“BULE KAPIR” YANG BAIK HATI.

Setiap orang yang tinggal di sebuah tempat baru, apalagi di negara baru, selalu ada suka-duka. Seperti yang mungkin pernah Anda alami, saya pun sama.

Salah satu dari sekian banyak pengalaman dan kenangan selama tinggal di Amerika Serikat adalah saat saya tinggal berdua saja dengan si empunya rumah selama sekitar 3 bulan di sebuah rumah milik teman buleku di sebuah kota kecil nan sepi di Negara Bagian Massachusetts.

Kala itu saya ingin merevisi disertasi doktoralku hasil masukan dari para dosen pembimbing. Beasiswa sudah habis. Anak-istri untuk sementara saya tinggal di Indonesia. Meskipun tidak ada beasiswa, kuliah S3-ku di Boston harus rampung. Otak pun diputar cari solusi.

Setelah menghubungi sana-sini akhirnya ada teman buleku – laki – yang bersedia menampungku selama melakukan revisi penulisan disertasi. Sebut saja Jon. Dalam email ia menulis: “Kalau Anda mau, silakan tinggal di rumahku. Tapi lokasinya jauh dari kampus perlu naik KA beberapa kali untuk bisa sampai di rumah.” Tanpa pikir panjang, saya iyakan tawarannya.

Begitulah, si Jon akhirnya jemput saya di kampus untuk diantar ke rumahnya dengan mobilnya yang sederhana. Memang jauh sekali dari kampus, di pinggiran Massachusetts. Kotanya kecil-mungil dan sepi-nyenyet jauh dari Boston yang hingar-bingar. Suasana bertambah sepi karena lokasi rumahnya yang nyaris tak bertetangga. Kanan-kirinya kebun kosong yang penuh pohon & aneka tanaman.

“Kamu tinggal sendirian di rumah ini?”, tanyaku mengawali pembicaraan sejenak setelah tiba di rumahnya.

“Ya. Anak-istriku sedang di Korea,” jawabnya singkat. Saya baru tahu kalau istrinya memang orang Korea. Ia pun bisa berbahasa Korea.

“Jon, berapa saya harus bayar uang sewa per bulan?”, tanyaku langsung to the point seperti umumnya gaya orang Amrik. Bukannya menjawab sekian dollar, ia malah tertawa. Sejurus kemudian ia berkata singkat: “Gratis my friend. Gak usah bayar”.

Mendengar jawabannya saya girang (tanpa tante) bukan main karena memang hanya punya sedikit uang tapi sekaligus heran. “Tumben nih bule gak mau dibayar,” batinku. Karena penasaran, saya pun bertanya kepadanya: “Kenapa kok nggak mau saya bayar uang sewa?”

Dia kemudian bercerita. “Saya dulu pernah ditolong orang Jepang tinggal di rumahnya selama satu tahun gratis. Makan pun gratis. Kini tiba saatnya saya harus berbuat yang sama.” Itulah “landasan filosofi” si Jon yang menggratiskan saya selama tinggal di rumahnya.

Saya perhatikan Jon tergolong “agnos” (pengikut agnostisisme) dan mendekati ateis. Ia tak tertarik dengan aneka ritual keagamaan. Hidupnya tak lepas dari wine, bir, dan minuman keras. Tetapi ia juga suka membaca, masak, meditasi, dan bersepeda. Saya tau jadwal kesehariannya: kapan ngebir, ngewine, membaca, masak, dan seterusnya.

Jon juga suka main golf amatiran. Pernah suatu malam saya diajaknya menyusuri kebun-kebun kosong tak berpenghuni menuju sebuah lapangan golf profesional sambil membawa ember kosong. “Ngapain kesini?” Main golf? Bukan. Ternyata mau mengambil dan ngumpulin bola-bola golf yang berserakan dimana-mana.

“Orang-orang kaya itu kalau latihan main golf, bola-bolanya yang sudah dipukul itu nggak diambil lagi. Jadi kita ambil saja,” jawabnya sambil terkekeh. Dari si Jon-lah saya mengenal permainan golep. Bijimana apakah kaliyen juga suka main golep. Kalau yang wanitah sudah pasti suka bermain golep dan suka mainin “bola golep” qiqiqi.

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia
Sumanto Al Qurtuby & fb

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

1 Response to “BULE KAPIR” YANG BAIK HATI.

  1. Pingback: cremation services

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *