TANGKAP NURHADI, BUKTI KPK MASIH EKSIS

Tadeus – Berakhir sudah kisah pelarian Nurhadi, mantan Sekretaris Mahkamah Agung yang menjadi buron KPK setelah ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait penanganan perkara di MA.

Nurhadi diamankan tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di sebuah rumah, kawasan Simprug, Jakarta Selatan. Turut pula diamankan menantunya Rezky Herbiyono yang juga menjadi tersangka pada kasus yang sama.

Selain itu, istri Nurhadi, Tun Zuraida ikut dicokok. “Karena yang bersangkutan telah dilakukan pemanggilan sebagai saksi berulang kali tapi tidak pernah dipenuhi,” kata Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango menjelaskan perihal ikut dibawanya Tun Zuraida.

Tak tertutup kemungkinan Tin Zuraida bakal menyusul menjadi tersangka, karena diduga dia ikut berperan membantu pelarian Nurhadi sebagai buron. Selain itu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan pernah pula mencurigai transaksi di rekening Zuraida yang dinilai tak wajar.

Bagaimana tidak, rata-rata arus di salah satu rekening Tin Zuraida mencapai Rp 1-2 miliar setiap bulan selama periode 2004-2009. Hal ini tak sesuai dengan profilnya yang hanya menjabat Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Mahkamah Agung, yang masuk kategori pegawai negeri golongan IV-C.

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) pun ikut mengapresiasi kerja KPK. MAKI menilai KPK tetap bisa bekerja meskipun di masa sulit pandemi. “MAKI memberikan apresiasi kepada KPK atas tertangkapnya buron ini meskipun pada saat sulit pandemi Corona yang menyulitkan Satgas untuk memburu Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono,” kata Koordinator MAKI Boyamin Saiman dalam keterangannya, Selasa (2/6).

Boyamin lanjut menyebut penangkapan Nurhadi dan menantunya ini merupakan prestasi bagi KPK. Dia pun memberikan hormat ke KPK yang berhasil membekuk Nurhadi. “Penghormatan kepada KPK dengan cara tidak mencampuri teknis-teknis pelaksanaan penangkapan buron. Kami hanya sebatas memberikan informasi yang didapat dari empat klaster informan dan selanjutnya tim KPK yang menindaklanjuti dengan kewenangannya,” tuturnya.

Dan sesuai dengan janji mereka yang pernah menjanjikan hadiah bagi siapapun yang dapat memberi informasi atas keberadaan Nurhadi, MAKI telah menyerahkan dua iPhone 11 kepada dua klaster informan.

Disebutkan pula, Nurhadi ditangkap usai petugas berhasil melacak kebiasaan istrinya yang suka bertemu dengan pegawai Mahkamah Agung (MA) pada awal Juni ini. Dari hasil membututi Tun Zuraida itulah, petugas berhasil menemukan tempat persembuyian Nurhadi.

Nurhadi memang dikenal licin. Ditengarai dia selalu berpindah-pindah posisi agar petugas kesulitan melacak jejaknya. Tercatat ada 7 lokasi yang pernah digeledah KPK, mulai dari Jakarta hingga Surabaya.

Diharapkan dengan penangkapan Nurhadi ini, akan menjadi pembuka bagi KPK untuk membongkar mafia peradilan, yang bisa jadi melibatkan jaringan besar hakim, panitera dan pegawai di MA sampai pengadilan negeri, seperti yang disampaikan Direktur Legal Culture Institute (LeCI) M Rizqi Azmi.

Paling tidak, ini bisa menjadi angin segar bagi KPK di bawah pimpinan Firli Bahuri. Bagaimana tidak, KPK bolak-balik menjadi sorotan. Selain disorot kinerjanya karena masih belum bisa menangkap Nurhadi dan Harun Masiku, Firli juga banyak dikecam oleh pengamat.

Mulai dari gimmick ‘Nasi Goreng’, hingga dituding lebih mirip politisi dibandingkan dengan aparat penegak korupsi. Semoga kinerja KPK terus menerus membaik hingga bisa kembali memenuhi harapan masyarakat sebagai garda terdepan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Menarik pula melihat keberadaan penyidik senior KPK, Novel Baswedan yang sebelumnya disebut oleh Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron ikut dalam penangkapan Nurhadi. Dan teryata, si babang Novel mengaku bahwa memang dia yang memimpin Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) dalam penangkapan itu.

“Iya. Sebenarnya penyampaian mesti melalui humas. Tapi ini saya jawab karena sudah terpublikasi,” kata Novel. Namun sang babang Novel untuk kali ini merendah dan mengatakan penangkapan ini merupakan tim kerja penyidik. “Saya yang memimpin langsung penangkapan. Tapi ini kerja tim penyidik, bukan kerja saya sendiri,” ujarnya.

Tetap saya hargai atas pencapaian babang Novel. Semoga kasus penyiraman matanya yang sudah menjalani persidangan, akan dapat mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Supaya tak ada lagi tuduhan, seperti pada mantan Kapolri Tito Karnavian dan buku merah.

Maju terus KPK dalam memberantas korupsi di Indonesia!

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *