TAK DISANGKA …. CORONA MEMBUAT IMPIAN KI HADJAR DEWANTARA TERWUJUD DI INDONESIA!

Widodo SP-Masih dengan tulisan bertema “Hari Pendidikan Nasional” yang diperingati di Indonesia setiap 2 Mei. Kali ini saya akan menyinggung soal ucapan, yang bisa saya artikan juga sebagai impian, dari seorang Ki Hadjar Dewantara. Tokoh nasional yang tak bisa dilepaskan dari jasa besarnya bagi dunia pendidikan di Indonesia pada masa lalu.

Berikut ini kutipan pernyataan filosofi pendidikan dari seorang Ki Hadjar Dewantara: “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.”

Ungkapan yang mungkin dulunya menjadi sesuatu yang absurd, susah untuk diwujudkan, bahkan sampai awal Januari 2020 … sebelum virus Corona merebak dan memaksa pendidikan “dikembalikan” ke rumah, dengan orangtua, juga orang seisi rumah dan masyarakat sekitar, mendadak kudu berperan sebagai guru bagi anak-anak mereka. Proses mendidik pun, dengan porsi dan waktu yang sangat besar, melebihi sekolah pada umumnya, kini kembali ke rumah!

Yes, tak ada yang pernah menyangka bukan? Saya pun terkejut ketika merenungkan akan statement Ki Hadjar Dewantara dengan mengamati apa yang terjadi belakangan ini, khususnya di Indonesia. Saya melihat setiap hari, membaca keluhan di medsos, kadang tertawa melihat serunya aktivitas anak bersama orangtua mereka di rumah, juga bagaimana kreatifnya anak-anak mengisi waktu luang dengan tetap mengandung unsur pembelajaran selama Corona memaksa murid-murid sekolah di Indonesia untuk belajar di rumah.

Setiap orang bisa menjadi guru

Guru, jika dikaitkan dengan profesi, memang erat berkaitan dengan sosok pengajar dan pendidik yang berada di sekolah. Sosok yang sering disebut “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” karena peran besarnya sering berbanding terbalik dengan tanda jasa yang mereka dapatkan.

Namun, sejatinya setiap orang bisa menjadi guru … dalam arti mengajarkan sesuatu, juga mendidik anak-anak melebihi apa yang bisa diajarkan di sekolah. Hari-hari ini, bukankah para orangtua mendadak harus menjadi guru yang menguasai berbagai mata pelajaran, juga diharapkan dapat membantu mengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh sekolah?

Seorang teman (dia dan istrinya), orangtua dari tiga anak dengan tingkat sekolah berbeda (TK Kecil, SD, dan SMP) bercerita bahwa dirinya harus mampu berperan sebagai guru TK, SD, dan SMP dalam waktu bersamaan … setiap hari … selama anak mereka belajar dari rumah. Nggak bayangin bagaimana repotnya mereka, meski blessing in disguise-nya adalah terjadi upgrade diri dan pengetahuan yang mereka dapatkan selama proses belajar dari rumah itu berlangsung.

Saya bayangkan keadaan ini ada di setiap rumah … maka kelak ketika serbuan Covid-19 ini berlalu … kelak kita (seharusnya) akan memiliki SDM yang cerdas, mengerti berbagai pengetahuan, juga cara belajar kreatif dari para “guru dadakan” yang tersebar di berbagai rumah, di seluruh Indonesia! Pada guru yang tidak melakukan upgrade diri … bersiaplah kalah pinter dari para orangtua ini, ya!

Setiap rumah menjadi sekolah

Inilah fakta kedua yang menurut saya sangat keren, karena saat ini ibaratnya “sekolah buka di setiap rumah” dengan proses pembelajaran full-day sejak mata terbuka hingga mata terpejam setiap hari. Sekolah, yang di dalamnya terjadi proses pembelajaran, didikan, dan pengajaran … kini akan terlihat memeriahkan suasana setiap rumah.

Tak hanya pelajaran berkaitan dengan sisi kognitif, tetapi “proses kegiatan sekolah” pun dapat meluas menjadi pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan, juga *skill tertentu yang kelak bisa berguna ketika anak menjadi dewasa—hal yang mungkin selama ini tak diajarkan oleh selama mereka di sekolah!

Saya jadi teringat berita di televisi tadi pagi, dimana ada seorang ayah membuat lapangan mini supaya anaknya bisa menjalankan hobinya bermain skateboard di halaman rumah sendiri. Sambil menjalankan hobi, tentunya proses didikan bisa dilakukan orangtuanya kepada anaknya yang masih balita, antara lain: melatih semangat juang, mendorong anaknya mengembangkan hobi, bangkit satu kali lebih banyak daripada kegagalan (saat anak jatuh), juga menjalankan fungsi parenting sebagai seorang ayah yang mendidik anaknya.

Saya sangat yakin model didikan seperti ini akan jauh melekat dalam benak anaknya, daripada misalnya, ayahnya membayar orang untuk melatihnya skateboard, atau sekadar mengikutkan anaknya ekskul skateboard di sekolah … kalau ada ekskul-nya lho ya!

Jadi … mari syukuri dan nikmati proses pembelajaran di rumah ya, wahai para orangtua di seluruh Indonesia. Ini saatnya impian Ki Hadjar Dewantara terwujud di seantero negeri ini, yang kelak akan kita kenang selamanya karena menjadi bagian dari proses pembelajaran yang akan berdampak pada tumbuh-kembang dan kepribadian anak sampai mereka dewasa nanti.

Proses pembelajaran yang terkadang dibebankan pada sekolah dan (maaf) orangtua hanya tahu bagaimana membayar—meski tidak semua orangtua bersikap dan berpikir seperti ini—supaya mendapatkan pengajaran dan didikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, kini tanggung jawab dan beban itu harus mereka pikul dan rasakan di rumah!

Terima kasih Ki Hadjar Dewantara …. Terima kasih juga (ehm …) Corona … kamu telah ikut berperan membuat impian Ki Hadjar Dewantara terwujud pada generasi milenial ini.

Begitulah kura-kura ….

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *