JUBIR COVID CANTIK ITU IBARAT BALSEM

Alifurrahman – Covid di Indonesia memasuki babak baru. New normal seolah menuntut semuanya jadi baru. Bukan hanya kebiasaan pakai masker atau cuci tangan. Tapi juru bicaranya juga baru, lebih segar dan menggairahkan. Eh? Maksudnya diganti jadi perempuan menarik dan jelas lebih nyaman dilihat dibanding sebelumnya.

Banyak orang tiba-tiba membicarakannya. Terutama dari kaum pria. Jadi lebih semangat untuk melihat update covid di Indonesia, meskipun sebenarnya sama saja. Cuma angka-angka terjangkit, sembuh dan kematian.

Sementara dari kalangan ibu-ibu, muncul sedikit protes. Karena yang jadi jubir harusnya setara Tom Cruise agar enak dilihat. Dan katanya itu lebih efisien untuk penyebaran persepsi positif. Karena urusan gosip itu salah satu tugas tak tertulis perempuan. Maka seharusnya pemerintah lebih peka urusan corong komunikasi. Bukan malah menempatkan dokter cantik yang hanya bisa dinikmati dalam senyap oleh para pria yang kebanyakan takut dengan istrinya kalau menyangkut bab perempuan lain.

Ada yang bilang ini pengalihan isu. Agar covid tidak menyeramkan. Ada pula yang berpikir ini hanya ikut-ikutan, karena negara lain menunjuk jubir perempuan cantik.

Dan kalau saya ditanya apa tujuannya? Maka jawaban serius saya adalah, karena ada pihak-pihak yang tetap menginginkan covid ini ada di Indonesia. Ingin terus dibicarakan dan tak mau new normal.

Terlalu serius ya? Hehe

Bagi saya, penunjukan dokter cantik sebagai jubir covid ini ibarat balsem. Ada efeknya. Sedikit menghangatkan. Tapi tidak bisa menyembuhkan penyakit yang sebenarnya.

Contoh ‘penyakit’ penanganan covid di Indonesia ada banyak.

Pertama, cekcok warga dan aparat soal tilang bagi yang tidak pakai masker. Ini aturan yang aneh. Orang yang tidak pakai masker harus bayar tilang. Padahal kalau tujuannya agar masyarakat mau memakai masker, kenapa tidak kita sediakan masker? Atau kalaupun ada tilang, kita beri masker sebagai gantinya. Ini kalau tilang saja, bayar uang, malah semakin memberatkan dan tujuannya tidak tercapai.

Kedua, aturan wajib membawa surat keterangan negatif covid jika ingin naik pesawat, sementara harga tes negatif malah jauh lebih mahal dari tiket pesawat. Tidak jelas apa maksud dan tujuanya. Bukankah kita hanya perlu menjaga jarak agar tidak tertular? Apakah masker, sanitizer dan jaga jarak kursi tidak cukup?

Ketiga, catatan kengeyelan pimpinan daerah yang tetap melanjutkan PSBB, padahal pemerintah sudah mendorong new normal. Nampaknya ada yang keenakan PSBB. Ini juga belum ditertibkan.

Belum lagi soal terapi plasma konvalesens. Yang sudah diinstruksikan Presiden, diakui oleh Gugus Tugas dan Menteri Kesehatan, tapi di bawah masih ada penolakan dari dinas kesehatan, rumah sakit atau pihak terkait.

Kita harus maklum bila ada kejadian begini. Karena pemerintah belum membuat keputusan resmi. Presiden baru meminta agar diperbanyak, Gugus Tugas baru menyarankan agar pasien sembuh mau mendonorkan. Baru sebatas itu. Belum sampai pada aturan yang dapat menjadi alasan kuat agar tidak ditolak oleh dinas kesehatan daerah.

Atau soal sosialisasi tata cara penggunaan scanner yang benar. Agar tidak ada lagi petugas PSBB yang bilang suhu tubuh kita 32 atau 33 derajat. Sehingga membuat kegiatan pemeriksaan tersebut nyaris tidak ada gunanya. Sama seperti aturan pakai masker di dalam mobil pribadi. Apa gunanya?

Semua ‘penyakit’ ini -kalau bisa disebut begitu- tidak akan pernah bisa sembuh hanya karena jubir covid kini perempuan cantik. Mungkin sejenak kita akan merasa nyaman, senang melihatnya, tapi lama-lama penyakit itu akan kembali terasa.

Barangkali penunjukan juru bicara dokter canrik itu sudah benar. Ada juga manfaatnya. Tapi kalau saya pribadi, lebih setuju kalau penyakit-penyakit itu lebih dulu ditindak lanjuti. Bahwa setelah itu mau pakai balsem atau apa, silahkan saja.

Tapi kemudian saya jadi tidak heran kenapa saat krisis seperti sekarang, negara sedang mendapat musibah, tapi politisi dan elite kita sibuk diskusi soal pemakzulan. Bukan memikirkan bagaimana agar negara ini selamat dan cepat menyelesaikan pandemi dalam negeri. Karena mungkin memang begitulah kita. Mental balsem. Maunya yang instan dan langsung terasa. Maunya besok langsung ganti Presiden tanpa proses pemilu.

Di satu sisi saya melihat pemerintah terlalu sering berkompromi. Tidak lugas dalam keputusan atau kebijakan. Tapi di sisi lain Indonesia sudah lebih baik dari Amerika. Minimal sampai hari ini belum ada kerusuhan atau demo besar-besaran untuk melampiaskan kejenuhan. Begitulah kura-kura.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *