AWAS! JOKOWI AKAN DIADU DOMBA DENGAN PDIP

T.A Nugroho-Kurang lebih satu minggu yang lalu, saya mendapatkan semacam informasi bahwa PDIP akan secara bertahap meninggalkan pemerintahan Jokowi dikarenakan ketidak-puasan beberapa oknum kader yang merasa bahwa Jokowi sudah melenceng jauh dari cita-cita partai, partainya Wong Cilik.

Beberapa teman dan kenalan yang saya rasa mempunyai akses informasi mengenai hal itu satu persatu saya coba untuk saya mintai penjelasan atau keterangan, minimal apakah mereka tahu akan hal tersebut. Anehnya tak satupun yang tahu akan hal tersebut.

Dari situlah kemudian saya berpendapat bahwa sepertinya informasi yang saya dapatkan itu hanyalah rumor semata, karena validitasnya tidak bisa dipertanggung jawabkan. Jikapun ada kader dari PDIP yang tidak puas dengan kepemimpinan Jokowi menjabat sebagai Presiden, maka saya rasa itu hanyalah tafsiran atau pendapat pribadi mereka saja, dan bukan merupakan sikap partai. Karena dari awal Jokowi menjabat di pemerintahan, sebagai Walikota Solo, kemudian naik menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan akhirnya sampai sekarang masuk di periode kedua menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, PDIP adalah partai utama yang mengusung dan mendukung Jokowi.

Tetapi, pada sore hari tadi saya menemukan ada semacam kejanggalan terhadap informasi yang pernah saya terima kurang lebih satu minggu yang lalu tersebut. Walaupun pada kesempatan pertama saya menyatakan bahwa mungkin itu hanyalah rumor semata, tetapi akhirnya hari ini saya menyadari bahwa rumor tersebut memang sengaja di munculkan oleh pihak yang ingin mengadu domba antara Jokowi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan menggunakan sebuah skenario propaganda.

Propaganda, dalam banyak artikel secara umum bisa diartian sebagai suatu bentuk komunikasi berupa seni permainan kata-kata yang digunakan oleh suatu kelompok terorganisasi dengan tujuan menciptakan partisipasi aktif atau pasif untuk menyampaikan kebenaran menurut versi sang propagandis dengan menggunakan cara-cara persuasif untuk mengubah atau memengaruhi pendapat, sikap, dan perilaku masyarakat atau massa yang menjadi targetnya, atau memperkenalkan hal-hal baru.

Secara umum sebuah propaganda sengaja dibuat dengan tujuan untuk mempengaruhi opini publik dan memanipulasi emosi. Dalam dunia propaganda, setidaknya ada sembilan (9) tekhnik yang umum dipakai oleh para propagandis untuk melancarkan sebuah skenario propaganda dengan target tertentu. Dan dalam informasi yang kurang lebih satu minggu yang lalu saya dapatkan itu bagi saya adalah sebuah awal skenario propaganda dengan menggunakan tekhnik Testimonial.

Tekhnik Testimonial merupakan cara untuk memberikan atau menunjukan suatu kesaksian mengenai kebaikan atau keburukan tentang sesuatu hal atau seseorang. Dengan memberikan kesaksian yang dimaksudkan tujuannya untuk memengaruhi massa agar mengikutinya.

Lalu kenapa baru hari ini saya sadar bahwa itu merupakan sebuah propaganda? Karena ternyata trigger dari skenario propaganda tersebut baru tercipta atau bisa digunakan oleh pihak propagandis kurang lebih dua hari yang lalu. Trigger itu adalah Perpres Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

Jadi ketika pada kesempatan pertama saya mendapatkan informasi bahwa PDIP akan secara bertahap meninggalkan pemerintahan Jokowi saya belum menyadarinya, karena memang pada saat itu, kurang lebih satu minggu yang lalu, trigger tersebut belum tercipta atau belum bisa digunakan oleh piihak propagandis. Jadi menurut saya informasi awal yang saya terima tersebut merupakan semacam lampu kuning, yang dalam waktu dekat akan menjadi hijau, dan bisa dijalankan. Dan hari ini skenario propagandaitu sudah mulai dijalankan oleh mereka.

Coba kita perhatikan beberapa media yang secara khusus akhir-akhir ini memberitakan tentang kader-kader senior PDIP yang “” memprotes kebijakan Jokowi mengenai Perpres No 64 Tahun 2020 tersebut. Setidaknya ada dua kader senior PDIP yang di-stereotipe-kan oleh media-media propaganda tersebut seakan mereka adalah generalisasi dari suara PDIP, mereka adalah FX Hadi Rudyatmo (Walikota Solo) dan Ribka Tjiptaning (Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP).

Dalam pandangan saya, FX Hadi Rudyatmo (Walikota Solo) melancarkan protes terhadap Perpres No 64 Tahun 2020 tersebut hanyalah karena ada semacam ketidakpuasan atau semacam kekecewaan terhadap Jokowi dan elit DPP PDIP karena Gibran bisa melenggang maju dalam Pilkada Surakarta kedepannya.

Sedangkan untuk Ribka Tjiptaning (Anggota Komisi IX DPR Fraksi PDIP), dia melancarkan protes tersebut Karena memang sudah menjadi tugasnya sebagai anggota dewan, yang secara hakekat DPR adalah oposan pemerintah dalam sebuah negara demokrasi.

Jadi, baik suara FX Hadi Rudyatmo maupun suara Ribka Tjiptaning mengenai protes mereka terhadap Perpres Nomor 64 Tahun 2020 tidaklah bisa digeneralisasikan sebagai sebuah suara atau sikap dari PDIP, karena bagaimanapun PDIP dan Jokowi mempunyai sejarah yang saling melekat yang sangat sulit untuk dikesampingkan atau bahkan dihapuskan.

Terlepas dari itu semua, saya mencium aroma adu domba yang sangat kental dalam skenario propaganda ini, skenario untuk mengadu domba Jokowi dengan PDIP. Maka jika boleh saya menyarankan, baik untuk Jokowi maupun kader PDIP agar lebih berhati-hati ketika akan melakukan sebuah komunikasi politik ataupun komunikasi public dengan media, karena sampai saat ini identitas sang propagandis masih belum jelas terlihat, apakah dari oposisi, apakah dari koalisi, ataukah dari ihak ketiga.

Sekian.

Jayalah Indonesiaku.

Merdeka!

sumber: seword

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *