CATATAN HITAM NARASI LOCKDOWN YANG DIPATAHKAN JOKOWI

Alifurrahman-Saya bingung bagaimana memulainya. Tapi kira-kira alur ceritanya begini. Sejak beberapa hari yang lalu, sudah ada tim yang mengkondisikan agar publik menuntut pemerintah melakukan lockdown. Tim ini sangat dinamis mempengaruhi banyak orang. Apalagi, kalangan menengah atas yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung Jokowi, juga ikut terjebak dalam mendukung lockdown.

Mereka paham betul, bahwa pendukung Jokowi dari kalangan menengah atas ini sangat penting untuk dipengaruhi. Karena kalau mereka mendukung, maka pengikutnya juga akan ikut mendukung.

Saya paham kenapa banyak kelas menengah pendukung Jokowi justru ikut-ikutan menekan pemerintah untuk lakukan lockdown. Pertama, mereka peduli terhadap bangsa ini. Peduli dengan masyarakat, kesehatan dan keberlangsungan NKRI. Kedua, mereka mampu melakukannya. Kalau misal ada lockdown seminggu, mereka bisa benar-benar istirahat di rumah tanpa perlu pusing soal cicilan dan tagihan. Tak perlu pusing uang untuk makan dan kuota. Karena mereka mampu.

Yang tidak mereka pahami, adalah orang-orang di luar sana yang harus bekerja harian. Hidup di garis UMR dan rajin bekerja untuk menyelesaikan cicilan. Mereka juga dikontrak untuk bekerja. Jadi tidak bisa seenaknya tak masuk kantor karena alasan Covid-19. Nah mereka-mereka ini jumlahnya jauh lebih besar. Dan seharusnya, merekalah yang betul-betul harus kita pikirkan. Karena kondisi ekonominya cukup rentan.

Suara atau tekanan untuk melakukan lockdown juga muncul serius di kalangan elite. Ada yang secara tertutup tapi cukup sengit. Ada juga yang ikut bermain pernyataan di media.

Contohnya Putu Supadma Rudana dari Demokrat. Mendorong agar pemerintah mengikuti saran WHO dalam suratnya, untuk segera menetapkan Indonesia sebagai darurat nasional. Lockdown nasional selama beberapa pekan. Dan bukan lagi dianggap bencana nasional seperti yang diatur dalam UU (seperti yang dilakukan oleh pemerintah sekarang). Alasannya, karena covid-19 ini sudah termasuk pandemi di seluruh dunia.

Selain dari Demokrat, usulan lockdown juga muncul dari Kamar Dagang dan Industr. Ketua Kadin Roeslan Roeslani mengaku akan menyamapaikannya secara langsung kepada Presiden terkait usulan lockdown.

Dan yang cukup serius sebenarnya pernyataan dari JK. Mantan Wapres kita itu juga buka suara. Menganggap lockdown adalah cara paling efektif untuk mengurangi pergerakan atau penyebaran virus.

Beberapa kepala daerah sudah bersiap-siap dan telah membahas kemungkinan lockdown. Beberapa orang di ring satu juga sudah tahu, bahwa lockdown sudah menjadi bahasan utama dalam seminggu terakhir ini. bahkan seorang teman sudah mengingatkan saya, bahwa mungkin Presiden akan mengeluarkan kebijakan ekstrim dan saya harus siap-siap banting narasi, katanya. Karena dalam beberapa hari terakhir saya dan penulis-penulis Seword kompak untuk menolak opsi lockdown.

Sebagian besar penulis Seword menolak lockdown karena pertimbangan stabilitas politik dan keamanan. Kalau sampai terjadi lockdown, kerusuhan dan penjarahan bisa terjadi kapan saja. Karena saat orang-orang lapar, kesabaran mereka juga menipis. Dan saat negeri ini rusuh, akan selalu ada tuntutan atau klaim bahwa Presiden sudah gagal serta harus segera diganti. Bisa juga sepaket dengan ganti ideologi.

Tulisan-tulisan Seword terkait intrik atau tekanan politik busuk yang menginginkan lockdown tersebar cukup cepat. Beberapa setuju. Dan tentu saja beberapa yang lain tidak sependapat.

Saya termasuk yang cukup banyak diserang via WA dan mention di sosial media. Dianggap mengada-ngada dan memprovokasi. Bahkan sebagian orang beranggapan tak mungkin terjadi kerusuhan dan pelengseran hanya karena lockdown.

“Italia lockdown, emangnya ganti Presiden? Dasar otak seperempat ons” kecam salah seorang dokter di salah satu WA grup yang saya ikuti.

Saya biasa membaca setiap komentar-komentar yang masuk. Tapi tak pernah membela diri dari semua tuduhan.

Bagaimanapun ini hanya secuil kisah tentang tekanan lockdown. Jelas tak mungkin saya ceritakan semuanya dengan detail. Yang penting saya cukup yakin untuk mengambil sikap, yakni menolak lockdown.

Hari ini Presiden Jokowi dengan tegas mengatakan belum berpikir akan melakukan lockdown. Meski sebenarnya saya sangat yakin Presiden akan lebih mendengar aspirasi masyarakat dibanding kelompok elite, tapi tetap saja, penolakan secara terbuka ini cukup mengejutkan. Khas seorang Jokowi. Semakin ditekan, makin kuat melawan.

Saya ucapkan terima kasih kepada semua penulis, pembaca dan orang-orang di luar sana yang ikut menyebar luaskan tulisan-tulisan Seword. Semoga kita terus solid untuk mendukung serta mengawal pemerintahan Jokowi. Begitulah kura-kura.

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *