PA 212 DAN PKS TOLAK PRABOWO NYAPRES, SAKIT HATI DIKHIANATI YA?

Xhardy – Dua kali kalah dalam pilpres, Prabowo memiliki peluang yang lebih besar jika nyapres lagi pada tahun 2024. Di sisi lain Partai Gerindra kembali membuka kemungkinan mengusung Prabowo sebagai capres di pemilu 2024. Syaratnya, jika kader dan rakyat menghendaki.

Pada Pilpres 2019 Gerindra bersama PKS, PAN, Partai Demokrat, Partai Berkarya, dan Partai Idaman mengusung pasangan Prabowo-Sandiaga menghadapi Jokowi-Ma’ruf Amin. Pasangan itu kalah memperoleh suara sekitar 44,5 persen.

Berbeda dengan Pilpres tahun lalu, Prabowo sepertinya tidak akan lagi didukung oleh partai lain jika maju kembali sebagai Capres 2024.

PKS salah satunya yang mungkin tidak akan mendukung kembali Prabowo. PKS memilih mengajukan kadernya sendiri sebagai capres.

Tak hanya PKS, PA 212 yang awalnya ikut mendukung Prabowo pada Pilpres 2019, kini juga tak mau lagi memberikan dukungan. Mereka anggap Prabowo sudah selesai atau finis. “Pilpres 2019 pengalaman sendiri bagi kami dan untuk perjuangan kami ke depan bahwa Prabowo sudah finis. Biarkan saat ini Prabowo menikmati dan menyelesaikan tugasnya sebagai Menhan,” kata Slamet.

“Cukuplah Prabowo di 2024 menjadi negarawan dengan memunculkan capres baru yang muda, karena kami yakin 2024 saatnya yang muda yang pimpin negeri. Apalagi umat punya catatan sendiri kepada Prabowo yang susah untuk dilupakan di 2019,” kata dia.

Pertama-tama, saya juga tidak setuju kalau Prabowo kembali mencalonkan diri sebagai capres di tahun 2024. Terkesan dia terlalu ambisius ingin berkuasa dan ini bisa menjadi penilaian buruk di mata publik.

Di sisi lain, Prabowo selama menjadi Menhan, tidak terlalu banyak mengekspos diri, tidak banyak bikin konpers, tidak banyak cari muka dan tidak banyak bikin gaduh di dalam tubuh pemerintahan. Prabowo ini cenderung adem dan tidak banyak membuat kebijakan yang bertentangan dengan spirit pemerintahan yang dipimpin Jokowi. Kalau konsisten seperti ini, tidak masalah juga kalau Prabowo berniat nyapres kembali.

Yang paling kasihan adalah PKS dan PA 212 yang sudah mirip seperti gelandangan politik yang telantar di tengah jalan tidak bisa mendapatkan tumpangan untuk menuju ke tempat yang mereka inginkan.

Ini namanya ngambek berjemaah gara-gara dikhianati. Sakitnya tuh di sini. Bagus lah Prabowo tidak bawa-bawa lagi partai dan kelompok munafik yang selalu bermain dua kaki dan berstandar ganda.

Prabowo tidak lagi menjadi calon pemimpin pilihan umat, bukan lagi capres yang direstui oleh para ulama versi mereka, dan yang terpenting adalah Prabowo bukan lagi pemimpin yang kabarnya dimimpikan hingga lima kali oleh salah seorang ulama, hehehe.

Prabowo sekarang ibarat mobil rongsokan yang bagi mereka sudah tidak bisa lagi ditumpangi. Prabowo sekarang bukan lagi orang yang bisa ditunggangi atas nama agama dan janji kavling surga. Prabowo bukan lagi sosok yang bisa mengangkat harkat dan derajat kelompok yang mungkin lebih tepat disebut kadrun.

Sudah jelas gerombolan ini hanya mendukung calon pemimpin yang bisa disetir oleh kehendak mereka sendiri. Istilahnya pemimpin yang bisa digerakkan seperti wayang. Pemimpin boneka yang bisa dikendalikan seenak jidat.

Pengkhianatan itu sakit banget. Dikhianati itu tidak menyebabkan sakit fisik, cuma sakit hati. Makanya mereka ini kurang lebih merupakan barisan sakit hati. Enak lho rasanya sakit hati selama bertahun-tahun akibat keinginan yang tidak pernah terwujud.

Yang satu dilepehin oleh Prabowo yang berpindah ke kubu pemerintah. Yang satu lagi ditikung oleh Gerindra melalui pemilihan wakil gubernur DKI Jakarta.

Kalau Prabowo tidak lagi dilirik, maka kemungkinan besar mereka akan mendukung gubernur DKI Jakarta sebagai penggantinya. Tanda-tandanya sangat jelas. Dan jangan lupa bagaimana cara gubernur ini memperoleh kemenangan dalam pilkada DKI Jakarta. Isu SARA digunakan oleh kelompok pendukung. Pengerahan mayat pun tidak terlewatkan.

Kelompok ini meng-copy paste cara ini pada tahun 2019 lalu, dan kemungkinan besar akan kembali digunakan pada tahun 2024. Intinya siapa pun yang didukung oleh PKS, PA 212 dan gerombolan sejenisnya, maka kita harus memilih sebaliknya. Kalau kelompok ini protes sesuatu, maka sesuatu itu adalah benar dan sudah tepat.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: sewo 212 DAN PKS TOLAK PRABOWO NYAPRES, SAKIT HATI DIKHIANATI YA?

Xhardy – Dua kali kalah dalam pilpres, Prabowo memiliki peluang yang lebih besar jika nyapres lagi pada tahun 2024. Di sisi lain Partai Gerindra kembali membuka kemungkinan mengusung Prabowo sebagai capres di pemilu 2024. Syaratnya, jika kader dan rakyat menghendaki.

Pada Pilpres 2019 Gerindra bersama PKS, PAN, Partai Demokrat, Partai Berkarya, dan Partai Idaman mengusung pasangan Prabowo-Sandiaga menghadapi Jokowi-Ma’ruf Amin. Pasangan itu kalah memperoleh suara sekitar 44,5 persen.

Berbeda dengan Pilpres tahun lalu, Prabowo sepertinya tidak akan lagi didukung oleh partai lain jika maju kembali sebagai Capres 2024.

PKS salah satunya yang mungkin tidak akan mendukung kembali Prabowo. PKS memilih mengajukan kadernya sendiri sebagai capres.

Tak hanya PKS, PA 212 yang awalnya ikut mendukung Prabowo pada Pilpres 2019, kini juga tak mau lagi memberikan dukungan. Mereka anggap Prabowo sudah selesai atau finis. “Pilpres 2019 pengalaman sendiri bagi kami dan untuk perjuangan kami ke depan bahwa Prabowo sudah finis. Biarkan saat ini Prabowo menikmati dan menyelesaikan tugasnya sebagai Menhan,” kata Slamet.

“Cukuplah Prabowo di 2024 menjadi negarawan dengan memunculkan capres baru yang muda, karena kami yakin 2024 saatnya yang muda yang pimpin negeri. Apalagi umat punya catatan sendiri kepada Prabowo yang susah untuk dilupakan di 2019,” kata dia.

Pertama-tama, saya juga tidak setuju kalau Prabowo kembali mencalonkan diri sebagai capres di tahun 2024. Terkesan dia terlalu ambisius ingin berkuasa dan ini bisa menjadi penilaian buruk di mata publik.

Di sisi lain, Prabowo selama menjadi Menhan, tidak terlalu banyak mengekspos diri, tidak banyak bikin konpers, tidak banyak cari muka dan tidak banyak bikin gaduh di dalam tubuh pemerintahan. Prabowo ini cenderung adem dan tidak banyak membuat kebijakan yang bertentangan dengan spirit pemerintahan yang dipimpin Jokowi. Kalau konsisten seperti ini, tidak masalah juga kalau Prabowo berniat nyapres kembali.

Yang paling kasihan adalah PKS dan PA 212 yang sudah mirip seperti gelandangan politik yang telantar di tengah jalan tidak bisa mendapatkan tumpangan untuk menuju ke tempat yang mereka inginkan.

Ini namanya ngambek berjemaah gara-gara dikhianati. Sakitnya tuh di sini. Bagus lah Prabowo tidak bawa-bawa lagi partai dan kelompok munafik yang selalu bermain dua kaki dan berstandar ganda.

Prabowo tidak lagi menjadi calon pemimpin pilihan umat, bukan lagi capres yang direstui oleh para ulama versi mereka, dan yang terpenting adalah Prabowo bukan lagi pemimpin yang kabarnya dimimpikan hingga lima kali oleh salah seorang ulama, hehehe.

Prabowo sekarang ibarat mobil rongsokan yang bagi mereka sudah tidak bisa lagi ditumpangi. Prabowo sekarang bukan lagi orang yang bisa ditunggangi atas nama agama dan janji kavling surga. Prabowo bukan lagi sosok yang bisa mengangkat harkat dan derajat kelompok yang mungkin lebih tepat disebut kadrun.

Sudah jelas gerombolan ini hanya mendukung calon pemimpin yang bisa disetir oleh kehendak mereka sendiri. Istilahnya pemimpin yang bisa digerakkan seperti wayang. Pemimpin boneka yang bisa dikendalikan seenak jidat.

Pengkhianatan itu sakit banget. Dikhianati itu tidak menyebabkan sakit fisik, cuma sakit hati. Makanya mereka ini kurang lebih merupakan barisan sakit hati. Enak lho rasanya sakit hati selama bertahun-tahun akibat keinginan yang tidak pernah terwujud.

Yang satu dilepehin oleh Prabowo yang berpindah ke kubu pemerintah. Yang satu lagi ditikung oleh Gerindra melalui pemilihan wakil gubernur DKI Jakarta.

Kalau Prabowo tidak lagi dilirik, maka kemungkinan besar mereka akan mendukung gubernur DKI Jakarta sebagai penggantinya. Tanda-tandanya sangat jelas. Dan jangan lupa bagaimana cara gubernur ini memperoleh kemenangan dalam pilkada DKI Jakarta. Isu SARA digunakan oleh kelompok pendukung. Pengerahan mayat pun tidak terlewatkan.

Kelompok ini meng-copy paste cara ini pada tahun 2019 lalu, dan kemungkinan besar akan kembali digunakan pada tahun 2024. Intinya siapa pun yang didukung oleh PKS, PA 212 dan gerombolan sejenisnya, maka kita harus memilih sebaliknya. Kalau kelompok ini protes sesuatu, maka sesuatu itu adalah benar dan sudah tepat.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *