SELAMAT JALAN DOKTER HADIO

Oleh: Birgaldo Sinaga

Seorang teman mengabarkan berita duka mendalam. Isinya bukan tentang gambar seorang yang sedang menangis. Isinya bukan foto orang yang berurai air mata. Isinya berupa foto seorang dokter ganteng dengan senyum menawan.

Di foto itu, wajahnya tanpak putih bersih. Berkacamata tanpa bingkai. Kedua tangannya menyilang di dadanya. Ia memakai jas kebanggaan dokter. Jas putih dengan daleman kemeja lengan panjang merah muda. Sebuah jam tangan melingkar di pergelangan tangan kirinya.

“Tapi mengapa kamu berduka? Mengapa menangis?”, tanya saya.

Dokter Hadio namanya. Seorang neurolog. Usianya masih sangat muda. 34 tahun. Ia bekerja di RS Primier Bintaro. Neurologi adalah cabang dari ilmu kedokteran yang menangani kelainan pada sistem saraf.

Kemarin, 21 Maret 2020, dokter Hadio menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia menjadi dokter terdepan menolong pasien yang terkena virus Corona. Ia berjuang menyembuhkan orang2 yang sekarat susah bernafas.

Kemarin, dokter tampan ini menyerah pada Corona. Ia yang berjuang menyembuhkan orang lain harus takluk pada ganasnya virus ini. Dokter yang masih muda ini belum lama menyelesaikan spesialisnya. Ia dokter yang sangat berdedikasi.

Di kepingan lain, anak istri dokter Hadio meratap dalam isak tangis. Keluarga besar dokter Hadio hanya bisa diam dalam isak tangis mendengar kabar duka ini.

Mereka tidak bisa memandikan jenazah orang yang sangat mereka cintai. Bahkan sekedar memeluk untuk yang terakhir kali saja tidak boleh. Getar getir lirih menahan sesak dada mengantar kepergian dokter Hadio. Tanpa sempat memandang wajah teduhnya.

Saya teringat di bulan Januari dan Februari lalu. Saat kita sibuk berdebat soal pemulangan ex WNI ISIS. Saat energi dan waktu kita habis untuk soal Omnibus Law.

Adakah kita yang membicarakan wabah Covid 19 ini?

Adakah yang khawatir dan cemas dengan keadaan wabah ini?

Saya sangat khawatir dan cemas sekali. Berkali2 saya sampaikan betapa bahayanya Covid 19. Pertengahan Desember 2019, saya berada di Guangzhou selama seminggu. Saat itu, wabah Corona belum mengganas.

Akhir Desember wabah mulai outbreak di Wuhan. Puncaknya di Januari dan Februari. Puluhan ribu terinfeksi. Ribuan orang meninggal dunia.

Apa reaksi kita?

Saya masih ingat para pejabat yang memegang kekuasaan itu dengan pongah dan angkuh menyepelekan Covid 19.

“Lebih bahaya dipteri. Lebih bahaya influenza. Lebih mematikan DBD. Diabetes. TBC. Untuk apa takut dan paranoid sama Covid 19?

“Covid 19 itu bisa sembuh sendiri kok. Negara kita cuacanya panas, virus mati dengan kondisi cuaca panas. Bangsa kita bisa bebas corona karena doa Qunut. Karena doa kita”

Hari ini, selang hanya beberapa minggu saja, orang2 spesial para dokter ahli dan perawat banyak yang terinfeksi. Banyak yang meninggal dunia. Salah satunya dokter Hadio.

Siapa yang harus bertanggung jawab atas peristiwa pilu ini?

Oh itu sudah takdirnya. Itu ngelesmu pada rakyat.

Kekuasaan yang anda miliki sejatinya untuk kesehatan dan keselamatan rakyat. Termasuk para dokter dan perawat.

Sayangnya, kekuasaan itu anda gunakan seperti anak2 sedang membangun rumah pasir. Membangun rumah semu. Membangun kepalsuan. Membohongi banyak orang.

Alahhh..sekarang tidak usah saling menyalahkan. Ayo ambil peran mana sumbangsihmu melawan Corona. Itu ngelesmu lagi.

Padahal andai dulu telingamu mendengar. Hatimu tidak mengeras. Jiwamu tidak pongah. Rakyat siap berperang melawan Covid 19. Asalkan alat berperang itu sudah tersedia. Masker, APD, Rumah Sakit semua sudah siap.

Nasi sudah jadi bubur. Ke depan akan semakin banyak lagi kita mendengar cerita2 pilu nan tragis jika keadaan makin memburuk.

Lamat2 saya mendengar suara lagu

Don’t Cry For Me Argentina..

Syairnya diubah sedikit..

Don’t cry for me Indonesia
The truth is I never left you
All through my wild days
My mad existence
I kept my promise
Don’t keep your distance…

Ahhhh sedih sekali hatiku…
Saya hanya bisa berucap Turut berduka cita yang sedalam2nya untuk keluarga besar dokter Hadio.

Selamat jalan dokter muda yang baik…

Doa terbaik saya untukmu…

Salam perjuangan penuh cinta

Birgaldo Sinaga & fb

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *