BAGAIMANA RASANYA MENJADI DOKTER DAN PERAWAT DI ZAMAN CORONA

Pernahkah kita bayangkan bagaimana perasaan Anda jika Anda menjadi seorang tenaga medis (baik dokter maupun perawat medis) pada situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini?

Kurang lebih situasinya seperti Anda berdiri di tepi pantai dimana peringatan dini Tsunami sudah di umumkan. Badai Tsunami ini telah menyerang 182.406 jiwa dan menewaskan 3.226 jiwa di Cina, 2.158 jiwa di Italy , 853 jiwa di Iran, 342 jiwa di Spanyol, 148 jiwa di Prancis, 86 jiwa di USA dan di negara negara lain (sumber : https://www.worldometers.info/coronavirus/; 17 Maret 2020).

Dokter dan perawat seolah menjadi penjaga pantai yang harus berhadapan dengan gelombang Tsunami. Namun siapakah sebener gelombang Tsunami itu? Bukan virus Covid-19 yang menjadi gelombang Tsunami, akan tapi semua warga masyarakat yang tidak peduli terhadap pencegahan penularan Covid 19 inilah yang merupakan potensi gelombang Tsunami.

Jika mereka abaikan pencegahan penularan ini maka efeknya akan banyak sekali warga yang terkena virus corona. Dan badai Tsunami akan semakin besar. Kita ingat kasus di Italy dan Iran yang meremehkan kasus ini sehingga menyebabkan tingginya angka kematian di kedua negara ini.

Dokter dan perawat di Indonesia tidak minta liburan, tidak meminta bayaran lebih, atau meminta tanda jasa untuk menghadapi bencana ini. Namun yang mereka harapkan adalah pengertian untuk menjaga diri sendiri dan keluarga masing masing untuk mengikuti himbauan pemerintah dengan mengurangi aktivitas keluar rumah untuk urusan yang tidak urgent, mengurangi kumpul kumpul yang bisa menyebabkan semakin menyebarnya virus ini tanpa kita sadari dan rajin mencuci tangan serta hal hal lain yang bisa menekan penyebaran virus ini.

Jika kita terkena virus ini maka kita berobat dan biidznillah kita sembuh dan selesai. Namun dokter dan perawat akan merawat lebih banyak lagi pasien yang akan datang silih berganti. Mereka harus bertugas dengan bertaruh nyawa.
Tenaga medis juga punya keluarga yang selalu mengharapkan mereka pulang kembali kerumah dengan senyum manis di wajahnya.

Jadilah pahlawan keluarga dengan semaksimal mungkin tetap tinggal di rumah selama 14 hari ke depan, lakukan social distancing dan tidak panik serta ikuti anjuran pemerintah.

Penulis : Keluarga tenaga Medis

This entry was posted in Berita, Informasi Kesehatan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *