MARAHNYA MENANTU MANTAN PRESIDEN, HARUSNYA MALU DENGAN TEGARNYA IBU IRIANA JOKOWI

Xhardy-Unggahan teks surat terbuka dari anaknya soal lockdown, ternyata berbuntut kritikan dari sebagian orang. Hingga pada akhirnya, sebut saja menantu mantan presiden ini mengeluarkan uneg-unegnya kepada Denny Siregar atas cuitannya yang dianggap memojokkan putri kesayangannya itu. Menurut info terbaru, sang suami berniat akan melaporkannya.

Saya sudah membaca kronologinya, dan bahkan sudah membaca teks pidato yang bersangkutan. Terlalu bagus kalau dibuat oleh seorang anak yang masih kecil. Bisa paham soal lockdown, betapa kota satelit sekitaran Jakarta berada dalam resiko besar, cara penularan virus corona, bagaimana wabah corona mempengaruhi ekonomi dan pekerjaan banyak orang, hingga menyarankan untuk lockdown dengan mengambil contoh Cina, Singapura dan lainnya yang sebenarnya tidak relevan dengan iklim politik di negara ini.

Tapi kali ini kita takkan bahas soal teks itu karena sudah banyak penulis yang bahas.

Saya lebih tertarik dengan reaksi sang menantu dalam melakukan pembelaan terhadap anaknya dan juga balasan dari Denny Siregar yang membuat saya merenung dan setuju mutlak.

Pertama, sebuah kekonyolan dan reaksi sang menantu yang tidak senang anaknya dijadikan objek sindiran. Lucunya, entah kenapa dalam cuitannya yang emosional itu, dia protes kepada presiden Jokowi atas apa yang dilakukan Denny. Benar-benar sangat tidak tepat sasaran alias tidak nyambung. Memangnya Denny anaknya Pak Jokowi? Harusnya dia protes langsung kepada Denny atau tantang adu debat langsung. Tapi masih mending sih, ketimbang nanti dia protesnya ke petinggi Sunda Empire. Bisa meriah masalahnya, hehehe.

Kedua, sebuah balasan telak dari Denny membuat saya merenung. Dia membandingkan karakter Ibu Iriana Jokowi dengan sang menantu.

Dikatakan olehnya, Ibu Iriana adalah seorang istri yang kuat. Tidak peduli Jokowi mau dituduh dan dihina seperti apa pun, tidak peduli anaknya mau dikritik dan digosipkan seperti apa pun, dia tetap tegar. Tidak pernah, sejauh yang saya tahu, dia baperan, emosional atau bahkan marah-marah kepada orang tersebut. Apalagi ngamuk-ngamuk di media sosial.

Seolah dia memang sadar beginilah risiko terjun ke dunia politik. Selalu saja ada yang bakal mencibir, mengkritik bahkan menghina secara brutal. Jadi, tak perlu ambil pusing dan move on.

Jokowi juga demikian. Tidak ambil pusing dengan semua hinaan atau fitnah jahat yang dialamatkan kepadanya. Tidak pernah dia laporkan para pemfitnah dan penghinanya, kebanyakan dilakukan oleh relawan atau pendukung atau warga yang tidak rela. Kalau kerjanya cuma baperan dan membalaskan dendam terhadap para pengkritiknya, kapan ada waktu urus negara ini?

Dan di balik setiap pria hebat, pasti ada wanita hebat di belakangnya. Jokowi dan istrinya membuktikan itu.

Di sisi lain, sang menantu adalah kebalikannya. Disenggol sedikit saja sudah marah dan baperan. Kalau kata Denny Siregar, bapernya hingga ke seberang lautan. Gak sekalian bapernya ke seberang planet, hehehe?

Reaksi ini mengingatkan kita dengan apa yang biasanya dilakukan mantan presiden itu, yang suka baperan juga, suka emosi, suka prihatin dan diabadikan dengan penciptaan lagu. Istilahnya, like father (in law), like daughter (in law). Peribahasa macam apa itu, hahaha.

Dua reaksi yang berbeda menghasilkan sosok manusia yang karakternya beda pula. Mau terjun ke politik, resikonya adalah dikuliti habis-habisan melalui kritikan, sindiran dan mungkin fitnahan. Dan siapa pun harus siap menghadapi itu. Kalau main emosi dan baperan, lebih baik naik gunung dan jangan terjun ke politik lagi.

Lihat tuh Jokowi, difitnah PKI, antek aseng, orang tua dibilang tak jelas, dan banyak lagi fitnah busuk terutama saat masa pemilu. Pernahkah lihat Jokowi gebrak meja? Lempar HP? Mewek mata berkaca-kaca dan bikin lagu bertema keprihatinan?

Istrinya lebih hebat lagi. Tidak pernah tuh baperan dan mengecam. Apalagi sampai menulis panjang lebar di dunia maya biar jadi isu sensasional. Orangnya santai aja bro.

Tak terbayang apa yang akan dilakukan sang menantu jika suaminya, anaknya atau keluarganya diserang secara politis. Bakal tahan gak ya? Rasanya sih tidak.

Apalagi misalnya jadi ibu negara, waduh. Mungkin tiap hari bakal ngamuk dan melampiaskan balasan.

Dewasa dalam usia ternyata tidak bisa diartikan dengan dewasa dalam berpikir dan menyikapi sesuatu. Hal yang biasa pun diluarbiasakan.

Bagaimana menurut Anda?

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *