MEMAHAMI DENNY SIREGAR

Senang sih membaca judul tulisan ini.  Keren, meski  judul doang. Wah ini kan  narsis jadinya? Bodo amat, yang penting gembira.  

Menurut saya, menulis itu harus dimulai dengan hati yang gembira, minimal ada sesuatu yang membuat sang penulis gembira, jika apa-apa udah mikir ini, itu, apa kata orang, viewers dsb,  beban hidup jadi tambah berat om.

Ini mirip dengan situasi di rumah saat pandemi ini. Di rumah, sudah hampir dua minggu makan ikan kembung terus, sama nasi panas, sama sambal aja. Dibandingkan dengan yang makan 4 sehat dan kesempurnaannya hampir paripurna itu, tentu jauh lah.

Tapi gimana mensyukuri itu dengan gembira, itu hal yang paling penting kan? Lagian masih ada orang kok yang lebih sulit dari kita. Boro-boro ikan kembung,  yang dimakan ikan kempes semua.

Lagi ngomongin apa sih? Kan mau ngomongin “Memahami Denny Siregar”, nanti dianggap klikbait lho. Bodo amat. Biar klik itu menemukan bait nya sendiri. Becanda lho admin, jangan dimasukan di hati.

Tapi baiklah saya upayakan semampunya menuliskan tema ini. Soal “Memahami Denny Siregar”.

Penulis “Tuhan Dalam Secangkir Kopi” ini memang sedang lagi disorot, seperti biasa karena cuitannya di twitter. Kali ini nampaknya lebih serulawannya serasa satu kampung, yakni Partai Demokrat. Tuntutannya juga tak main-main, somasi dengan ancaman akan dituntut pidana.

Pasalnya Denny dianggap  telah mem-bully anak Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Almira.

Masalah ini bermula ketika AHY mengunggah kegiatan tugas sekolah Almira, yaitu membuat pidato dengan bahasa Inggris. Pidato itu harus disampaikan langsung ke Presiden Jokowi dengan  judul ‘Lockdown Speech’.

Denny lalu menuliskan sebuah tweet yang kemudian mendapat respons keras dari jajaran elite Demokrat. “Bapak udah. Anak udah juga. Sekarang cucu juga dikerahkan.. Kalo ada cicit, cicit juga bisa ikutan minta lockdown..,” tulis Denny Siregar.

Emosilah Cikeas, mulai dari sang ayahanda, bunda Annisa dan pengurus partai, lalu Denny dituntut untuk menghapus cuitan tersebut dan diberi waktu 3×24 jam. Apakah Denny menghapus isi tulisan tersebut? Emoh.

Denny beralasan tak menghapus cuitan tersebut untuk membuktikan dirinya tak bersalah.

“Karena ingin membuktikan bahwa saya tidak salah. Kalau saya hapus, berarti tuduhan mereka benar. Karena itu, saya mempersilakan Demokrat ambil langkah hukum, biar semua terang,” kata Denny kepada wartawan, Sabtu (9/5/2020).

Apakah sikap yang diambil Denny ini tepat? Bukankah menghapus cuitan artinya dapat menyelesaikan masalah? Tentu tidak bisa dilihat secara ringkas sepert itu.

Minimal ada dua alasan yang dapat dikemukakan untuk memahami sikap Denny Siregar ini. Pertama, sebagai influencer dengan pengikut berjubel, mencabut cuitan mungkin terasa haram bagi seorang Denny, karena itu akan mempengaruhi “pemasukan dari  pekerjaannya”.

Memelihara follower dan haters adalah seperti sebuah kebutuhan bagi seorang influencer seperti Denny.  Saya pernah membaca artikel di sebuah media tentang perbincangan dengan Denny.

Dalam artikel tersebut,  Denny mengatakan bahwa Haters adalah The Good Marketers. “Karena haters lah saya dikenal di medsos,” kata Denny.

Kedua, ada sisi moral yang sedang diperjuangkan oleh Denny. Maksud saya begini, saat ini salah satu pokok yang membuat Denny menjadi public enemy adalah soal Cyberbulling. Pembulian terhadap anak.  

Saya melihat dua kubu yang biasanya kontra, kompak menyatu bahwa jika benar demikian maka Denny memang salah. Bagaimana perasaan seorang ayah, ibu yang terluka melihat anaknya seperti dijadikan sebagai sasaran tembak.

Dari beberapa wawancara, Denny seperti  “menyesal” dan ingin mengatakan bahwa dirinya tidak  sedikitpun bermaksud melakukan hal tersebut.

“Lagian nggak ada tuh saya cyberbullying. Saya lagi nyindir Demokrat, bukan bullying anaknya Annisa. Apalagi dibilang bully anak kecil,” Kalau dibaca keseluruhan dengan tidak baperan, itu kan sindiran untuk Demokrat yang dari awal caper dengan lockdown. Demokrat lagi caper, partainya nyungsep,” tambah Denny.

Bagi Denny, menilai Demokrat sedang melakukan gesture politik dari postingan tersebut yes, tapi hendak mem-bully anaknya Annisa, no. Untuk yang terakhir ini Denny mungkin baru sadar kemudian.  

Hal itu juga ditekankannya kembali di artikel bertajuk “Surat terbuka untuk Partai Demokrat” yang dimuat di tagar.id. “Sebenarnya saya tidak mau memperpanjang masalah ini, karena saya harus paham reaksi ibu seperti Annisa Pohan yang enggak paham politik. Tapi kayaknya karena dia ngamuk, orang-orang Demokrat langsung cari muka supaya dianggap loyal”  kata Denny dari artikel tersebut.

Denny seperti gelisah postingannya membuat banyak yang salah paham apalagi menyangkut bully terhadap anak kecil, namun ketika sudah menjurus ke politis apalagi melihat reaksi Demokrat. Posisi  Denny jelas, bahkan bisa saja  ‘gembira”. Ini mah kesukaan gw.

Dari dua alasan ini, menarik ditunggu bagaimana kisah ini akan berujung. Posisi Denny sudah clear, tinggal kita tunggu bagaimana reaksi Demokrat selanjutnya. 

***

Sudah, gitu aja. Syukurlah tulisan seriusnya telah selesai.

Ngos-ngosan juga menulis tulisan ini. Menilai sebuah peristiwa politis terlalu banyak jebakannya, rumit.  Apalagi serasa sudah terbelit  menggunakan judul “Memahami”.

Memahami itu mah sulit. Memahami itu  bukan sekedar data tapi juga menangkap makna dalam dimensi personal ataupun interpersonal  dalam sebuah pemahaman. Data dapat diketahui oleh sesuatu, misalnya gen, neuron atau komputer tapi makna hanya dapat dipahami oleh seseorang.

Wihh..keren kalimatnya kan? Seperti tulisan para filsuf kan? Ya, iyalah mau sombong dikit bahwa lagi baca buku bagus dari doktor filsafat, F. Budi Hardiman.  Udah rampung bacanya? Belumlah, ini mah baru kata pengantar.  Baca buku kek gini, harus 3 kali bacanya baru paham, ini mah baru 0,001 persen.

Tapi harus senang kan, gembira ? Harus itu. Mau viewernya berapa kek, mau Denny dan Demokrat tak akur kek,  atau Denny juga tak membaca tulisan ini juga tak apa. Ayo bergembiralah.  Hidup yang sudah sulit ini jangan dibuat lebih sulit bro.

“Mama, ikan kembung sudah digoreng?”

“Hari ini bukan ikan kembung. Ikan teri….”

Lha… 

Tetap gembira kan? 

sumber: Kompasiana.

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *