MECEGAH CORONA TAK IKUTAN MUDIK

DR Harris Turino-Sudah 45 hari sejak Indonesia mengumumkan kasus pertama Covid 19 yang terkonfirmasi pada tanggal 2 Maret 2020. Awalnya hanya 2 orang, lalu beberapa gelintir di hari-hari perdana, naik menjadi puluhan sampai minggu ketiga bulan Maret dan akhirnya menjadi ratusan sejak 24 Maret 2020. Pelan tapi pasti, penambahan jumlah pasien yang terkonfirmasi positif Covid 19 meningkat, sejalan dengan meningkatnya jumlah pasien yang menjalani test. Ternyata Indonesia yang suhunya panas dan udaranya relatif lembab, tidak juga imun terhadap wabah Corona.

Posisi sampai kemarin (Selasa, 14 April 2020), jumlah pasien yang terkonfirmasi positif sudah mencapai 4.839 orang dengan jumlah kematian 459 orang atau setara dengan 9,5%. Angka fatalitas ini sangat tinggi dibandingkan dengan angka rerata dunia yang hanya berkisar 3.4%. Tingginya persentasi angka ini kemungkinan disebabkan karena rendahnya kemampuan pemerintah dalam mengetahui pasien yang sudah terinfeksi tetapi belum terdeteksi melalui uji swap atau rapid test. Jumlah total uji Covid di Indonesia memang masih sangat rendah, yaitu 17 test per 1 juta penduduk. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan jumlah test di Bahrain, Korea Selatan, Hong Kong dan Italy yang mencapai ribuan per 1 juta penduduk, Dengan semakin banyaknya test, maka jumlah yang terkonfirmasi akan meningkat dan persentasi fatalitasnya akan menurun.

Yang menjadi pertanyaan adalah kapan puncak wabah ini akan terjadi, berapa besar jumlah pasien yang terinfeksi dan bagaimana bentuk kurvanya setelah penambahan jumlah yang terinfeksi mengalami pelandaian? Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Jawab atas ketiga pertanyaan ini penting untuk diketahui untuk bisa memperkirakan berapa banyak fasilitas kesehatan yang harus tersedia serta berapa lama dampak wabah ini akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Beberapa ahli data analitik mempublikasikan hasil analisanya minggu lalu dan memprediksi bahwa puncak wabah diperkirakan akan terjadi pada akhir bulan Juni dengan total jumlah yang terinfeksi mencapai 105.000 orang. Saya tidak tahu metode peramalan apa yang dipakai untuk menemukan angka tersebut, tetapi saya yakin angka itu tidak turun dari langit. Hanya saja kalau ini benar terjadi maka tentu fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia tidak akan mampu untuk menangani pasien yang kritis. Dengan asumsi 10% pasien kritis saja, maka diperlukan 10.000 ruang perawatan intensif (ICU), yang tidak mungkin dimiliki Indonesia. Akibatnya tingkat fatalitas akan tinggi, dan ini bukan sekedar data-data statistik, tetapi nyawa orang Indonesia yang punya keluarga dan sanak saudara.

Saya sendiri lebih mengamini metode peramalan menggunakan Model Neural Network yang dilakukan oleh Prof. Pitoyo. Beliau adalah seorang ilmuwan tulen, ahli Artificial Intelligent, yang diakuinya tidak memiliki pengetahuan epidemology mengenai virus sama sekali. Jadi analisanya hanya berdasarkan data empiris. Secara sederhana analisanya dilakukan menggunakan 2 Neural Networks. Yang pertama untuk mencari negara yang memiliki dinamika yang mirip dengan Indonesia dan yang kedua untuk memprediksi jumlah pasien di Indonesia dengan menggunakan negara yang mirip tersebut sebagai referensi.

Dari gambar 1, yaitu peta dinamika sebaran Covid 19 terlihat bahwa posisi Indonesia berdekatan dengan Swedia. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki dinamika yang mirip dengan Swedia. Saat ini jumlah pasien Covid 19 yang terkonfirmasi positif di Swedia mencapai 11.000 orang dengan tingkat kematian 920 orang.

Gambar kedua adalah dinamika pertambahan pasien secara time series. Dari sini terlihat juga bahwa grafik penambahan pasien Swedia dan Indonesia berhimpit dengan Swedia 10 hari lebih awal mencapai jumlah pasien 400. Artinya kalau hanya berdasarkan analisa grafik dan tidak ada perubahan dinamika, maka diperkirakan bahwa 10 hari ke depan Indonesia bakalan mencapai 11.000 orang, atau jumlah penambahan pasien sekitar 616 orang per hari. Dan celakanya kedua grafik tersebut sampai hari ini belum menampakkan tanda-tanda kapan akan mencapai puncaknya.

Saya mencoba menelusuri, mengapa Indonesia memiliki kemiripan dengan Swedia. Ternyata Swedia adalah negara di Eropa Barat yang masih belum menerapkan social distancing secara ketat. Orang-orang masih berkerumun di tepi laut di Stockholm. Beberapa di antaranya terlihat menikmati koktail di bawah sinar matahari yang hangat. Memang pemerintah sudah mulai membatasi kerumunan maksimal 50 orang dari sebelumnya 500 orang. Tetapi restoran dan bar juga masih buka seperti biasa, dan orang-orang masih berkeliaran normal di jalanan tanpa memakai masker. Mayoritas kegiatan ekonomi juga masih berjalan. Ini yang menyebabkan proses penularan meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangganya, Denmark, yang memberlakukan kebijakan yang jauh lebih ketat.

Belajar dari kenyataan di atas, maka langkah pemerintah pusat untuk memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), yang diikuti dengan pemberlakuan PSBB di Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat yang memang menjadi episentrum penyebaran corona sangat tepat. Aktivitas perekonomian di Jabodetabek, Banten dan Jawa Barat memang masih berlangsung, tetapi pergerakan warga di luar rumah sudah jauh lebih berkurang. Semua mall sudah menghentikan operasinya sejak minggu lalu. Semua restoran dipaksa tutup atau hanya melayani layanan take away. Semua tempat rekreasi bahkan sudah tutup jauh lebih awal. Orang-orang yang terpaksa masih harus di jalanan sudah hampir semuanya memakai masker. Dan kerumunan orang dibatasi maksimal 5 orang, walaupun belum sepenuhnya ditaati. Masih banyak pengemudi ojol yang bergerombol mengais rejeki yang kian menipis.

Dengan semua langkah tersebut, saya yakin bahwa penambahan jumlah orang terkonfirmasi positif tidak akan sebesar prediksi berdasarkan kesamaan grafik semata. Dalam hal ini jelas ada intervensi untuk mencegah merebaknya wabah corona. Kata kuncinya adalah ketegasan pemerintah dan ketaatan warga. Saya berani memprediksi bahwa 10 hari ke depan, jumlah orang terkonfirmasi positif akan berkisar pada angka 8.000 – 9.000 orang. Dan secara spekulatif diperkirakan puncaknya akan terjadi pada akhir bulan April atau awal Mei dengan jumlah 12.000. Angka ini tentu bisa berubah sejalan dengan perubahan data yang masuk.

Ada satu hal yang paling mengkawatirkan, yaitu munculnya cluster baru penyebaran corona dari pusat episentrum ke daerah dengan diijinkannya mudik lebaran. Penularan ke daerah-daerah bisa berlangsung dengan masif dan bahkan dengan tingkat fatalitas yang sangat tinggi mengingat daerah tidak memiliki fasilitas kesehatan yang memadai. Dan penularan balik ke Jabodetabek akan semakin tinggi ketika terjadi arus balik sesudah lebaran. Maka tidak ada pilihan lain kecuali ketegasan pemerintah untuk mengambil kebijakan melarang mudik lebaran kali ini, semata-mata demi menyelamatkan keluarga kita, dan tentu saja menyelamatkan Indonesia dari bencana yang lebih besar. Ini bukan pilihan yang mudah tetapi harus dijalankan. Kita masih punya waktu untuk membangun komunikasi yang masif dan terstruktur lewat seluruh kanal yang tersedia.

Mari kita dukung kebijakan pemerintah untuk “Di Rumah Saja” dan tidak ikutan mudik, agar Indonesia segera terbebas dari corona.

Dr. Harris Turino – Doctor in Strategi Management

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *