ANTEK PERUSUH ORMAS PREMAN FPI DITANGKAP!

Hermanto Purba-Sudah hampir 75 tahun Indonesia merdeka, tapi mirisnya, toleransi menjadi sesuatu yang teramat mahal hingga saat ini. Seharusnya, bangsa ini tidak lagi mempersoalkan terkait saling menghargai dan saling menghormati antarwarga yang berbeda suku, ras, golongan, terlebih-lebih berbeda agama. Masalah toleransi semestinya sudah selesai.

Namun apa yang terjadi? Kita masih sering mendengar berita menyedihkan dari berbagai penjuru negeri ini: kelompok masyarakat minoritas diperlakukan tidak adil oleh mereka yang mengaku dirinya sebagai kaum mayoritas. Bermacam-macam. ada yang rumah ibadahnya ditutup paksa, dirusak, dibakar, hingga mengusik dan membubarkan acara peribadatannya.

Sungguh! Saya merindukan bangsa yang raya ini, bangsa yang bineka ini, bangsa yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman ini, sudah tidak lagi berbicara tentang “mayoritas” dan “minoritas.” Sebab hal itu hanya akan menimbulkan kepongahan bagi yang mayoritas dan menjadi ketakutan bagi mereka yang minoritas.

Namun sayangnya, kata itu tidak hanya diucapkan oleh rakyat bawah, dari mulut para elite, baik itu para politikus, aparatur pemerintah, dan juga tokoh agama, kedua kata itu masih kerap terucap. Mereka begitu angkuh ketika menjadi mayoritas. Negara ini seperti milik golongannya saja. Dan menganggap rendah mereka yang minoritas.

Sudah tidak tahu lagi entah berapa banyak gereja yang ditutup paksa. Tidak sedikit pula tempat ibadah agama-agama minoritas lainnya yang dirusak, hingga dibakar. Kasus pelecehan, penghinaan, hingga penindasan terhadap warga negara non-muslim juga teramat banyak jumlahnya. Mereka seakan diperlakukan seperti anak tiri.

Sebutlah kejadian yang baru-baru ini menimpa sebuah keluarga Kristen di Bekasi. Keluarga itu melakukan ibadah di rumah sesuai anjuran pemerintah. Tapi apa yang mereka dapat dari tetangga mayoritas yang seharusnya mengayomi mereka? Keluarga itu didatangi oleh mereka yang menyebut dirinya beragama, memaksa agar ibadah itu dihentikan.

Terlalu banyak contoh kasus serupa yang jika dituliskan satu per satu, saya tidak tahu akan sepanjang apa tulisan ini. Kemarin (28/04/2020) sebuah kasus kesewenang-wenangan kelompok mayoritas terhadap warga minoritas terjadi di Batang Kuis Deli Serdang. Sebuah warung milik Lamria Manullang dirusak oleh sekelompok preman berkedok agama.

“Sial” memang nasib inang Lamria ini. Ia seorang warga minoritas: suku Batak, beragama Kristen pula. Lengkaplah “penderitaannya.” Sehari-harinya ia menyambung hidup dengan menjalankan usaha warung kopi. Tapi karena saat ini bulan puasa, ternyata ada kelompok orang yang merasa terganggu dengan keberadaan warung tersebut.

“Tidak menghormati mereka yang berpuasa!” Begitu para pembuat onar itu berdalih. Apa? Tidak menghormati yang berpuasa? Tidak menghormatinya di mana? Ibu Lamria kan tidak memaksa agar para perusuh itu meminum kopi di warungnya. Lalu kenapa mereka merasa terganggu? Kenapa mereka merasa tidak dihormati?

Jika saja semua warung makan dan warung kopi tutup ketika bulan Ramadan tiba, lalu di mana tantangannya? Bukankah berpuasa itu merupakan upaya untuk melawan hawa nafsu? Masa baru melihat warung kopi buka saja sudah tidak tahan? Iman apa itu? Menurut saya, semakin banyak warung makan dan minum yang buka, malah lebih baik.

Tapi tidak bagi para laskar FPI itu. Melihat betapa arogan dan beringasnya mereka, mungkin mereka mengira bahwa negeri ini milik mereka, bahwa di negeri ini hanya ada satu agama saja. Dan mereka yang kebetulan terlahir sebagai minoritas mereka anggap hanya sebagai penumpang saja. Pikiran busuk itu yang telah lama terpatri di hati dan pikiran mereka.

Pikiran busuk mereka itu tercermin dari lisan dan laku mereka ketika “merazia” warung kopi milik inang Lamria Manullang itu. Mereka seperti merasa lebih hebat dari Tuhan. Sesuka hati mereka memorak-porandakan usaha kecil itu. Mereka membentak-bentak, memaki, dan mengintimidasi, seolah merasa diri sebagai pihak paling benar yang harus dihormati.

Tapi syukurlah! Keangkuhan mereka berakhir di kantor polisi. Berdasarkan informasi yang dimuat di akun facebook Pemuda Batak Bersatu, ormas yang mendampingi Ibu Lamria Manullang melaporkan kejadian yang ia alami itu ke pihak kepolisian, menulis bahwa 2 orang pelaku telah ditangkap polisi, dan beberapa orang lainnya masih dalam tahap pencarian.

Saya berharap, semoga pelaku ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Sebab tindakan main hakim sendiri sebagaimana telah dilakukan oleh antek FPI tersebut tidak dibenarkan di negeri ini. Saya meminta supaya kasus ini tidak hanya selesai dengan materai 6000. Kita sudah muak dengan hal-hal demikian. Berdamai silahkan! Tapi proses hukum harus tetap jalan.

Salam Indonesia satu!

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Berita dan Informasi Utk Takasima. Bookmark the permalink.

1 Response to ANTEK PERUSUH ORMAS PREMAN FPI DITANGKAP!

  1. Pingback: dark fox market link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *