RISMA PAHLAWAN CORONA, TANPA LOCKDOWN MELAWAN COVID-19

Hima Qurrotur-Banyak yang bilang, “terlalu dini untuk mengatakan Risma sebagai pahlawan Corona,” tapi jika kita melihat dari apa yang diupayakan oleh bu Risma dalam pencegahan penyebaran Covid-19 patut untuk diacungi jempol. Langkah bijaksana bu Risma patut diapresiasi dan mungkin bisa ditiru oleh kota kota lainnya dari apa yang dilakukan oleh Walikota Surabaya. Berikut beberapa catatan pentingnya.

– Tidak melakukan pembatasan dengan mengurangi angkutan umum, tapi justru menambah, agar para penumpang dapat duduk dengan jarak 1 meter. Risma melarang orang berdesak desakan di pinggir jalan atau mengantri hingga mengular. Pengalaman pribadi saya sebagai pengguna bis, sebelum adanya Corona, setiap jam pulang kerja 98% antara jam 16.45 sampai 18.45 wib bis selalu penuh dan berdesak desak, dengan jarak 20 sampai 25 menit, begitu juga dengan jalan raya yang padat merayap. Tapi saat ini, pada jam yang seperti sebelumnya saya bisa mendapatkan kursi untuk duduk, dan tidak ada lagi desak desakan, jarak antar bis juga semakin sempit antara 10 sampai 15 menit saja.

– Bu Risma pun ikut keliling Surabaya untuk memantau situasi kotanya, termasuk saat penyemprotan desinfektant. Bila kalian melihat ada kerumunan orang, itu artinya bu Risma langsung mengingatkan menggunakan ‘TOA.’

– Membagikan hand sanitizer secara gratis kepada warganya yang memerlukan.

– Menyediaan hand sanitizer di tempat tempat umum dan transportasi umum, jadi saat ini saya tidak bisa langsung masuk bis saat pintunya terbuka, karena kondektur akan berdiri di pintu bis sambil memegang botol hand satinizer, dan setiap penumpang yang akan masuk harus diberi cairan hand sanitizer terlebih dahulu.

– Mengajak seluruh warganya untuk disiplin menjaga kebersihan, termasuk kebersihan semua rumah ibadah lintas agama.

– Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mendirikan posko pengaduan pengaduan Covid-19, posko ini didirikan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang antisipasi penyebaran virus corona, selain melayani masyarakat tentang informasi penyemprotan disinfektan di berbagai titik di Kota Surabaya yang sedianya akan berlangsung selama dibutuhkan.

– Menyediakan dapur umum di Taman Surya, halaman Balai Kota Surabaya, pada hari Rabu, tanggal 18 Maret 2020. Sejumlah staf bersama Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut sibuk menyiapkan minuman pokak (olahan jahe dan rempah rempah) serta telur rebus yang dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Minuman pokak dan telur rebus itu dibagikan ke masyarakat, 1.000 gelas minuman dan 1.000 butir telur rebus telah dibagikan kepada masyarakat Kecamatan Semampir yang merupakan wilayah padat penduduk. Selanjutnya akan dilakukan ke berbagai titik padat penduduk lainnya.

– Menyediakan wastafel portable lengkap dengan sabunnya diberbagai titik kota Surabaya, dimana Masyarakat bisa mencuci tangan kapan saja dan dimana saja.

Yang patut diapresiasi juga adalah semua yang dilakukan dan diputuskannya selalu berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Jadi tidak serampangan bikin aturan, bukannya bikin tenang malah tambah bikin strees seperti kelakuan wan Abud. Karena penanganan Covid-19 jadi tanggung jawab kita bersama. Maka dsri itu aturan pencegahan Corona jangan dijadikan sebagai efek kejut yang konyol, tapi harus dipersiapkan secara baik dan koordinatif.

Karena itu, social distancing atau mengurangi aktivitas sosial ke luar rumah ketika tidak darurat atau perlu, seperti protokol yang saat ini dijalankan, rasanya lebih cocok. Kurangi aktivitas sosial, kerumunan, batasi jam buka tempat umum seperti mall dan yang tak kalah penting, intensif melakukan edukasi di masyarakat.

Lockdown mungkin efektif di China. Melawan, tembak. Selesai. Siapa yang berani protes? Dan mereka kaya. China sanggup walk the talk. “Lu diem, kebutuhan lu gw penuhi. Gw punya banyak duit”. Kasarannya seperti itu. Sedangkan Indonesia? Jelas beda karena situasi sosial, ekonomi, politik, budaya dan yang paling utama adalah Tabiat Masyarakatnya di sini jauh berbeda.

Lockdown? Jangankan mengunci penyebaran, yang ada malah bisa berujung super spreader karena pergerakan massa justru bisa di luar kendali. Karena itu sejak awal seword melawan ide ini. Bukan karena tak ingin, tapi tidak cocok. Seburuk apapun data di tangan, solusi akan selalu terikat dengan konteks sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Jadi harus dilihat secara keseluruhan, bukan partial penanganan virusnya saja.

Italia dan Manila sudah jadi bukti keras bahwa lockdown bukannya berhasil mengunci pergerakan, tapi sebaliknya, malah membuat panik dan berujung perpindahan masal yang bisa mengakibatkan super spreader.

Bagi Kelas menegah atas? Sebagian pasti berpikir layaknya warga Italia dan Manila. “Ngapain repot di Jakarta, mending ke luar”. Ya, mereka punya daya beli lebih baik. Akibatnya? Pergerakan masif dan masal pindah lokasi, yang justru bisa memicu super spreader, menyebabkan virus menyebar lebih luas dan cepat. Backfire!

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *