INIKAH BUKTI KALAU JK “MUSUH DALAM SELIMUT” BUAT JOKOWI?

Ninanoor-Wabah Covid-19 memang seakan mengingatkan kita pada akhir dunia. Dan wabah ini memang sudah memakan korban 300 ribuan nyawa, dengan jumlah kasus mencapai 4,6 juta orang. Di Indonesia sendiri sudah ada 17 ribu kasus, menempatkan negara kita di urutan 33 di dunia berdasarkan jumlah kasus.

Nah, dalam bayangan saya, seperti di film-film yang ber-genre kehancuran dunia bikinan Hollywood, para ilmuwan akan berlomba-lomba memberikan proposal solusinya kepada presiden. Semuanya diterima dan dikaji langsung oleh sebuah forum yang berisi para ahli dari berbagai disiplin ilmu. Pengkajian berlangsung cepat. Bahkan ide mengebor meteor pun dipertimbangkan. Jika ada sedikit saja titik terang dalam solusi itu, para ilmuwan langsung bergerak buat mengujinya. Set set set, masalah kehancuran bumi pun diatasi secara tuntas dalam satu film.

Sayangnya, di dunia nyata sangat berbeda. Masih ingat kan cerita tentang perjalanan surat dari dr. Monica Rahardjo yang berisi usulan Terapi Plasma Konvalesen (TPK) kepada Presiden Jokowi? Begitu banyak pihak yang dimintai tolong oleh Pimpinan Seword, Mas Alifurrahman, hingga 2 minggu, surat itu tidak juga sampai buat dibaca oleh Presiden Jokowi. Yang cukup mengejutkan, ternyata lewat perantaraan partai politik lah, yang akhirnya bisa menghantarkan surat itu ke tangan Pak Jokowi. Dalam hitungan jam, Presiden Jokowi memberikan respons dengan cepat dan usulan itu pun akhirnya dibahas langsung dengan presiden, tentunya oleh dr. Monica.

Saya sempat sedikit down dengan kenyataan itu. Bukan kah kita semua sedang berupaya keras buat mencari solusi terhadap Covid-19 ini? Lebih cepat lebih baik kan? Nyatanya, banyak orang yang tidak menganggap bahwa solusi obat/terapi/vaksin buat Covid-19 adalah tujuan utama kita bersama.

Sesudah tersiar kabar bahwa Presiden Jokowi sudah mengetahui akan adanya TPK ini, mulai deh lembaga besar bicara ke media. Seakan mereka lah yang menginisiasi soal TPK ini. Seakan mereka yang paling tahu soal ini. Padahal yang menyusun protapnya (prosedur tetap) ya dr. Monica dan timnya. Protap ini lah yang dipakai oleh tim medis di bawah komando Presiden RI. Sedangkan rumah sakit tempat uji coba TPK dari pemerintah ya di RSPAD. Sementara lembaga besar itu, sebagai pihak swasta, harus mencari plasma darah sendiri dari luar RSPAD. Dan mereka bekerja sama dengan PMI, yang ketua umumnya adalah Jusuf Kalla (JK).

Banyak sekali pernyataan lembaga ini di media soal TPK. Bahkan mungkin melebihi jumlah wawancara yang dilakukan oleh dr. Monica. Pertanyaan kita kan, kalau sudah tahu soal TPK, kenapa si lembaga ini tidak mengusulkan sebelumnya ke presiden? Kenapa ramenya baru sesudah surat dr. Monica sampai ke tangan Presiden Jokowi? Ya, dijawab masing-masing saja.

Ok, singkat cerita, TPK sudah memberikan hasil yang baik. Sudah ada beberapa pasien yang berhasil disembuhkan. Kemudian pada hari Senin lalu (11/5), Presiden Jokowi memberikan pernyataan bahwa TPK akan diuji coba dalam skala besar terhadap para pasien Covid-19 yang masih dirawat, seperti dilansir kompas.com. Menurut Presiden Jokowi, TPK sudah memperlihatkan kemajuan yang signifikan dalam upaya pengobatan pasien Covid-19. Beliau juga meminta semua kementrian dan lembaga mendukung penuh seluruh hasil riset dan inovasi pengobatan Covid-19, termasuk TPK. Proses-proses perizinan diminta dilakukan dengan cepat dan juga disambungkan dengan industri, baik itu BUMN maupun swasta Sumber. Intinya kita semua diajak bersinergi untuk melawan musuh bersama, dengan metode pengobatan yang sudah teruji bisa membantu penyembuhan para pasien Covid-19. Termasuk TPK.

Namun, sayangnya, keoptimisan dan ajakan bersinergi oleh Presiden Jokowi ini, menurut saya ternoda, oleh pernyataan JK beberapa hari kemudian. Dua hari kemudian, pada hari Rabu lalu (13/5), JK melontarkan pernyataan yang saya bilang sih kurang elok lah. “Indonesia harus punya kontribusi terhadap dunia dalam bidang sains untuk penanganan corona. Jangan seperti selama ini, apa-apa minta dari China,” kata JK di Kantor Lembaga Eijkman. JK juga memaparkan kerja sama antara PMI dan Lembaga Eijkman terkait terapi plasma untuk corona Sumber.

Loh? Pertama, memangnya TPK ini punya China atau diusulkan dari China? Kedua, buat apa melontarkan sentimen seperti itu, seakan-akan hasil riset dan inovasi yang sudah disebutkan oleh Presiden Jokowi beberapa hari sebelumnya itu semuanya berasal dari China. Dan dipakai di Indonesia, hanya dengan alasan sudah dipakai di China. Kan enggak begitu. Di mana penghargaan JK terhadap upaya dari anak bangsa sendiri? Kalaupun ada bantuan dari China, apakah dengan menerimanya sama dengan kita jadi negara boneka di bawah China?

Sebagai rakyat, saya sangat kecewa dengan pernyataan negarawan seperti JK ini. Kenapa tidak introspeksi diri? Tuh tanya ke lembaga yang kerja sama dengan PMI, kenapa bukan mereka yang mengusulkan TPK sejak awal kedatangan Covid-19 di Indonesia? Katanya metode ini sudah pernah dipakai untuk wabah penyakit lain seperti SARS, MERS, hantavirus dan flu burung kan? Mereka sendiri yang cerita kepada media Sumber. Lalu kenapa mesti menunggu lama? Sesudah ada yang mengusulkan ke Presiden Jokowi, baru deh ikut rame-ramenya. Tulisan ini adalah ungkapan kekesalan saya, sekaligus mempertanyakan, inikah buktinya kalau JK adalah seorang “musuh dalam selimut” yang siap “menerkam” Jokowi kalau ada kesempatan?

Tentu saja, lebih baik saya akhiri tulisan ini dengan ucapan terima kasih dan selamat kepada dr. Monica serta timnya, dan kepada Mas Alif. Atas upaya dan keberhasilan mereka dalam mengobati pasien Covid-19 dengan TPK. Semoga makin banyak pasien yang bisa disembuhkan. Aamien…. Sekian dulu dari kura-kura!

sumber: seword.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *