SAYA MEMINTA PARA PEMUKA ADAT MINANGKABAU BISA MENUNJUKKAN SATU AYAT SAJA DALAM AL QURAN YANG MENYATAKAN ‘INJIL TIDAK BOLEH DITERJEMAHKAN’

Dengan hormat.

Melalui surat terbuka ini saya meminta para pemuka adat dalam Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MAAM), Badan Koordinasi Kerapatan Adat Nagari Sumatra Barat (BAKOR KAN) dan Mahkamah Adat Alam Minangkabau (MTKAAM), .. agar bersedia kiranya menunjukkan kepada publik satu ayat saja dalam Al Quran yang menyatakan bahwa ‘Injil tidak boleh diterjemahkan’ atau menunjukkan satu ayat dalam Al Quran yang menyatakan ‘umat islam tidak boleh membaca Injil’.

Sebagai penjelasan, MAAM dan BAKOR KAN adalah dua lembaga lembaga adat Minang yang melaporkan saya (Ade Armando) ke polisi dengan menggunakan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, artinya saya dianggap menyebarkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Sedangkan MTKAAM dengan ketuanya Irfianda Abidin adalah lembaga yang menyatakan saya melecehkan adat dan budaya Minang sehingga saya dibuang sepanjang adat.

Saya tentu saja bersedia menjalani proses hukum dan dibuang dari adat Minangkabau.

Namun saya juga minta para pemuka adat itu bertanggungjawab atas tuduhan-tuduhannya.

Serangan para pemuka adat terhadap saya itu terkait dengan postingan FB saya (4 Juni 2020) di mana saya mengeritik Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno yang melalui suratnya pada pada Menkominfo tanggal 28 Mei meminta Menkominfo melarang aplikasi Injil berbahasa Minang.

Gubernur Sumbar menyatakan bahwaaplikasi Injil berbahasa Minang harus dilarang karena masyarakat Minang resah, dan aplikasi tersebut sangat bertolak belakang dengan adat dan budaya Minang, yang memiliki falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Saya mempertanyakan penjelasan Gubernur Sumatra Barat tersebut . Karena itu saya menulis: “Lho ini maksudnya apa? Memang orang Minang nggak boleh belajar Injil? Memang orang Minang nggak boleh beragama Kristen? Kok Sumatra Barat jadi provinsi terbelakang seperti ini sih? Dulu kayaknya banyak orang pinter dari Sumatra Barat. Kok sekarang jadi lebih kadrun dari kadrun?”

Jadi rangkaian pertanyaan saya itu berdiri dalam konteks. Saya bukan menyatakan Sumatra Barat terbelakang dan lebih kadrun dari kadrun, titik. Pertanyaan saya mengenai keterbelakangan Sumatra Barat itu dilandasi pertanyaan tentang pelarangan aplikasi Injil berbahasa Minang.

Karena itu pertanyaan saya pada para pimpinan adat sekarang: apakah ada landasan yang kuat menurut Al Quran bahwa Aplikasi Injil berbahasa Minang adalah sesuatu yang terlarang menurut Islam?

Para pemuka adat menyatakan adat Minang harus punya landasan di Al Quran. Kalau benar begitu, para pimpinan adat dalam tiga lembaga yang menggugat saya HARUS BISA MENUNJUKKAN satu saja ayat Al Quran yang secara tegas menyatakan bahwa Injil tidak boleh diterjemahkan, atau MENUNJUKKAN ayat Al Quran yang secara tegas menyatakan bahwa umat Islam dilarang membaca Injil terjemahan.

Hanya kalau para pemimpin adat bisa menunjukkan adanya ayat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa Injil Berbahasa Minang adalah hal yang terlarang. Kalau ternyata tidak ada, maka TIDAK ada argumen kuat bahwa menurut adat Minang yang melandaskan diri pada Al Quran, Injil berbahasa Minang adalah hal terlarang

Saya pribadi yakin, larangan tersebut tidak ada dalam Al Quran. Dari apa yang saya pelajari, saya bahkan tidak menemukan satu hadits pun yang memuat pernyataan Nabi agar umat Islam tidak mempelajari Injil. Memang ada pemuka Islam yang menganggap membaca injil itu haram, tapi itu cuma pandangan atau tafsiran orang. Bukan sesuatu yang ada dalam Al Quran

Kalau memang ada ayat Al Quran yang secara tegas memuat larangan atas terjemahan Injil atau larangan bagi umat Islam membaca Injil, tentu dengan ringan hati saya menyatakan saya bersalah dan meminta maaf pada Gubernur Sumbar dan Masyarakat Adat Minangkabau

Kalau para pemuka adat tersebut tidak mau atau tidak bisa menjawab pertanyaan saya dan menunjukkan ayat yang saya pertanyakan, adalah hak mereka juga untuk berdiam diri

Saya cukup mengetahui bahwa apa yang saya lakukan tidaklah menghina budaya Minangkabau dan yang lebih penting lagi tidak bertentangan dengan Kitab Allah yang menjadi landasan budaya Minang.

Tapi kalau para pimpinan adat yang salah, mereka tidak perlu minta maaf pada saya walau saya sudah dihina sebagai orang yang harus dibuang. Mereka cukup menyatakan mereka tidak menemukan satupun ayat Al Quran yang melarang penterjemahan Injil dan melarang umat Islam membaca Injil.

Dan kalaupun mereka bahkan tidak mau mengakui itu, itu terserah pada kesadaran diri masing-masing. Allah tidak pernah salah dalam menghitung.

Hormat saya,
Ade Armando

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *