SALAHKAH BABI MENJADI BABI?

Mpok Desy-kwkk…ini artikel yang nyeneh mungkin. Sudah lama ingin membela babi yang nasibnya kurang beruntung di negeri ini. Tetapi, yah rupanya sudah keduluan oleh dua teman penulis lainnya Argo dan Tadeus. Nggak apalah, kita buat hari ini babi booming dan menggelegar. Wkwk…

Sebelumnya, mari kita jawab apakah salah kalau babi menjadi babi? Ayo, ada nggak yang bisa menjawab? Penulis yakin, babi sendiri tidak tahu kalau dirinya akan terlahir sebagai babi. Tetapi, yang pasti sebagai manusia yang merupakan makhluk Tuhan tertinggi karena memiliki akal dan budi, pasti ngerti bahwa babi ini juga makhluk Tuhan seperti manusia dan tumbuhan. Jadi, sesama ciptaan Tuhan sebaiknya sih saling menghargai satu dengan yang lainnya. Gitu aja kok repot banget.

Sayangnya, nasib babi tidak seberuntung makhluk lainnya. Bahkan dibandingkan anjing yang juga masuk dalam radar haram pun, anjing masih lebih lumayan nasibnya. Kenapa begitu? Yah…bisa jadi karena anjing ada yang lucu, dan anjing juga bisa dijadikan teman, atau bahkan dijadikan penjaga. Apa kata dunia kalau kita menjadikan babi sebagai teman atau rumah kita dijaga oleh babi. Duh…bisa ditimpukin atau dibakar mungkin rumah kita! Wkwk…

Kehadiran babi di Indonesia sepertinya bisa dibilang cukup istimewa dibandingkan di negara lain. Bayangkan saja sangking dimusuhinnya, babi pun sempat menjadi polemik di Sumatra Utara! Isunya berawal karena Pak Gub Edy Rahmayadi bicara soal pemusnahan babi terjangkit wabah kolera.

Sontak deh, langsung diplesetin seakan babi mau dimusnahkan. Ngerti dong, dahulu pernah ada wacana wisata halal di Sumatera Utara. Nah, sepertinya ini dijadikan peluang untuk kembali meniadakan alias memusnahkan babi dari tanah Medan. Padahal keberadaan babi dalam budaya Sumatera Utara itu sulit dan nyaris nggak bisa dipisahkan. Ini juga terjadi sama seperti budaya di Bali, dan Menado. Kehadiran babi dalam adat itu nggak bisa digantikan begitu saja, ada artinya bro!

Kasihan loh babi ini yang tidak berdaya membela dirinya. Padahal seperti binatang ciptaan lainnya, babi ini khan juga layak dikonsumsi. Kalaupun ada keyakinan yang mengharamkannya, harusnya biasa sajalah nggak perlu terlalu didramatisir hingga menjatuhkan nama baik babi.

Ingat dulu, pernah satu waktu dan mungkin masih berlangsung ramen ditarik dari peredaran, karena terindikasi mengandung babi. Padahal, kenapa juga harus ditarik? Toh, tidak ada yang memaksa untuk memakannya. Ramen berjejer di rak sebuah mart, nah tinggal kita menjadi konsumen yang cerdas. Sebelum membeli baca dulu mengandung apa. Merasa tidak bisa, tidak boleh atau haram yah jangan dibeli! Menurut penulis sih ini justru jadi lebih mendewasakan keimanan. Malulah kalau soal keimanan saja masih diurusin atau dijagain negara!

Maksudnya begini loh, mau sampai kapan kita ini lebay terhadap haram? Jika memang kita begitu taat, lalu kenapa tidak memberikan tanggungjawab itu kepada pemeluk agamanya. Jadi nggak perlu hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai harus turun gunung melabeli halal pada semua produk Indonesia, hanya karena ngeri dengan unsur babi.

Ini nggak adil untuk babi yang terus dimusuhi unlimited time!

Kejadian ini pun berulang lagi di wabah corona. Duh, ampun deh darimana jalan ceritanya babi yang disalahin?

Maaf yah, tetapi untuk yang boleh memakan daging babi, percayalah babi itu enak dimakan. Pernah dengar dong, masakan Menado yang bernama Woku Babi, Tinoransak ataupun masakan Batak yang bernama Saksang? Wuih…rasanya menggelegar bro! Hehe…

Maaf, tapi penulis hanya bermaksud terus terang dan nggak ada maksud menggoda yah. Selain haram, babi itu juga enak! Ini jadi mengingatkan ada banyak rumah makan daerah mengandung babi didemo dan dipaksa tutup. Padahal khan itu masakan daerah, sama seperti Gudeg. Bedanya hanya karena ada babinya, lalu rumah makannya berakhir tragis ditutup? Duh…nggak adil dong! Kenapa nggak membiarkan saja karena itu khan juga bagian dari kekayaan kuliner. Kalau haram, yah jangan dimakan! Sekali lagi, gitu aja kok ribet!

Kembali kepada wabah corona yang sedang ramai, dan makin ramai karena babi difitnah! Ampun deh, apes banget sih babi ini. Celotehan ini berasal dari MUI yang menilai sebaran Covid-19 atau virus corona merupakan teguran dari Allah, dan karena masih banyak manusia di wilayah terdampak corona, termasuk Jakarta yang memakan yang diharamkan Islam, seperti babi.

Hahah…kenapa juga harus nyerempet sebut babi? Khan nggak hanya babi yang diharamkan. Bukankah anjing dan kodok juga haram, tul nggak sih? Jangan berat sebelah dong pemberitaanya. Heheh…

Lagi pula, sekalipun diteriakin haram, kenyataannya babi nggak pernah tuh melakukan perbuatan haram. Babi nggak mengenal korupsi, babi nggak pernah berbohong, dan babi nggak pernah deh melakukan hal yang diharamkan!

Nah, mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dikatakan tidak ada penularan virus corona melalui makanan dan minuman yang matang dan pastinya tidak tercemar. Penularannya itu lewat air liur, misalnya percikan ludah atau bersin penderita Oleh karena itu kita dituntut untuk hidup sehat dan bersih.

“Tidak ada penularan melalui makanan dan minuman,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Wiendra Waworuntu di Gedung Kemenkes, Jakarta, Selasa (4/2/2020). Dikutip dari: liputan6.com

Ehhmm…mudah-mudahan ini cukup menghibur babi dan membersihkan nama baik babi yang sempat “difitnah” sebagai penyebab penularan virus corona.

Jadi bagaimana menurut pembaca, apakah babi pantas disalahin terus? Babi memang tidak bisa menghindar dari takdirnya haram bagi keyakinan tertentu. Harus diingat juga, nggak semua orang didunia kok yang mengharamkannya. Nggak adil rasanya selalu sudutkan babi, dan dikaitkan dengan segala urusan di dunia ini. Menjadi haram saja sudah pasti beban baginya. Heheh…

sumber: seword
fb Bus Sinabung Jaya
wa Sinabung Jaya grup

This entry was posted in Berita. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *