IBADAH DI RUMAH DIBUBARKAN? NAMANYA JUGA BEKASI, BIASA AJA

Alifurrahman-Kalau ada orang yang meyakini bahwa Jakarta itu keras, saya yakin mereka pasti belum pernah ke Bekasi. Semua masalah yang ada di Jakarta seperti panas, banjir, macet, sampah dan jalan berlubang, itu ada di Bekasi.

Maka jangan heran kalau beberapa waktu lalu muncul istilah “planet bekasi.” Saking hancur dan amburadulnya jalan raya di sana. “jika anda menemui jalan bak kubangan kerbau, anda telah berada di Bekasi.”

Lalu kemaren muncul kasus intoleransi. Salah satu keluarga dari agama Kristen yang sedang beribadah di rumahnya, dalam rangka PSBB, disweeping atau dibubarkan oleh Haji Mulyana.

Haji Mulyana menuduh keluarga tersebut mengundang banyak orang, sehingga layak dibubarkan atas dasar PSBB. Sementara ibadah di rumah tersebut hanya dihadiri keluarga sendiri, sebanyak 10 orang.

Sebagian orang menganggap ini kasus intoleransi, pembubaran ibadah. Sebagian lagi menganggap ini terjadi karena salah paham terkait diberlakukannya PSBB. Bagaimanapun, keduanya sudah sepakat untuk bermusyawarah dan mengakhiri kasus ini tanpa proses hukum.

Sebenarnya Haji Mulyana ini sangat bisa diproses hukum, dan pasti bisa dipenjara. Karena semena-mena dan masuk rumah orang tanpa alasan yang jelas. Dia juga bukan pejabat. Tapi karena pihak keluarga kristen itu baik hati, akhirnya mereka memilih untuk memaafkan dan menyelesaikannya secara kekeluargaan.

Saya sendiri melihat ini sebagai sebuah gambaran, satu kesatuan dengan banyak peristiwa yang sebelumnya sudah pernah terjadi di Bekasi. Mungkin kita masih ingat dengan pembangunan gereja Santa Clara, yang ditolak oleh sebagian ormas di Bekasi dengan tuduhan kristenisasi. Padahal IMB gereja tersebut sudah terbit.

Kericuhan pun tak terhindarkan. Memaksa agar Walikota mencabut IMB gereja tersebut. Polisi menjadi korban amuk massa saat mengamankan gereja Santa Clara.

Selain itu, kita mungkin juga masih ingat dengan kasus pengeroyokan dan pembakaran manusia di siang hari. Seorang berinisial MA yang diduga mencuri amplifier masjid. Bahwa pada akhirnya MA memang dianggap mencuri amplifier, karena MA juga sudah tak bisa membela diri, sebagai bangsa kita lebih fokus pada penganiayaan dan pembakaran manusia. Kasus primitif ini tidak terjadi di pelosok negeri, kasus ini terjadi di Bekasi. Daerah yang bersebelahan dengan ibu kota Indonesia.

Lalu yang agak terbaru, tentang demonstrasi yang menekan pihak Alfamart, indomart dan alfamidi terkait pengelolaan parkir. Aan Suhanda, Kepala Bapenda Kota Bekasi saat itu hadir di tengah-tengah massa dan secara terbuka meminta agar pengusaha bekerjasama dengan ormas setempat. Tanpa terkecuali, 606 titik. Aan Suhanda jelas memihak kepada ormas. Ini terlihat ketika dia menanyakan langsung, bersedia tidak untuk bekerjasama? Dan saat pihak pengusaha menjawab “berupaya bekerjasama,” Aan Suhanda membiarkan massa menekan dan memaksa pihak pengusaha memberikan jawaban yang lebih jelas. Bersedia atau tidak.

Padahal kita tahu, parkir di minimarket itu seharusnya gratis. Dan pihak pengusaha memiliki kuasa penuh terhadap tanah dan bangunan yang dimilikinya. Artinya, tidak ada tuntutan atau aturan yang bisa memaksa pengusaha untuk mengelola biaya parkir. Pemaksaan parkir di Bekasi ini kan ibarat kita punya rumah dan punya kendaraan. Lalu ada ormas datang mau menagih biaya parkir. Ngapain? Tanah dan bangunan kan milik kita.

Kalaupun memang mau ada biaya parkir, seharusnya dibicarakan baik-baik. Musyawarah. Mengajukan proposal dan permohonan. Bukan malah menekan dan main ancam, seolah pengusaha tak punya kuasa atas tanah dan bangunan miliknya sendiri.

Kesimpulan saya, Bekasi ini memang rumit. FPI cukup solid di sini, merekalah yang bentrok dan menolak pembangunan gereja yang sudah ber-IMB. Ormas preman parkir nampak dipelihara pemerintah daerah. Dan PKS mendapat suara terbanyak di Bekasi. Sungguh kombinasi sempurna untuk sebuah kerusakan. Rusak di segala lini, tidak hanya jalan dan sampahnya, tapi juga pola pikir masyarakatnya.

Maka kalau kemaren terjadi insiden pembubaran ibadah di rumah warga, dengan alasan PSBB, patut dicurigai motif lainnya. Dan saya meyakini ini adalah satu kesatuan, satu dari sekian banyak masalah kekerasan, premanisme dan intoleransi di Bekasi. Apalagi ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa Haji Mulyana adalah ketua FPI cabang Bekasi. Begitulah kura-kura.
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *