DOKTER PENERIAK LOCK DOWN TERNYATA KABUR SAAT PERUMAHANNYA DILOCKDOWN

Dokter Tifauzia Tsyassuma sempat menjadi viral waktu lalu ketika dia membuat surat terbuka ke Presiden Jokowi untuk meneriakkan lock down.

Dalam surat terbuka berjudul “NASIB DOKTER DAN PETUGAS KESEHATAN DI INDONESIA”, dia curhat agar Indonesia segera dilakukan lock down mengingat keselamatan terutama petugas medis.

Dia mencoba memaparkan data secara panjang lebar seraya memberi gertakan atau ancaman, “Kondisi ini yang justru MENGHARUSKAN #LOCKDOWN dilakukan sesegera mungkin. Jangan Anda menunggu Jubir menyampaikan jumlah kasus melebihi 1000 baru Bapak umumkan #LOCKDOWN”.

Keprihatinannya sebagai petugas medis sih memang masih bisa diterima tapi dengan cara main ancam seperti itu lalu membuat framing seolah solusi lock down itu bisa dilakukan dengan begitu gampangnya?

Terkuak, kelakukan dokter ini ternyata sangat kontras dan bertolak belakang dengan ucapannya. Teriak lock down tapi ketika kompleks perumahannya dilakukan pengetatan ala lock down, dia malah kabur dari perumahan seraya memboyong semua keluarganya.

Terbongkar, dokter yang rajin posting di Facebook ini membocorkan sendiri kekonyolannya. Ketahuan kan bau amis dan anyir kemunafikan. Ribut menyuruh Presiden dan rakyat untuk melakukan lock down tapi dia sendiri tak mau menjalankannya. Inilah sikap kemunafikan tanpa batas.

Di postingannya dia menjelaskan soal kompleks perumahan mewah di Jakarta yang mulai melakukan lock down. Lantas dia mengatakan bahwa dia akhirnya pindah ke tempat aman dengan menurut klaimnya seizin Allah.

Lah, ketahuan pindah ke tempat aman jadi dia sendiri hanya pengompor media, provokator yang menyerukan lock down karena saat bersamaan bersahutan suara oposisi meminta lock down. Maka ucapan dokter inilah yang menjadi acuan.

Ternyata netizen akhirnya mengendus kelakuannya di postingan Facebook-nya sampai dia sendiri menghapus postingannya tersebut. Kelakuan manusia yang tak bertanggung jawab, main tuding saja sementara dia sendiri cuci tangan alias lepas tangan dan kabur serta menolak untuk berada ditempat yang dilakukan pengetatan itu sendiri.

Tipikal manusia sombong kayak dokter ini memang memalukan. Sebagai dokter seharusnya dapat menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakan. Kalau begini susah dipercaya, antara omongan dan perbuatan itu ibarat langit dan bumi yang malah ada di pusat bumi.

Dia masih mendramatisir pula bahwa virus itu mengejar keluarganya.
Lah suka bohong sih makanya dikejar dan diuber virus. Makanya sudah aman di perumahannya dilockdown eh masih kabur juga. Pantesan ketakutan dikejar terus oleh virus.

Lantas dia membuat tulisan panjang lebar yang makin ngawur, dia mengatakan bahwa dia mau menangkis tuduhan bahwa orang miskin jadi penular virus ini ke orang. Lah ngapain mengangkat tuduhan itu?

Siapa yang berpikiran seperti itu? Justru dokter ini yang malah ikut membuat semakin gaduh dengan pernyataan demikian. Upaya untuk membuat keributan dengan tujuan pengalihan dari ujaran polos kemunafikannya.

Dokter ini sudah membuat pernyataan yang makin ngaco, makin terekspos dia bukan lagi menjalankan pekerjaannya sebagai dokter yang mengedukasi masyarakat. Tapi kini berubah menjadi pengadu domba dan membuat isu-isu yang murahan.

Kacau si dokter ini, cermin beberapa oknum dokter yang jadi pembenci Pemerintah dan demen mengumbar hasutan dan ujaran yang provokatif.

Ujung-ujung setelah kebanyakan mikirin virus, teriak lock down baru bicara secara positif soal ketahanan mental dan semacamnya. Dia bicara soal manusia itu hebat dan kuat serta bisa melawan COVID_19. Tapi dia sendiri sebelumnya sudah ketakutan dan mengkeret duluan. Mentalnya sudah down duluan baru dia mengangkat soal itu.

Sebagai dokter yang berpengaruh, dokter ini punya jabatan yang strategis tapi sayangnya ujaran provokatif lock down itu sudah meninggalkan jejak yang tak terlupakan. Mau dia teriak apapun maka netizen langsung teringat ujarannya.

KIni tuailah ujaranmu sendiri. Mau dan pengen dilock down dokter? Padahal situ nggak tahan sebagai emak-emak yang tak bisa diam apalagi jari dan ujaran dari mulutnya yang tajam kayak silet, nyerocos tiada henti.

Sekarang Pemerintah sudha menganjurkan pakai masker, mending medsosnya dipakein masker sekalian biar bisa menahan diri. Karena apapun ujaranmu, publik tak akan lupa jejak digital ujaran yang berisifat ancaman lock down itu.

So, ngaca dulu dok sebelum posting dan bikin status di medsosmu!

Begitulah kura-kura Seword.

fb Nora Lanking Indriaswara

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *