MODYAR! SAID DIDU TERANCAM DIPROSES HUKUM MESKI BUAT SURAT KLARIFIKASI KE LUHUT?

Niha Alif-Said Didu akhir-akhir ini sepi dari kritikan terhadap pemerintah. Padahal awal munculnya pandemi dia ini sangat garang menyerang semua kebijakan Jokowi. Mulai dari tuntutan lockdown hingga minta ganti presiden. Kini Said Didu yang sudah tua renta harus menjalanai sisa hidupnya dengan tatapan suram.

Kasus penghinaan Said Didu terhadap Luhut Binsar Pandjaitan akan diproses hukum. Bahkan kepolisian dengan tegas mengatur kasus penghinaan kepala negara dan pemerintah di tengah wabah corona. Ini adalah pukulan keras bagi Said Didu yang kini terengah-engah membuat surat klarifikasi pada Luhut.

“Surat saya ke Bapak Luhut B. Panjaitan (Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi RI)” tulis @msaid_didu disertai lampiran surat:

Menurut netizen dengan akun @digeeembok, Said Didu telah memenuhi unsur penghinaan terhadap LBP. Ini berdasarkan pendapat seorang ahli terhadap pernyataan Said Didu. Makanya akun tersebut sangat yakin kalau Said Didu akan diproses secara hukum.

Berikut utasnya yang ditulis akun @digeeembok:

“09. Surat dari @msaid_didu itu cuma buying time aja kok. TARUHAN YUK. Proses hukum @msaid_didu bakalan lanjut. Suratnya aja pakai kata “mungkin” Kena dah tuh pasal. #SaiddiduMakelarBUMN”

“10. Ada salah satu profesor hukum cerita neh sama ayyy. Analisa dia tentang kasus bacotnya @msaid_didu gini: (sambungan) #SaiddiduMakelarBUMN”

“11. Statement2 @msaid_didu: ”Luhut hanya pikirkan uang, uang dan uang. karakter Luhut itu tidak pernah utk bangsa dan negara”. Pernyataan spt ini masuk pemahaman hukum adalah “penghinaan formiel” (Formeele Beleidiging)…. #SaiddiduMakelarBUMN”

“12. berupa pernyataan2 yg dilontarkan sec tegas jelas adalah, kasar, tidak sopan, tdk konstruktif n menyinggung kehormatan seseorang (mis : bodoh sekali itu Gubernur atau Anda Gubernur Koruptor. Psahal belum ada pemeriksaan kasus ybs). #SaiddiduMakelarBUMN”

“13. pendapat2 tsb memang dikategorikan penghinaan, dlm istilah hukum “animus injuriandi”, artinya pendapatnya yg subyektif mengandung kesengajaan, jg menyinggung kehormatan seseorang, dan dari ukuran kehormatan… #SaiddiduMakelarBUMN”

“14. pendidikan, tingkat kepercayaan publik, ybs harus dapat memahami bhw dg pernyataan tsb akan dapat menimbulkan kerugian dan menyinggung kehormatan seseorang. #SaiddiduMakelarBUMN”

“15. Dan pernyataan @msaid_didu ini yg masuk penghinaan formil yg bisa dilaporkan kpd Polisi . Ini jg sbg pembelajaran bhw kebebasan berpendapat tdk selalu absolut, tp ada batasan2 hukum dan etikanya. #SaiddiduMakelarBUMN”

Menurut akun @digeeembok penjelasan di atas sesuai dengan analisa profesor hukum. Jadi tagar #WeAllStandWithSaidDidu benar-benar sudah dirancang sebagai bentuk tekanan pada pemerintah dan aparat agar tak memproses Said Didu. Sayangnya kepolisian tak bergeming dengan ancaman tagar.

Seperti dilansir suara.com, Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz memerintahkan jajarannya untuk menindak tegas siapa saja yang melakukan penghinaan terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan pejabat pemerintah dalam mengatasi pendemi virus corona baru Covid-19.

Hal itu tertuang dalam surat telegram Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis bernomor ST/1100/IV/HUK.7.1./2020.

Dalam surat telegram tertanggal 4 April 2020 dan ditandatangani oleh Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, Kapolri memerintahkan Kabareskrim dan Kapolda untuk melakukan patroli siber khusus terkait penyebaran informasi bohong atau hoaks terkait pandemi Covid-19.

Kapolri juga memerintahkan jajarannya itu untuk melakukan pemantauan dan menindak tegas pelaku penghinaan terhadap presiden dan pejabat pemerintah dalam rangka mengatasi pendemi Covid-19.

Bagi pelaku penghinaan terhadap presiden dan pejabat pemerintah itu dapat dikenakan Pasal 207 KUHP dengan ancaman pidana penjara paling lama 1 tahun 6 bulan.

“Melaksanakan patroli siber untuk monitoring perkembangan situasi, serta opini di ruang siber, dengan sasaran penyebaran hoax terkait COVID-19, hoax terkait kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran wabah COVID-19, penghinaan kepada penguasa/presiden dan pejabat pemerintah,” begitu bunyi salah satu poin dalam surat telegram Kapolri Jenderal Polisi Idham Aziz seperti dikutip Suara.com, Senin (6/4/2020).

Kalau nanti akhirnya Said Didu dinyatakan bersalah dan dijebloskan ke penjara maksimal satu setengah tahun, ini akan menjadi akhir dari sepak terjangnya. Sebelumnya saya juga mengulas soal masa lalu Said Didu yang memiliki kedekatan dengan Orba. Dia tak hanya sangat tunduk pada Soeharto tapi juga kerap mengikuti langkah keluarga Cendana dalam perpolitikan di tanah air.

Tahun 2006 Said Didu juga sempat dilaporkan Gus Dur ke KPK. Tapi hingga kini kasusnya mandek dan bagai ditelan bumi. Mungkin lewat kasus penghinaan terhadap Luhut akhirnya Said Didu merasakan hukuman atas perbuatannya. Seperti peribahasa sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya terjatuh juga. Kini giliran kasus Luhut yang menjungkalkan Said Didu.

Siapapun di belakang Said Didu pasti akan ikut gemetaran kalau tahu si Didu diciduk. Dalam sepakbola, posisi Said Didu bisa dikategorikan sebagai striker. Kini mereka sebentar lagi akan kehilangan striker andalannya yang kerap menggonggong dengan galak.

Giliran Jokowi dan pemerintah yang akan membalas serangan lawan. Menaruh kepolisian di depan untuk membungkam langkah striker hingga akan mudah melakukan perlawanan hingga gol tajam ke gawang musuh. Akhirnya kita akan sama-sama melihat kalau pemerintah tak hanya menang lawan corona tapi juga menang lawan para politisi busuk yang sedang memainkan situasi yang ada.

Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *