KOMUNISME DI ARAB SAUDI

Ketika Saleh Mansour wafat beberapa tahun silam, sejumlah media di Arab Saudi ramai-ramai menulis berita dengan judul, “Wafatnya Tokoh Komunis Saudi Terakhir”. Almarhum Pak Saleh adalah seorang penulis, kritikus budaya, dan aktivis sosial berhaluan kiri (Leftist).

Pak Saleh dikenal sebagai salah satu intelektual Saudi yang memperkenalkan ide-ide Marxisme, komunisme dan sosialisme di Arab Saudi kontemporer, dan dekat dengan “mendiang” Soviet dan jaringan Komunis Internasional. Kedekatannya dengan Soviet dan Komunis Internasional itu disimbolkan dengan dasi merah yang selalu ia pakai seperti di foto ini.

Komunisme memang sempat tumbuh di Arab Saudi, meskipun tidak sesepektakuler kawasan Arab lain seperti Yaman, Palestina, Irak, Mesir, Suriah, Libanon, Yordania, Bahrain, Tunisia, Sudan, atau Aljazair, dimana Partai Komunis dan ideologi komunisme sempat tumbuh subur dan berjaya.

Pula, tidak seperti kawasan Arab lain dimana komunisme sudah mulai diperkenalkan sejak 1920an, komunisme cukup lambat masuk ke Arab Saudi. Sejumlah sarjana dan sejarawan seperti Toby Matthiesen dan Kamel al-Khatti menduga perkembangan awal komunisme di Arab Saudi diperkenalkan oleh para pekerja migran dari kawasan Arab Timur Tengah yang dulu direkrut oleh para pejabat ARAMCO (perusahaan minyak terbesar di Saudi dan dunia).

Tujuan perekrutan ini untuk membantu para pejabat ARAMCO yang dulu banyak dikuasai oleh warga kulit putih dari Inggris, Kanada dan lainnya. Yang direkrut adalah warga Arab yang bisa berbahasa Inggris untuk membantu menerjemahkan bahasa Arab maupun membantu melatih para pekerja lokal.

Di antara yang populer dari kaum migran Arab tersebut adalah Mahmoud al-Ahwani (aktivis komunis Mesir) dan Abdullah Noor Allah (aktivis komunis Yordania). Para aktivis berhaluan kiri tersebut kemudian mengorganisir serangkaian gerakan protes terhadap pejabat Aramco yang menganakemaskan pekerja kulit putih dan menganaktirikan pekerja Arab, termasuk Arab Saudi, dalam segala hal: gaji, tunjangan, fasilitas, dlsb semuanya njomplang – satunya setinggi langit, satunya nyungsep sedalam jurang Lapindo.

Sejak itu, sejumlah organisasi gerakan buruh pun dibentuk, terutama sejak pertengahan 1940an dan awal 1950an. Momentum ini kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah pentolan dan pentilan politik untuk mendirikan sejumlah ormas dan orpol seperti Front Pembaharuan Nasional, Front Pembebasan Nasional (kemudian berubah menjadi Front Pembebasan Nasional Arab), Persatuan Rakyat Jazirah Arab, dlsb. Abdulaziz al-Sunaid membentuk Organisasi Komunis Saudi. Tetapi simpatisan komunisme tersebar di sejumalh orpol bukan hanya di ormas bentukan al-Sunaid saja. Kali ini target mereka bukan hanya ARAMCO tetapi pemerintah Arab Saudi.

Kelompok kiri dan gerakan politik di Arab Saudi mendapatkan angin segar ketika Gamal Abdel Nasser yang pro-kiri berhasil mengkudeta Mesir di awal 1950an. Presiden Gamal Abdel Nasser yang anti-monarki ini ikut membantu gerakan politik oposisi dan kelompok komunis di Arab Saudi yang memicu ketegangan hubungan diplomatik Saudi-Mesir.

Tetapi pemerintah Saudi, sejak pertengahan 1960an, berhasil mengatasi berbagai gerakan oposisi, baik yang berhaluan kiri maupun bukan, dengan baik. Menariknya, tidak seperti Pak Harto yang “membasmi” habis kelompok komunis maupun yang “setengah komunis” atau bahkan mereka yang hanya sekedar “mambu komunis”, Pak Faisal (Raja Faisal) hanya menangkap para gembong dan menghukum orang-orang yang terlibat gerakan makar, kekerasan, pengeboman, dan terorisme saja. Selebihnya tidak dihukum apalagi diuber-uber sampai ke lubang lele terus dicekik.

Itulah sebabnya sebagian mereka, seperti Pak Saleh ini, masih hidup. Sebagain lagi bahkan mendirikan Partai Komunis Arab Saudi (al-hizb al-syuyu’i fi al-su’udiyah) tahun 1975 yang terus beroperasi sampai 1990an. Tetapi kurang laku, apalagi Soviet kemudian tumbang. Begitu pula partai-partai komunis lain di Timur Tengah. Tahun 1990an, pamor komunisme juga kalah dengan ideologi Islamisme yang sangat heroik diperkenalkan oleh kelompok Sahwa dan al-Qaeda, meskipun kemudian meredup lagi.

Gerakan ideologi, apapun namanya, dimanapun di dunia ini memang selalu pasang-surut: kadang lemes, kadang ngaceng, tergantung sikonlah qiqiqi

Sumanto Al Qurtuby & fb
Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

#komunisdiarabsaudi

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *