LAWAN CORONA VS AKSI SOLIDARITAS DAN EGOISME

Yulius Regang-selamat berjuang melawan Corona. Hampir dua bulan bahkan lebih, kita sibuk debgan Corona. Semua pikiran, tenaga dan biaya terkuras hanya untuk Corona. Tema pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari juga tentang Corona. Kita bekerja di rumah, belajar di rumah dan ibadah di rumah juga karena Corona. Corona membuat kita hilang kesadaran, hilang kontrol dan mempertebal egoisme alias ingat diri.

Rasa empati kita terhadap sesama yang menyandang ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan PDP (Pasien Dalam Pengawasan) turun derastis. Aksi penolakan pun muncul dimana-mana. Perasaan kasih sayang dan belas kasih seperti runtuh di tengah pandemic Covid-19. Ternyata kita tidak tahan uji karena kita semua takut mati.

Isolasi diri di rumah (isolasi mandiri), Social Distancing, menggunakan masker ketika hendak bepergian dan cuci tangan telah diwajibkan demi mencegah penularan Corona. Ini cara yang paling mudah, murah dan sederhana untuk memutus mata rantai penularan Corona. Hal yang paling penting dari seluruh himbauan ini adalah pengendalian diri, jika tidak maka sia-sialan semua usaha kita.

Doa yang acap kali kita naikan kapada yang Maha Kuasa adalah mohon keselamatan dan dibebaskan dari Corona. Ini sudah menjadi intensi utama setiap orang di dalam setiap untaian doa. Semua orang sedang menaruh asa pada yang Kuasa agar Corona segera berlalu.

Tidak hanya doa yang dipanjatkan kepada yang Kuasa, ritual-ritual tradisional pun dilangsungkan di kampung-kampung. Ritual adat Tolak Bala telah dilakukan, selain untuk mencegah penularan Corona juga membatasi lalulintas penduduk yang bepergian keluar masuk kampung. Semua pihak telah berjuang keras dengan caranya masing-masing untuk melawan Corona.

Terus terang saat ini kita sedang mengalami depresi karena Corona. Depresi lain yang sedang kita rasakan adalah depresi sosial dan depresi ekonomi. Disaat kita dirumahkan tentu kita mengalami kehilangan kontak sosial, walau kita masih punya sarana teknologi untuk berkomunikasi jarak jauh, tetapi tidak seindah kita bertatapan mata, saling lempar senyum, bercengkrama dan jika sangat kangen/rindu sedikit cipika-cipiki, itu budaya ketimuran kita.

Di sisi yang lain solidaritas kita mulai mengalami goncangan. Saat ini kita seperti sedang diuji, semangat solidaritas dan rasa empati kita terhadap sesama juga diuji. Disaat-saat sulit seperti ini kita bingung dalam mengambil langkah, mau mengutamakan diri dan keluarga atau menyelamatkan orang lain yang sedang terhimpit beban ekonomi.

Kita dihadapkan pada dua pilihan dilematis, bantu atau tidak sama sekali. Pergulatan batin ini tidak akan berakhir jika kita tidak segera temukan jalan keluar. Dalam ketidakberdayaan, kita harus berani keluar dari situasi sulit, agar kita bisa bernapas legah dan mencari solusi bersama. Kita pecahkan kebuntuan kita bersama-sama.

Saat ini juga kita berhadapan dengan depresi ekonomi. Persediaan pangan keluarga dan masyarakat menipis, uang satu-satunya alat tukar resmi semakin susah didapat, harga barang-barang kebutuhan pokok perlahan-lahan beranjak naik dan langkah, daya beli masyarakat mulai menurun dan semua orang pada mengeluh.

Satu-satunya harapan yang tersisa adalah dukungan dari pemerintah dan uluran tangan kasih dari orang-orang yang masih punya persediaan cukup, tetapi sayang jumlahnya terbatas, tidak menjangkau semua orang pada hal setiap orang ingin disuport baik sembako maupun kebutuhan lainnya.

Harapan lain adalah dukungan dari pemerintah, tetapi tak kunjung tiba. menurut berita, “Pemerintah akan merealokasi anggaran besar-besaran untuk menangani penyebaran virus corona di dalam negeri. Berdasarkan hitungan sementara, jumlah dana yang akan dialihkan mencapai Rp 121 triliun. Dana itu berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 62,3 triliun serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp 56 triliun sampai Rp 59 triliun.

Kita doakan, semoga dana-dana dimaksud segera direalisasi dan tepat pada sasaran. sebagai rakyat kita turut ambil bagian dalam melakukan pemantauan di lapangan. Kita sama-sama berusaha untuk menutup cela korupsi seperti yang dikwatirkan oleh menteri keuangan Sri Mulyani, bahwa kebijakan ini akan membuka ‘celah korupsi’ bagi oknum-oknum tertentu”. Makanya, ia menegaskan pemerintah akan menindak tegas pihak-pihak yang mengambil keuntungan di tengah penanganan virus corona.

Disaat pemerintah sedang memikirkan metode pendistribusian bantuan dimaksud keluhan, tuntutan dan desakan muncul dimana-mana. Media sosial menjadi tempat lupan emosi dan cacian atas nama ketidakadilan. Penyakit kecemburuan sosial mulai kambuh, istilah pilih kasih, tidak adil, kaya dan miskin memenuhi dinding-dinding media massa. Semua orang ingin mendapatkan bantuan dengan porsi yang sama, adil dan merata karena semua orang mengaku kesulitan akibat terkena dampak Corona.

Di tengah situasi yang serba tak menentu kita mesti berpikir bijak, bertindak bijak tidak picik dan tidak ingat diri. Jika kita punya persediaan pangan lebih jangan lupa lirik tetangga sekitar yang berkekurangan. Tak perlu melangkah jauh-jauh, karena orang-orang yang tidak berdaya ada disekitar kita. Yang kuat membantu yang lemah hendaknya menjadi spirit dalam kehidupan bersama selama masa pandemic Corona berlangsung.

Kepada para penguasa dan politisi di negeri ini, camkan baik-baik setiap keluhan rakyat kecil. Sendengkan telingamu dengarkan rintihan mereka. Berjuang dan bekerjalah untuk rakyat. Dimasa-masa sulit seperti ini hindarilah kepentingan pribadi dan golongan, utamakan keselamatan rakyat kecil.

Hilangkan prinsip do ut des (memberi untuk menerima). Tinggalkan kebiasaan mencari nama dan popularitas diri. Jangan manfaatkan situasi untuk mendongkrak popularitas diri. Jika kita licik bermain di tengah penderitaan rakyat, maka seribu satu tantangan akan menghadang kita.

Bantulah rakyat dengan setulus hati, tanpa perhitungan matematis dan pertimbangan untung rugi. Ijinkan saya mengutip kata-kata Kitab Suci, “Apa yang diberikan tangan kanan, hendaklah tidak diketahui tangan kiri”. Tak perlu berkoar-koar dan tidak perlu menuntut pulang semua pemberianmu. Jika rakyat tidak mampu menebus kebaikanmu, maka Tuhanlah yang akan menggenapinya.

Sumber berita:

https://www.mongabay.co.id/2020/04/03/ritual-tolak-bala-corona-di-sikka-seperti-apa/..

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200326075745-532-486933/hati-hati-dana-penanganan-wabah-corona-rawan-korupsi..

https://regional.kompas.com/read/2020/04/01/21050471/kronologi-ketua-rt-provokasi-warga-tolak-odp-dan-pdp-corona-di-wisma-atlet

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *