTANYAKAN PENCABUTAN ASIMILASI HABIB BAHAR BIN SMITH

Merdeka.com – Anggota Komisi III fraksi Gerindra Habiburokhman mempertanyakan pencabutan asimilasi yang diberikan kepada Habib Bahar bin Smith. Hal ini dia sampaikan dalam rapat kerja dengan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.

Dia pun mempersoalkan alasan di balik pencabutan asimilasi. Menurut dia, sebagaimana yang disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan, pembatalan asimilasi diatur dalam Pasal 136 Ayat 2 Huruf e Permenkum HAM Nomor 3 Tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimilasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat.

Pencabutan asimilasi dilakukan karena Habib Bahar dinilai menimbulkan keresahan masyarakat. Terkait hal tersebut, dia mempertanyakan mekanisme pengawasan yang dijalankan Kemenkum HAM.

“Bahwa pencabutan asimilasi dilakukan jika narapidana menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Disebutkan pengawasan asimilasi dilakukan dengan tiga tahap, preemtif, preventif, dan represif. Mengapa tidak ada dialog terlebih dahulu. Nggak ada mekanisme peringatan dahulu,” kata dia, di ruang rapat Komisi III, Senin (22/6).

Jika alasan pencabutan asimilasi Habib Bahar disebabkan karena isi pidatonya, maka dalam pandangan dia, pidato yang disampaikan Habib Bahar seharusnya dipandang sebagai kritik.

“Kalau pidato habib Bahar saya pikir itu masih dalam kritikan. Kami DPR termasuk bagian yang dikritik masih bisa menerima kritikan tersebut,” jelas dia.

“Dikatakan misalnya kami pejabat negara tidak berkorban untuk rakyat tapi mengorbankan rakyat. Menurut kami itu masukan supaya kami lebih banyak bekerja untuk rakyat,” lanjut dia.

Dia pun menyanggah alasan pelanggaran PSBB yang menjadi latar belakang pencabutan asimilasi. “Kemudian soal PSBB. Kalau soal PSBB di persoalkan, banyak sekali yang melanggar PSBB tapi cuma mendapatkan peringatan dari situ kami mempertanyakan,” tandas dia.

Sebelumnya, Bahar bin Smith, terpidana kasus penganiayaan pada anak di bawah umur, resmi menghirup udara bebas Sabtu (16/5/2020) sore.

Bahar bin Smith bebas dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pondok Ranjeg, Cibinong, Kabupaten Bogor setelah mendapat program asimilasi dari Kementerian Hukum dan HAM.

Bahar Bin Smith merupakan warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cibinong, Kabupaten Bogor, setelah divonis hukuman 3 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung pada 13 Juli 2019 lalu.

Namun, Bahar bin Smith, kembali dijemput pihak kepolisian tiga hari kemudian atau Selasa (19/5) pagi. Dia kembali dijebloskan ke penjara setelah diduga melanggar protokol kesehatan. Kini, dia mendekam di Lapas Nusakambangan. (mdk/gil)

sumber: merdeka

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *