JOKOWI DIPAKSA JADI SUPER HERO UNTUK HADAPI COVID-19

Nurdiani-Sosial media menjadi tempat misuh-misuh pada awalnya, namun pada akhirnya menjadi tempat penggiringan opini bagi beberapa kalangan. Beberapa politisi yang dulunya dari kubu Prabowo mulai bersuara sumbang mengenai kebijakan yang diambil oleh Jokowi saat ini. Rizal Ramli misalkan bersuara sangat lantang tentang kebijakan saat ini. Siapa sasarannya?

Jelas, sasarannya Sri Mulyani. Dia masih berniat untuk menggeser Menteri terbaik yang dimiliki oleh Jokowi. Rizal Ramli apakah seorang pakar? Bagi saya sudah tidak lagi, dia sudah menjadi politisi namun tidak berbaju partai. Gambaran jelasnya saat dirinya menjadi juru kampanye di DKI Jakarta dan Prabowo. suara-suara sumbang dari kubu oposisi pun menjadi sangat menguat saat ini. Belum lagi suara politisi yang tidak dirangkul oleh Jokowi.

Contoh lainnya adalah Yusril Ihza Mahendra yang mulai mengkritik Jokowi saat ini. Menentang kebjikan yang diambil oleh Jokowi. Padahal, jauh sebelum covid-19 ini dirinya terus mengagung-agungkan Jokowi. Alasannya apa? Jelas, ingin masuk dalam struktur pemerintah Jokowi dalam waktu dekat. Kouta pemerintah nampaknya sudah sangat penuh. Belum lagi kubu Prabowo malah membawa keluarganya sendiri, dia tidak membawa kawannya yang lain. Posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta pun disikat oleh Gerindra.

Di sisi lain, proyek pemerintah pun tidak jalan sedikit pun. Anggaran yang dikeluar pun hanya untuk masyarakat yang terkena dampak. Mereka (para politisi) yang hidup dari program dan proyek pemerintah mulai kelimpungan menghadapi keadaan ini. Hasilnya, mereka semakin memberikan suara sumbang kepada pemerintah. Klu-nya sangat jelas, apa yang dilakukan oleh pemerintah salah. Mereka mulai menggiring untuk tidak/jangan percaya kepada pemerintah. Sikap apatis pun mulai meracuni masyarakat.

Keadaan ini sangat jelas terjadi, mereka mulai menggiring generasi muda untuk kecewa dan tidak percaya dengan pemerintah lagi. Keputusan stafsus milenial yang diambil dianggap sangat fatal mempengaruhi kepercayaan kalangan muda kepada pemerintah. Padahal, stafsus milenial ini sengaja Jokowi tarik untuk menceritakan kerja-kerja pemerintah kepada generasi muda. Bagaimana tidak, mereka yang ditarik sudah memiliki follower yang cukup banyak. Ya, selain stafsus mereka sudah menjadi selebgram dengan ratusan ribu follower.

Dalam keadaan ini, para stafsus sebaiknya mampu menceritakan kerja-kerja atau alasan yang diambil Jokowi di tengah pandemic. Kita sendiri juga tahu, jika media massa sudah tidak bisa dipercaya lagi. Kecepatan menulis berita hingga mengabaikan kebenaran fakta pun terjadi di semua media massa. Belum lagi iklan atau eces sering mempengaruhi wartawan dalam menulis fakta di lapangan.

Nampaknya stafsus milenial gagal dalam bekerja untuk menerjemahkan alasan Jokowi mengambil kebijakan. Masing-masing stafsus mulai membela diri. Pada asisten stafsus pun tidak bekerja banyak di lapangan. Ini menjadi daftar panjang gagalnya kerja stafsus milenial. Kita perlu berpikir, kenapa Jokowi mengambil stafsus dari kalangan milenial?

Alasannya, menjaga kepercayaan generasi muda kepada pemerintah serta mendukung kerja-kerja yang dilakukan oleh pemerintah. Stafsus dari jaman Soekarno pun sudah ada, lalu kenapa pada saat Jokowi memimpin lebih memilih generasi milenial? perlu diketahui, pemilih anggaran muda pada saat pilpres cukup banyak memilih Jokowi. Suara ini jika tidak dijaga mereka akan menjadi pemilih golput. Serta mengurangi rasa kepercayaannya kepada Jokowi.

Di sosial media, suara sumbang Dhandy Laksono menjadi suara kebenaran dari orang waras. Padahal, Dhandy sendiri sebagai wartawan seringkali menghilangan sudut pandang wartawannya dalam memberikan argumentasi. Misalkan pada saat lockdown atau tidak. Dhandy menjadi suara paling keras menyuarakan lockdown di Jakarta.

Sayang, argumentasinya timpang. Dia tidak melihat kacamata dari pemerintah daerah yang memiliki kebijakan otonom. Ditambah Dhandy lupa dengan anggaran yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia ketika seluruh Indonesia lockdown. Dia melupakan jika Indonesia masih negara miskin dengan anggaran masuk tidak terlalu untuk menanggung 280 juta jiwa penduduk Indonesia.

Jokowi seperti menanggung beban yang cukup banyak dalam covid-19 saat ini. Pernahkah berpikir jika seluruh negara saat ini tidak ada yang bisa menanggulangi pandemic ini? Pernahkah berpikir, jika hanya pada saat Jokowi sejumlah infrastruktur kesehatan diperbaiki? Covid-19 menyerang Indonesia dengan sejumlah ketidaksiapan di bidang kesehatan. Jumlah dokter dan perawat yang masih minim. Jokowi dipaksa menjadi super hero sedangkan negara adidaya yang lainnya keok menghadapi virus evolusi dari sars ini. Kalian sungguh jahat!
sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *