ADEMNYA MELIHAT “UMAT KATHOLIK” MENDOAKAN UMAT MUSLIM YANG AKAN BERPUASA …

Widodo SP-Ada postingan di akun Instagram@katholikgram, yang dipasang pada 25 Mei 2017 silam, kembali viral usai banyak beredar di media sosial. Dalam gambar yang berlatar belakang bagian dalam gedung gereja itu, disertai jepretan liturgi ibadah terkait doa untuk umat Muslim seperti ini:

(L) : Bulan Ramadan segera tiba. Saudari-saudara kita, umat Islam, menantikan dengan rindu untuk menjalan ibadah puasa. (I-U): Bapa, limpahilah mereka rahmat kesehatan agar menunaikan ibadahnya dengan baik. Jadikanlah kami saudara yang toleran bagi mereka.

Apa yang pertama kali muncul dalam benak SEWORD-ers membaca kalimat seperti di atas? Mhon abaikan salah ketik atau masih ada kekurangan terkait tata-bahasa ya. Nggak usah dipermasalahkan, yang penting maknanya.

Terus terang. Kesan pertama yang muncul dalam benak saya ketika melihat postingan serupa di Beranda akun Facebook pribadi, saya hanya bisa bergumam: “Inilah seharusnya yang terjadi di Indonesia.” Lantas, gambar yang ternyata dijepret di salah satu gereja katolik yang berlokasi di Yogyakarta tersebut saya teruskan lagi dengan penegasan: “Ini pasti di Indonesia.”

Kenapa saya perlu menegaskan seperti itu?

Yap, karena kita sedang diingatkan lagi bahwa seharusnya Indonesia … ya seperti itu. Ketika ada saudara sebangsanya yang sedang menyambut atau menjalankan ibadah puasa, mereka yang berkeyakinan selain Islam berupaya ikut menciptakan suasana kondusif, sebagai bentuk dukungan terhadap saudara-saudari sebangsa yang beragama Islam.

Tentu hal itu tidak harus diwujudkan dengan menutup semua warung atau memaksakan diri untuk ikut berpuasa—asalkan tidak sekadar ikut-ikutan, silakan saja berpuasa sesuai pemahaman yang dianut—tetapi dengan menciptakan suasana kondusif itu tadi.

Misalnya saja begini, yang saya terapkan sejak kecil karena terbiasa hidup di lingkungan dengan mayoritas beragama Islam … saya tidak akan makan atau minum di depan mereka yang sedang berpuasa. Kalau misalnya kepepeeettt banget, ya minta izin begini: “Maaf saya minum ya, udah nggak tahan haus nih.” Namun, sedapat mungkin saya tidak lakukan di depan mereka.

Selanjutnya, tak jarang ketika hidup di kampung dulu saya mengingatkan teman-teman sebaya kalau mereka malah terlihat keluyuran atau bermain ketika seharusnya berada di masjid untuk sholat tarawih: “Lho, kamu nggak tarawih ta, Bro? Malah mainan di sini.” Tak jarang, pertanyaan yang sama sekali tak bermaksud menyindir itu justru mendapat sambutan yang baik.

Bagaimana dengan Ramadhan tahun ini? Selain menulis satu artikel di SEWORD—yang belum baca bisa buka di sini … … —saya juga mengirim pesan di beberapa grup WA dari teman-teman SD, komunitas basket, juga grup keluarga besar. Intinya, mengucapkan “Selamat menjalankan ibadah puasa dan mendoakan agar semua berjalan lancar bagi mereka.” Sambutannya, tentu positiflah … bahkan berterima kasih sudah diberi ucapan seperti itu.

Jadi, apa yang dilakukan oleh para pengurus gereja Katolik yang mencantumkan hal seperti di atas dalam liturgi kebaktian mereka, sungguh layak untuk diapresiasi. Terlebih mereka membawa doa yang sangat baik isinya tadi, dalam suasana ibadah yang setahu saya tidak hanya berlangsung sekali. Berarti, minimal ada ratusan umat yang mengucapkan doa tersebut untuk bersama-sama memberi dukungan bagi saudara-saudari mereka yang menjalankan ibadah puasa di Indonesia.

Ah, betapa ademnya hidup di Indonesia seandainya hal-hal seperti ini dilestarikan, tanpa ada rasa khawatir atau ketakutan bahwa kalau melakukan, nanti imannya bergetar, goyah, atau langsung auto-murtad. Bukankah Tuhan sengaja menciptakan banyak perbedaan di dunia ini, supaya kita (manusia yang logikanya masih sehat) menyadari ada keindahan luar biasa di tengah hidup dalam perbedaan?

Meski kita paham kalau belakangan kondusivitas dan “adem”-nya suasana relasi antarumat beragama di Indonesia coba untuk diusik gegara oleh kelompok yang menganggap bahwa hal tersebut keliru (atau apalah mereka sebut) … tetapi jumlah manusia-manusia Indonesia yang masih ingin melihat hal semacam itu (kesatuan di tengah perbedaan) tetap lestari di bumi Indonesia ini masih jauh lebih banyak

Akhirnya, karena sayup-sayup saya mendengar adzan maghrib sudah berkumandang … izinkan saya mengucapkan: “Selamat berbuka puasa bagi saudara-saudariku umat Islam yang saya kasihi. Kiranya kalian dimampukan untuk menuntaskan puasa sampai akhir bulan Ramadhan nanti, dengan kekuatan dan kesehatan yang diberikan oleh Tuhan. Amin!” Begitulah kura-kura …
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *